a!fFJ/ym?эh^ 0@s4 n5 ^W+$ d ] 0 ) n M $ o h A 8  r k < v S+ xN n@9}]}RKlast_updatedstringhttp://blog.dzaia-stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 title typeKang Abik di Taipeihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 summary typeYah… walaupun sudah agak basi, tapi masih boleh lah buat ditampilin… Maklum, baru selesai diedit… enjoyhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 order type10http://blog.dzaia-slash_comments title author updated comments order content link date id_hash hidden summary id wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/leofoo-village/http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments typeKang Abik di Taipeihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 authorYah… walaupun sudah agak basi, tapi masih boleh lah buat ditampilin… Maklum, baru selesai diedit… enjdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/volunteering/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/tentang-film-facebook/http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 link18850aad2a0f6a093c5a8d891f0020f3http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 id_hashA few weeks ago, I just said yes to put myself into another challenging challenge. It is not about thesis, nor about the survival things that I faced lately. It is about realizing what I wanted to do for so long. The dream that almost buried. But for now on, I can’t say what it [...]http://bl18850aad2a0f6a093c5a8d891f0020f3http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/08/robotika-robot-problematika/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 comments type2012 3 9 16 39 41 4 69 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 id type2012 3 7 15 4 8 2 67 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/super-8-super/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/tentang-film-facebook/http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/which-one-am-i/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 wfw_commentrss2011 4 12 17 11 11 1 102 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/12/3-hari-3-kota/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 order type ZS,)_X(& d _ 1 * X S ' T M $  r k T M  {@f]6-ZQ&zWNG50sN5stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 wfw_commentrss2010 5 26 3 34 6 2 146 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 datehttp://blog.dzaia-bs.codzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authorddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authodzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authordzadzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authordzaia-bshdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 link20http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ngedorama-again/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 title typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 link20http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ngedorama-again/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 commentsfhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 author typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfwstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 id type2009 7 22 15 29 28 2 203 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/first-stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 content typestringhttp://bstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 author type http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 summary type66http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 date type2011 Projecdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 link type2011 Projectshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 title3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 summary typeSM'http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 comments type66http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 wfw_commentrss type 

Lagi ingin nggak penting… Diambil dari detikHot

Jakarta Mau tahu tipe-tipe laki-laki yang membuat perempuan jatuh hati. Jika Anda ingin menaklukkan hati perempuan, coba baca info berikut!

Menaklukkan hati perempuan memang tak mudah. Tapi ternyata menurut para ahli yang detikhot kutip dari The Fox, Rabu (22/7/2009), ada beberapa tipe laki-laki yang bisa menaklukkan hati perempuan. Ini dia!

Laki-laki Romantis
Laki-laki tipe ini biasanya bisa menyenangkan perempuan dengan cara-cara yang klasik. Misalnya memberikan kejutan-kejutan kecil berupa bunga dan cokelat, ucapan-ucapan manis, serta sebuah makan malam romantis.
Laki-laki tipe ini tahu benar cara memperlakukan perempuan. Sehingga pasangan merasa sangat dicintai dan berharga.

Laki-laki Percaya Diri
Tipe laki-laki ini sangat yakin dengan dirinya. Dia tahu benar cara menarik hati perempuan dengan pesonanya. Setiap penampilannya, perempuan selalu dapat merasakan aura positif yang menyenangkan. Dan karena hal itulah, perempuan mudah jatuh hati padanya.

Seniman
Laki-laki yang memiliki bakat seni selalu menarik bagi perempuan. Baik itu di bidang musik, seni lukis atau yang lain. Apalagi biasanya tipe laki-laki ini bisa mengambil hati perempuan dengan sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Hal itu membuat perempuan merasa dipuja.

Laki-laki Asing


Pesona laki-laki asing kadang tak tertahankan bagi perempuan. Perbedaan budaya membuatnya terlihat misterius. Mengenai fisiknya yang berbeda, itu juga merupakan nilai tambah.

Bad Boy
Tak selamanya laki-laki romantis memegang kendali. Terkadang laki-laki dengan perangai keras, dan memiliki gaya hidup bebas terkesan seksi bagi perempuan. Menaklukkan laki-laki model tersebut adalah tantangan menarik. Tapi biasanya, perempuan tak menginginkan hubungan serius dengan laki-laki tipe ini.

Laki-laki Cerdas


Pola pikir cerdas juga merupakan hal yang membuat perempuan jatuh cinta. Seorang laki-laki dengan pemikiran yang luar biasa merupakan hal yang memukau. Apalagi biasanya, mereka bisa menjadi teman diskusi yang asyik.

Laki-laki Sopan dan Menghargai Perempuan
Akhirnya, pilihan perempuan akan jatuh kepada seseorang yang menghormati dan menghargainya. Di zaman modern ini, laki-laki yang merasa derajatnya lebih tinggi dari perempuan tak akan laku. Perempuan lebih memilih laki-laki yang bisa menjadi rekan setara, dan dapat membahagiakannya.

Anda termasuk tipe yang mana?
(kee/kee)

And they said…

BF : ahahahaha… none…
kalau iya NIM kau sudah tergrafir di piala bergilir

AWF : kamu tipe badboy jay…

DRD : anak nakal jay

GY : wah
kayakny ga ada si jay..
mgkn orang asing ya…
di mata orang2 bule

QR : aku tau jay
lo tipe ke brp
tipe ke 7:D

Dari 5, cuma 1 yang responnya positif… berarti masih harus banyak2 introspeksi…

 

Fantasi dari Andrew Stanton, sang director film Wall-E, memang terkesan liar. Bagaimana tidak, di film itu dikisahkan tidak ada lagi manusia yang tinggal di bumi. Yang tersisa di bumi hanyalah robot Wall-E yang bekerja mengurusi timbunan rongsokan yang bertingkat-tingkat menggunung. Manusia lupa akan rumahnya, tempat di mana mereka berasal. Manusia tinggal di pesawat yang bisa dikatakan sebagai rumah baru bagi mereka, seperti US Enterprise di film Star Trek, namun untuk ditinggali selamanya.

Film ini sangat menarik memang, walaupun sedikit bisu. Saking modernnya teknologi yang tersedia, semua dikerjakan dengan mesin, atau oleh robot. Salah satu scene yang membuat saya sedikit terkesan adalah ketika ada 2 orang bercakap-cakap menggunakan, katakan saja perangkat video call, sambil mengendarai kursi mobil (mobile-chair) sedangkan posisi mereka berada bersebelahan. Mencerminkan hubungan antar manusia yang tidak lagi manusiawi. Pergi ke mana2 menggunakan mobile-chair, sehingga mereka lupa untuk berjalan. Perawakan tubuhnya semuanya mengalami obesitas akibat jarang digerakkan. Karena untuk mengakses apapun, semuanya tinggal menggunakan remote atau perintah suara (voice recognition).

Tapi masih ada hal yang lain lagi yang lebih menarik. Yaitu tentang robot yang jatuh cinta. Ya, si Wall-E jatuh cinta dengan robot lain. Terlalu berlebihan memang, namun tidak ada yang bisa disalahkan dari cerita fiksi.

Intermezzonya saya kira cukup sampai di sini, karena saya punya oleh-oleh dari International Robot Show 2009 yang digelar di Nangang, Taipei.

Housekeeping Robot Housekeeping Robot II

Housekeeping Robot

Kingdom of Robot

Kingdom of Robot

Robodog

Robodog

Robot In Action

Robot In Action

Kick the Ball

Kick the Ball

Serving the Drink

Serving the Drink

f

Ceritanya sudah agak lama, yaitu pada 3-4 Juli yang lalu. Ceritanya ada 2 orang teman yang sama2 ngajak ke sana. Nggak tau juga, kenapa juga harus gw yang diajak? Padahal belum ada niat pergi ke Taroko dalam waktu deket. Biar pada nggak penasaran seperti apa Taroko, sok, silakan dilihat oleh-oleh yang nggak seberapa…

Aboriginal Dancing at Stone Handicraft Center (Hualien City)

Aboriginal Dancing at Stone Handicraft Center (Hualien City)

Pemandangan di Taroko Park

Pemandangan di Taroko Park

Sky, Mountains, and River

Sky, Mountains, and River

Air terjun kecil...

Air terjun kecil...

The 9 Tunnels

The 9 Tunnels

Narsis ah sekali-sekali... diapit 2 orang yang harus bertanggungjawab dengan thesisku...

Narsis ah sekali2... diapit 2 orang yg harus bertanggungjawab terhadap thesisku



Gagal rencana jalan-jalan ke Hualien. Karena menurut gosip dan informasi dari website yang kurang terpercaya, taifun akan lewat di sebelah barat Taiwan di akhir minggu ini, dan hujan deras bakal mengguyur daerah barat, tengah, selatan, bahkan utara. Untuk mengobati sakit hati, saya langsung meluncur ke website turisme-nya Taiwan. Ternyata, mulai minggu ini ada Taipei International Jazz Festival. Langsung deh sorenya jalan ke Zhong-Shan Hall Plaza.

TIJF 2009 at Zhong-Shan Hall Plaza

TIJF 2009 at Zhong-Shan Hall Plaza

Remi Panossian at TIJF 2009

Remi Panossian at TIJF 2009

Julie Duthu at TIJF 2009

Julie Duthu at TIJF 2009

Ternyata 2 hari (Sabtu-Minggu) ini Taipei sangaaaaaaat cerah… semoga di Hualien sana memang hujan deras.

http://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 linkFD \ U & $ _ X + $ { G @  v 8  g ^ . , XQ*'jc70l?8 B;YP!y`W(e^4/sE>istrstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 comments typeI just knew wstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 comments typeI just knew what was happened to me…http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id_hash types 'phttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 wfw_commentrssCeritanya sudah agak lama, yaitu pada 3-4 Justringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id_hash type8http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 slash_commentsdstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id_hash type8http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 updated typeIn the first meeting of the class, Prof.Sheen talked about how Taiwan is always updating their technology in order to improve their quality of life. It was started with E-Taiwan program. E means Electronic or Digital. This program was adopted as the key component of the “Challenge 2008 : The 6-Year National Development Plan”stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 summary typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/12/cupu-ih-dzaia/http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 link64http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/re-writin-the-fate/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 commentsSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 comments typeLeofoo Villagehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/mengatur-layanan-di-dunia-maya/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 link8http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 content typeIn the first meeting of the class, Prof.Sheen talked about how Taiwan is always updating their technology in order to improve their quality of life. It was started with E-Taiwan program. E means Electronic or Digital. This program was adopted as the key component of the “Challenge 2008 : The 6-Year National Development Plan”. The [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id_hash type0 {tLETM c J   } z Q J   L !  ~ w P M   gFkDA+$i[T.|OH!f@= 2010 8 11 16 54 52 2 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 content type. . . . .http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 date typeKucoba Dalam 100 Katahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 titlestringurl_etag typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 id typeSalah satu bagian tak terpisahkan dalam dunia internet adalah adanya surat elektronik atau yang biasa kita kenal dengan email. Mungkin hampir setiap dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 date tstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id typeSudah lama juga sebenarnya saya join fotografer-dot-net. Hanya saja karena dulu masih malu2 dan ragu2, jadinya setiap berkunjung ke website itu kerjaannya hanya ngintipin hasil karya orang2. Hingga akhirnya, pagi kemarin saya bedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 author63http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 order2010 11 21 23 30 4 6 325 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 author type1cddc8bc04d0bf58b39f67020d268e90http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 id_hash2010 9 27 20 53 14 0 270 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 date2011 1 14 14 3 30 4 14 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304stringhttp://blstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 content type94http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 author type2010 9 27 20 53 14 0 270 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304Gadis Penjual Kaoshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 id type63http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-6-masih-tentang-urus-urus/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 wfw_commentrss type2011 1 14 14 3 30 4 14 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 wfw_commentrss type41affe65e965dacdde5f4b4ebd0280ddhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 comments type2010 11 21 23 30 4 6 325 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 updated2012 3 1 12 15 32 3 61 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 link '
Ticket

Ticket

Enterance Gate of Leofoo Village

Entrance Gate of Leofoo Village

Entering The Castle of Joy & Fun

Entering The Castle of Joy & Fun

Read before usage

Read before usage

Ring of Fire

Ring of Fire... buat pemanasan...

Pagodas Revenge

Pagoda's Revenge... gerak jatuh bebas...

Old Oil Well

Old Oil Well... dilewat, kurang menantang...

Screaming Condor... the main dish...

Screaming Condor... the main dish...

Bener-bener merasakan jadi mahasiswa MASTER… MAin2 Senang2 TErtawa2 sambil Rekreasi…

Kasihan thesisku…

 
Lirikan sapi IPB

Lirikan sapi IPB

Kasihan bener blog ini… blog semata wayang yang jarang dibelai sama yang punya. Mentang-mentang lagi asik sama blog tetangga. Banyak yang mau diomongin sebenernya, namun suka ditunda-tunda. Jadi deh, cuma tertimbun dalam pikiran dan angan-angan… Pelan tapi pasti, hilang begitu saja dari kepala. Aha, mumpung lagi muncul sedikit nih, dan lagi sempat, tulis sekarang ah… Halah, pengen ngemeng ape sih lo Jay??? Aku mau ngomong pengalaman liburan yang cuma 3 minggu itu…

Mungkin 3 minggu adalah waktu yang terlalu lama bagi sebuah keluarga baru yang sedang menunggu anak pertamanya yang akan lahir. Terlalu lama bagi sepasang kekasih yang sedang menunggu untuk segera beranjak ke pelaminan pada hari yang telah ditentukan. Terlalu lama bagi seorang perantau yang sedang menunggu untuk kembali ke kampung halaman. Terlalu lama bagi seorang tahanan yang sedang menunggu untuk segera dibebaskan. Atau terlalu lama bagi seorang anak kecil menunggu kedatangan ayahnya dari luar negeri yang berjanji membelikan oleh-oleh untuknya.

Namun, 3 minggu juga bisa terlalu cepat. Terlalu cepat bagi seorang mahasiswa yang sedang mempersiapkan ujian thesisnya. Terlalu cepat bagi seorang mahasiswa yang merantau yang sedang menikmati liburannya di tanah air. Terlalu cepat bagi seorang anak SMP yang sedang berlibur ke Australia. Terlalu cepat bagi seorang dosen yang sedang study tour ke Jepang untuk mempersiapkan S3-nya di sana, sehingga nggak sempat shopping berlama-lama. Atau terlalu cepat bagi hamba Allah yang sedang menikmati keindahan dan kenikmatan bulan Ramadhan, takut Ramadhan ini segera berakhir.

Aneh ya? Sama2 tiga minggu, sama2 dua puluh satu hari. Tapi kenapa bisa terasa cepat atau terasa lambat? Hmmm… mungkin 2 hal inilah yang membedakan mengapa waktu bisa begitu relatif, menunggu atau tidak menunggu. Menunggu membuat waktu berjalan seperti siput, pelaaan… lambaaaaat… seperti ogah maju. Menunggu semenit terasa sejam. Menunggu sedetik terasa terasa setahun. Itu lah menunggu. Berkebalikan 180 derajat dengan ketika kita tidak sedang menunggu, atau ketika kita berharap agar sang waktu tidak datang dengan segera. Contoh paling real adalah ketika dikejar deadline. Atau ketika kita punya planning seabrek-abrek. Satu hari bagaikan satu jam. Satu minggu bagaikan sekedipan mata.

So, gimana kemarin 3 minggu di Indonesia? Kurang? Lebih? Atau cukup? Yah, dicukup-cukupin lah. Walaupun sebenarnya memang cukup. Cukup untuk berkumpul dengan keluarga. Cukup untuk mengenal sahabat baru dengan sedikit lebih dalam. Cukup untuk bolak-balik Jakarta-Bogor dan bertemu mahasiswi2 IPB yang manis2. Cukup untuk pulang kampung lebih awal ke Boyolali dan bertemu keluarga besar, kakek-nenek, sepupu2, om2 dan bulik2. Cukup untuk mengurus SIM dan KTP yang raib. Cukup untuk bermain-main dengan kamera dan menambah koleksi lensa. Cukup untuk memenuhi janji lama. Cukup untuk kena tegur Bapak gara2 thesis yang progress-nya lambat. Tapi setelah cerita kalau 2 temenku yang sudah lulus, dan berbarengan ketika masuk NTU, adalah para laki2 beristri, sepertinya Bapak jadi sedikit memaklumi…

Eh, tapi kok rasanya belum cukup ya…??? Masih ada unfinished business di sana. Masih belum cukup untuk menunggu kapan kepastian kaos kru radioppidunia bisa diambil. Masih belum cukup untuk bertemu teman2 lama. Masih ada janji yang belum dipenuhi. Dan masih belum cukup untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan…

s.com/2009/07/leofoo-village/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 wfw_commentrss  

Ingatan saya kembali ke pertengahan tahun 2007, di mana ketika itu saya mendatangi salah satu acara launching sebuah buku berjudul “Dalam Mihrab Cinta”. Dalam beberapa hari berikutnya saya menuliskan resensinya di sini. Di Istora Senayan, tempat acara itu berlangsung, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan sosok di balik guratan-guratan pena dari pengarang novel best seller “Ayat-Ayat Cinta” dan juga novel dwilogi “Ketika Cinta Bertasbih”. Siapa sangka jika hari Senin kemarin atas izin-Nya saya dipertemukan kembali dengan pria sederhana nan berwibawa itu. Ustadz Habiburrahman El Shirazy.

Adalah para pahlawan devisa di bumi Formosa ini lah yang mengundang Beliau untuk memberikan tauziah kepada mereka. Kemudian sehari sebelum kepulangan Kang Abik (nama akrab Beliau, red.) ke tanah air, mahasiswa muslim Taiwan yang berada di Taipei berinisiatif mengundang Kang Abik untuk sharing dan berbagi ilmu. Tema yang dibahas di depan mahasiswa dan beberapa pejabat KDEI itu adalah, Agar Cinta Tak Bermasalah. Inti dari diskusi pendek itu adalah, mencintailah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian diskusi pun berlanjut, yaitu mengenai cita-cita Kang Abik dalam menciptakan hasil karya yang dapat menumbuhkan Need for Achievement (N-Ach) di alam bawah sadar para pembacanya. Karena konon menurut suatu penelitian, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang mampu memberikan kesadaran akan N-Ach itu kepada para generasi penerusnya. Beliau berharap 20-30 tahun ke depan, akan bermunculan banyak Fahri-Fahri baru di Indonsia, yang tidak hanya cerdas namun juga berakhlak mulia.

Contoh ironi dari N-Ach adalah bangsa kita, Indonesia. Dari kecil kita disuguhi cerita tentang “Kancil mencuri timun”. Maka, jangan heran bila sekarang banyak koruptor-koruptor merajalela. Legenda Candi Prambanan dan Tangkuban Perahu, ditengarai merupakan sebab dari kebiasaan para pelajar Indonesia dalam menggunakan saat-saat terakhirnya untuk mengerjakan tugas atau ketika akan menghadapi ujian. Atau dongeng “Si Kancil yang sombong melawan Siput yang cerdik”, yang diperkirakan sebagai tradisi kita untuk menghalalkan segala cara untuk melawan kesombongan.

Sedikit bocoran dari pertemuan kemarin, kata Beliau kemarin mulai minggu ini novel terbarunya yang berjudul “Bumi Cinta” sudah beredar. Adakah yang berkenan mengirimkannya ke Taipei? :P

Dan berikut ini, ada video dari seorang reporter wannabe yang agaknya memang nggak cocok untuk jadi reporter. O ya, thanks to Cak Alief yang sudah bersedia sebagai camera-man.

30; bikin speech +1 menit itu nggak semudah yang dibayangkan… Pernah nonton film2 Jacky Chan yang di akhir filmnya mengungkap scene2 yang gagal? Berikut ini teks yang gw buat… Assalamualaykum wr wb hi saya Jaya dari radioppidunia, saat [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 date type2009 10 27 4 30 47 1 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 order type8http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 slash_comments type6http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 slash_commentsstringsy_updatefrequency type1sy_updatefrequencystringconfigured_url typehttp://blog.dzaia-bs.com/feed/configured_urlnullexclude typestringtitle typeMicro Worldtitle 6Yv y _ / g ` : # X L $  v P % >qj<7`YrC<mA:vLGCy@ z`61P"blog.dzaia-bs.costrin0http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 slash_commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 date type2010 10 7 0 24 32 3 280 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 slash_comments type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 title typeSumpah Pemudahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrss typehttdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 date type2010 10 17 13 45 14 6 290 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/terserah/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 title typeE-Taiwan : The Secret Behinds The Modern Life of Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 date type2011 8 11 19 8 19 3 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 datestringhttp://blog.dzaia-bs.stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 content typeFantasi dari Andrew Stanton, sang director film Wall-E, memang terkesan liar. Bagaimana tidak, di film itu dikisahkan tidak ada lagi manusia yang tinggal di bumi. Yang tersisa di bumi hanyalah robot Wall-E yang bekerja mengurusi timbunan rongsokan yang bertingkat-tingkat menggunung. Manusia lupa akan rumahnya, tempat di mana mereka berasal. Manusia tinggal di pesawat yang bisa [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 summary type37http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/terserah/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 link2012 3 17 16 15 48 5 77 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 dateSM6http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 authorSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 contentDalam menonton film, yang seperti tebak-tebak buah manggis itu, belakangan ini saya lebih memilih untuk membaca reviewnya dulu daripada langsung memilihnya dengan instinct. Jika kemudian review dari tiap-tiap orang akan berbeda, itu hal yang wajar yang tentunya membuat saya bingung, apa betul film ini bagus atau buruk. Belum lama ini saya berlangganan review dari blog [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 summarySekilas Yang Terlintashttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 id type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/thats-what-i-am/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 wfw_commentrss2010 8 19 19 1 38 3 231 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 date typeLagi ingin nggak penting… Diambil dari detikHot… Jakarta Mau tahu tipe-tipe laki-laki yang membuat perempuan jatuh hati. Jika Anda ingin menaklukkan hati perempuan, coba baca info berikut! Menaklukkan hati perempuan memang tak mudah. Tapi ternyata menurut para ahli yang detikhot kutip dari The Fox, Rabu (22/7/2009), ada beberapa tipe laki-laki yang bisa menaklukkan hati perempuan. Ini dia! Laki-laki [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 date type 0`]Q*! n g : 3  o N ' # X { W 6    yIzE>wha5.sS+xq]V*#|V9hH b:. &http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 contente1561d5e6a003901a13cde20d7f54a05http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 id_hashKok, Males Nulis?http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 title1http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 slash_comments http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 author type1327455f720f19c571a73a8d94516a20http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 id_hashGara-gara Kelamaan di Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 title14http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 author typestringgenerator_name typestringsy_updateperiod typestringgenerator type2010 8 20 17 0 22 4 232 0updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=42stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 content type%http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 iddatehttp://blog.2011 9 28 17 0 15 2 271 0updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 content2010 8 1 12 48 42 6 213 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 slash_comments typeWaktu masih di kampus ganesha dulu, gw mulai berkenalan dengan yang namanya dorama Jepang. Sebelumnya juga pernah sih, sewaktu salah satu stasiun televisi swasta masih rajin menayangkan sinetron-sinetron impor itu. Tokyo Love Story, salah satu judul yang masing gw ingat, namun tidak dengan isi ceritanya. Ada lagi dorama yang masih ingat -karena pemeran wanitanya yang [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/after-4-years/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 order type2012012 5 1 17 0 12 1 122 0updated2010 8 1 12 48 42 6 213 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 updated typeAda 3 tiga alasan mengapa kemarin sore di XXI Pondok Indah Mall, saya memilih menonton film Tendangan Dari Langit. Yang pertama, karena saya kangen nonton film Indonesia. Oh ya, ada good news buat perfilman Indonesia, film-film bergenre kuburan mulai berkurang. Mungkin hantu-hantu itu sudah mulai capek dieksploitasi terus-terusan di layar lebar. Dari 6 studio yang ada [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 author type2012 3 4 16 54 14 6 64 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 date109http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 ordere1561d5e6a003901a13cde20d7f54a05http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 slash_comments type2011 1 26 16 2 53 2 26 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 authorSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 contentslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593http://blog.dzaia-bs.com/2012/02/day-0-the-beginning-of-30-hari-menulis/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 updated type2012 3 22 15 40 20 3 82 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 updatedN]Z1% e ^ 3 ,  } Q J   U .  v o D =  xqH(t9 uM'stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 author typestringtitle typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/i-just-knew-what-was-happened-to-me/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/stringtitle typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 date typeRobotika = Robot + Problematikahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515Judulnya diambil dari dua hal yang sepertinya tidak ada hubungannya namun coba dihubung-hubungkan dalam rangka memudahkan penjelasan (bukan pembingungan) cara kerja dari suatu pendeteksi cahaya atau bahasa kerennya, photodetector. Mengapa pengandaiannya dengan sepakbola? Karena sebentar lagi Piala Dunia 2010 dimulai. Agak bingung juga mau dimulai dari mana, tapi saya kira cukup bersahabat kalau saya mulai [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-2/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/02/kang-abik-di-taipei/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 wfw_commentrssc58a4719a0c08358f7912232de42fdb6http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 slash_comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657Awalnya hanya ikut-ikutan. Teman-teman sepermainanku di Taiwan waktu itu sedang senang-senangnya memotret dengan kamera digital SLR. Saat itu aku buta sama sekali dengan fotografi. Tidak tahu istilah-istilah seperti aperture atau bukaan lensa, shutter speed atau kecepatan rana, ISO atau sensitivitas. Aku juga tidak tahu tentang aturan 1/3, golden ratio, dan aturan-aturan komposisi lainnya. Yang aku [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 updated typeSM M http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 order type27439fc1ac0cc657be91faa5a4e9aa1fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 id_hash0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 slash_commentsSuper 8, Super!http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/thats-what-i-am/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 comments11http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 order type2cecdaad75eac9f4543ec794c95ee634http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704KETIGA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA. Bah, baris ketiga dari isi Sumpah Pemuda itu mana laku lagi zaman sekarang? Walaupun saya yakin, dari sejak mulai ke sekolah pakai celana pendek warna merah sampai seumuran ke kampus pakai celana jeans, ada satu mata pelajaran yang pasti diajarin, yaitu Bahasa Indonesia. Terkecuali [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 summarydzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 authorWhich One Am I?http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 titleSMdhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 content76http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 title type9f8f21437989ba7ebeb4e97fdbd5e18dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id_hash6?piA xJC  s n E Y @   q ) y E >   ~uF?a=kd92d_7+ qQh_70_ZP4$htthttp://wostringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 id typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 authorslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 id2009 10 27 4 30 47 1 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 updatedhttp://wordpress.org/?v=3.0generator_namehourlysy_updateperioddateupdated type˔ 'http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 link type
source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 slash_comments type1b4eafe24eb90a8d449c35d5f1e0db95http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/in-between-difficult-choices/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 slash_comments type9bfd1c3bf5b5dc7733ef6a6e1dab3390http://blog.dzastringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 slash_comments type1b4eafe24eb90a8d449c35d5f1e0db95http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 id_hash1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/you-never-know-what-you-have/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 id43http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 order2012 3 16 15 53 4 4 76 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 link typeYang pernah nonton film Mr.Nobody (2009) mungkin akan tahu ke mana arah pembicaraan kita kali ini. Nemo Nobody memang aneh untuk sebuah nama, tapi apa sih yang aneh untuk sebuah cerita fiksi? Dikisahkan di awal film tersebut, ketika Nemo tersadar dari tidur panjangnya dan ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berumur 118 tahun. Menariknya lagi [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/gading-gading-ganesha/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 commentsHari ke-12 : Radiohttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/jakarta-8-hari/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 wfw_commentrss2009 7 17 7 48 19 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 updated9bfd1c3bf5b5dc7733ef6a6e1dab3390http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 id type

Ceritanya lagi diminta sama si Andy untuk bikin insert tentang Sumpah Pemuda buat radio lain sebagai partisipasi dari Radio PPI Dunia. Ternyata… bikin speech +1 menit itu nggak semudah yang dibayangkan… Pernah nonton film2 Jacky Chan yang di akhir filmnya mengungkap scene2 yang gagal?

Berikut ini teks yang gw buat…

Assalamualaykum wr wb

hi saya Jaya dari radioppidunia,

saat ini saya sedang mengambil studi master di jurusan electrical engineering di Taiwan. ada alasan yg kuat mengapa saya memilih untuk meneruskan sekolah di luar negeri, bukan, bukan karena saya tidak cinta Indonesia. namun sebaliknya, saya sangat cinta Indonesia. Dengan sekolah di luar negeri, kita jadi tahu bagaimana orang-orang di luar sana melihat Indonesia, selain itu kita jadi tahu bagaimana cara mereka memajukan bangsanya. Dengan begitu kita bisa tahu apa yg kurang dan apa yg lebih dari negeri kita sehingga nantinya kita berkontribusi yg maksimal terhadap negara kita.

Mencuplik kata2 dari John F Kennedy, jangan tanyakan apa yg bisa negara berikan padamu, namun tanyakan apa yg kamu bisa berikan pada negara.

Harapan saya untuk bangsa cuma satu, Indonesia bisa menjadi negara yg maju dan tidak dipandang sebelah mata oleh negara2 lain.

Maju terus Indonesia, Indonesia Jaya!

Dan berikut ini adalah sekian kegagalan rekaman yg terjadi…

Gagal…

Gagal maning…

Gagal maning… Gagal maning…

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

>

Dan akhirnya berhasil juga…

>

Gagal maning… Gagal maning…

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

230;

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

230;

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

/>

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

>

Gagal maning… Gagal maning…

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

#8230;

Gagal maning… Gagal maning…

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

abu (22/7/2009), ada beberapa tipe laki-laki yang bisa menaklukkan hati perempuan. Ini dia!</p> <p><strong>Laki-laki Romantis</strong><br /> Laki-laki tipe ini biasanya bisa menyenangkan perempuan dengan cara-cara yang kl 

Beberapa bulan belakangan ini jumlah postingan di blog ini menurun drastis. Satu posting per bulan, seperti ngejar setoran yang penting ada update setiap bulan, supaya nggak merasa rugi bayar hosting. Rasanya kok malas ya nulis apaaaaa aja. Ya, apa aja yang keluar dari kepala. Apa karena sifat perfeksionis yang mengharuskan semuanya harus dilakukan dengan sempurna? Hmmm… Mungkin.

Rasanya pengen bisa menulis sebagus seperti Mas Iman Brotoseno. Tulisan-tulisannya brilian. Pengetahuannya yang dalam tentang sejarah, selalu dijadikan bahan tulisan mengenai topik2 yang lagi hot dari sudut pandang yang berbeda. Kalo bahasa kerennya, setelah membaca artikel2 dia, seakan2 saya mendapat enlightenment. Salah satu artikel yang paling saya suka adalah ketika dia menuliskan tentang sosok Gus Dur.

Blogger lain yang blognya sering saya ikuti adalah Mas Nofie Iman. Tulisan-tulisannya ringan walaupun topik yang dibahas lumayan berat. Blognya membahas fenomena2 ekonomi yang terjadi di dalam maupun di luar negeri. Di samping juga menumbuhkan semangat2 dan jiwa entrepreneur. Dia lah yang menyebabkan saya ikut2an membeli buku “The Outliers” dan “The Tipping Point” milik Malcolm Gladwell.

Lain lagi dengan Pak Armein Z Langi. Dosen yang superb saya kira. Di tengah kesibukannya yang saya kira ratusan kali lebih sibuk dari saya, namun tetap bisa menelurkan ide-ide serta pandangannya lewat blognya setiap hari. Yah, mungkin terkadang missed beberapa hari, namun itu karena hal2 yang memang nggak memungkinkan untuk nge-blog.

Ada lagi, tulisan2 dari Mas Galih Satria. Tulisannya sederhana, namun sering kali bermakna “dalam”. Saya juga suka sama foto2 dari Mas Galih ini.

Tulisan2 mereka khas. Punya gayanya masing2. Punya keunikan tersendiri. Well, saya sendiri masih meraba-raba gaya tulisan saya. Adakah yang berkenan memberikan saran?

g lebih dari negeri kita sehingga nantinya kita berkontribusi yg maksimal terhadap negara kita.</p> <p>Mencuplik kata2 dari John F Kennedy, jangan tanyakan apa yg bisa negara berikan padamu, namun tanyakan apa yg kamu bisa berikan pada negara.</p> <p>Harapan saya untuk bangsa cuma satu, Indonesia bisa menjadi nestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id_hash typec58a4719a0c08358f7912232de42fdb6http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/#commentshhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/02/kang-abik-di-taipei/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments'

Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Pernah mendengar pepatah atau kalimat tersebut? Mungkin para perfeksionis sangat mengerti dan memahami kalimat itu. Hingga di setiap tindakannya harus ada rencana. Setiap proyek harus ada blue-print nya. Namun mungkin itu juga yang membuat para perfeksionis selalu mengulur-ulur waktunya sampai rencananya benar2 sempurna, sebelum akhirnya dia mengeksekusi rencana tersebut. Maka jangan heran jika banyak perfeksionis2 di dunia ini yang belum berhasil dalam menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Karena sesungguhnya dia sedang mencari seseorang yang sempurna, menurut pandangan dia sendiri.

Tapi bukan itu masalah yang mau saya bahas sebenarnya. Beberapa hari terakhir ini salat tarawih saya sedang tidak khusyuk2nya. Ide2 liar bermunculan di kepala di tengah2 keasyikan sang imam membacakan ayat2 suci Al-Quran. Ide yang muncul belakangan ini adalah tentang apa yang saya ingin lakukan setelah nanti lulus. Terdengar terlalu optimis, namun ya begitulah. Saya melihat peluang melalui fenomena semakin banyak beredarnya undangan pernikahan dari teman2. Di era internet 2.0 ini, undangan pernikahan yang beredar saat ini bukan hanya undangan berbentuk fisik, namun mulai banyak juga yang berupa data digital. Seperti undangan melalui facebook, email, dan website.

Sayangnya, saya melihat website2 pre-wedding sering kali tidak dibuat dan di-maintain dengan serius. Padahal, banyak yang bisa kita lakukan dengan website. Video testimonial teman2 dan saudara2, foto2 kenangan masa lalu, lagu2 nostalgia, guests book, semua bisa dikumpulkan dalam website dan tentunya merupakan sesuatu hal yang menarik karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sampai sekarang ide ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sambil mengasah lagi ilmu2 serta mengumpulkan modal2 yang diperlukan.

Ide ini saya bocorkan karena saya juga belum tentu akan merealisasikannya atau tidak. Jadi ya monggo2 saja kalau ada yang mau memulainya. Toh, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.

dap negara kita.</p> <p>Mencuplik kata2 dari John F Kennedy, jangan tanyakan apa yg bisa negara berikan padamu, namun tanyakandatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 updated type2010 8 19 19 1 38 3 231 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hash type845229240fb76aadda8222589716db3dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hashslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434url_etag updated last_updated subtitle lastbuilddate url next_order generator filter language link title url_status url_modified sy_updateperiod exclude configured_url generator_name sy_updatefrequency keysstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 content type$O http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/i-just-knew-what-was-happened-to-me/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 date type2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_comments type6http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hash typeedf644728b27c042b75b06870ce7313dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hash!

Salah satu bagian tak terpisahkan dalam dunia internet adalah adanya surat elektronik atau yang biasa kita kenal dengan email. Mungkin hampir setiap dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan mailing list dari kelompok organisasi tempat kita terlibat aktif di dalamnya. Mengunjungi inbox seakan bertransformasi menjadi kebutuhan primer. Karena jika inbox tidak ditengok beberapa hari saja, bisa-bisa gunungan email akan berjejalan di sana dan membuat malas untuk membacanya satu persatu serta mengikuti alur cerita yang sedang didiskusikan.

Email sangat menunjang pekerjaan baik dari segi efektivitas dan efisiensi. Cepat, praktis, mudah, murah. Kita tidak perlu lagi pergi ke kantor pos atau pun kotak surat terdekat hanya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang. Kita juga tidak perlu capek2 membeli perangko dan juga tidak perlu bingung memilih perangko yang mana yang bisa dipakai untuk mengirim ke kota A atau kota B, negara C atau negeri D.

Dengan email kita juga tidak perlu khawatir apakah pesan kita terkirim atau tidak, karena kalau ternyata alamat email tersebut tidak terdaftar, maka dengan seketika kita akan mendapatkan email yang menginformasikan bahwa email kita tertolak dan alamat email yang dikirim sebenarnya tidak lah ada. Dalam hitungan detik, email bisa langsung dibaca dan kemudian dikirim balasannya. Bandingkan dengan jasa pos. Jangankan segera dibalas, sekedar tahu kapan surat itu akan sampai pun masih menjadi teka-teki.

Namun dengan segala kemudahan dan keuntungan dari email serta berbagai kekurangan dari surat pos, ternyata kartu pos, kantor pos dan tukang pos masih bisa bertahan hingga saat ini. Kartu pos masih banyak dijual di toko buku-toko buku dan di tempat-tempat memperoleh souvenir, dengan berbagai variasi gambar dan bentuknya. Dan tukang pos, di hari-hari kerja dia masih sibuk mengantar surat atau pun paket dari rumah ke rumah, dari gedung satu ke gedung lainnya. Perangko, sebagai aksesoris dalam surat menyurat pun juga masih tetap sama eksisnya dengan segala keunikan gambar serta kelangkaannya.

Awalnya saya apatis terhadap hal-hal yang berbau pos tersebut. Ribet lah, nggak praktis lah, nggak bisa diandalkan lah. Namun beberapa bulan belakangan ini saya akhirnya bisa menumbuhkan kepercayaan kepada kantor pos beserta perangkat penunjangnya, serta menemukan keasyikan tersendiri dalam berkorespondesi menggunakan jasa pos. Bukan karena pesimis, melainkan ada rasa kurang percaya dengan jasa pos karena banyak faktor manusia di sana. Mulai dari tulisan tangan pengirim yang bisa salah dibaca, kemudian pegawai pos yang bisa salah memilah milih surat sesuai dengan kategori tujuan, atau bisa saja surat itu terjatuh ketika dalam perjalanan sewaktu diantar tukang pos.

Nah, justru di situ lah menariknya. Surat konvensional melibatkan banyak orang. Atau bahasa Jawa-nya, nge-wongke. Lebih me-manusia-kan orang. Ada sapaan ramah ketika kita memasuki kantor pos, dan ketika kita bertanya, “saya mau mengirim surat ke sana dan sini, bagaimana caranya?” maka si petugas akan menjawab dengan lengkap dari A sampai Z. Ada juga lelah dari pengawai pos ketika mengelompokkan surat berdasarkan tujuan. Dan terakhir, ada tetesan keringat si tukang pos yang muter-muter ke pelosok-pelosok daerah demi menyampaikan amanah. Semua emosi itu terakumulasi dalam selembar kertas dalam timbangan gram.

Kemudian di saat menerima surat, ternyata emosi itu menular dan mengalir. Setidaknya begitu lah yang saya rasakan setelah beberapa kali menerima kartu pos dari teman-teman. Walaupun mungkin yang disampaikan hanya sekedar bertanya kabar, saling menyemangati dalam belajar, atau hal-hal tidak penting lainnya yang mungkin bisa kita lakukan ketika chatting. Namun dengan surat atau kartu pos itu, ada “yang lain” yang saya rasakan. Kalau surat dari teman saja sudah begitu memb-/h kuduga, aku mengenalnya. Presiden Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan. Mana mungkin aku tidak mengenalnya. Sudah 3 generasi aku woro-wiri di organisasi itu, walaupun hanya benar-benar aktif selama setahun. Itu pun karena dulunya diminta bantu-bantu oleh seorang calon profesor wanita dari ITS, hingga akhirnya ikut kecemplung di sana. Pak Agus nampaknya familiar dengan wajahku. Dia bilang dia pernah melihatku sebelumnya. Ternyata aku masih cukup terkenal juga.

Sebelum aku datang, Pak Agus sudah punya teman ngobrol. Seorang gadis berjilbab merah jambu, berkacamata. Sekilas, aku kenal wajah itu, tapi tidak dengan namanya. Aku pernah melihatnya di foto-foto kegiatan Formmit Selatan. Ketika Pak Agus mencoba mengenalkanku dengan menyebutkan namaku, si gadis itu malah menyeletuk, “DJ Radio PPI Dunia itu ya?” Aku mengangguk. Terus terang aku tidak pernah memperkenalkan diriku sebagai salah satu penyiar di radio pelajar itu kepada orang lain, kecuali memang ketika sedang bertugas. Yang masih membuatku heran, seterkenal itu kah aku?

Teman si gadis itu tidak lama kemudian datang. Jadi lah si gadis itu punya teman ngobrolnya sendiri. Sedangkan aku, ngobrol atau lebih tepatnya melakukan tanya jawab dengan Pak Agus. Dia bertanya, aku menjawab. Atau sebaliknya, aku bertanya, dia menjawab. Pertanyaan-pertanyaan itu entah mengapa tidak bisa menjadi rangsangan untuk membentuk sebuah topik diskusi yang hangat. Satu pertanyaanku yang terkadang muncul adalah, apakah dalam bergaul dengan seseorang, kita juga butuh yang namanya chemistry?

Antrian yang cukup panjang itu hampir memakan waktu 30 menit sendiri. Kejadian yang mirip dengan kejadian di Soekarno-Hatta sepertinya akan terulang. 30 menit lagi pesawat akan lepas landas, dan aku masih di counter check-in. Antrianku tepat di belakang Pak Agus. Setelah ia selesai dengan urusannya, aku maju ke counter itu. Yang melayani di counter itu adalah wanita muda dari ras kuning.

Aku hanya menyerahkan pasporku saja, dan menaruh koperku di timbangan bagasi. Ketika dia hampir menyelesaikan semuanya, dia periksa kembali pasporku. Mungkin visa yang dicarinya. Dia bertanya padaku, apakah aku punya kartu identitas lain. Saatnya kertas scan ARC beraksi. Aku menunjukkan kertas itu kepadanya. Dia bertanya lagi, apakah aku punya aslinya. Aku mencoba menjelaskan bahwa ARC-ku tertinggal di Indonesia. Ia pun tampak ragu-ragu dengan keputusan yang akan dibuatnya. Hingga kemudian ia memanggil supervisornya yang mondar-mandir tak jauh dari situ.

Entah aku yang salah dengar, atau memang Mr.X namanya. Seketika, pria India Malaysia itu datang ke counter kami. Si wanita muda itu menjelaskan keadaanku kepada supervisornya. Dia juga bimbang pada awalnya, lalu dia bertanya apa yang kukerjakan di Taiwan. Aku menjawab, study. Sambil kuperlihatkan juga kepadanya fotokopi kartu mahasiswaku. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Mr.X memberikan izinnya membolehkan aku untuk ikut serta di pesawat bernomor D7 2674 itu. Keraguan kini malah muncul pada si wanita penjaga counter, “are you sure?” tanyanya pada Mr.X. Mr.X menjawab sekenanya kurasa, mengingat aku seorang mahasiswa, jadi tidak perlu dipersulit.

Di counter sebelahku, temanku si gadis berkerudung merah jambu yang entah siapa namanya itu juga mengalami nasib yang hampir serupa. Bedanya, dia sedang memperpanjang ARC-nya sehingga yang dia bawa hanya lah tanda terima bahwa ARC-nya telah dibayar dan sedang dalam proses. Syukurlah budi baik yang dimiliki Mr.X tidak hanya diberikannya padaku, tapi juga pada temanku.

Setelah itu, tidak ada lagi masalah yang kutemui antara counter check-in hingga ruang tunggu keberangkatan. Karena masalah sedang menungguku, setibanya aku di Taiwan.

D7 2674, Malaysia-Taiwan

Perusahaan yang mapan biasanya memperlakukan dirinya seperti orangtua. Orangtua yang memiliki anak-anak. Demikian juga dengan maskapai berbudget murah milik Malaysia ini, walaupun dari segi umur masih bau kencur tapi anak-a. i B ?  e D   | N G #  i b 8 b]5|[7 wnA: a=zsF?1tIB&}WDxqF?itle> <link>http:/stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 comments tstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 comments typeRamadhan Tahun Inihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 tstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 comments typstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?Di tengah-tengah pencarian referensi untuk tulisan yang sedang saya buat, ingatan saya tersesat dalam tumpukan-tumpukan memori yang tumpang tindih. Ada sebuah cerita yang saya ingat, tapi saya lupa sumbernya dari mana. Untungnya pilihannya tidak banyak, hanya dua. Kalau tidak di youtube, berarti di arsip siaran radio. Ternyata di youtube tidak ada. Dan benar, ditemukan di [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 summary49http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 orderWaktu & Kesempatanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/bahasa-indonesia-baca-en-do-ne-sya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/sepakbola-dan-pendeteksi-cahaya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 author type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 date typestringhttphttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/sepakbola-dan-pendeteksi-cahaya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 comments49af91fa11ae10784b1e35b267f3a0e9http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 updated typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-9-fotografi/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 id typeJazz be Therehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 titledzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 author55b1a00364dba3176ec420852b12f108http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 id_hashDari sebuah episode yang ditayangkan di Kick Andy yang menampilkan Prof. Yohanes Surya misalnya. Atau pernah membaca artikel Beliau tentang teori ini. Atau memang karena Anda adalah seorang fisikawan jenius sekelas Sheldon Cooper atau Leonard Hofstadter yang pastinya sudah tahu tentang semua teori fisika di luar kepala. Mestakung adalah semesta mendukung. Suatu konsep fisika tentang [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 summary47http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/bahasa-indonesia-baca-en-do-ne-sya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 commentsBanyaknya jalan menuju Roma sebanyak cara menuju Taipei. Kali ini aku ingin mereview maskapai-maskapai penerbangan yang pernah mengantarkanku selama bolak-balik Jakarta-Taipei. Setiap maskapai punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hukum “ada harga, ada rupa” tidak selamanya berlaku menurutku. Karena kenyamanan dan kenikmatan selama di perjalanan, semuanya bergantung pada suasana hati. #halah. Maaf, bukan bermaksud promosi atau [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 summary106http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 order6bAtDB  _ X ( v J C   f 8 1  Y P #  } x O C   u T . + )ng:5eD;XQ&mE9 dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 author http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 wfw_commentrss2009 9 30 7 53 11 2 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 slash_comments typedateurl_modified typestringurl type"d0d2571c0452cb9c3a9aa94d3decce1d"url_etag928b407f1675b3b4caa446563e3efa27http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id_hashThe Last Onehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 title13http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 wfw_commentrss2010 5 26 3 34 6 2 146 0http://blog.dzaislash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184http://blog.dzaia-bs.com/2011/03/the-beginningdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 title typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 updated typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 author32http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/04/hari-ke-19-tempat-tempat-yang-sering-dikunjungi/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 content typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-7-kuliah/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/the-beginning-is-half-of-the-whole/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/semoga-untuk-yang-terakhir-kalinya/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-12-radio/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184http://blog.dzaia-bs.com/?p=704http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 updated type27http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 order* x|W<  d 0  p m H  k d ; 4 &  fa3,kJ#oA<; sX*#{tJC2nKstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=53datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/taiwan-high-speed-railway/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 link typeNgabuburit Sahurhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 title6bb4ffeaf82248c70e69b1b0b9bfb32dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 id_hashstringlanguage typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 updated type

Please upgrade your browser

Sepulang shalat Jumat, Pak Erly tiba-tiba menawarkan sebuah ajakan yang sulit ditolak. Melihat pameran fotografi di TWTC. Dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin saya beli. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter penduduk Taipei yang datang ke pameran. Terutama pameran mobil, komputer, dan fotografi. Tidak sedikit yang datang ke pameran-pameran itu bukan untuk melihat atau membeli produk-produk yang ditawarkan, melainkan mencari keturunan Hawa yang bersedia untuk direkam gambarnya ke dalam memori yang tertanam pada kamera DSLR mereka. Dari sekian wanita yang ditugaskan untuk mempromosikan produknya, saya menemukan dua yang termanis di booth milik dua produsen kamera yang paling banyak digunakan.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 date typeRencanahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 wfw_commentrss typeRhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/02/kang-abik-di-taipei/http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 link11http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 orderLumrahnya dengan semakin banyak membaca maka semakin banyak informasi yang didapat, semakin pintar. Tapi itu kan kalau dilihat dari sisi yang sangat ideal. Tanpa memperhatikan adanya leakage memory, ingatan-ingatan yang menghilang seiring waktu dan ketidakterlatihannya. Karena seperti layaknya otot tubuh, sebstringlanguage typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-2/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 link91http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/02/kang-abik-di-taipei/http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 link11http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 summary typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/terserah/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 commentsHari ke-14 : Makan & Makananhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 updated type2010 8 26 23 57 14 3 238 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 id_hash typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 authorslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 id_hash type:ZS+aZ-& c W . ' i  Z S +  y X / ma61aZV7*P*(stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 link type7http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/#commentshttp://blog.dzdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 author type2011 10 27 19 55 10 3 300 0url_modifiedhttp://blog.dzaia-bs.com/feed/urlstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 author typestrhttp://blog.dzaia-bs.com/feed/urlbfcaf07cce820eec458ef33246aa5f18http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 date typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 content3733451385af9dde75c1b9572dbc6adehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 id_hashLately my blog seems really boring, isn’t it? No more photos and videos. Well, right now I kinda feel like what Mr.Anang says in his song which is titled “Separuh Jiwaku Pergi.” Not so that a part of my soul, actually. But yeah, I feel incomplete. I’m missing something that belong together for such quite [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 id2012 3 2 16 5 12 4 62 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 content type2010 2 23 18 4 47 1 54 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 summary type43297dec77c2a8641818ff3c65dbbac2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/about-eat-pray-and-love/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 id typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 content22http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/m-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 commentsSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/02/day-0-the-beginning-of-30-hari-menulis/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 wfw_commentrss"H g`61aZ1% f K  m f ] H n A :  _Z&vaS3-c31 VO!KY|S~Y>mfstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/remember-the-december/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 date type2010 12 22 1http://blog.dzaia-bs.com/2011/08/ngabuburit-sahur/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 author type2011 7 13 15 43 23 2 194 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 slash_commentsurl_etag updated last_updated subtitle lastbuilddate url next_order generator filter language link title url_status url_modified sy_updateperiod exclude configured_url generator_name sy_updatefrequency keysThu, 27 Oct 2011 19:55:10 +0000lastbuilddatemy world in my wordssubtitle2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 date6http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 slash_comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/rencana/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 wfw_commentrsse438976c0cc0725c480a3fdf6b9c4046http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/aku-sebuah-buku/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 commentsAku Sebuah Bukuhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rehal-modern/#commentshttp://blomy world in my wordssubtitlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 link type2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 datedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 authorAku Sebuah Bukuhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 link typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-14-makan-makanan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 slash_comments typeRehal Modernhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 slash_comments( xMFYR/ h  e 8 1  v o A :  \ KD?|S2 onMib<{_70bF7http://blog.dzaia-bs.com/?p=555http://blog.dz2010 10 29 14 44 28 4 302 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=698 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 updated type1http://blog.dzastringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 wfw_commentrss typeaeeab7959d037ec8f689eb4d36140552http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 link typeMemang susah ternyata untuk menjadi public speaker. Selain butuh pengalaman, public speaking menurut saya juga membutuhkan bakat. Membaca buku Seni Berbicara-nya Larry King ternyata tidak terlalu membantu saya untuk melakukan interview yang “enak” didengar. Bagaimana menyapa nara sumber, bridging, dan feedback spontan belum bisa saya lakukan dengan baik. Sampai-sampai nara sumber saya bilang, emang gak [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 title typestringhdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 author000a249f7481f0bcabad5b30040588a2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 summary type25http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/kucoba-dalam-100-kata/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 idTepat satu minggu setelah Kakek berulang tahun, Aku tak pernah menyangka kalau pesan singkat yang masuk ke HP-ku siang tadi mengabarkan bahwa Nenek telah pergi menghadap Sang Ilahi Robbi. Pikiranku langsung tak karuan, Nek. Mengingat semua memori tentang Nenek bisa melelehkan air mata yang lama tak pernah mengalir. Aku masih ingat suara Nenek di ujung [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 wfw_commentrss type6ae3a38839f1545a3edd4cc55216834ehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 link type25http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 author type2011 4 30 12 45 37 5 120 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-15-travelling-in-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 comments6ae3a38839f1545a3edd4cc55216834ehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 author type2011 4 9 19 42 28 5 99 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 content type000a249f7481f0bcabad5b30040588a2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 6 kjI v o F :  s j = 6  k d 9 2  %^1,mf64  b]5,mfA&7~[;M[1,stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=698 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash hidden summary id wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418http://blog.dzaia-bs.com/2009/06/jazz-be-there/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 wfw_commentrssGagal rencana jalan-jalan ke Hualien. Karena menurut gosip dan informasi dari website yang kurang terpercaya, taifun akan lewat di sebelah barat Taiwan di akhir minggu ini, dan hujan deras bakal mengguyur daerah barat, tengah, selatan, bahkan utara. Untuk mengobati sakit hati, saya langsung meluncur ke website turisme-nya Taiwan. Ternyata, mulai minggu ini ada Taipei International [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 summary2009 6 21 12 54 26 6 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=5373 tahun lalu, Ramadhan-ku saat itu sepenuhnya dihabiskan di Taipei. Ramadhan pertama (dalam 23 tahun) yang jauh dari keluarga. Agak aneh memang merasakan puasa di lingkungan baru, karena saat itu juga aku baru 78http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 updated typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=12442011 1 14 14 3 30 4 14 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 dateAw aw aw… lama sekali nggak nge-blog, yo wis lah, numpang curcol lewat sebentar… Song of the week nih kayanya…http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/12/cupu-ih-dzaia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/the-more-i-read-the-more-i-feel-stupid/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 wfw_commentrss typeb http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/another-project/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 slash_comments typeslash_commenstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 summary typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 slash_commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 updated typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 slash_comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=15982011 12 15 18 34 35 3 349 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 slash_comments" YW)$a. l ` 5 0  ~ w P G !  ( & fc>$|TK vtMDTM"g`3,OH(ib50em>.

Yah… walaupun sudah agak basi, tapi masih boleh lah buat ditampilin… Maklum, baru selesai diedit… enjoy :D

http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 title typedf394c0cacdec25a1f1d9f70de44fd1ehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=2012 3 12 16 2 3 0 72 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 updated2011 9 14 15 44 27 2 257 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 datedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 date typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/what-if/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-12-radio/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 updated type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 id_hash type2011 9 4 8 55 26 6 247 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 updatedembuat saya sebenarnya ingin sekali untuk sekolah di California sana. Itu lah salah satu impian saya.

Oke, sampai dengan cerita saya barusan, mungkin masih belum terjawab mengapa saya bisa sampai Taiwan. Selepas saya lulus dari S1, saya melamar kerja ke berbagai perusahaan-perusahaan besar. 3 kali melamar kerja, paling mentok hasilnya hanya sampai tahap kedua wawancara. Well, melihat sisi baiknya, mungkin saya tidak atau belum ditakdirkan untuk menjadi karyawan. Namun, selain saya melamar pekerjaan, saya juga coba-coba untuk melamar beasiswa. Saya bergabung dengan salah satu milis beasiswa. Saya cari-cari beasiswa yang sesuai dengan background pendidikan saya di S1. Hingga suatu hari di milis tersebut ada tawaran beasiswa bagi mahasiswa asing untuk bidang electrical engineering. Beasiswa tersebut datang dari Taiwan. Taiwan, hmmm… saya pikir ini pilihan yang baik, melihat teknologi di bidang semikonduktor saat ini mulai dikuasai oleh Taiwan. Laptop dan aksesoris komputer saat ini banyak yang diproduksi oleh Taiwan. Jadi saya berpikir tidak salah jika saya memilih Taiwan sebagai stepping stone saya menuju Amerika. I believe that I’m still walking on the right track. Dan ternyata, banyak sekali pengajar-pengajar di sini yang merupakan alumni dari Stanford University.

Sempat takut juga sih sebenarnya di awal2 kedatangan di Taiwan ini… ada keraguan bahwa saya akan sulit bersaing dengan mahasiswa2 lokal di sini… karena bukan hanya tampang mereka yang sudah kelihatan pintar, namun juga tipikal-tipikal mereka yang pekerja keras… yang menerapkan prinsip P4, Pergi Pagi Pulang Petang… Namun setelah semester demi semester berlalu, saya kira orang Indonesia tidak akan kalah dengan bangsa mana pun… kita bisa bersaing dengan mereka dan kita bisa maju seperti mereka.

Tapi sebuah kemajuan bangsa, tidak mungkin kan jika kita maju sendiri2? Harus ada wadah yang memuat semua potensi2 itu. Di pertengahan tahun 2009, muncul lah sebuah organisasi yg dipelopori oleh mahasiswa mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di seluruh penjuru dunia. Mereka menamakan dirinya Radio PPI Dunia, dengan slogannya Suara Anak Bangsa Satu Cinta Satu Indonesia. Radio ini menawarkan keberagaman, ke-bhineka tunggal ika-an. Awalnya saya penasaran dengan orang-orang kreatif di balik radio ini. Maka tidak lama setelah mereka launching, saya memberanikan diri untuk menggabungkan diri dengan mereka, karena hanya dengan begitu lah saya bisa bertemu dengan teman-teman yang mempunyai ketertarikan yang sama, dan tentunya dengan tujuan untuk membangun Indonesia. Itulah alasan saya bergabung dengan radioppidunia.

Alasan saya yang lain bergabung dengan Radio PPI Dunia adalah, saya juga ingin belajar bagaimana cara menyampaikan ide, pemikiran, dan informasi dengan baik kepada khalayak umum. Karena terus terang, saya agak kesulitan kalo disuruh berpidato, atau berbicara di depan umum.

Sekilas tentang Radio PPI Dunia, radio ini dijalankan 24 jam sehari 7 hari seminggu. Pendengar bisa mendengarkan radioppidunia melalui website www.radioppidunia.com. Radio PPI Dunia memang sedikit berbeda dengan radio frekuensi yang sudah ada selama ini, radioppidunia menggunakan internet sebagai media utamanya atau yang dikenal dengan radio streaming. Pendengar pun bisa bersilaturahmi dengan teman-teman Indonesia yang sedang tinggal di berbagai negara lewat fasilitas Chatbox yang ada di website tersebut. Kita harus berterimakasih pada teknologi yang membuat semuanya ini mungkin terjadi. Yang membuat informasi dapat disebarluaskan kapan saja di mana saja.

Hal yang menarik lainnya dari radioppidunia adalah konsep yang mereka buat. Edukatif, Informatif, dan Entertaining. Edukatif… Ya karena selain kru2nya tersebar dari 5 benua, background keilmuan yang dimiliki penyiarnya juga bermacam-macam. Dari mulai engineering, kedokteran, sains, sosial, ekonomi, dll. Informatif… karena di radioppidunia kita bisa sharing pengalaman dan pengetahuan ttg berita-berita di luar tanah air. Entertaining/menghibur… yes, karena didukung oleh penyiar2 yg berjiwa muda dan punya selera humor.

Oke… Untuk merangkum apa yang sudah saya utarakan panjang lebar tadi, Ahmad Fuadi dalam kunjungannya ke Malaysia kemarein kemarin untuk bedah bukunya Negeri 5 Menara memberikan pesan yang menarik, bahwa ia yang tidak mempunyai mimpi akan merugi 2 kali, pertama karena ia tidak pernah bermimpi, kedua karena impian-impiannya tidak akan pernah terwujud. Jadi bermimpilah karena bermimpi itu gratis, dan kemudian bersungguh-sungguhlah dengan mimpi itu!

Dan dalam meraih mimpi itu, akan lebih ringan bila kita memiliki banyak teman. Mengapa? Karena dengan banyak teman, akan banyak yang bisa membantu kita. Oleh karena itu, gunakan setiap kesempatan dan peluang yang ada untuk menambah teman.

Nggak terasa sudah satu jam saya berbagi cerita di Suara Muda Indonesia tentang kehidupan dan impian2 saya……senang sekali rasanya sudah bisa sharing sama teman-teman dan semoga apa yang share di sini bisa bermanfaat dan menjadi inspirasi buat teman-teman semua. Ingin tahu lebih jauh tentang profil saya dan juga Radio PPI Dunia? Untuk lebih detail-nya, silakan add facebook-nya M RADIO di : mradiofm@yahoo.co.id…

Wassalam.

sih sering melakukan kesalahan. Mungkin jari-jari ini kurang untuk menghitung lidah yang terselip berkali-kali. Kurang lebih waktu satu jam habis untuk sebuah rekaman berdurasi sekitar 10 menit.

Opening :

Part 1 :

Part 2 :

Part 3 : 

Part 4 : 

Part 5 : 

Part 6 : 

Part 7 : 

Closing :

Dulu kakak saya pernah bilang kalau suara saya terdengar kemayu (genit). Setelah saya dengar lagi berkali-kali, dia ada benarnya juga. Untuk yang malas mendengarkan suara yang kemayu mendayu-dayu itu, tapi penasaran dengan apa yang saya sampaikan, berikut ini skrip-nya.

Assalamualaykum warrahmatullahi wabaraktuh.

Perkenalkan dulu nama saya Wijayanto Budi Santoso atau biasa dipanggil Jaya. Saat ini saya sedang mengambil kuliah S2 atau Master di jurusan Electrical Engineering di National Taiwan University, di Taiwan. Ada 2 hal yg ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini, pertama adalah mengapa saya bisa sampai di Taiwan, dan yg kedua adalah tentang Radio PPI Dunia tempat di mana saya ikut aktif berorganisasi.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa kok saya memilih Taiwan sebagai tempat persinggahan untuk menuntut ilmu. Well… memang ada pepatah yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai negeri Cina, tapi percayalah yang membuat saya terdampar di sini bukanlah karena mengikuti pepatah itu. Sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah S1 tingkat akhir di salah satu institut teknologi di Bandung, saya melakukan tugas akhir atau skripsi di salah satu lab yang mana di lab tersebut juga merupakan ruang kerja dari salah seorang guru besar. Prof Samaun Samadikun namanya, namun sekarang beliau sudah meninggal dunia. Saya kagum dengan integritas beliau dalam menekuni profesinya sebagai ilmuwan Indonesia yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap bangsanya. Hal lain yang saya kagumi adalah bahwa beliau merupakan lulusan Stanford University, murid langsung dari William Shockley si penemu transistor yang merupakan cikal bakal prosesor computer, otak dalam komputer. Sejak SMP saya selalu penasaran tentang apa sih isinya otak dari komputer itu… dan itu lah yang mendorong saya memilih jurusan teknik elektro ketika SPMB

Lalu mengapa saya tertarik dengan Stanford University? Di sanalah tempat di mana brand2 besar di bidang IT bermunculan, seperti Google, Hewlett Packard, Yahoo, NVidia, Sun Microsystem, dll. Jadi saya merasa suatu saat nanti saya harus ke sana. Karena ada sesuatu di sana yang saya kira bisa mengubah keadaan bangsa kita yang kalo boleh dikatakan keadaan kita saat ini sangat tertinggal dalam bidang teknologi. Namun kalo sekarang saya ditanya, apakah sesuatu itu, terus terang saya tidak tahu. Faktor-faktor ini lah yang m

Memang susah ternyata untuk menjadi public speaker. Selain butuh pengalaman, public speaking menurut saya juga membutuhkan bakat. Membaca buku Seni Berbicara-nya Larry King ternyata tidak terlalu membantu saya untuk melakukan interview yang “enak” didengar. Bagaimana menyapa nara sumber, bridging, dan feedback spontan belum bisa saya lakukan dengan baik. Sampai-sampai nara sumber saya bilang, emang gak bakat kamu Jay…

Sekitar 2 minggu yang lalu, kenalan saya di M-Radio Surabaya meminta saya untuk menjadi salah satu pengisi acara “Suara Muda Indonesia”. Specifically, dia meminta untuk menceritakan tentang Taiwan dan juga tentang Radio PPI Dunia yang kemudian dikemas dalam sebuah file audio. Well, saya oke-kan tawaran tersebut walaupun agak merasa kurang pantas melihat prestasi-prestasi yang dicapai oleh pengisi-pengisi acara tersebut sebelumnya. Dan untuk mengatasi “demam di atas panggung”, sebuah skrip agak panjang saya siapkan. Hampir 2 halaman kertas A4 yang diketik rapi di laptop. Edit berkali-kali karena sering merasa nggak pas.

Ternyata walaupun persiapannya sudah matang, tetap saja ketika eksekusi rekaman masih sering melakukan kesalahan. Mungkin jari-jari ini kurang untuk menghitung lidah yang terselip berkali-kali. Kurang lebih waktu satu jam habis untuk sebuah rekaman berdurasi sekitar 10 menit.

Opening :

Part 1 :

Part 2 :

Part 3 : 

Part 4 : 

Part 5 : 

Part 6 : 

Part 7 : 

Closing :

Dulu kakak saya pernah bilang kalau suara saya terdengar kemayu (genit). Setelah saya dengar lagi berkali-kali, dia ada benarnya juga. Untuk yang malas mendengarkan suara yang kemayu mendayu-dayu itu, tapi penasaran dengan apa yang saya sampaikan, berikut ini skrip-nya.

Assalamualaykum warrahmatullahi wabaraktuh.

Perkenalkan dulu nama saya Wijayanto Budi Santoso atau biasa dipanggil Jaya. Saat ini saya sedang mengambil kuliah S2 atau Master di jurusan Electrical Engineering di National Taiwan University, di Taiwan. Ada 2 hal yg ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini, pertama adalah mengapa saya bisa sampai di Taiwan, dan yg kedua adalah tentang Radio PPI Dunia tempat di mana saya ikut aktif berorganisasi.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa kok saya memilih Taiwan sebagai tempat persinggahan untuk menuntut ilmu. Well… memang ada pepatah yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai negeri Cina, tapi percayalah yang membuat saya terdampar di sini bukanlah karena mengikuti pepatah itu. Sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah S1 tingkat akhir di salah satu institut teknologi di Bandung, saya melakukan tugas akhir atau skripsi di salah satu lab yang mana di lab tersebut juga merupakan ruang kerja dari salah seorang guru besar. Prof Samaun Samadikun namanya, namun sekarang beliau sudah meninggal dunia. Saya kagum dengan integritas beliau dalam menekuni profesinya sebagai ilmuwan Indonesia yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap bangsanya. Hal lain yang saya kagumi adalah bahwa beliau merupakan lulusan Stanford University, murid langsung dari William Shockley si penemu transistor yang merupakan cikal bakal prosesor computer, otak dalam komputer. Sejak SMP saya selalu penasaran tentang apa sih isinya otak dari komputer itu… dan itu lah yang mendorong saya memilih jurusan teknik elektro ketika SPMB

Lalu mengapa saya tertarik dengan Stanford University? Di sanalah tempat di mana brand2 besar di bidang IT bermunculan, seperti Google, Hewlett Packard, Yahoo, NVidia, Sun Microsystem, dll. Jadi saya merasa suatu saat nanti saya harus ke sana. Karena ada sesuatu di sana yang saya kira bisa mengubah keadaan bangsa kita yang kalo boleh dikatakan keadaan kita saat ini sangat tertinggal dalam bidang teknologi. Namun kalo sekarang saya ditanya, apakah sesuatu itu, terus terang saya tidak tahu. Faktor-faktor ini lah yang m 

Akhirnya selesai juga membaca sebuah novel yang boleh dibilang topiknya agak jauh dari normal untuk dibaca oleh seseorang yang belum pernah mencicipi dan mengerti bagaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, tapi nahkodanya masih ragu-ragu. Saya juga baru sadar ketika ada teman yang mengomentari tentang novel yang saya review dalam acara Kutu Buku di radio, judulnya Eat, Pray, Love -One Woman’s Search for Everything Across Italy, India and Indonesia-. “Kenapa kok beli buku tentang Janda?”

Melihat dari judul buku dan sub-judulnya, maka yang ada dalam pikiran saya ketika kira-kira setahun yang lalu menemukan buku ini, ini adalah buku tentang jalan-jalan. Bagaimana si penulis menikmati hidup dan menikmati makanan-makanan di berbagai negara disertai pengalaman-pengalaman menarik di dalamnya. Yup, sebagian memang benar. Di dalamnya memang diceritakan bagaimana si Liz Gilbert menghabiskan waktunya di Itali dengan makan, makan, dan makan. Kemudian di India, Liz menghabiskan waktunya dengan bermeditasi dan mencari sesuatu yang dia sebut Tuhan.

Namun, sebagian yang lain menceritakan tentang keluh kesah dia dalam menghadapi hancurnya perkawinan yang baru seumur jagung. Ditambah curhat-curhat dia yang kadang-kadang saya anggap konyol dan bertanya-tanya, serumit itu kah persoalan cinta? Berkali-kali Liz terlihat seperti bimbang dalam menentukan. Ketika dia bercerai dengan suaminya, ketika dia bersama David, dan ketika dia bertemu Felipe yang akhirnya menjadi cintanya di akhir novel ini, semua diiringi kebimbangan. Dua kebimbangan pertama diatasi dengan bertanya kepada Tuhan, sedangkan kebimbangan ketiga diatasi oleh waktu.

Salah satu poin menarik dalam cerita ini, adalah bagaimana Liz merasakan pertemuan dengan Sang Pencipta. Yaitu ketika dia ditunjukkan sebuah tempat rahasia di Ashram oleh temannya si tukang pipa. Di tempat itu lah Liz berdoa agar masalah-masalah yang menjadi pikirannya selama ini dapat diselesaikan. Saat itu muncul suara-suara bisikan hati kecilnya, yang berduel dengan suara-suara ego dalam pikiran. Suara hati dan pikiran bertarung, suara hati dia lambangkan dengan suara malaikat, sedangkan suara pikiran digambarkan dengan suara setan. Dua suara dalam satu jiwa.

Di saat lain dalam meditasinya, imajinasi Liz akan Tuhan mungkin akan sulit untuk dibayangkan. Dia bertemu dengan Tuhan ketika bermeditasi, ketika ruh-nya meninggalkan tubuhnya, terbang melintasi angkasa dan tiba pada suatu ruang hampa. “The void was God, which means that I was inside God. But not in a gross, physical way-not like I was Liz Gilbert stuck inside a chunk of God’s thigh muscle. I just was part of God.” Begitu lah kira-kira Liz Gilbert mendeskripsikan pertemuannya dengan Tuhan.

Sesekali saya merasa, apa yang dilakukan Liz ketika bermeditasi mirip ketika saya berdoa dan merasa khusyuk. Berada dalam sebuah ruang kosong, hampa, gelap (karena merem), merasakan kesendirian di tengah keramaian, dan berdialog dengan sosok yang tak berwujud. Merasakan kedekatan dengan-Nya, merasakan segala curahan hati didengarkan oleh-Nya. Pengalaman rohani memang unik, karena berhubungan dengan hal yang tidak kasat mata. Perasaan dan pikiran kita lah yang merasakannya.

Poin menarik lainnya dari buku ini adalah cerita tentang Indonesia. Dan ya, ini lah salah satu alasan saya mencomot buku ini dari tumpukan buku yang dipajang. Selain memperkenalkan adat Bali yang patriarki dan budaya serta tradisi Bali, Liz juga sedikit menyoroti tentang sejarah Bali dan juga kebobrokan moral orang Indonesia, yang ternyata korupsi di Indonesia sudah begitu terasa oleh para wisatawan.

All in all, this is a good book, though not so awesome.

ari buku ini adalah cerita tentang Indonesia. Dan ya, ini lah salah satu alasan saya mencomot buku ini dari tumpukan buku yang dipajang. Selain memperkenalkan adat Bali yang patriarki dan budaya serta tradisi Bali, Liz juga sedikit menyoroti tentang sejarah Bali dan juga kebobrokan moral orang In!uat kita senang, bagaimana dengan surat dari seseorang yang special. Pasti rasanya lebih dari sekedar senang.

Jadi teringat jauh ke masa-masa puber awal, ketika saya mendapatkan kartu pos (entah kartu lebaran atau ulang tahun ya?) buatan tangan dari seorang teman sekelas. Saya jawab surat itu dengan surat beramplop merah transparan buatan tangan. Saya masukkan ke dalam kotak pos berwarna jingga di dekat rumah. Entah terkirim atau tidak, sampai sekarang masih misteri.

transformasi menjadi kebutuhan primer. Karena jika inbox tidak ditengok beberapa hari saja, bisa-bisa gunungan email akan berjejalan di sana dan membuat malas untuk membacanya satu persatu serta mengikuti alur cerita yang sedang didiskusikan.

Email sangat menunjang pekerjaan baik dari segi efektivitas dan efisiensi. Cepat, praktis, mudah, murah. Kita tidak perlu lagi pergi ke kantor pos atau pun kotak surat terdekat hanya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang. Kita juga tidak perlu capek2 membeli perangko dan juga tidak perlu bingung memilih perangko yang mana yang bisa dipakai untuk mengirim ke kota A atau kota B, negara C atau negeri D.

Dengan email kita juga tidak perlu khawatir apakah pesan kita terkirim atau tidak, karena kalau ternyata alamat email tersebut tidak terdaftar, maka dengan seketika kita akan mendapatkan email yang menginformasikan bahwa email kita tertolak dan alamat email yang dikirim sebenarnya tidak lah ada. Dalam hitungan detik, email bisa langsung dibaca dan kemudian dikirim balasannya. Bandingkan dengan jasa pos. Jangankan segera dibalas, sekedar tahu kapan surat itu akan sampai pun masih menjadi teka-teki.

Namun dengan segala kemudahan dan keuntungan dari email serta berbagai kekurangan dari surat pos, ternyata kartu pos, kantor pos dan tukang pos masih bisa bertahan hingga saat ini. Kartu pos masih banyak dijual di toko buku-toko buku dan di tempat-tempat memperoleh souvenir, dengan berbagai variasi gambar dan bentuknya. Dan tukang pos, di hari-hari kerja dia masih sibuk mengantar surat atau pun paket dari rumah ke rumah, dari gedung satu ke gedung lainnya. Perangko, sebagai aksesoris dalam surat menyurat pun juga masih tetap sama eksisnya dengan segala keunikan gambar serta kelangkaannya.

Awalnya saya apatis terhadap hal-hal yang berbau pos tersebut. Ribet lah, nggak praktis lah, nggak bisa diandalkan lah. Namun beberapa bulan belakangan ini saya akhirnya bisa menumbuhkan kepercayaan kepada kantor pos beserta perangkat penunjangnya, serta menemukan keasyikan tersendiri dalam berkorespondesi menggunakan jasa pos. Bukan karena pesimis, melainkan ada rasa kurang percaya dengan jasa pos karena banyak faktor manusia di sana. Mulai dari tulisan tangan pengirim yang bisa salah dibaca, kemudian pegawai pos yang bisa salah memilah milih surat sesuai dengan kategori tujuan, atau bisa saja surat itu terjatuh ketika dalam perjalanan sewaktu diantar tukang pos.

Nah, justru di situ lah menariknya. Surat konvensional melibatkan banyak orang. Atau bahasa Jawa-nya, nge-wongke. Lebih me-manusia-kan orang. Ada sapaan ramah ketika kita memasuki kantor pos, dan ketika kita bertanya, “saya mau mengirim surat ke sana dan sini, bagaimana caranya?” maka si petugas akan menjawab dengan lengkap dari A sampai Z. Ada juga lelah dari pengawai pos ketika mengelompokkan surat berdasarkan tujuan. Dan terakhir, ada tetesan keringat si tukang pos yang muter-muter ke pelosok-pelosok daerah demi menyampaikan amanah. Semua emosi itu terakumulasi dalam selembar kertas dalam timbangan gram.

Kemudian di saat menerima surat, ternyata emosi itu menular dan mengalir. Setidaknya begitu lah yang saya rasakan setelah beberapa kali menerima kartu pos dari teman-teman. Walaupun mungkin yang disampaikan hanya sekedar bertanya kabar, saling menyemangati dalam belajar, atau hal-hal tidak penting lainnya yang mungkin bisa kita lakukan ketika chatting. Namun dengan surat atau kartu pos itu, ada “yang lain” yang saya rasakan. Kalau surat dari teman saja sudah begitu memb"O 

Mau nggak mau, suka nggak suka, dan setelah dipikir masak-masak, beberapa waktu yang lalu akhirnya gw memutuskan untuk mengakhiri karir di Radio PPI Dunia. Decision has been made, and it’s time for the young ones. It’s time for regeneration. Yes, berakhir sudah kerja sampingan yang menurut gw lebih mirip kerja beneran, cuma beda di pendapatan aja dan beda kepuasan. Dan, ya… saya puas!

Well, I’ve got what I wanted there, I’ve learned more than I expected. I’ve got a new family, I’ve got a lot of experiences, I’ve got a lot of valuable learning. Lumayan buat modal menghadapi masa depan yang tentunya lebih menantang. Yah, mungkin karena ketinggian impian dibanding usaha kali ya?

Siaran terakhir di hari kamis ini, entah kenapa perasaannya seneng banget. Melebihi sebelum-sebelumnya. Walaupun di akhir2 siaran, gw gak sadar mata gw berkaca2 dan hidung rada meler2. Tapi tetep gw bilang sama listener bahwa gw nggak nangis. Boys don’t cry.

Kenapa sih Jay cabut? Pertanyaan yang ditanyakan hampir semua orang yang mengenal saya di radio ini. Klasik sebenernya jawaban dari saya. Studi. Loh, emang kenapa? Selama ini radio menghambat studi kah? For me, yes it is. Tadinya gw berharap dengan bergabung dengan radio, gw bisa belajar memanajemen waktu dengan baik. Bisa mendahulukan yang mana yang prioritas, dan mana yang sampingan. Teorinya, studi adalah prioritas, dan radio adalah secondary. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.

Apa2 yg berhubungan dengan radio, langsung gw kerjain. Mulai dari otak-atik website, persiapan tes siaran, persiapan event2 khusus, ngasih tutorial, dan macem2 hal lainnya. Belum lagi waktu kelabakan kalo server radio atau server website mulai rewel atau down. I found what I like in here, and enjoyed what I did. Sedangkan untuk masalah studi, kayanya mulai hilang pegangan.

Kalau hidup itu adalah tentang saya dan aku, mungkin keputusan keluar dari radio ini nggak akan pernah ada sampai saya lulus atau keluar dari universitas. Namun, hidup bukan tentang diri sendiri kan ya? Hidup itu tentang kita dan orang-orang di sekitar kita, keluarga, teman, sahabat, relasi, yang semuanya tidak ingin melihat kita gagal. Karena itu lah, untuk kembali on track terhadap mimpi2 gw dulu dan mewujudkan harapan2 orang2 terdekat, saya memutuskan untuk merelakan kontribusi di radio ini.

Dengan terbentuknya manajemen yang baru di sana, rasanya saat ini memang timing yang tepat untuk melepas radio. Di tangan2 teman2 yg semangatnya masih menggebu2, radio ini berada di tangan orang yg tepat.

I’m gonna miss to say, “Radio PPI Dunia, Suara Anak Bangsa, Satu Cinta, Satu Indonesia…

Last Show – Part 1 :

Last Show – Part 2 :

Last Show – Part 3 :

*lanjutan Part 2 tentang Suara Muda Indonesia untuk M-Radio bisa disimak di sini.

09/passion/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 content typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttMau nggak mau, suka nggak suka, dan setelah dipikir masak-masak, beberapa waktu yang lalu akhirnya gw memutuskan untuk mengakhiri karir di Radio PPI Dunia. Decision has been made, and it’s time for the young ones. It’s time for regeneration. Yes, berakhir sudah kerja sampingan yang menurut gw lebih mirip kerja beneran, cuma beda di pendapatan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 summary#4

Judulnya diambil dari dua hal yang sepertinya tidak ada hubungannya namun coba dihubung-hubungkan dalam rangka memudahkan penjelasan (bukan pembingungan) cara kerja dari suatu pendeteksi cahaya atau bahasa kerennya, photodetector. Mengapa pengandaiannya dengan sepakbola? Karena sebentar lagi Piala Dunia 2010 dimulai.

Agak bingung juga mau dimulai dari mana, tapi saya kira cukup bersahabat kalau saya mulai saja dari klasifikasi materi/bahan berdasarkan sifatnya dalam menghantarkan listrik. Ada konduktor, semikonduktor, dan insulator. Konduktor adalah penghantar listrik yang baik, seperti kawat timah pada kabel contohnya, besi dan juga baja. Biasanya selain baik dalam menghantarkan listrik, dia juga bagus dalam menghantarkan panas. Berkebalikan dengan insulator. Insulator merupakan penghantar listrik yang buruk. Sebut saja kertas, kayu, plastik, dan kaca. Di antara kedua sifat itu, ada yang namanya semikonduktor. Sifatnya bisa sebagai insulator dan juga sebagai konduktor, bergantung pada situasi dan kondisi.

Sifat dari semikonduktor yang unik ini, membuat dia memiliki banyak sekali kegunaan. Dia bisa digunakan sebagai sumber cahaya (LED : Light Emitting Diode), sebagai penyearah arus, sebagai saklar, dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi cahaya. Kali ini yang akan saya ceritakan adalah tentang sifat unik semikonduktor (pada umumnya menggunakan Silikon) sebagai pendeteksi cahaya. Bagaimana cahaya dideteksi? Jawaban singkatnya, cahaya harus diubah dulu bentuknya menjadi arus listrik. Bagaimana cara mengubahnya? Bayangkan sebuah pertandingan sepakbola.

Dalam pertandingan sepakbola, ada pemain, ada lapangan bola, dan juga ada fans, atau supporter, atau penonton. Yah, kalau mau disebut semua sih bisa saja, ada wasit lah, ada pelatih lah, ada gawang, ada anak gawang, dan lain-lain, namun sesungguhnya yang saya perlukan dalam penjelasan kali ini adalah pemainnya itu sendiri, lapangan bolanya dan juga dukungan suara dari supporter.

Julukan pemain ke-12 sering kali dialamatkan untuk supporter. Mengapa? Karena walaupun dia tidak ikut masuk ke dalam lapangan, supporter sering menjadi faktor X dari kemenangan sebuah tim. Supporter lah yang membuat para pemain bersemangat, lupa bahwa dia sebetulnya sudah kehabisan energi untuk berlari. Para pemain menjadi berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati supporter yang telah membelanya. Pemain tim idaman aktif mengejar bola dan selalu bergerak tanpa henti, seakan-akan energi suara dan teriakan supporter mereka diserap oleh kaki-kaki para pemainnya, dan juga memperpanjang nafas para pemainnya yang hampir habis.

Peristiwa ini mirip halnya dengan sebuah pendeteksi cahaya. Pada sekeping Silikon, terdapat elektron-elektron yang memiliki ikatan kovalen (bisa diibaratkan sebuah wadah berisi bola-bola kecil yang terikat satu sama lain). Lupakan tentang kata kovalen, pada intinya ikatan ini membuat si elektron malas bergerak. Ibaratnya, dia pemain bola yang malas berlari. Lalu suatu saat, si keping Silikon ini mendapatkan cahaya. Asal cahayanya bisa dari mana-mana, bisa dari lampu atau pun dari sinar matahari. Sinar ini memiliki apa yang disebut dengan energi optik (optical energy). Ketika cahaya tersebut menimpa Silikon, sebagian cahaya itu diserap, sebagian lainnya dipantulkan. Energi optik dari cahaya yang diserap oleh Silikon ini membuat elektron-elektron di dalamnya memiliki energi yang lebih untuk melepaskan ikatan kovalennya, dan siap untuk bergerak. Masih ingat tentang para pemain yang mendapatkan energi tambahan dari teriakan supporter, kan?

Saat si elektron-elektron berubah dari keadaan terikat menjadi elektron-elektron bebas ini lah, Silikon yang tadinya bersifat sebagai insulator berubah sifatnya menjadi konduktor. Si elektron-elektron yang muncul dari penyerapan energi optik ini lah yang nantinya akan bertindak sebagai arus listrik.

ing. Namun dengan surat atau kartu pos itu, ada “yang lain” yang saya rasakan. Kalau surat dari teman saja sudah begitu membuat kita senang, bagaimana dengan surat da$SR;di’ yang digunakan sebagai imbuhan, tidak demikian.

Lucu juga ketika saya menemukan sebuah blog yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh seorang asing Australia di sini. Tidak tahu berapa lama telah dia habiskan waktu di Indonesia hingga bisa sefasih itu dalam menggunakan bahasa pergaulan. Yang jelas butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengadopsi bahasa Indonesia non-formal itu karena gaya bahasanya tidak akan ada di buku panduan berbahasa Indonesia.

Wajar saja kalau bahasa Indonesia selama ini selalu menjadi salah satu momok dalam Ujian Nasional. Banyak yang jatuh nilainya di mata pelajaran ini dibandingkan mata pelajaran eksak lainnya. Karena memang kita tidak pernah melatihnya, dan kita lebih sering mengacuhkannya karena kita merasa kita bisa. Padahal, bahasa yang biasa kita gunakan bukanlah bahasa Indonesia yang benar. Mungkin bahasa yang kita gunakan adalah bahasa sebuah negara yang sering diteriakkan para supporter sepakbolanya ketika bertanding di stadion Gelora Bung Karno, Éndonésya!

diajarkan di kelas bahasa itu secara langsung memang bisa dipraktikkan. Tapi kalau bahasa Indonesia? Kita mungkin akan aneh mendengar percakapan dalam keseharian yang menggunakan bahasa Indonesia yang seharusnya. Misalkan saja antara seorang tukang bajaj yang lagi bernegosiasi dengan calon penumpangnya, sebut saja namanya Mawar.

Mawar : “Pak, saya ingin pergi ke Pondok Indah Mall. Berapakah harga yang harus saya bayar?”

Tukang bajaj : “Dua puluh ribu rupiah, nona.”

Mawar : “Bagaimana jika sepuluh ribu rupiah saja, Pak? Karena jarak dari sini ke sana kan tidak sampai 2 kilometer.”

Tukang bajaj : “Mengapa nona tidak berjalan kaki saja kalau memang Anda merasa jaraknya dekat?”

Aneh, kan? Dan akan wajar kalau percakapan yang terjadi seperti ini,

Mawar : “Bang, ke PIM berapa duit?”

Tukang bajaj : “noban lah neng…”

Mawar : “ya elah bang… ceban aja lah, ke PIM doang ini… tuh, keliatan dari sini… ngesot dikit juga nyampe…”

Tukang bajaj : “muke lo deket! itu bulan juga keliatan dari sini…”

Nah, itu salah satu contoh keseharian kita di dunia nyata yang menjelaskan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar yang telah diajarkan di bangku-bangku sekolah itu menjadi tidak praktikal ketika diterapkan dalam masyarakat. Dan sebelum kita melihat perilaku berbahasa di dunia maya, mari kita ambil telepon genggam kita masing-masing dan buka menu ‘Messages’ atau ‘SMS’. Kemudian pilih menu ‘inbox’. Yakin seyakin-yakinnya, akan banyak sekali ditemukan kata-kata yang disingkat. Dan karena kita sudah sangat terlatih, saya yakin pesan singkat di bawah ini akan sangat mudah terbaca maksudnya.

Oi, btw bsk jd ke bdg ga?

Jd, gmn lo jd mo brg ga?

Teknologi merubah budaya. Dulu kita mengenal pager. Teknologi yang belum sempat mem-booming dan segera tergantikan oleh telepon genggam yang laris manis bak kacang goreng. Pager dan fitur Short Message Service pada telepon genggam ini menuntut kita mengirimkan pesan sependek-pendeknya. Dan cara termudah adalah dengan menyingkat kata-kata yang bisa disingkat. Konsep sederhananya, menghilangkan huruf-huruf vokal pada sebuah kata. Sampai akhirnya tanpa disadari kita terbiasa menggunakan singkatan-singkatan itu.

Tidak cukup lama setelah kata SMS cukup sering terdengar, internet mulai mudah diraih. Berkenalanlah kita dengan salah satu produk internet yang memudahkan kita berhubungan dengan orang lain. Email dan chat client. Kedua produk ini fungsinya berbeda seiring waktu. Email digunakan untuk hal-hal yang lebih serius dan resmi, sedangkan chat client atau client messenger lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi.

Cara kita ber-SMS dan%&hari H. Jadi biasanya sebelum salat Ied, pagi2 sekali, nenek biasanya memasak ketan warna-warni. Dan sepulang salat Ied, kita disambut oleh bubur lemu/gemuk -bubur beras yang dimasak dengan santan- sambil ditemani opor ayam dan sambel goreng ati dan kemudian ditaburi bubuk kedelai yang gurih. Satu suapan bubur bergantian dengan gigitan kerupuk udang. Sedangkan hidangan khas Lebaran di sana adalah tape ketan yang dibungkus daun pisang. Beeeeeuuuh… I miss those things.

rena kabarnya ada buka puasa gratis di masjid selama bulan puasa. Bukan gratisnya yang menyenangkan (walaupun itu juga termasuk hitungan), namun suasana Ramadhan itu lah yang ingin kualami. Sahur bersama, berbuka bersama, dan tarawih berjamaah. Dan ternyata sebulan itu bukan waktu yang lama, hingga akhirnya dapatlah satu kredit yang apabila dikumpulkan selama tiga tahun maka berhak untuk dicap dengan stempel ‘Bang Toyib’.

2 tahun yang lalu, tidak jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Ramadhan dan Lebaran di Taipei. Sahur di kamar, buka puasa di masjid, cuci piring bersama setelah makan, tarawih 20 rakaat plus witr 3 rakaat, kemudian terkadang berlanjut dengan chit-chat bareng teman setelah pulang tarawih. Ada juga dalam seminggu itu hari-hari istimewanya. Maksudnya, agak berbeda dengan hari2 puasa biasa. Untuk hari rabu misalnya, salah satu kantor perwakilan Indonesia di Taiwan mengundang mahasiswa2 untuk berbuka bersama dan salat tarawih berjamaah. Dan untuk hari sabtu, ada masakan-masakan Indonesia atau India/Pakistan yang bergantian menyuguhi orang-orang yang datang di masjid kecil. Lebaran saat itu pun hanya dirayakan sekedarnya bersama teman2 yang lebih memilih tinggal di Taiwan daripada harus ikut berjibaku menghadapi fenomena tahunan, arus mudik dan arus balik.

Setahun kemarin, Ramadhan-ku separuh awal di Indonesia, sehari di Malaysia, dan separuh akhirnya di Taiwan. Mushola di depan rumah yang baru saja rampung, menjadi tempat salat tarawih yang baru. Walaupun tempatnya kecil, tapi cukup nyaman. Kalau pun kehabisan tempat di dalam, tinggal ambil karpet dari rumah dan digelar di pelataran mushola. Di pertengahan Ramadhan saat itu, aku kembali ke Taiwan sambil mampir 2 hari 1 malam di Malaysia. Pertama kali naik AirAsia ke Malaysia, sampai2 salah terminal waktu berangkat. Sangkanya setiap penerbangan AirAsia akan lewat terminal 3, si terminal baru itu. Tapi ternyata setiap penerbangan internasional apapun maskapainya masih tetap lewat terminal 2-D. Puasa di Malaysia mirip2 di Indonesia, beberapa restoran menutup jendelanya dengan gorden, walaupun ada juga yang tidak. Kembali ke Taiwan, kembali mengulang lagi rutinitas puasa tahunan di Taiwan: sahur sendiri, buka puasa dan tarawih di masjid, dan tidak lupa sesekali ikutan tim cuci piring. Hingga akhirnya raihan prestasi Bang Toyib yang 3 kali Lebaran nggak pulang2 berhasil kusamai.

Tahun ini, rencananya Ramadhan-ku 60% awal di Taipei, 2 hari 1 malam di Malaysia, dan sisanya, sudah diputuskan untuk kembali ber-Lebaran di Indonesia. Untuk Ramadhan kali ini, sahurnya bareng2 dengan teman2 di kampus tetangga. Cari suasana sahur baru. Sedangkan rutinitas lainnya, mirip 1, 2, dan 3 tahun sebelumnya.

Untuk Lebaran, mental ini harus dipersiapkan dengan baik karena akan banyak sekali pertanyaan2 yang -haduh pastinya- bikin malas menjawabnya. Lebaran tahun ini perasaanku bakalan campur2. Di satu sisi senang, karena akan bertemu dengan keluarga dekat, keluarga jauh, dan teman2. Di sisi lain, aku malas menghadapi pertanyaan2 klasik -yang entah akan muncul dari siapa nantinya- ketika seseorang sudah mengalami masa seperempat abad. Apalagi ditambah masalah studi yang belum selesai juga. Whatever nanti lah… semoga saja nanti tidak semengerikan yang kubayangkan.

Bukan ketupat yang menjadi makanan khas saat Lebaran di kampung kakek/nenek-ku, Boyolali. Kalau nggak salah Lebaran ketupat itu baru seminggu setelah &%

3 tahun lalu, Ramadhan-ku saat itu sepenuhnya dihabiskan di Taipei. Ramadhan pertama (dalam 23 tahun) yang jauh dari keluarga. Agak aneh memang merasakan puasa di lingkungan baru, karena saat itu juga aku baru beberapa hari tiba di Taiwan. Masih jelas dalam ingatan, waktu pertama kali ke masjid dan bertemu dengan Pak Zul. Pertemuan di masjid di seberang taman Da-an itu begitu menggembirakan karena kabarnya ada buka puasa gratis di masjid selama bulan puasa. Bukan gratisnya yang menyenangkan (walaupun itu juga termasuk hitungan), namun suasana Ramadhan itu lah yang ingin kualami. Sahur bersama, berbuka bersama, dan tarawih berjamaah. Dan ternyata sebulan itu bukan waktu yang lama, hingga akhirnya dapatlah satu kredit yang apabila dikumpulkan selama tiga tahun maka berhak untuk dicap dengan stempel ‘Bang Toyib’.

2 tahun yang lalu, tidak jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Ramadhan dan Lebaran di Taipei. Sahur di kamar, buka puasa di masjid, cuci piring bersama setelah makan, tarawih 20 rakaat plus witr 3 rakaat, kemudian terkadang berlanjut dengan chit-chat bareng teman setelah pulang tarawih. Ada juga dalam seminggu itu hari-hari istimewanya. Maksudnya, agak berbeda dengan hari2 puasa biasa. Untuk hari rabu misalnya, salah satu kantor perwakilan Indonesia di Taiwan mengundang mahasiswa2 untuk berbuka bersama dan salat tarawih berjamaah. Dan untuk hari sabtu, ada masakan-masakan Indonesia atau India/Pakistan yang bergantian menyuguhi orang-orang yang datang di masjid kecil. Lebaran saat itu pun hanya dirayakan sekedarnya bersama teman2 yang lebih memilih tinggal di Taiwan daripada harus ikut berjibaku menghadapi fenomena tahunan, arus mudik dan arus balik.

Setahun kemarin, Ramadhan-ku separuh awal di Indonesia, sehari di Malaysia, dan separuh akhirnya di Taiwan. Mushola di depan rumah yang baru saja rampung, menjadi tempat salat tarawih yang baru. Walaupun tempatnya kecil, tapi cukup nyaman. Kalau pun kehabisan tempat di dalam, tinggal ambil karpet dari rumah dan digelar di pelataran mushola. Di pertengahan Ramadhan saat itu, aku kembali ke Taiwan sambil mampir 2 hari 1 malam di Malaysia. Pertama kali naik AirAsia ke Malaysia, sampai2 salah terminal waktu berangkat. Sangkanya setiap penerbangan AirAsia akan lewat terminal 3, si terminal baru itu. Tapi ternyata setiap penerbangan internasional apapun maskapainya masih tetap lewat terminal 2-D. Puasa di Malaysia mirip2 di Indonesia, beberapa restoran menutup jendelanya dengan gorden, walaupun ada juga yang tidak. Kembali ke Taiwan, kembali mengulang lagi rutinitas puasa tahunan di Taiwan: sahur sendiri, buka puasa dan tarawih di masjid, dan tidak lupa sesekali ikutan tim cuci piring. Hingga akhirnya raihan prestasi Bang Toyib yang 3 kali Lebaran nggak pulang2 berhasil kusamai.

Tahun ini, rencananya Ramadhan-ku 60% awal di Taipei, 2 hari 1 malam di Malaysia, dan sisanya, sudah diputuskan untuk kembali ber-Lebaran di Indonesia. Untuk Ramadhan kali ini, sahurnya bareng2 dengan teman2 di kampus tetangga. Cari suasana sahur baru. Sedangkan rutinitas lainnya, mirip 1, 2, dan 3 tahun sebelumnya.

Untuk Lebaran, mental ini harus dipersiapkan dengan baik karena akan banyak sekali pertanyaan2 yang -haduh pastinya- bikin malas menjawabnya. Lebaran tahun ini perasaanku bakalan campur2. Di satu sisi senang, karena akan bertemu dengan keluarga dekat, keluarga jauh, dan teman2. Di sisi lain, aku malas menghadapi pertanyaan2 klasik -yang entah akan muncul dari siapa nantinya- ketika seseorang sudah mengalami masa seperempat abad. Apalagi ditambah masalah studi yang belum selesai juga. Whatever nanti lah… semoga saja nanti tidak semengerikan yang kubayangkan.

Bukan ketupat yang menjadi makanan khas saat Lebaran di kampung kakek/nenek-ku, Boyolali. Kalau nggak salah Lebaran ketupat itu baru seminggu setelah '(ulino. Atau bahasa Zigaz-nya, sahabat jadi cinta. Cinta jenis ini membuat penderitanya lebih mudah menjalaninya karena tidak perlu jaim2an.

Satu lagi kata2 yang gw suka dari dorama ini adalah ketika Yamada -seniornya Hotaru di tempat kerja- berkata pada si Hotaru [@episode 9], “There is no perfect answer to love. The answer that you come up with is the correct answer.”

akak kelas yang cantik- yang bercerita tentang seorang lelaki yang meninggal dan ruh-nya meminjam tubuh orang lain untuk menyelesaikan misi yang belum sempat terlaksana sewaktu dia masih hidup. Membuat gw merasa de javu ketika nonton Love is Cinta. Yup, film Indonesia yang dibintangi Irwansyah dan Acha. Nyesel juga nontonnya, karena isinya cuma adegan nangis2an yang nggak berlebihan juga kalo dibilang lebay.

Densha Otoko, itu judul dorama yang membuat gw terjerumus di dunia sinetron Jepang. Entah ada berapa puluhan judul yang sudah terkoleksi dalam hardisk khusus untuk dorama. Dorama itu adiktif. Ceritanya unik, nilai moralnya juga bagus-bagus, pemeran2nya enak dipandang, aktingnya juga tidak seadanya -seperti kebanyakan sinetron2 Indonesia yang hanya menjual tampang dengan menyorot ke bagian wajah saja kemudian diiringi monolog dalam hati dan juga musik yang diharapkan menggugah emosi-. Sisi lain yang menarik dari dorama adalah sponsor. Dorama2 Jepang disponsori oleh perusahaan2 mapan, biasanya dimunculkan di awal2 dan di akhir2 film. Maka nggak heran bila efek2 yang digunakan dan properti2 yang dipakai juga terlihat menguras kantong.

Gara2 salah seorang teman yang merekomendasikan film Hotaru no Hikari, gw jadi keterusan nonton dorama lagi. Tadinya dia merekomendasikan Hotaru no Hikari season 2 yang baru tayang sejak bulan Juli kemarin. Tapi karena gw belum nonton season 1-nya, jadi lah gw coba ikutin dulu awal cerita dorama ini. Nggak nyangka, 10 episode bisa tamat gw tonton dalam 2 hari. Freak. Habis gimana dong? dorama2 Jepang ini memang selalu adiktif. Baru bisa berhenti setelah kita nonton sampai tamat. Menurut teman gw yang merekomendasikan film ini, dorama ini lucu banget. Tapi setelah gw tonton, ternyata nggak terlalu lucu juga. Lucu sih, tapi dikit.

Jadi ceritanya tentang seorang wanita karir yang punya kebiasaan yang berbeda ketika dia aktif bekerja dan ketika dia di rumah. Di kantor, kelakuannya seperti layaknya wanita karir yang bekerja sesuai aturan, cekatan, rajin dan kreatif. Namun di rumah, dia berubah menjadi urakan. Minum bir, bersendawa, barang2 berserakan, makan2an instant, menggunakan kaos dan training dekil, yang mungkin bisa membuat orang yang mengenalnya di kantor jadi ilfil. Kemudian karena suatu dan lain hal, dia harus tinggal bersama manajernya yang sedang merencanakan perceraian. Hal ini dirahasiakan oleh keduanya untuk menghindari konflik.

Suatu hari si Hotaru berkenalan dengan seorang staf baru yang baru datang dari Inggris. Hingga akhirnya keduanya sama2 suka, dan seterusnya mereka berpacaran. Bagaimana dengan manajer yang tinggal serumah tadi? Yes, di episode2 akhir si Hotaru ini mengalami dilema. Apakah dia harus mempertahankan hubungannya dengan si cowok baru tadi, atau dia akan memilih si manajer yang selalu bersama dia di rumah ketika pulang dan sebelum berangkat ke kantor. Si manajer mengenal Hotaru luar-dalam, sedangkan si cowok baru itu hanya mengenal luarnya saja.

Oke, langsung intinya saja ya… Sebenernya banyak sih kalo mau disampaikan satu per satu, tapi yang paling gw tangkep dari film ini adalah bahwa ada 2 jenis cinta. Yang pertama, Yuuka -salah satu tokoh dalam dorama ini- menyebutnya heart-beating type of love [@episode 10]. Cinta yang selalu bisa membuat jantung kita dag dig dug ketika kita mendengar suara, atau melihat wajah, atau bahkan ketika kita mendengar seseorang menyebut nama dari seseorang yang kita cintai. Perasaan ini diwakili oleh perasaan si Hotaru ke Teshima, si cowok baru. Yang kedua, adalah cinta karena terbiasa. Seperti perasaan antara Hotaru dan si manajer. Bahasa Jawa-nya, witing tresno jalaran soko k('

Waktu masih di kampus ganesha dulu, gw mulai berkenalan dengan yang namanya dorama Jepang. Sebelumnya juga pernah sih, sewaktu salah satu stasiun televisi swasta masih rajin menayangkan sinetron-sinetron impor itu. Tokyo Love Story, salah satu judul yang masing gw ingat, namun tidak dengan isi ceritanya. Ada lagi dorama yang masih ingat -karena pemeran wanitanya yang mirip salah seorang kakak kelas yang cantik- yang bercerita tentang seorang lelaki yang meninggal dan ruh-nya meminjam tubuh orang lain untuk menyelesaikan misi yang belum sempat terlaksana sewaktu dia masih hidup. Membuat gw merasa de javu ketika nonton Love is Cinta. Yup, film Indonesia yang dibintangi Irwansyah dan Acha. Nyesel juga nontonnya, karena isinya cuma adegan nangis2an yang nggak berlebihan juga kalo dibilang lebay.

Densha Otoko, itu judul dorama yang membuat gw terjerumus di dunia sinetron Jepang. Entah ada berapa puluhan judul yang sudah terkoleksi dalam hardisk khusus untuk dorama. Dorama itu adiktif. Ceritanya unik, nilai moralnya juga bagus-bagus, pemeran2nya enak dipandang, aktingnya juga tidak seadanya -seperti kebanyakan sinetron2 Indonesia yang hanya menjual tampang dengan menyorot ke bagian wajah saja kemudian diiringi monolog dalam hati dan juga musik yang diharapkan menggugah emosi-. Sisi lain yang menarik dari dorama adalah sponsor. Dorama2 Jepang disponsori oleh perusahaan2 mapan, biasanya dimunculkan di awal2 dan di akhir2 film. Maka nggak heran bila efek2 yang digunakan dan properti2 yang dipakai juga terlihat menguras kantong.

Gara2 salah seorang teman yang merekomendasikan film Hotaru no Hikari, gw jadi keterusan nonton dorama lagi. Tadinya dia merekomendasikan Hotaru no Hikari season 2 yang baru tayang sejak bulan Juli kemarin. Tapi karena gw belum nonton season 1-nya, jadi lah gw coba ikutin dulu awal cerita dorama ini. Nggak nyangka, 10 episode bisa tamat gw tonton dalam 2 hari. Freak. Habis gimana dong? dorama2 Jepang ini memang selalu adiktif. Baru bisa berhenti setelah kita nonton sampai tamat. Menurut teman gw yang merekomendasikan film ini, dorama ini lucu banget. Tapi setelah gw tonton, ternyata nggak terlalu lucu juga. Lucu sih, tapi dikit.

Jadi ceritanya tentang seorang wanita karir yang punya kebiasaan yang berbeda ketika dia aktif bekerja dan ketika dia di rumah. Di kantor, kelakuannya seperti layaknya wanita karir yang bekerja sesuai aturan, cekatan, rajin dan kreatif. Namun di rumah, dia berubah menjadi urakan. Minum bir, bersendawa, barang2 berserakan, makan2an instant, menggunakan kaos dan training dekil, yang mungkin bisa membuat orang yang mengenalnya di kantor jadi ilfil. Kemudian karena suatu dan lain hal, dia harus tinggal bersama manajernya yang sedang merencanakan perceraian. Hal ini dirahasiakan oleh keduanya untuk menghindari konflik.

Suatu hari si Hotaru berkenalan dengan seorang staf baru yang baru datang dari Inggris. Hingga akhirnya keduanya sama2 suka, dan seterusnya mereka berpacaran. Bagaimana dengan manajer yang tinggal serumah tadi? Yes, di episode2 akhir si Hotaru ini mengalami dilema. Apakah dia harus mempertahankan hubungannya dengan si cowok baru tadi, atau dia akan memilih si manajer yang selalu bersama dia di rumah ketika pulang dan sebelum berangkat ke kantor. Si manajer mengenal Hotaru luar-dalam, sedangkan si cowok baru itu hanya mengenal luarnya saja.

Oke, langsung intinya saja ya… Sebenernya banyak sih kalo mau disampaikan satu per satu, tapi yang paling gw tangkep dari film ini adalah bahwa ada 2 jenis cinta. Yang pertama, Yuuka -salah satu tokoh dalam dorama ini- menyebutnya heart-beating type of love [@episode 10]. Cinta yang selalu bisa membuat jantung kita dag dig dug ketika kita mendengar suara, atau melihat wajah, atau bahkan ketika kita mendengar seseorang menyebut nama dari seseorang yang kita cintai. Perasaan ini diwakili oleh perasaan si Hotaru ke Teshima, si cowok baru. Yang kedua, adalah cinta karena terbiasa. Seperti perasaan antara Hotaru dan si manajer. Bahasa Jawa-nya, witing tresno jalaran soko k)

Sudah lama juga sebenarnya saya join fotografer-dot-net. Hanya saja karena dulu masih malu2 dan ragu2, jadinya setiap berkunjung ke website itu kerjaannya hanya ngintipin hasil karya orang2. Hingga akhirnya, pagi kemarin saya berhasil meng-upload foto saya yang pertama. Dan foto pertama saya di website itu adalah foto masjid besar Taipei. Harus dimaklumi fotonya masih jauh dari bagus.

Sejak dulu hasrat menjepret masjid itu telah ada, namun belum kesampaian saja. Nah, karena saat ini sedang musim panas, yang mana langit di musim panas adalah langit paling keren untuk di-foto, saya pikir bolehlah untuk dicoba. Meskipun agak ragu juga waktu berangkat, karena takut lensa kit (18-105 mm) kurang wide untuk mengambil keseluruhan bangunan masjid. Sampai di sana langsung cari2 angle yang pas, tapi kok susah banget ya. Selalu ada saja obyek yang menghalangi bangunan. Setelah di coba2 beberapa angle, akhirnya dipilihlah angle dari sudut depan. Sayangnya, masih ada sebagian bangunan yang tertutup pohon. Bikin gemes aja tuh pohon…

Menarik juga upload foto di FN, karena foto kita akan dikomentari dan diberikan feedback oleh member2 lainnya. FN seperti forum belajar fotografi. Para membernya diharuskan memberikan minimal 2 komentar atau feedback sebelum meng-upload fotonya. Feedback2nya pun sebagian besar positif dan tentunya ini membuat kita bersemangat untuk meningkatkan kemampuan fotografi kita. Yah, walaupun komentarnya juga terkesan gitu2 aja seperti, cakep, cantik, mantab, yang ditambahkan sedikit komentar di belakangnya.

Sebenarnya belajar fotografi ini adalah untuk mendukung ide yang pernah terlintas itu. Jadi, sampai ketemu di FN dan saling belajar…

Taipei Grand Mosque

studi kah? For me, yes it is. Tadinya gw berharap dengan bergabung dengan radio, gw bisa belajar memanajemen waktu dengan baik. Bisa mendahulukan yang mana yang prioritas, dan mana yang sampingan. Teorinya, studi adalah prioritas, dan radio adalah secondary. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.</p> <p>Apa2 yg berhubungan dengan radio, langsung gw kerjain. Mulai dari odatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 author typeWaktu masih di kampus ganesha dulu, gw mulai berkenalan dengan yang namanya dorama Jepang. Sebelumnya juga pernah sih, sewaktu salah satu stasiun televisi swasta masih rajin menayangkan sinetron-sinetron impor itu. Tokyo Love Story, salah satu judul yang masing gw ingat, namun tidak dengan isi ceritanya. Ada lagi dorama yang masih ingat -karena pemeran wanitanya yang [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 wfw_commentrss type*PI thought sometimes it worked, and sometimes it didn’t. Hollywood, produce anything to make money. But anyhow, that is Hollywood’s problem, and I don’t have problem with them. As long as it is entertaining, I am gonna watch it.

The lesson is, nggak semua yang modern, yang mutakhir, dan yang terkini itu selalu baik dan bernilai positif. Ada kalanya, justru sebaliknya, yang jadul dan yang kuno lah yang dicari. Karena di situlah nilai kesan dan kenangannya. Seru juga kalau ada mesin waktu dan kita bisa kembali ke masa lalu. Menunggu jemputan sekolah sambil nonton My Little Pony atau Alvin and The Chipmunks. Atau menyewa video betamax untuk nonton Goggle V, Sarivan, atau Gaban, bareng tetangga-tetangga di kampung.

Yang pertama yang saya cari untuk survei film ini adalah plot atau alur ceritanya. Wikipedia cukup banyak membantu saya memberikan spoiler dari sisi alur cerita secara utuh. Soalnya, terkadang saya nggak ngerti keseluruhan isi film yang baru saja ditonton. Lost in translation and conversation. Yah, akibat bahasa Inggris saya yang nggak terlalu bagus. Setelah spoiler, biasanya saya mencari trailer. Yup, dari mana lagi kalau bukan dari “Kamu Tabung”. Karena dari trailer film kita bisa mengintip-intip, apa sih atau gimana sih film ini nantinya, siapa saja yang main, atau bagaimana bentuk visualisasinya. Hingga akhirnya survei kecil-kecilan itu berujung pada sebuah trailer tentang The Smurfs.

Masih ingat dengan Smurf kan ya? Komunitas makhluk biru kecil yang tinggal di hutan. Masing-masing Smurf memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Ada yang pintar, ada yang jago masak, ada yang pemalas, ada yang pemarah, ada Papa Smurf si kepala suku, dan lain-lain yang katanya berjumlah 99. Dulu saya mengenal Smurf dari komik. Walaupun katanya ada juga versi animasinya. Entah lupa entah memang belum pernah melihat, yang jelas memori saya tidak bisa mengingatnya. Cerita-cerita si Smurf lucu dan sederhana.

Balik lagi tentang trailer film Smurf yang gosipnya akan dirilis musim panas tahun depan. Juli 2011. Di trailer tersebut dikatakan bahwa film ini juga mengusung teknologi 3 dimensi. Dan di trailer tersebut juga diperlihatkan bahwa para Smurf sedang berada di kota. Awalnya, saya mengira respon-respon yang diberikan akan positif. Pertama, mereka (produser dan orang-orang di belakang layar) membangkitkan kembali kenangan masa lalu. Kedua, film ini dikembangkan dengan teknologi terkini. Namun ternyata respon yang didapat malah sebaliknya. Kolom komentar dipenuhi umpatan dan cacian. Ada juga sih yang mendukung dan memberikan apresiasi. Tapi overall, banyak yang tidak suka dengan adanya film Smurf 3 dimensi yang ada di kota itu. Dan kebanyakan, mereka yang tidak suka adalah orang-orang yang memang menjalani masa-masa ketika Smurf menjadi salah satu icon yang berkesan.

Alasan utama yang bisa saya tangkap, Smurf itu karya klasik. So, just let it be classic as it was. Karena memang begitulah mereka dulu dinikmati dan begitulah cara mereka memberi kesan tersendiri bagi para penggemarnya. Lewat komik berwarna maupun lewat layar kaca. Tidak perlu repot-repot dibuat versi 3 dimensinya. Sehingga para penikmatnya juga tidak perlu ke bioskop menggunakan kacamata 3 dimensi yang menurut beberapa orang malah membuat mereka merasa pusing ketika memakainya.

Latah teknologi? Mentang-mentang film-film sekarang banyak yang menggunakan efek 3D. Atau latah dengan kesuksesan beberapa film yang juga mengadopsi film-film zaman dulu dan diproduksi ulang dengan teknologi animasi terbaru. Alvin and the Chipmunks? Garfield? Scooby Doo? Transformers? Well, +,~rmusik. Namun saya salah ketika tahu dia rela tidak dibayar untuk membuat essay untuk tugas teman-temannya. Dia berpikir itu lah kesempatan dia mengasah passion-nya. Mirip, seperti Kugy yang rela tidak dibayar dalam mengurusi Sakola Alit sambil menikmati pembuatan dongeng Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Mereka melakukannya dengan kesenangan hati. Tanpa pamrih, tanpa dibayar.

man saya itu, memiliki passion yang serupa, tapi tak sama.

Membaca karakter Kugy, terus terang saya tidak keberatan kalau nanti novel ini dibuat versi filmnya, saya tidak akan menolak kalau disuruh memerankan tokoh Ojos, Remi, atau Keenan. Tiga orang yang beruntung yang pernah mengisi hati Kugy. Walaupun dua nama di awal hanya bertugas mengisi kekosongan sebelum hatinya diisi oleh cinta sejatinya. Bisa dikatakan si Kugy ini adalah makhluk mungil yang cantik, bersemangat, tukang khayal, tidak peduli apa kata orang – terutama dalam masalah penampilan, dan punya mimpi yang tinggi terhadap passion-nya : menulis dongeng. Salah satu hobi yang langka di antara penduduk Indonesia yang seperempat milyar ini.

Pertemuan Kugy dengan Keenan seperti pertemuan keong dengan rumah cangkangnya. Yang satu mengisi dan melengkapi yang lain. Lukisan-lukisan Keenan menyempurnakan daya khayal tingkat tinggi Kugy. Tidak sulit, karena ada “chemistry”. Mereka menemukannya sejak awal perjumpaannya di Stasiun Kereta Bandung. Alur yang naik turun maju mundur dalam novel ini pun seolah hanya terkesan sebagai penyempurna dahsyatnya arus sungai yang dilewati perahu kertas Kugy. Hingga akhirnya ia bermuara di lautan lepas, yang tenang, bersama mimpinya. Dan cintanya.

Setelah novel itu tuntas saya baca, ingatan ini kembali ke menyusuri masa kurang lebih satu minggu sebelumnya. Saya bertemu Kugy dalam dunia nyata, walau tidak sepenuhnya Kugy. Lengkap dengan cerita dengan Keenan-nya, walau hanya separuh Keenan. Sama-sama doyan menulis. Bedanya, yang satu menulis dongeng, yang satu lagi menulis… apapun. Mungkin ada lagi kesamaannya, keduanya sama-sama suka bercerita. Karena di malam itu di kafe itu, dia lah yang mendominasi obrolan. Sedangkan saya, walaupun sudah dipaksakan untuk setel mode RAMAI, tetap saja dikomentari “kok, lu diem banget sih… gw ngerasa tertipu, padahal di radio, lu cerewet.” Well, tampaknya saya harus menyadari bahwa diam adalah bakat alami saya yang terpendam, yang sewaktu-waktu bakat itu bisa muncul sendirinya.

Diamnya saya bukan diam biasa. Diamnya saya adalah diam mendengarkan dan diam membayangkan, diam menganalisa dari apa yang keluar dari mulutnya. Cerita tentang cita-citanya menjadi jurnalis yang harus bertepuk sebelah tangan, tentang temannya yang sedikit gila dengan membuat statistik tulisan yang dia hasilkan ketika dalam pengasingan, tentang soulmate-nya dalam bermusik, serta cerita tentang ingin kembali melakukan apa yang dia inginkan : menulis. Kekaguman saya tumbuh sedikit demi sedikit seiring waktu yang menuntunnya bercerita. Anak ini tahu benar apa yang dia lakukan adalah apa yang dia sukai. Bahkan sampai meminta kerjaan untuk membuat essay atau tulisan, tanpa imbalan. Meski pernah juga menghasilkan beberapa lembar Euro hasil dari beberapa tulisannya di media. Terlepas dari dia teman saya, saya cukup bisa menikmati tulisan-tulisannya, yang terkadang sarat akan abstraksi.

Berbeda antara Keenan-nya Kugy dalam Perahu Kertas, dan Keenan-nya si teman saya ini. Dari beberapa topik pembicaraan, dia paling bersemangat ketika berbicara tentang soulmate-nya dalam bermusik. Lagi-lagi “chemistry”. Mereka memiliknya. Dalam ceritanya, saya bisa membayangkan ketika keduanya bertemu. Tanpa perlu berkata-kata, mereka bisa berdialog dengan hati dan telepati, saling mengerti satu sama lain. Sambil membawa perasaan bahagia tiada tara. Bedanya lagi, Keenan adalah soulmate sejati Kugy, sedangkan Keenan-nya teman saya adalah soulmate sejati hanya dalam bermusik.

Awalnya saya mengira si “Kugy” teman saya itu hanya memiliki passion dalam be,+

Banyak cara dan kata untuk menafsirkan “passion”. Namun baru dalam beberapa hari ini saya punya arti yang lain untuk satu kata ajaib itu. Adalah cerita Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas, serta obrolan dengan seorang teman lama yang belum pernah bertemu sebelumnya, di Bandung, beberapa waktu yang lalu. Ada hal yang sama yang saya tangkap dari keduanya. Kugy dan teman saya itu, memiliki passion yang serupa, tapi tak sama.

Membaca karakter Kugy, terus terang saya tidak keberatan kalau nanti novel ini dibuat versi filmnya, saya tidak akan menolak kalau disuruh memerankan tokoh Ojos, Remi, atau Keenan. Tiga orang yang beruntung yang pernah mengisi hati Kugy. Walaupun dua nama di awal hanya bertugas mengisi kekosongan sebelum hatinya diisi oleh cinta sejatinya. Bisa dikatakan si Kugy ini adalah makhluk mungil yang cantik, bersemangat, tukang khayal, tidak peduli apa kata orang – terutama dalam masalah penampilan, dan punya mimpi yang tinggi terhadap passion-nya : menulis dongeng. Salah satu hobi yang langka di antara penduduk Indonesia yang seperempat milyar ini.

Pertemuan Kugy dengan Keenan seperti pertemuan keong dengan rumah cangkangnya. Yang satu mengisi dan melengkapi yang lain. Lukisan-lukisan Keenan menyempurnakan daya khayal tingkat tinggi Kugy. Tidak sulit, karena ada “chemistry”. Mereka menemukannya sejak awal perjumpaannya di Stasiun Kereta Bandung. Alur yang naik turun maju mundur dalam novel ini pun seolah hanya terkesan sebagai penyempurna dahsyatnya arus sungai yang dilewati perahu kertas Kugy. Hingga akhirnya ia bermuara di lautan lepas, yang tenang, bersama mimpinya. Dan cintanya.

Setelah novel itu tuntas saya baca, ingatan ini kembali ke menyusuri masa kurang lebih satu minggu sebelumnya. Saya bertemu Kugy dalam dunia nyata, walau tidak sepenuhnya Kugy. Lengkap dengan cerita dengan Keenan-nya, walau hanya separuh Keenan. Sama-sama doyan menulis. Bedanya, yang satu menulis dongeng, yang satu lagi menulis… apapun. Mungkin ada lagi kesamaannya, keduanya sama-sama suka bercerita. Karena di malam itu di kafe itu, dia lah yang mendominasi obrolan. Sedangkan saya, walaupun sudah dipaksakan untuk setel mode RAMAI, tetap saja dikomentari “kok, lu diem banget sih… gw ngerasa tertipu, padahal di radio, lu cerewet.” Well, tampaknya saya harus menyadari bahwa diam adalah bakat alami saya yang terpendam, yang sewaktu-waktu bakat itu bisa muncul sendirinya.

Diamnya saya bukan diam biasa. Diamnya saya adalah diam mendengarkan dan diam membayangkan, diam menganalisa dari apa yang keluar dari mulutnya. Cerita tentang cita-citanya menjadi jurnalis yang harus bertepuk sebelah tangan, tentang temannya yang sedikit gila dengan membuat statistik tulisan yang dia hasilkan ketika dalam pengasingan, tentang soulmate-nya dalam bermusik, serta cerita tentang ingin kembali melakukan apa yang dia inginkan : menulis. Kekaguman saya tumbuh sedikit demi sedikit seiring waktu yang menuntunnya bercerita. Anak ini tahu benar apa yang dia lakukan adalah apa yang dia sukai. Bahkan sampai meminta kerjaan untuk membuat essay atau tulisan, tanpa imbalan. Meski pernah juga menghasilkan beberapa lembar Euro hasil dari beberapa tulisannya di media. Terlepas dari dia teman saya, saya cukup bisa menikmati tulisan-tulisannya, yang terkadang sarat akan abstraksi.

Berbeda antara Keenan-nya Kugy dalam Perahu Kertas, dan Keenan-nya si teman saya ini. Dari beberapa topik pembicaraan, dia paling bersemangat ketika berbicara tentang soulmate-nya dalam bermusik. Lagi-lagi “chemistry”. Mereka memiliknya. Dalam ceritanya, saya bisa membayangkan ketika keduanya bertemu. Tanpa perlu berkata-kata, mereka bisa berdialog dengan hati dan telepati, saling mengerti satu sama lain. Sambil membawa perasaan bahagia tiada tara. Bedanya lagi, Keenan adalah soulmate sejati Kugy, sedangkan Keenan-nya teman saya adalah soulmate sejati hanya dalam bermusik.

Awalnya saya mengira si “Kugy” teman saya itu hanya memiliki passion dalam be-0nting itu dia berikan padaku.

Urusanku di sini hampir beres, tinggal membayar 31 Ringgit saja. 25 Ringgit untuk internet, dan 6 Ringgit untuk 2 lembar cetak dokumen. Dengan santai aku buka dompetku. Kalau tidak salah, aku masih menyimpan beberapa lembar Ringgit di sana. Setelah kutengok, ternyata tidak ada. Kini giliran tasku yang kuperiksa. Seingatku lagi, aku menyimpan beberapa mata uang asing di sana. Kutaruh di dompet warna cokelat yang mirip amplop. Aku temukan dompet itu. Masih ada berlembar-lembar mata uang Filipina. Di sisi lainnya, kutemukan 2 lembar Ringgit Malaysia. Hanya 2 lembar. Masing-masing 1 Ringgit.

Aku panik lagi. Kubuka-buka lagi dompet. Kuraba-raba segala penjuru tas ransel yang kubawa. Tingkahku seperti orang kehilangan sesuatu. Kalap. Penyesalan selalu datang terlambat memang. Sehari sebelumnya, ibu menawarkan uang Ringgit-nya untuk aku bawa, tapi aku tolak. Aku merasa ingatanku tidak mungkin salah. Aku masih memiliki uang Ringgit itu lumayan banyak. Aku mengingatnya ketika lembaran-lembaran itu kupindahkan dari dompet, dan ditukar isinya dengan Rupiah. Masalahnya, aku lupa di mana menaruh uang-uang Ringgit itu. Jelas bukan? Selain asisten pribadi, aku juga butuh Menteri Keuangan pribadi.

Malu-malu aku minta izin pada si penjaga lounge untuk menukarkan uangku dulu. Dia bilang, “okay”. Koperku kupercayakan saja padanya, kutinggalkan di lounge itu karena jika kubawa-bawa akan menghambat mobilisasiku. Aku tidak bertanya siapa-siapa, kuikuti saja intuisiku mengikuti alunan langkah kaki yang membawa tubuhku pergi. Beberapa kali kepalaku mendongak, mencari tanda atau gambar atau simbol yang berhubungan dengan uang. Kutemukan money changer itu tidak jauh dari counter informasi. Kuberikan 2 lembar uang seratus ribu rupiah kepada penjaga kasir, dan dia memberikan aku 60 sekian Ringgit setelah memencet-mencet tombol di kalkulatornya. Ringgit itu tidak kuhitung kembali atau pun kucocokkan lagi dengan kertas yang ia berikan padaku. Aku tidak punya waktu untuk itu, pikirku terburu-buru.

Aku kembali lagi ke Plaza Premium Lounge. Menyerahkan selembar 50 Ringgit kepada penjaga lounge. Dia mengembalikan 25 Ringgit. Tampaknya dia tidak menghitung 2 lembar dokumen yang kucetak. Kukirimkan sesimpul senyum dan juga ucapan thank you kepadanya. Dia pun tersenyum sambil berkata, “welcome”. Kuseret lagi koperku, dan kutinggalkan Plaza Premium Lounge.

Kini aku sedikit lega. Waktu senggang ini kumanfaatkan untuk solat zuhur yang dijamak dengan ashar. Dengan langkah pasti aku menuju surau yang masih kuhafal betul lokasinya. Tempatnya belum pindah, masih di tempatnya yang lama, di luar terminal keberangkatan, di ujung gang yang dekat dengan toilet pria. Tiga minggu yang lalu, di seberang gang itu aku menunggu temanku yang sedang solat. Spot yang strategis untuk memfoto pramugari-pramugari yang baru keluar dari terminal kedatangan secara candid.

Selesai solat, kulihat waktuku masih tersisa lebih dari satu jam lagi. Dengan santai aku masuk lagi ke terminal kedatangan, mencari di manakah aku harus check-in. Daftar keberangkatan di layar monitor di depan pintu terminal keberangkatan itu memberiku petunjuk. Aku harus ke counter bernomor S43. Sedikit berputar-putar awalnya, namun setelah mengikuti pola yang ada, akhirnya kutemukan counter itu. Counter check-in untuk pesawat tujuan Taiwan. Dekat dengan Plaza Premium Lounge yang tadi kusinggahi.

Wow, antrian di counter itu panjang bukan main. Di ujung antrian, aku melihat wajah yang kukenal. Tapi aku agak meragu. Pertama, kami jarang bertemu. Kedua, orang yang pernah kukenal itu memiliki kumis. Sedangkan ia tidak. Kami sempat bertatapan, merasa saling kenal. Mungkin keraguanku terserap olehnya, sehingga ia pun juga ragu. Akhirnya ia mencoba mencairkan atmosfer yang dingin yang menyelimuti kami, “ke Taipei juga ya?” Aku mengangguk. “Kuliah di mana?” tanyanya. “NTU”, kujawab. Akhirnya kami bersalaman dan saling mengenalkan diri.

Agus Andria. Suda.?

Ketika ingin memulai menulis artikel ini, saya merasakan sedikit keraguan. Saya khawatir menggunakan judul yang sama dengan peserta writing contest Pesta Blogger 2010 lainnya. Sebab saya takut dikira nggak kreatif, atau bahkan disebut plagiat. Karena di era serba canggih sekarang ini, gampang sekali menyulap karya milik orang lain menjadi milik pribadi. Tinggal tekan Ctrl+C kemudian Ctrl+V pada keyboard, dan voila! Maka dalam sekejap, jadilah karya plagiat milik kita. Oleh sebab itu, sebelum saya memulai menulis, saya perhatikan dulu satu per satu daftar karya peserta yang sudah masuk ke website. Sambil berdoa tentunya, semoga tidak ada judul yang sama dengan judul yang sedang saya pikirkan. Setelah sampai pada halaman akhir daftar peserta beserta judul karyanya, ternyata keraguan saya sama sekali tidak beralasan. Lebih dari 200 tulisan yang sudah masuk, tidak ada satupun judul yang sama dengan judul tulisan yang ada dalam benak saya. Saya bertanya dalam hati, apakah ada yang aneh dengan cara berpikir saya. Sebab saya mengira, dengan tema tulisan sudah ditentukan oleh panitia, maka akan besar kemungkinan para peserta akan memilih judul yang sama. Walaupun probabilitasnya sangat kecil, kemungkinan itu tetap saja ada.

Saya teringat dengan sebuah buku tentang tips berbicara yang pernah saya baca yang ditulis oleh Larry King, seorang Amerika yang malang melintang di dunia penyiaran. Dalam bukunya yang berjudul Seni Berbicara Kepada Siapa Saja 1, ia memberikan tips-nya untuk mencari teman ngobrol yang enak dengan orang yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dan salah satu tips-nya adalah agar kita mencari tahu bidang ketertarikan yang disukai oleh lawan bicara. Galilah terus arah pembicaran hingga menemukan suatu hal atau bidang yang membuat kedua belah pihak sama-sama tertarik untuk membicarakannya. Dengan begitu akan terjalin pertukaran ide dan informasi yang berkesinambungan antara keduanya, karena mereka menyukainya. Tips yang gampang-gampang susah bukan?

Mungkin akan mudah, jika penampilan dan tingkah laku lawan bicara kita secara nampak langsung mencerminkan bidang ketertarikannya. Contoh, dia menggunakan kostum kesebelasan favorit misalnya, atau menggunakan gadget pemutar MP3 yang mencirikan bahwa dia menyukai musik. Mungkin itu juga sebabnya di halaman profil di Facebook atau di jaringan sosial lainnya mencantumkan kolom isian untuk “interest” agar kita dapat dengan mudah berteman dengan orang lain yang bidang ketertarikannya sama dengan kita. Gender juga sedikit banyak memberikan clue untuk membuka percakapan. Namun akan sulit bagi kita ketika kita bertemu seseorang yang tidak menonjolkan ketertarikannya melalui penampilan dan perilakunya. Satu kesimpulan kecil dari tips ini adalah, bahwa mencari kesamaan kita dengan orang lain sedikit lebih sulit dari pada mencari perbedaan.

Berbeda dengan Larry King, Dale Carnegie dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain 2, memberikan alternatif cara yang berbeda dalam berkenalan dengan orang yang baru kita kenal. Alih-alih mencari kesamaan antara kita dengan lawan bicara, tidak ada salahnya kita memelihara perbedaan itu tetap ada di dalam topik pembicaraan. Caranya yaitu dengan membuat lawan bicara kita merasa menguasai topik yang sedang dibicarakan. Buat lawan bicara kita seolah-olah yang paling tahu dan superior. Dengan begitu diharapkan dia bisa menikmati jalannya pembicaraan, walaupun harus diakui bahwa kita harus sedikit berkorban dengan ketidaktahuan yang kita miliki dari topik pembicaraan tersebut. Dale Carnegie dan Larry King mempunyai caranya masing-masing, namun intinya tetap sama, yaitu bagaimana membuat lawan bicara kita menikmati pembicaraan yang sedang kita lakukan bersamanya.

Dua pendekatan yang disampaikan /1naknya sudah cukup banyak. Ada Indonesia AirAsia, Thai AirAsia, AirAsia X, dan lain sebagainya. Memang dalam pemesanan tiket kita tidak akan tahu, anak perusahaan yang mana yang akan kita gunakan. Semuanya hanya dikenal dengan satu nama, nama Bapaknya, AirAsia.

Perjalanan lanjutanku ke Taiwan kali ini akan diantarkan oleh pesawat dengan tipe Airbus 330-300 milik AirAsia X. Kapasitasnya cukup besar, bisa menampung kurang lebih 380 penumpang dengan 2 kelas layanan berbeda, premium dan ekonomi. Untuk kelas ekonomi, setting tempat duduknya adalah 3-3-3. Jadi ada 2 lorong jalan yang membelah tiap 3 deretan kursi. Tidak seperti pesawat yang sebelumnya kunaiki dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Pesawat tipe Airbus 320-200 milik Indonesia AirAsia. Berkapasitas hanya 180 penumpang, dengan konfigurasi kursi 3-3.

Aku mendapatkan nomor kursi 34B. Tepat di depannya terdapat pintu darurat. Bagasi di atasku tidak dapat diisi, karena sudah terisi barang yang menjadi properti pesawat ini. Aku tak punya pilihan selain menaruh ranselku di bagasi yang masih kosong. Kupilih yang terjangkau olehku dalam sekali langkah.

Di sampingku kananku, di kursi 34C, seorang ibu separuh baya sedang membaca sebuah buku berbahasa Inggris. Entah novel, entah non-fiksi, aku tidak terlalu jelas memperhatikan. Sepasang cowok dan cewek datang mendekat ke kursi di deretanku. Si cewek duduk di sebelah kiriku. Bertetangga dengan jendela. Si cowok yang mendapat kursi di bagian tengah, kebingungan karena kursinya sudah diisi oleh orang lain, seorang wanita. Ia pun bertanya pada pramugari di dekat kami. Si cowok diminta untuk menunggu oleh si pramugari.

Aku tidak begitu mengerti akar permasalahannya. Apakah terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan terjadinya double seat, atau entahlah. Yang jelas masalahnya menjadi menular kepada penumpang lain. Si cowok tadi dipersilakan duduk di tempat yang masih kosong. Dia duduk di kursi 33D. Kemudian datanglah seorang perempuan yang memegang paspor RRC, dia terlihat bingung karena kursinya sudah diduduki oleh si cowok. Perempuan itu bertanya pada pramugari yang hilir mudik di lorong pesawat. Perempuan itu pun akhirnya diminta menunggu juga oleh si pramugari.

Kasihan juga perempuan itu, mungkin sudah lebih dari 5 menit dia menunggu tanpa kepastian. Berdiri lagi. Sudah dua kali pula pramugari-pramugari itu berseliweran dengan alat penghitung yang di Indonesia kadang digunakan sebagai tasbih. Mengecek, apakah jumlah penumpang yang telah check-in sudah masuk semuanya atau belum. Mereka terkesan tidak menghiraukan keberadaan si perempuan berpaspor RRC itu.

Nyatanya memang perempuan itu tidak dibiarkan begitu saja. Beberapa menit kemudian seorang pramugari berparas melayu menghampirinya, mengarahkan dia ke tempat duduk yang sudah disediakan khusus. Sudah tidak ada lagi yang berdiri sekarang, semuanya duduk di tempatnya masing-masing. Tinggal menunggu pesawat ini bergerak, meninggalkan negeri yang mendeklarasikan dirinya sendiri lewat iklan-iklan di media massa, sebagai the truly Asia.

Ketika pesawat sedang berjalan untuk memposisikan dirinya pada landasan pacu, kapten pilot memberikan sambutan dan juga sebuah pengumuman. Pengumuman yang cukup penting. Ini berkenaan dengan informasi yang kuterima beberapa hari yang lalu di sebuah milis yang kuikuti. Taiwan akan diterpa taifun. Dan tidak tanggung-tanggung, cakupannya meliputi seluruh pulau Formosa. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi, namun dari percakapanku dengan Pak Agus di LCCT tadi, dia berkata bahwa hari minggu ini lah puncaknya. Great!!!

Yang dikatakan pilot adalah, penerbangan ini akan ditempuh dengan waktu yang lebih lama dari biasanya. Di jadwal tertulis, pesawat ini berangkat pukul 5.35 PM dan seharusnya akan tiba pada pukul 10.15 PM. 4 jam 40 menit. Itu idealnya. Nah, ide dari si kapten pesawat dan mengapa penerbangan ini akan menjadi lebih melelahkan adalah, dia akan membawa pesawat ini sedikit berputar ke timur melintasi langit Filipina untuk menghindari terpaan dahsyat angin taifun dari ara08- pertama itu tampaknya tidak terdengar jelas. Aku mengulanginya. Dia mengerti maksudku. Dia mengarahkanku ke tempat itu dengan bahasa Inggris berlogat melayu ditambah dengan bahasa tangan, ke depan lalu ke kiri. Plaza Premium Lounge. Dia sebutkan nama tempat itu beberapa kali.

Aku ikuti petunjuk petugas tadi. Kutelusuri bagian dalam terminal yang ramainya kukira tidak kalah dengan terminal kereta api di waktu musim mudik Lebaran. Aku menemukan sebuah ruangan kecil di pojok deretan ruangan-ruangan kantor di ujung terminal ini. Di situ tertulis, Plaza Premium Lounge.

Tempat itu cukup sepi. Ada 3 unit personal computer. Satu terpakai, dua menganggur. Seorang wanita berusia antara 20-30an ditugaskan mengurusi tempat itu. Gemuk dan berwajah melayu. Lagi-lagi dengan bahasa Inggris sekedarnya, kukatakan aku ingin mencetak beberapa dokumen. Dia menjawab, satu lembar 3 Ringgit. Aku bertanya lagi, bagaimana kalau mau menggunakan internet. Ia menunjuk ke sebuah kertas yang tertulis mirip menu makanan. Di situ tertulis paket-paket berdasarkan lamanya waktu pemakaian. Aku memilih paket di urutan paling atas. Paling cepat, paling murah. 30 menit, 25 Ringgit.

Kuparkirkan koper besar yang kuseret-seret sejak tadi di belakang kursi tempatku duduk sekarang. Belum juga aku sempat membuka browser internet, si petugas tadi memberiku secuil kertas bertuliskan alamat email. Untuk apa pikirku? Password untuk login? Rasanya tidak, komputer ini tidak di-protect dengan username dan password untuk mengaksesnya. Kubiarkan saja kertas itu dan kulanjutkan pekerjaanku, mengunduh hasil scan kartu-kartu penting yang tertinggal di rumah.

Baris paling atas di daftar inbox emailku tertulis : ID card. Isinya sesuai harapanku, hasil scan ARC dan kartu mahasiswa, bolak-balik. Aku unduh 4 file tersebut dalam sebuah file kompresi. Ku-extract dalam sebuah folder yang sepertinya bebas digunakan oleh siapapun pengguna komputer ini. File-filenya sangat besar. Tidak mungkin aku cetak masing-masing satu halaman. Aku butuh aplikasi office seperti MS Word, Open Office, atau apa pun itu untuk menggabungkan file-file tadi. Aku cari aplikasi office yang ada di komputer itu melalui menu yang ada di pojok kiri bawah. Nihil.

Mari berterimakasih pada salah satu perusahaan IT terbesar di dunia, Google. Dia memiliki layanan office berbasis cloud computing, yaitu Google Docs. Fiturnya memang sangat mendasar sekali, namun cukup komplit untuk melakukan hal-hal yang mendasar seperti mengimpor file gambar. Fitur yang kubutuhkan saat ini. Setelah selesai menyusun 4 file gambar tadi menjadi 2 halaman, aku meng-convert-nya menjadi file PDF. Aku berharap bisa kubuka di Adobe Reader dan langsung mencetaknya. Harapanku terwujud, file itu bisa kubuka di sana. Sayangnya, tidak ada pilihan printer yang harus kupilih, tidak ada printer yang tersambung dengan komputer yang kugunakan.

Tiga orang tamu masuk menghampiri si penjaga lounge. Bercakap-cakap dengan bahasa melayu. Rupanya salah satu dari tamu tersebut juga ingin mencetak dokumen. Tapi bedanya, dia membawa filenya dalam flash disk. Aku menoleh ke belakang dan, aaah… secercah ide tiba-tiba muncul di kepalaku, aku pinjam saja flash disk-nya. Aku berbalik kembali ke monitor sambil memastikan file mana yang akan kupindahkan ke flash disk itu. Kusadari secuil kertas bertuliskan alamat email itu masih berada di tempat asalnya, di depanku persis. Lalu baru aku mengerti apa maksud si penjaga tadi. Kirimkan file-nya ke alamat itu, cah bagooos…

Di google docs, kita tidak perlu repot-repot mendownload file yang telah kita buat lalu melampirkannya dalam email. Ada fitur “Share”, dan kita tinggal memilih sub-menu “Email as attachment..” sehingga kita tidak perlu repot 2 kali. Cukup software mereka yang repot. Tentunya kita harus memasukkan alamat email yang kita tuju, serta subject dari email kita. Tidak butuh waktu lama bagi si penjaga lounge itu untuk mengerjakan apa yang kumaksud. Dua lembar kertas A4 bergambar hasil scan kartu-kartu pe1/2h lautan Pasifik. Ibaratnya, kita akan mengekori arah yang ditempuh oleh taifun itu.

Airbus 330-300 cukup besar dan nyaman. Terkadang aku setengah tertidur dan setengah terbangun. Sekalinya aku terbangun, aku diminta untuk bertukar kursi oleh si ibu disampingku, maksudnya agar di cowok dan cewek tadi bisa bersebelahan. Mungkin karena si ibu itu juga merasa terganggu oleh ulah si cowok yang sesekali menyapa ceweknya itu. Menghancurkan konsentrasinya membaca. Jadi lah aku pindah ke tempat ibu itu, ibu itu pindah ke kursi si cowok, dan si cowok pindah ke kursiku. Yah, dan pertukaran ini secara tidak kusadari akan membuat perjalananku terasa semakin lama. Semakin lama karena harus menjadi saksi bisu kemesraan mereka berdua. Sigh…

Kurang lebih 2 jam setelah pesawat ini take-off, tiba lah waktunya makan. Untuk penerbangan kali ini aku memesan chicken rice. Pramugari menawarkan jualan makanannya kepada penumpang di sekitarnya. Aku bilang aku sudah pesan. Kuberikan boarding pass-ku pada seorang pramugrasi berambut pendek berwajah melayu. Ada bagian yang dia coret dari boarding pass-ku. Menandai bahwa pesananku telah diberikan.

Cukup enak, namun tidak cukup mengenyangkan. Aku memesan segelas milo hangat ketika pramugari itu lewat di sebelahku untuk kali ke dua. “Bla bla bla Ringgit…” kudengar. “In Ringgit?” tanyaku. “Yeah, eleven Ringgit.” Kukeluarkan 15 Ringgit dari dompet. Si pramugri malah tertawa, dia hanya mengambil selembar uang 5 Ringgit di tanganku dan membesarkan volume suaranya, “hanya 5 Ringgit ya… kecuali nak mau beli lebih…” Dia nampak senang melihatku yang agak bingung. Yah, aku juga senang melihatnya tertawa.

Oh ya, aku belum cerita tentang pramugari-pramugarinya. Karena pesawat ini cukup besar, maka pramugarinya juga cukup banyak. Tapi yang pasti, pramugari-pramugarinya mewakili kemajemukan Malaysia. Yaitu terdiri dari 3 ras berbeda, ras melayu, cina, dan india. Deri segi lekuk tubuh, mereka layak untuk terjun sebagai model. Tinggi, dengan berat proporsional. Walau mungkin tidak sekurus model-model catwalk. Tidak dipungkiri lagi, dari segi penampilan, mereka selalu tampil segar dan menarik.

Tiba-tiba waktu serasa berhenti. Jam di tanganku bergerak pelan sekali. Ini karena aku ingin cepat sampai. Meninggalkan sepasang muda-mudi yang sedari tadi pamer kemesraan di sebelahku. Selain itu juga karena aku memang tidak menikmati perjalanan ini. Sedari tadi pemandangan di pesawat hanyalah melihat orang-orang bergantian keluar masuk toilet. Ada dua macam toilet sebenarnya, toilet untuk umum dan toilet untuk disable atau orang cacat. Namun toh tidak ada yang terlalu memperhatikan itu. Keduanya sama-sama dipakai untuk umum.

Belakangan, toilet untuk umum yang tepat di depanku jarang dipakai. Beberapa orang pernah mencoba untuk masuk, namun ketika pintunya dibuka, pandangannya langsung berubah. Seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. Kemudian biasanya ia langsung pindah ke toilet untuk disable, atau mencari toilet di tempat lain. Ada juga sih yang cuek bebek, tanpa menghiraukan sesuatu yang menjijikkan itu dan tetap menggunakan toilet. Untungnya aku bisa tahan untuk tidak ke toilet selama di pesawat.

Waktu yang terasa lama kulalui saja dengan kontemplasi dan juga mimpi yang entah akan terjadi, atau hanya membuai dalam angan-angan. Setidaknya berhasil menyita waktuku hingga akhirnya sang kapten memberikan pengumuman bahwa pesawat akan mendarat. Pesawat terasa terbang merendah sedikit demi sedikit. Semakin merendah semakin banyak turbulence yang dirasakan. Sisa-sisa taifun ternyata belum sepenuhnya pergi. Pesawat sering kali bergoyang. Tanda kenakan sabuk pengaman pun menyala cukup lama. Tidak seperti ketika di atas awan, yang terbang dengan tenangnya.

Mudah sekali bagi Sang Pencipta membuat makhluk-Nya ketakutan. Dari sekian banyak jenis ketakutan yang ada, sepertinya takut mati masih menjadi primadona di kalangan manusia. Angin yang menggoyang-goyang pesawat sedari tadi sal213ah satunya, menimbulkan sedikit ketakutan itu pada diriku. Goyangannya terasa tidak wajar. Terjadi selama 30 menit lebih. Dan ya, aku jadi ingat mati, dan aku masih takut akan kematian. Takut masuk ke dalam neraka-Nya. Karena merasa bekalku belum cukup untuk mengantarkanku ke surga-Nya.

Pukul 11 waktu Taiwan, pesawat ini akhirnya mendarat juga. Utuh dan selamat. Perjalanan yang cukup panjang, lima setengah jam perjalanan dari Malaysia ke Taiwan. Molor tiga per empat jam dari waktu yang dijadwalkan dengan alasan keamanan. Bisa dipertanggungjawabkan. Pesawat memang telah mendarat, namun masih berjalan menuju tempat parkir. Seorang kakek dengan santainya mencoba untuk masuk ke toilet. Pramugari yang duduk berhadapan di depanku tidak membolehkan dia untuk masuk ke sana dengan nada yang agak keras. Seolah kehilangan keramahan, meninggalkan kemarahan.

Kini pesawat sudah berhenti dengan sempurna. Para penumpang bergerak serempak mengambil bawaannya di bagasi atas, lalu berbaris teratur sepanjang lorong jalan. Menunggu untuk keluar dari perut pesawat. Lagi-lagi ada penumpang bikin ulah, ia menyalakan telepon genggamnya sebelum keluar dari pesawat. Pramugari yang tadi di depanku kembali memberikan peringatan pada si penumpang bandel, “you can only turn on your phone inside the terminal yaaa…” Senyumnya menghilang, berganti wajah kesal.

Pintu pesawat dibuka. Barisan mulai berjalan meninggalkan pesawat. Ada yang tak sabar bertemu dengan keluarganya. Ada yang tak sabar bertemu dengan tempat sekolahnya yang baru. Ada yang tak sabar menikmati liburan. Ada juga yang berharap-harap cemas apakah dia bisa masuk ke Taiwan, atau tidak…

Taoyuan Airport, Taiwan

Kalau ada sebuah tempat yang aku merasa tidak cukup aman untuk memasukinya, maka salah satu dari tempat itu adalah terminal kedatangan di Taoyuan Airport, Taiwan. Sepanjang jalan yang menuntun kita hingga pintu keluar dari terminal ini, kita akan disuguhi beberapa poster pengumuman yang melarang kita untuk membawa hasil olahan daging, buah, dan sayur-sayuran. Tidak cukup banyak jumlahnya, namun letak dan tampilannya cukup untuk menarik perhatian para penumpang yang berbondong-bondong berjalan menuju counter imigrasi. Pos pertama yang harus dilalui oleh semua mantan penumpang.

Adalah kenangan burukku. Trauma masa lalu sewaktu aku tiba di Taiwan ini untuk kedua kalinya. Itu lah yang membuatku selalu merasa was-was tiap kali berada di sini. Dua tahun yang lalu, sekelompotan petugas bandara dibantu beberapa ekor anjing pelacak menghancurkan impian indahku bersama teman-teman. Menghancurkan asa dan harapan untuk menikmati masakan paling lezat sedunia. Masakan yang bumbunya tidak pernah dijual di mana-mana, namun diberikan oleh pemiliknya secara cuma-cuma. Masakan yang tidak ada bandingannya. Masakan dengan bumbu cinta, dari seorang ibu kepada anaknya.

Waktu itu aku sedang menunggu kedatangan koperku di tempat pengambilan bagasi. Feeling-ku tak enak melihat seorang petugas wanita membawa anjing kecil berlari-lari kesana-kemari. Begitu kuambil koperku dan sempat berjalan beberapa langkah, si petugas dan anjing itu mendekatiku. Anjing itu mengendus-endus koper hijau tua milikku, dan aku disuruhnya untuk membuka koper itu di tempat penggeledahan barang yang tak jauh dari sana.

Tidak sedikit yang mengalami nasib serupa sepertiku. Aku melihat deretan buah-buah segar dan juga beberapa ikat sayur, serta makanan-makanan lainnya tersusun berantakan di meja pemeriksaan. Kalau semuanya dikumpulkan, rasanya bukan tidak mungkin sebuah restoran, atau minimal warung makan kecil yang menyediakan masakan internasional dari berbagai negara bisa didirikan di salah satu penjuru terminal kedatangan. Abon dan rendang diambil oleh mereka karena terbuat dari daging. Sedangkan ikan dan kacang-kacangan masih diperbolehkan untuk dibawa. Karena itu lah aku jadi rajin menolak jika ibu menawarkanku untuk membawa masakan atau makanan dari rumah.

Masalahnya, bukan hanya bekal penyelamat h324idup satu-satunya selama beberapa minggu milikku saja yang disita. Titipan milik temanku yang susah payah diantar ke rumahku oleh kedua orangtuanya, dan berhasil aku bawa ke Taiwan, juga tidak bisa lolos dari hadangan mereka. Lebih parahnya lagi, titipan temanku ukurannya hampir 2 kali lebih besar dari milikku. Rendang yang sebenar-benarnya rendang yang dibuat oleh ibu temanku yang berasal dari Sumatra Barat itu, harus tersia-siakan di sudut bandara. Tak ada yang mau menyentuh.

Namun kali ini, aku sedikit nekad. Kuambil resiko. Kuiyakan saja ketika ibu menyuruhku membawa chicken cordon bleu yang dibuatnya kemarin, dan juga sosis Solo yang baru dimasak pagi tadi. Sebagai gambaran, kuceritakan sedikit apa itu sosis Solo. Makanan ringan ini bahan dasarnya adalah telur dan daging. Boleh menggunakan daging sapi atau pun daging ayam. Daging dimasak dengan bumbu-bumbu sehingga memberikan cita rasa sedikit manis, sedikit asin, dan berwarna kecokelatan. Sedangkan telur dikocok dengan santan dan sedikit garam, kemudian digoreng tipis melebar bundar. Fungsi telur adalah sebagai kulit yang menyelimuti adonan daging tadi.

Nah, bedanya dengan buatan ibuku pagi itu, adonan dagingnya dicampur dengan makaroni. Kukira makaroni yang kemarin dibelinya bersamaku itu akan digunakan memasak macaroni schotel. Tidak perlu kuceritakan bukan apa itu macaroni schotel? Dan jadi lah cordon bleu dan sosis Solo itu melengkapi kecemasan keduaku kala ini. Setelah kecemasan utama telah membuatku pasrah terhadap nasib.

Mendekati counter imigrasi, para mantan penumpang tersedot ke meja-meja yang menyediakan kertas-kertas yang luasnya seukuran paspor. Di kertas itu, ada data-data penumpang yang harus ditulis. Seperti nama, nama pemberian, nama keluarga, nomor identitas, nomor paspor, alamat tinggal, dan data-data lain yang menurut pihak keimigrasian cukup penting untuk mendata orang-orang yang lalu lalang lintas negara. Biasanya untuk menghindari kehebohan beratus-ratus orang di depan counter imigrasi, kertas itu dibagikan di pesawat.

Penyakit tidak membawa pulpen membuatku harus menunggu seorang wanita menyelesaikan pengisian kartu itu. Hampir tidak ada budaya antri di sini. Setiap orang harus sedikit memaksakan diri agar bisa menggunakan pulpen yang memang disediakan untuk umum. Tiba-tiba dari sisi kiri, aku hampir diserobot oleh perempuan yang usianya mungkin sedikit lebih tua di atasku. Namun kali ini aku tidak mau mengalah, aku sudah menunggu giliranku lebih lama darinya. Setelah wanita di depanku selesai mengisi kolom-kolom di kartu kedatangan, dia melihat ke arah sekitarnya. Bimbang, ingin memberikan pulpen itu pada siapa. Aku mengulurkan tanganku, dan dia juga sepertinya sadar, aku telah menunggunya sejak lama. Dan ia pun memberikan pulpen itu padaku.

Tidak sampai 5 menit aku isi kolom-kolom kosong di kertas itu. Aku mengisinya tidak dengan sempurna, terkesan asal-asalan dan terburu-buru. Bahkan kolom tanda tangan saja belum sempat kuisi. Kusadari itu setelah pulpen yang kugunakan sudah berganti tangan. Tapi bukankah petugas imigrasi itu memang tidak terlalu memperhatikan data-data kita secara mendetail? Yang dia lihat dan cocokkan, mungkin hanya bagian-bagian yang sangat penting. Karena akan sangat memakan waktu untuk memeriksa keseluruhan data dari kartu tersebut. Padahal, antrian di counter imigrasi ini kan hampir tidak pernah ada habisnya. Antrian bertambah dan bertambah setiap ada pesawat yang baru mendarat.

Aku mencoba memilih antrian yang terpendek. Antrian terpendek ternyata hanya diperuntukkan kepada diplomat, pejabat, atau tamu negara. Tidak mungkin aku masuk lewat situ. Ada juga antrian yang kosong, untuk para disable, manula, dan anak-anak. Lagi-lagi aku tidak bisa memilih counter itu. Hampir semua counter untuk foreigner yang dibuka, antriannya panjang bukan kepalang. Satu antrian, panjangnya bisa lebih dari dua kesebelasan.

Jauh di depanku ada serombongan orang-orang berusia senja. Dilihat dari gerak-geriknya, mereka sedang berwisata. Well, kalau boleh jujur, Tai435wan bukanlah tempat yang tepat untuk menikmati wisata panorama. Keindahan alam dan pemandangan yang ditawarkan di negeri kecil ini bisa dikatakan sangat minim. Belum kutemukan tempat yang bisa membuatku terkagum-kagum dan terbayang-bayang untuk menjadikannya sebagai tempat untuk bulan maduku nanti.

Indonesia masih jauh lebih indah. Keindahan matahari terbit di Bromo misalnya, seribu kali lebih indah dari pada menanti matahari terbit di spot terbaik yang dimiliki negeri ini. Atau dramatisnya saat-saat matahari turun tahta di pantai Kuta. Sejuta kali lebih mempesona dibandingkan menikmatinya di pantai terbaik di pesisir pulau Formosa. Namun, walaupun Taiwan kalah jauh dari segi sumber daya alam, mereka memiliki kekuatan dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi terlihat luar biasa. Aku pun sering tertipu dengan iklan-iklan, brosur-brosur, dan website-website yang menawarkan wisata alam Taiwan.

Antrian memendek sedikit demi sedikit. Kali ini di depanku masih diisi oleh manula-manula yang ingin berwisata itu. Tidak tahu persisnya berasal dari mana, mungkin Hongkong, atau Cina daratan. Visa mereka agak aneh, tidak bersatu dalam paspor, namun berupa lembaran kertas yang terpisah. Rombongan wisatawan lainnya yang berada di antrian berbeda denganku, mengalami masalah ketika berhadapan dengan petugas imigrasi. Ada beberapa hal yang seharusnya mereka lakukan, namun belum dikerjakan. Mereka diusir dari antrian oleh petugas lainnya yang tidak sedang berjaga di dalam counter.

Antrianku terkena imbasnya. Beberapa orang di depanku menyingkir, mungkin karena memiliki masalah yang sama dengan antrian di sebelah kirinya. Lenyapnya mereka dari hadapanku membuat jarakku dengan counter imigrasi semakin dekat. Tapi ada juga yang tidak terima dengan kenyataan itu. Seorang wanita yang dari raut mukanya sewajarnya sudah bercucu, tiba-tiba memotong antrianku. Awalnya dia datang untuk bertanya pada temannya yang berdiri di depanku, hingga akhirnya dia ikut mengantri. Salah budaya di tempat asalnya, atau kah memang individunya yang salah?

Aku berdiri membatasi 2 budaya berbeda. Membatasi zona percakapan 2 bahasa yang berbeda. Jika di depanku bahasanya cukup kukenal semenjak berada di Taiwan, maka bahasa yang digunakan oleh orang-orang di belakangku adalah bahasa yang diajarkan kepadaku sedari kecil, hingga duduk di bangku perkuliahan tingkat 1. Bahasa Indonesia.

Ada tiga orang yang bercakap-cakap di balik punggungku. Seorang wanita dan dua orang pria. Salah satu pria itu adalah pria yang sempat melancarkan protes di Soekarno-Hatta siang tadi karena pesawat telat datang. Seorang pria lagi sepertinya mahasiswa baru di Taiwan. Aku menebaknya dari percakapan awal mereka. Ternyata mereka satu universitas. Universitas yang letaknya jauh dari Taipei. Mereka kuliah di Taichung, Taiwan bagian tengah, 2 jam dari Taipei. Wajah mereka tidak ada yang kukenal. Tidak dipungkiri, setahun terakhir ini aku tidak cukup bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa baru di Taiwan.

Dalam hidup, ada kalanya kita bisa memilih, dan ada kalanya kita tak punya pilihan. Kali ini aku memilih, memilih untuk diam. Memilih untuk tidak berbaur dengan diskusi yang cukup ramai di belakangku. Memilih untuk tidak mencoba mengenal mereka, dan memilih untuk tidak mereka kenal. Memilih untuk dicap sombong. Karena aku memilih untuk memikirkan nasibku yang akan ditentukan beberapa saat lagi.

Saatnya giliranku berhadap-hadapan dengan petugas imigrasi. Lelaki tua berambut putih, dan tentunya berkacamata. Di kota besar seperti Taipei ini, jarang kujumpai orang Taiwan tanpa kacamata. Tempat tinggal mereka yang sempit merupakan salah satu penyebabnya. Alasan itu berasal dari orang Taiwan di sebuah grup diskusi antar budaya yang pernah kuikuti di kampusku. Tapi jangan kira semua orang berkacamata itu penderita rabun jauh. Di Taiwan ini kacamata bukan hanya sebagai alat bantu melihat, namun juga sebagai alat bantu bergaya. Ya, aku pernah melihat di MRT, seorang lelaki berkacamata tanpa kaca.

Kuserahkan sebuah paspo546r berwarna hijau yang sudah kuselipkan kartu kedatangan yang ada di tangan kananku kepada si petugas. Sedangkan salinan ARC dan kartu mahasiswa masih kutahan, baru akan kuberikan apabila diminta. Aku berharap dia tidak menyadarinya. Sayang beribu sayang, dia memang tidak bisa dikelabui. Aku diminta memberikan kartu identitasku. Salinan ARC kuberikan padanya. Dia cermati perlahan. Dia bolak-balik kertas itu. Namun dia masih tidak terima. Dia memintaku memberikan yang asli. Aku bilang, aku tidak membawanya.

Komunikasi kami tidak nyambung. Berjalan satu arah. Dia tidak mengerti bahasaku, dan aku sedikit mengerti bahasanya. Kucoba lagi untuk menjelaskan dengan kemampuan bahasa Inggris terbaikku bahwa aku tidak membawa ARC karena tertinggal di rumah. Dia masih nampak bingung. Kali ini kucoba menjelaskan dengan bahasa Mandarinku yang buruk, yang telah kupelajari selama setahun di awal kedatanganku di Taiwan. Akhirnya dia sedikit mengerti. Namun dia juga tidak bisa memutuskan, apakah aku diperbolehkan untuk mendapatkan cap tanda boleh memasuki wilayah Taiwan, atau tidak.

Selang beberapa detik kemudian, dia menyuruhku pergi ke counter pertama. Counter di salah satu ujung deretan counter imigrasi. Aku bengong sejenak. Mencoba memahami apa yang dia katakan. Bahasa Inggris bercampur Mandarin yang sangat tidak enak didengar dan sulit dipahami. Untunglah di sampingnya ada seorang petugas imigrasi yang cakap bahasa Inggris. “Go to the first counter,” kata seorang wanita muda yang kecakapannya berbahasa tidak kalah dengan kecakepannya. Seketika aku merasa menyesal mengantri di counter si bapak tua ini. Apabila waktu bisa berjalan ke belakang, rasanya aku ingin memilih counter yang diisi oleh si wanita itu.

Beberapa orang di belakangku mengikuti arah ke mana aku bergerak. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi denganku. Aku berjalan menuruti satu persatu counter-counter itu hingga aku tidak lagi menemukan jalan untuk melanjutkannya. Sebelum aku benar-benar tiba di counter yang dimaksud oleh si petugas tadi, aku bertanya pada seorang petugas wanita yang menjaga sebuah counter yang sepi. Counter bagi orang-orang yang diberikan prioritas. Kujelaskan masalahku kepadanya, dan dia mengarahkanku pada counter di sebelahnya, yang benar-benar berada di sudut.

Dari segi rupa, aku menerka pria yang dihadapanku ini berumur antara kepala tiga atau kepala empat. Lebih muda dari lelaki yang menyuruhku ke tempat ini. Ini kesekian kalinya aku menjelaskan masalahku. Aku tidak membawa ARC, dan hanya selembar kertas salinan ARC yang kuberikan padanya sebagai bukti. Lagi-lagi pria yang kuhadapi ini tidak mahir berbahasa Inggris. Tapi masih lebih baik dari bapak tua di counter tadi, pria ini mengerti sedikit yang apa kusampaikan.

Dia bertanya, apakah aku punya visa. Aku bilang aku punya. Kutunjukkan visa resident yang kudapatkan yang sejak dulu kuurus di TETO. Dia tampak menimbang-nimbang dalam keraguan. Dalam keraguannya, dia bilang kepadaku, “you can not enter Taiwan.” Sudah kuduga, akan sulit menerobos ketatnya aturan di negeri ini. Negeri yang memiliki disiplin tinggi. Kalau dalam aturan tertulis A, ya pelaksanaannya harus A. Dan petugas ini, ia lebih memilih untuk taat pada aturan, ketimbang memberikan sedikit toleransi pada anak muda ceroboh yang ada di hadapannya.

Kemudian datang seorang pria lagi. Berkacamata dan sudah kehilangan sebagian rambut masa mudanya. Tampak dia lebih senior dibanding pria yang di depanku saat ini. Si petugas lalu memberikan dokumen-dokumenku pada seniornya, sambil sedikit menertawakan kebodohanku. Mereka berbincang-bincang, membincangkan ada apakah gerangan denganku. Si senior membolak-balikkan pasporku, dan juga melihat seksama salinan ARC yang kubawa.

Si senior bertanya kepadaku, mana ARC-ku yang asli. Aku jawab seadanya. Dia tanya lagi, kenapa aku tidak membawanya. Aku jawab sejujurnya. Dia juga bertanya hal yang sama tentang visa. Jawabanku juga masih sama dengan sebelumnya. Aku merasa dengan pengalamannya yang segudang, ha657l-hal seperti ini mungkin juga pernah terjadi, dan ia belajar dari sana. Sehingga aku berpikir, si senior ini akan menyelamatkanku keluar dari airport ini. Namun, pikiranku berbeda 180 derajat dengan kenyataan.

Si senior berkata hal yang serupa dengan junior-nya tadi. Serupa tapi tak sama. “I can not let you enter Taiwan.” Aku berusaha sedikit fight, “my friend will bring it a few days later”. “But I can not wait”, jawabannya. Aku coba lebih fight lagi, “how if I send it to you tomorrow? I bring it to this airport” sambil berpikir untuk meminta kakakku mengirimkannya lewat jasa kiriman kilat dan langsung diantar ke airport. Dia tetap menolak dan melarangku masuk ke Taiwan. Aku pasrah dan bertanya, “so what should I do?” Dia menjawab enteng, “you have to go back to Malaysia.”

Si senior seperti ingin menulis sesuatu. Dia menulis sambil membolak-balikkan pasporku. Seolah-olah sedang membuat surat keterangan bahwa aku akan dideportasi segera karena tidak memiliki izin tinggal. Saat itu ide jeniusku muncul. Aku ingin fight sekali lagi untuk membuktikan salinan ARC-ku itu memang asli. Aku ingin mengajak mereka menggunakan media video call. Ingin kuperlihatkan ARC-ku yang asli itu secara live dari rumah.

Aku juga berpikir dampak terburuk seandainya aku benar-benar akan dipulangkan. Ada beberapa opsi yang sempat terpikirkan. Pertama, aku langsung kembali ke Indonesia. Mungkin untuk sehari dua hari. Kedua, aku kembali ke Malaysia. Dengan pertimbangan, ongkos pesawat pulang perginya lebih murah daripada ongkos pesawat ke Indonesia. Sedangkan untuk akomodasinya, sedikit mengemis-ngemis dengan kawan-kawan di sana. Ketiga, aku menepi sementara ke Hongkong. Pertimbangannya adalah, jaraknya dekat dengan Taiwan, tiket PP juga tergolong murah, dan bisa masuk tanpa visa. Namun masalahnya adalah di akomodasinya. Aku tidak punya kenalan di sana. Dan dari segi makanan, sulit mencari yang halal. Keempat, mencoba survive di terminal kedatangan sampai salah satu temanku membawakan ARC itu. Layaknya Tom Hanks di film The Terminal.

Waktu bengongku terusik sejenak ketika seorang pria yang berbeda datang ke counter yang aku tongkrongi sejak tadi. Dia pria yang duduk di sebelah wanita di priority-counter. Ia kemudian bercakap-cakap dengan petugas yang kusebut si junior. Lagi-lagi aku ditanya hal yang sama seperti, di mana ARC-ku yang asli, mengapa bisa tertinggal. Aku putar lagi tombol rewind di mulutku. Dia berkata, “you can not leave your ARC, you must bring it.” Nada bicaranya datar, namun terkesan tegas. Kali ini reaksi si junior sedikit berbeda setelah berbincang-bincang dengannya. Tiba-tiba ia seperti membereskan dokumen-dokumen milikku. Dan pasporku akhirnya diberi cap, tanda diizinkan masuk.

Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Entah apa yang dikatakan si petugas yang baru datang itu kepada si junior. Jelas-jelas baru saja dua petugas imigrasi tadi menolakku. Mungkin dia tidak tega melihatku terlantar, atau mungkin dia merasa sebaiknya masalahku tidak perlu dipersulit. Apa pun yang dirasakannya terhadapku atau masalah yang menimpaku, aku benar-benar berterimakasih padanya. Ketika pasporku kudapatkan kembali dan dia berjalan di depanku untuk kembali ke pos asalnya, sempat kuutarakan rasa terimakasihku padanya, “thank you, Sir…” Satu kecemasan telah hilang. Kecemasan lain masih menunggu di bagian pengambilan bagasi.

Tempat pengambilan bagasi terlihat sangat lengang. Banyak yang sudah meninggalkan tempat ini. Memang urusanku tadi cukup memakan waktu untuk melenyapkan para penumpang yang satu pesawat denganku di tempat pengambilan bagasi ini. Syukurlah, aku tidak melihat ada petugas yang berlari-lari membawa anjing. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, si anjing pun sedang tidur dengan pulasnya. Tidak sulit kutemukan koper besarku. Langsung kuangkat dari rel berjalan, dan kuseretkan rodanya pada lantai bandara.

Aku masih tegang sebenarnya, ka769rena tepat sebelum kita keluar dari terminal kedatangan, masih ada sebuah mesin sinar-X yang biasa digunakan untuk memeriksa isi tas dan koper para penumpang. Jalan menuju keluar pun biasanya dijaga oleh petugas dan dipisah menjadi 2 jalur. Satu jalur untuk penumpang yang memiliki “nothing to declare”, satu jalur lainnya adalah untuk penumpang yang memiliki “something to declare”.

Dulu aku pernah dengan tenangnya melewati jalur “nothing to declare”. Namun tiba-tiba seorang petugas memintaku untuk memasukkan koperku ke dalam mesin sinar-X. Dan ia pun ingin melihat isi tasku secara langsung. Untungnya aku tidak membawa makanan dari daging-dagingan. Sehingga koperku bisa keluar dari pintu kedatangan secara utuh, walaupun isinya jadi lebih berantakan akibat pemeriksaan.

Kali ini aku keluar melalui jalur “nothing to declare” dengan wajah tak bersalah. Syukurlah, rasa was-wasku kali ini boleh jadi tidak beralasan. Tak ada petugas yang curiga dengan barang-barang bawaanku. Chicken cordon bleu dan sosis Solo yang kubawa dari rumah, berhasil kuselamatkan. Setidaknya bisa menjadi pendamping nasi untuk 2 hari ke depan, atau menjadi camilan untuk mengganjal perut ketika sedang lapar. Dan dua kecemasan terbesarku di terminal kedatangan ini, akhirnya habis tak bersisa. Aku bisa keluar dengan selamat, tak kurang suatu apa pun.

Perjalanan ini belum sepenuhnya usai. Aku masih di bandara. Masih ada perjalanan darat yang harus kutempuh. Tadinya aku berpikir ingin naik taksi saja. Ingin cepat sampai asrama dan berpetualang ke dunia mimpi. Melepaskan lelah yang semakin menyelimuti. Aku berpikir ulang. Taksi bukan lah pilihan tepat jika sedang ingin berhemat. Aku memang sedang ingin hemat-hematnya, karena aku tak tahu masih berapa lama lagi di sini, dan aku segan untuk menadahkan tanganku kepada orangtuaku lagi.

Aku putuskan untuk naik bus. Selain karena kukira bus-bus itu selalu ada selama 24 jam, harganya sepersepuluh dari harga taksi. Sangat ekonomis walau harus sedikit angkat-angkat dan seret-seret koper lagi. Tempat pemesanan tiket bus berada di salah satu sudut terminal. Aku berjalan ke sana mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada. Tempat pemberangkatan bus ini cukup ramai, namun tinggal satu saja counter pembelian tiket yang masih buka. Dan tampaknya, jurusan yang dilalui bus yang tiketnya dijual di counter itu juga terbatas. Sayangnya aku tidak pernah menggunakan bus yang counternya masih buka itu. Jadi, aku tidak mau mengambil resiko tersasar malam-malam sambil membawa-bawa koper.

Aku melihat sekeliling tempat itu. Kulihat ada temanku yang berkerudung merah jambu sedang duduk bersama temannya. Rupanya mereka memilih untuk menunggu hingga counter bus lainnya buka. Yang artinya, mereka akan menginap di bandara. Setelah kupikir-pikir, kuurungkan niatku untuk naik bus. Aku kembali kepada rencanaku semula. Taksi.

Kuikuti kembali petunjuk-petunjuk yang ada yang akan mengantarkanku ke tempat pemesanan taksi. Tiba-tiba, entah mengapa aku teringat di mana aku menaruh uang Ringgitku yang sempat menghilang itu. Aku duduk melihat kursi-kursi di ruang tunggu kedatangan. Kubuka koper besarku yang di dalamnya terdapat koper kecil titipan temanku. Di dalam koper kecil itu berisi tas laptop. Kuangkat tas laptopku itu dan kubuka bagian tengahnya. Ternyata benar, harta karun Ringgit Malaysia itu tersembunyi di sana. Bersama lembaran-lembaran dollar Taiwan yang diberikan temanku sebagai pembayaran tiket kepulangan ke Indonesia 3 minggu sebelumnya.

Sebelum ke tempat pemesanan taksi, aku berpamitan sebentar kepada Pak Agus yang kutemui di ruang tunggu. Dia sedang asyik dengan laptop-nya, entah apa yang sedang dikerjakan. Sama seperti temanku yang berkerudung merah jambu, dia memilih untuk menghabiskan malam di bandara. Seseorang di dekatnya dengan wajah yang pernah kukenal, tersenyum mengantarkan kepergianku. Aku mambalasnya dengan anggukan dan senyuman.

Benarlah bahwa hanya ada dua cara menghadapi dunia ini. Bersyukur dan bersab8:0antrian counter imigrasi. Aku juga ikut menyebar. Mengikuti refleks. Seolah-olah sudah hafal apa yang harus dilakukan. Mendekati meja-meja yang biasanya tersedia kertas-kertas kecil berserakan, dan beberapa pasang pena. Meja demi meja kudekati, tapi tidak ada tanda-tanda penampakan dari kartu kedatangan.

Setelah berputar-putar, aku sampai pada kesimpulan konyol. Apakah kita harus menunggu kartu-kartu itu datang dari percetakan. Untungnya sesaat kemudian aku melihat seseorang bertanya pada seorang petugas. Mengisyaratkan agar langsung menuju antrian. Argh, harusnya mereka membuat pengumuman tertulis yang terbaca oleh para penumpang yang baru saja datang. Agar orang-orang ini tidak bingung seperti anak ayam kehilangan induknya.

Antrianku cukup sedikit. Kalau sambil membaca buku, satu halaman saja tidak dapat. Yang melayani di counterku ini seorang melayu. Aku hanya menyerahkan paspor. Tanpa kartu identitas lainnya. Dia bertanya, “berapa lame di Malaysia?” Harusnya kujawab dua setengah jam. Tapi aku takut berbeda pemahaman. Maka kujawab saja, “3 jam.”

Aku menuju tempat pengambilan bagasi yang berada satu lantai di bawah ruang counter imigrasi. Tak perlu kuambil trolley yang sempat berjejer menghalangi jalanku, karena toh aku hanya membawa satu koper dan satu backpack yang sudah tergendong di punggung. Aku memilih tempat yang agak sepi. Di ujung mulut lubang tempat koper-koper besar itu kembali masuk apabila tidak diambil oleh pemiliknya. Sambil melihat menyusuri barisan koper-koper yang berjalan, aku baru sadar kalau si gadis pembaca novel itu berada di dekatku. Di sebelah kiriku, hanya dalam beberapa jengkal saja jaraknya. Sempitkah dunia?

Kurang kerjaan. Aku menganalisa sistem keluar masuk koper ini. First-in-first-out, atau kah first-in-last-out. Aku termasuk orang yang bisa dikatakan baru memasukkan koper menjelang deadline. Dan tampaknya di deretan koper-koper awal tadi tidak ada koperku. Lamanya kumenunggu memberikan jawaban yang jelas, first-in-first-out. Last in, last out. Koperku baru saja keluar dari mulut lubang keluarnya koper-koper, setelah keramaian di tempat pengambilan bagasi berangsur-angsur sepi. Sebelum aku keluar dari terminal kedatangan itu, ada satu lagi pos pengecekan barang. Namun, banyak yang mengabaikan. Mungkin karena petugasnya sendiri sudah malas. Aku, ikut dengan orang kebanyakan. Mengabaikan.

Seperti biasa, di pintu keluar terminal kedatangan akan kita jumpai wajah-wajah penuh penantian. Menanti sanak saudara yang datang. Menunggu teman baik yang sudah lama tidak bersua. Atau, menjemput seorang tamu dari perusahaan tempat bekerja. Aku mencari temanku. Teman yang baru satu kali bertemu. Aku berjanji membelikannya sebuah buku. Namun janji itu tak bisa kutepati, karena beberapa hari terakhir ini aku tidak sempat ke toko buku. Kalau bertemu, aku ingin meminta maaf telah mengingkari janji yang telah kusampaikan padanya 4 hari yang lalu. Sejauh penglihatanku, dia tidak kutemukan. Memang sebelum berangkat, aku tidak ada kontak dengannya. Dan sebenarnya aku juga berharap dia tak datang. Takut dia kecewa karena buku yang sangat ingin dia baca tidak jadi kubelikan.

Terminal keberangkatan di LCCT memiliki 2 pintu masuk. Aku masuk melalui pintu masuk di sebelah McD, dan langsung mencari counter layanan informasi. Tidak sulit kutemukan letaknya. Kulihat di situ ada dua orang puan duduk di depan meja kerjanya. Dan dua orang tuan berdiri di samping depannya. Salah satu laki-laki itu menyadari keberadaanku, dan menawarkan bantuan dalam bahasa melayu. Aku merespon sedikit gugup, antara ingin menjawab dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bahasa melayu bukan pilihanku karena tidak ada dalam kamus di otakku. Akhirnya keluarlah kata-kata dalam bahasa Inggris dari mulutku. Kalau bukan karena sengketa dua negara tetangga yang nggak pernah ada habisnya itu, mungkin aku bisa merasa aman menggunakan bahasa Indonesia.

“I need to print some documents, where is the place?” Ucapanku yang97 ar. Puji syukurku kehadirat-Nya telah memudahkanku dalam perjalanan ini. Mudah, walaupun tidak terlalu mulus. Setelah bersyukur, aku harus kembali bersabar. Karena yang kujumpai di tempat pemesanan taksi adalah sederetan panjang manusia yang minta diantar ke tempatnya masing-masing, dengan taksi. Panjang antriannya mungkin selebar lapangan sepakbola. Hingga kira-kira 15 sampai 20 menit aku harus menunggu tibanya giliranku untuk mendapatkan taksi.

Aku tiba di asrama pukul setengah 2 malam. Bantal, kasur, dan selimut sudah menyapaku dengan mesra. Namun bukan mereka yang kudatangi, melainkan si laptop 15 inci, temanku yang kurindukan. Setelah berurusan dengan dunia maya, kuselesaikan kewajibanku kepada Yang Maha Pencipta. Kupasangkan sarung bantal dan sprei yang dulu kucuci sebelum aku meninggalkan kamar ini. Dan berakhirlah perjalanan panjangku di hari itu. Perjalanan yang melelahkan mental dan fisik.

Banyak pelajaran yang bisa kuambil dalam perjalanan penuh kenangan dan tantangan ini. Hampir ketinggalan pesawat, kelupaan kartu penting, ancaman tiket hangus, kehilangan lembaran-lembaran Ringgit, duduk di samping pasangan mesra, terancam dideportasi dan harus ngeyel-ngeyelan dengan petugas imigrasi, ancaman penyitaan makanan, kehabisan bus, sampai mau naik taksi juga harus antri, benar-benar kejadian yang “made my day”. Aku cuma berharap, semoga apa yang terjadi kemarin itu adalah untuk yang terakhir kalinya…

Tamat.

———-

1) Murah kok minta selamat.

emang suka memakai topi Pak-Tino-Sidin ketika mengendarai mobil. Dia menyebutnya kostum supir taksi. Sang istri duduk di sampingnya, sedangkan ketiga anaknya berada di belakangnya. Pukul setengah sepuluh pagi, akhirnya mobil itu keluar dari kandang. Menuju kandang raksasa burung-burung besi.

Sambil harap-harap cemas di kursi belakang, sesekali aku mengintip jam tanganku atau jam digital yang ada di panel mobil. Memastikan, apakah masih ada waktu setidaknya untuk berlari-lari dari counter check-in tiket, counter bebas fiskal, counter imigrasi, hingga ruang tunggu keberangkatan, sampai akhirnya masuk ke pesawat tanpa harus dipelototi penumpang lainnya.

Maklum, perjalanan dari rumah ke bandara sangatlah panjang. Dari Ciputat ke Cengkareng biasa ditempuh 40-50 menit, jika dan hanya jika jalanan sangat-sangat lancar. Karena kalau di hari kerja normal, waktu tempuh 2 jam itu sudah cukup bagus. Syukurlah hari itu jalanan lancar. Kami tiba di bandara pukul setengah 11 kurang 10 menit. Masih 70 menit lagi sebelum keberangkatan.

Hadangan pertama yang kuhadapi adalah penjaga pintu masuk yang bertugas memeriksa paspor dan tiket. Gara-gara belum terbiasa, 10 menit lebih waktuku habis untuk mencari email booking di BlackBerry lungsuran Bapak. Sebenarnya sengaja tidak kucetak tiket yang ada di email itu, karena toh pada akhirnya tidak akan terpakai juga seperti waktu di Taiwan dulu. Jangankan dilihat kode bookingnya, dilirik kertasnya saja tidak oleh si penjaga counter.

Akhirnya walaupun emailnya belum ketemu, aku langsung bergegas masuk karena waktu terus menipis. Sampai tepat di depan si penjaga pintu masuk, ternyata yang dilihat hanya paspornya. Sigh, merasa percuma mencari email di inbox yang baru ketemu di halaman ke-8 atau ke-9, dari 20-an email yang ditampilkan per halamannya.

Beberapa orang petugas maskapai AirAsia berdiri di sekitar mesin mirip mesin ATM. Mesin itu adalah alat untuk check-in. Waktu yang terus bergerak membuatku tertarik menggunakan mesin itu karena tidak ada antrian di sana. Seorang petugas mempersilahkanku memasukkan kode booking tiket. Waduh, email booking tadi ternyata perlu juga, pikirku. Dengan tampang sedikit panik, langsung kuambil lagi BB dari saku celana dan scroll atas bawah-atas bawah mencari-cari email dengan subject AirAsia. Si Mas petugas bertanya, “ngecek inbox ya?” sambil tersenyum kecil memaklumi tingkah laku anak muda jaman sekarang yang memiliki slogan, gadget is my life.

Yup, got it, 6 hu:;8a yang bahkan tidak akan terdengar oleh semut di sampingnya. Aku menawarkan bantuan, “mau pesen?” Dia hanya mengangguk. Aku colek lengan pramugari berparas oriental yang kini berada di sebelahku. Si pramugari berbalik, “ya?” Aku menunjuk ke arah gadis pembaca novel, “ada yang mau pesen.”

Gadis itu memesan nasi lemak. Si pramugari menawarkan nasi lemak sotong karena nasi lemak seperti yang kupesan tampaknya sudah habis. Si gadis terdiam, berpikir untuk memilih lainnya. Pramugari menawarkan menu yang lain, “ada chicken rice, pizza, hotdog…” Si gadis memilih chicken rice. Ditambah sebotol Nu Green Tea. Transaksi keuangan terjadi di depan mataku. Si pramugari meminta maaf padaku, “maaf, Pak…”

Walaupun porsinya kecil untuk ukuran pria, nasi lemak itu berhasil membungkam suara-suara dari perutku. Kenyang. Aku melirik ke arah meja si gadis. Hanya ayamnya yang habis. Nasinya utuh. Halah, kenapa tadi tidak pesan chicken without rice saja? Kesalku. Aku terkadang kesal dengan orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya. Apakah dia tidak tahu kalau di Afrika sana banyak yang mati kelaparan?

Setelah selesai makan, kulihat jam tanganku. Perjalanan masih satu jam lagi. Sisa-sisa peperangan bersenjatakan sendok dan garpu plastik masih tergeletak di depanku. Ludes. Tadi sudah kuminta untuk dibereskan, namun si pramugari itu menolak karena akan ada waktu tersendiri untuk membereskan sisa-sisa makanan dan minuman. Kulanjutkan saja memikirkan antisipasi tentang hal-hal yang akan kulakukan setelah tiba di Malaysia nanti.

Pramugari itu datang mengenakan sarung tangan plastik di tangan kanannya. Di tangan kirinya menggenggam plastik besar. Cekatan dan terkesan sedikit seramapangan, dia membereskan sisa-sisa makanan dari meja-meja lipat para penumpang. Setelah mejaku bersih dan kulipat, kulanjutkan tidur siangku yang tidak nyenyak.

LCCT, Malaysia

Jam tangan kusesuaikan dengan waktu Malaysia yang satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat. 3 sore waktu Malaysia. Hampir tepat 2 jam pesawat ini melintasi langit Indonesia-Malaysia. Pesawat belum sepenuhnya berhenti, namun sebagian penumpang sudah kalang kabut mengambil barang bawaannya di bagasi kabin. Tidak lama setelah pesawat selesai parkir, para penumpang sudah membuat antrian sepanjang lorong pesawat. Menunggu dibukanya pintu keluar.

Pintu depan dan pintu belakang dibuka oleh para awak kabin. Aku yang duduk di belakang, tentu memilih keluar lewat pintu belakang yang letaknya tidak sampai 10 langkah dari kursiku. Panas, sedikit lembab. Cuaca di sana tidak berbeda jauh dengan di Jakarta. Dengan mudahnya aku berkeringat, padahal baru berjalan beberapa langkah selepas menuruni tangga pesawat. Aku tak tahu harus ke mana. Kuikuti saja langkah orang-orang di depanku.

Seorang pramugari yang parasnya mirip salah seorang pembawa berita di Metro TV menerima kedatangan kami di pintu masuk lorong terminal. Sesekali ia sedikit membungkukkan badannya dan berucap, “terima kasih… terima kasih….” Menunjukkan ke mana aliran arus para penumpang itu harus berjalan. Dia satu dari tiga pramugari yang satu pesawat denganku tadi. Subyektif memang, menurutku dia yang paling manis.

BlackBerry Bold 9700, kukeluarkan dari saku celanaku. Celana yang kubeli di Solo Square, mall baru di kota Surakarta. Kunyalakan BB hitam di tangan dan kutelfon kakakku. Email sudah dikirim katanya. Ia menyarankan agar aku mencetak hasil scan kartu-kartu penting itu. ARC dan juga kartu mahasiswa. Sejalan dengan yang kupikirkan, memang itu lah yang kurencanakan. Aku sedikit lega.

Pengumuman di pesawat tadi menginformasikan bahwa mereka kehabisan stok kartu kedatangan. Para penumpang diminta untuk mengambilnya sendiri ketika sudah tiba di bandara. Sesampainya di depan halaman counter imigrasi, arus kerumunan penumpang tadi kini berhamburan tanpa arah. Mencari-cari kartu kedatangan yang harus diisi sebelum menuju ke ;<: Nomor tempat dudukku sama persis dengan salah satu model kamera Single-Lens Reflex keluaran Canon. Letaknya di ujung belakang, satu baris sebelum baris terakhir. Di kursi 30F, kudapati ada seorang gadis sedang membaca novel berbahasa Inggris, bertemankan sinar cahaya matahari yang masuk melalui jendela di sampingnya. Sepertinya ia mahasiswi. Kukira ia temanku. Rambut serta bentuk tubuhnya sangat mirip. Hati kecilku berdoa semoga dia adalah teman yang kumaksud.

Dia menengok ke arahku. Mata kami beradu tatap sebentar, lalu sama-sama mengalihkan pandangan. Ternyata dia bukan temanku. Dan sayangnya lagi, dia bukan tipeku. Kursi kosong di antara kami berdua memang seolah telah sengaja diatur sedemikan rupa oleh Yang Maha Mengatur untuk menghalangi agar getaran-getaran halus dalam hati ini tidak saling menginterupsi.

Awak pesawat yang akan mengantarku ke LCCT Kuala Lumpur ini terdiri dari satu orang pramugara dan tiga orang pramugari. Yang sepertinya keempatnya berkewarganegaraan Indonesia. Aku menerka itu dari cara mereka berbicara. Tidak ada unsur-unsur melayu yang kental. Terdengar sangat Indonesia sekali. Tidak seperti sang pilot yang menyapa kami tidak dengan bahasa Indonesia. Mungkin dia memang bukan Indon. Ups, maksud saya, Indonesian.

Perjalanan ini akan ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Sama seperti perjalanan dari Jakarta ke Bandung lewat tol Cipularang. Bedanya, di pesawat ini kalau kita mau makan atau minum, kita tidak perlu berhenti di Rest Area. Para awak kabin akan menawarkan apa-apa yang bisa dibeli untuk dimakan, sambil membunyikan peringatan bahwa penumpang tidak boleh membawa makanan atau minuman dari luar pesawat.

Tidak seperti penerbanganku sebelumnya yang tidak memesan makanan lewat pemesanan tiket online, kali ini aku memesan nasi lemak. Perutku sudah membunyikan alarmnya. Pertanda persediaan bahan energi di perut sudah menipis. Saat itu juga mataku yang terpejam kembali terbuka karena hidungku mengendus sesuatu yang merangsang kelenjar air liur bekerja lebih aktif. Mereka datang, pramugari itu dengan kereta makanannya.

Kompensasi duduk di barisan belakang adalah mendapatkan pelayanan di urutan belakang. Kereta makanan yang tadinya penuh, tinggal terisi kurang dari setengahnya. Sebelum berada dekat denganku, seorang pramugari bertanya pada penumpang di sekitarnya, “ada yang sudah memesan? tolong boarding pass-nya…” Aku berdiri membuka bagasi kabin tepat di atas tempat duduk, kemudian memasukkan sebelah tanganku ke dalam ransel sambil meraba-raba sesuatu yang berbentuk buku kecil, sebuah paspor. Di paspor itu kuselipkan boarding pass yang dimaksud oleh si pramugari. Kuambil kertas boarding pass itu, sedangkan paspor dan ransel serta bagasi kabin, kukembalikan pada posisinya semula.

Sang pramugari kini tepat berada di sebelahku. Rambutnya sebahu, pipinya membulat dan mengembang. Membuka daftar nama dan memanggil namaku, “Wijayanto Budi…” Kuberikan kertas yang tadi kuambil kepadanya. Berkoordinasi dengan teman kerja yang ada di depannya dengan suara yang dipelankan. Si rekan kerja yang berparas oriental dengan model rambut yang sama dengan pramugari di sebelahku, memberikan satu wadah makanan bertutupkan alumunium foil dengan tulisan “Not For Sale”. Sepasang sendok garpu serta air minum kemasan kecil menyusul di belakangnya.

Asap mengepul dari panasnya nasi lemak yang tutupnya baru saja kubuka. Ikan teri yang tidak asin, sambal, dan daging berbumbu menemani nasi putih yang mirip nasi uduk dengan alas daun pisang di bawahnya. Rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi lemak yang pernah kurasakan 3 minggu sebelumnya di rumah Datuk. Seorang melayu Malaysia yang kukenal di warung Indonesia dekat masjid kecil di Taipei.

Mungkin dengan melihatku makan, si gadis pembaca novel itu juga ikut merasa lapar. Dia tidak pesan online. Berkali-kali mencoba memanggil si pramugari sambil melambaikan tangan, namun terus diacuhkan. Bagaimana si pramugari mau dengar, suaranya sangat lembut selembut sutr<=;ntrian didepanku masih sangatlah banyak. Lebih dari satu menit untuk memproses satu orang. Sambil menghitung jumlah antrian di depanku, aku mengalikannya dengan 1 menit. Perkiraan, 10 menit sebelum lepas landas aku baru bisa keluar dari counter ini. Siap-siap berlari sekuat tenaga karena ruang tunggu pesawat dengan nomer penerbangan QZ 7696 yang akan kutumpangi berada sangat jauh di ujung terminal. Jaraknya sekitar 1 kali lapangan bola dari tempatku berdiri saat ini.

Beberapa menit aku menunggu, seorang Bapak membuka pembatas jalan. Tampaknya counter layanan yang persis di sebelahku mengantri mulai dibuka. Sebagian antrian di depanku beralih ke sana. Aku, tetap setia di counter yang sama. Tidak sampai 5 orang di lagi, tibalah giliranku. Fyuuuh, pukul 11 lewat 10 menit aku terbebas dari pos itu. Selepas itu, seorang petugas AirAsia menanyakan tujuan keberangkatanku, “AirAsia… ke mana Pak?” Segera kujawab, “Kuala Lumpur.” “Segera ya Mas, sudah ada panggilan.” Aku berjalan, sedikit berlari.

Di boarding pass tertulis bahwa aku harus menunggu di ruang D7, namun tadi aku mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan kutumpangi menunggunya di ruang tunggu D4. Sebelum masuk ke ruang tunggu, masih ada pemeriksaan barang terakhir untuk memastikan bahwa tidak ada penumpang yang memasukkan barang-barang yang memang tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kabin pesawat. Detektor di tempat pemeriksaan ini sangat sensitif. Ikat pinggang harus dilepaskan agar lolos sensor detektor logam. Bikin repot saja, gumam dalam hati.

Seksama kuperhatikan TV kecil di depan ruang tunggu D4. Tidak ada tanda bahwa penerbangan ke Malaysia akan diberangkatkan dari ruang tunggu ini. Langsung saja kubergegas ke ruang D7 dengan melewati eskalator mendatar sambil sibuk memasang kembali ikat pinggang yang tadi kulepaskan. Ternyata benar, di ruang ini lah seharusnya aku menunggu, D7.

Sampai di dalam, masih ramai orang. Seorang calon penumpang bertanya dengan nada sedikit protes pada petugas, mengapa pesawatnya terlambat. Wajar pikirku kalau dia protes, karena dia masih harus meneruskan penerbangannya lagi. Sama dengan keadaanku. Karena kalau pesawat dari sini terlambat, apalagi terlambat cukup lama, maka hanguslah tiket yang telah kupesan untuk penerbangan berikutnya. Benarlah kata tukang becak, murah kok njaluk selamet 1.

Untungnya tidak berapa lama setelah aku duduk, penumpang mulai berdatangan dari pesawat yang akan kunaiki. Pesawat telah tiba. Masih ada waktu untuk sekedar santai-santai dan memastikan semuanya terbawa. Ada perasaan janggal seketika, ketika aku mengingat-ingat proses check-in dan pengurusan bebas fiskal tadi. Aku menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai identitas, bukan Alien Residence Card (ARC).

Panik. Kuperiksa kembali isi dompet. Kurogoh-rogoh isi tas backpack walaupun kutahu semua usaha itu tidak akan ada hasilnya. Ya, karena seingatku, ARC, kartu mahasiswa, dan ATM Taiwan milikku itu masih berada di card holder warna biru, di samping tempat tidur, di dalam kamar, di rumah. Lesson learned, I need private assistant.

Teknologi, salah satu harapan yang kupikir akan bisa menolongku. Tentunya, dengan izin Yang Maha Kuasa. Segera kutelfon ibu. Nada sambung terdengar, namun tidak diangkat. Ah, aku lupa. Tadi di mobil kan ibu bilang kalau dia lupa bawa handphone. Lalu kutelfon kakakku. Yap, diangkat. Kujelaskan apa yang terjadi dan meminta tolong kepadanya untuk melakukan beberapa hal. Pertama, scan kartu-kartu tersebut. Kedua, kirimkan lewat email. Hanya itu yang terpikir olehku, sambil memikirkan strategi-strategi berikutnya, dan juga hal terburuk yang mungkin terjadi.

Kira-kira pukul 12, akhirnya kami dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Waktuku di Malaysia berkurang setengah jam. Semoga saja waktu 2,5 jam di sana dapat kumanfaatkan sebaik mungkin.

QZ 7696, Indonesia-Malaysia

30D.=><ruf ajaib itu berhasil kutemukan dengan segera. Si Mas petugas memintaku membacakan kode booking tersebut. Zorro-Delta-Queen-… satu demi satu aku eja. Tombol “confirm” ditekannya. Mesin berproses. Kode booking tidak ditemukan. Petugas yang lain datang, mencoba hal yang sama. Dia lihat layar ponsel dalam genggamanku. Dengan hati-hati dia masukkan huruf-huruf itu. Tombol “confirm” ditekan. Mesin berproses. Kode booking tidak ditemukan. Mereka menyerah dan menyuruhku untuk langsung pergi ke counter check-in yang memang biasa digunakan.

Untung hanya menunggu 1-2 antrian. Tapi tiba-tiba muncul 2 orang ibu-ibu menyerobot layaknya angkot yang memang tidak pernah mau tahu aturan. Mungkin mereka sedang terburu-buru, kucoba berbaik sangka. Kini tiba lah giliranku, kutaruh koper besar di timbangan bagasi, angka menunjukkan 16,6. Masih kurang 3,4 kg dari batas maksimal bagasi. “Ke Kuala Lumpur Mas…” sambil menyerahkan paspor pada penjaga counter.  “Jam 11?” tanyanya. “Setengah 12, Mas…” jawabku. Dengan cekatan dia membereskan segala sesuatunya mulai dari bagasi, boarding pass, kartu keberangkatan, dan lain-lain.

Dokumen-dokumen itu aku tukar dengan uang 150 ribu rupiah sebagai pembayaran pajak bandara. Sambil menyerahkan dokumen itu, dia juga memperlihatkan waktu boarding pesawat di boarding pass milikku. “Boarding-nya 10.50, harap dipercepat ya Pak” katanya. Kuangkat tangan kananku, jam menunjukkan pukul 10.45… What?!?!

Seingatku setahun yang lalu counter itu masih di ujung terminal. Sedikit berlari aku menuju counter bebas fiskal yang kukira ada di ujung terminal ini. Belum sampai di ujung, kulihat banyak orang mengantri sambil membawa beberapa helai kertas. Rupanya counternya sudah pindah. Ada beberapa antrian, aku pilih yang paling lengang. Dokumen-dokumen seperti fotokopi NPWP dan KK kupersiapkan. Tidak sampai 5 menit, urusanku dengan pajak fiskal sudah beres.

Waktu menunjukkan hampir pukul 11. Aku belum berpamitan kepada orangtua, dan 2 orang laki-laki yang mengantarku -kakak dan adikku. Aku kembali lagi ke pintu tempat masuk tadi. “Mau keluar sebentar Pak” ujarku. “Oh, lewat pintu sebelah sana, Dik…” kata si Bapak Petugas Bandara sambil menunjuk arah yang jauh. “Aaargh, di mana lagi itu?” tanyaku dalam hati, menggerutu. Ternyata aku harus melewati jalan yang sama, melewati counter check-in otomatis dan counter bebas fiskal. Rugi tenaga 2 kali.

Kurang lebih 100 meter dari tempat aku keluar, aku menemukan Ibu, Kakak, dan Adik. Kutanyakan pada Ibu, “Bapak mana, Bu?” Menuding ke arah belakangku, ibuku menjawab “itu.” Sedikit kujelaskan bahwa waktuku tak banyak lagi. Mereka pun mengerti, dan kemudian aku langsung berpamitan.

Kutunjukkan paspor dan boarding pass kepada si petugas penjaga pintu yang berbeda dengan petugas yang kulalui sebelumnya. Saatnya menuju counter pemeriksaan bebas fiskal, sebelum menuju counter imigrasi. Kusadari bahwa aku memiliki penyakit kronis setiap ke bandara, tidak bawa pulpen. Benda krusial untuk mengisi kartu keberangkatan. Kulihat orang di belakangku menjepitkan pulpen di saku bajunya. “Boleh pinjam pulpennya, Mas?” tanyaku. Dia menyodorkan pulpennya dengan senyuman. Seandainya saja dia perempuan muda, mungkin pertanyaannya akan kutambah “boleh minta nomer telfonnya, Mbak?”, atau “punya facebook, Mbak?”

Bebas dari pemeriksaan fiskal, pulpen itu kukembalikan kepada pemiliknya. Dengan terburu-buru dan belum sempat kuucapkan terimakasih, dia malah meminta maaf, “sorry…” Dia menuju counter yang tidak ada antriannya. Ternyata dia memang punya hak untuk diperlakukan khusus. Sedangkan aku, harus menunggu di antrian yang cukup mengular, belasan orang.

Menunggu adalah hal yang mengesalkan. Apalagi ketika kita sedang sendirian dan diburu oleh waktu. Jam di atas counter imigrasi menunjukkan pukul 11 lewat, sedangkan a>=

Saya berhitung, dalam 3 tahun terakhir ini saya sudah bolak-balik Indonesia-Taiwan sebanyak 5 kali. Setiap tahunnya, mulai dari 2008, saya selalu pulang 2 kali ke Indonesia. Tapi tahun ini baru satu kali, dan semoga untuk yang terakhir kalinya. Dari maskapai yang umum digunakan seperti China Air dan Eva Air, sampai maskapai yang nggak umum, Cebu Pacific, pernah saya coba. Namun belakangan ini pilihan saya jatuh pada AirAsia. Beberapa benefit yang saya rasakan -dengan mengesampingkan bahwa AirAsia adalah budget airlines- adalah, harganya lebih murah untuk ukuran tiket sekali jalan, makanannya dijamin halal karena merupakan maskapai Malaysia, tidak akan ada kendala bahasa dengan kru pesawat karena mereka menguasai bahasa Melayu, dan tentunya para kru pesawat yang selalu mencoba tampil segar dan menarik. Ada juga sih nggak enaknya terbang dengan AirAsia, tapi sepertinya Anda juga sudah mengerti itu. Jadi, kita tidak usah membahas itu. Mari saya lanjutkan saja, cerita di hari yang mungkin sulit untuk saya lupakan…

*****

Indonesia, 19 September 2010…

Satu koper besar sekitar 16-17 kg, masuk ke dalam bagasi mobil yang akan membawanya ke Soekarno-Hatta. Jam menunjukkan hampir pukul setengah 10, namun mobil itu belum juga ada penumpangnya. Padahal, dalam 2 jam lagi si penumpang pemilik koper itu sudah harus tinggal landas menuju Malaysia.

Dalam beberapa menit kemudian, satu per satu masuk ke dalam mobil. Seorang Bapak bertopi, istrinya, dan ketiga anaknya. Sang Bapak memang suka memakai topi Pak-Tino-Sidin ketika mengendarai mobil. Dia menyebutnya kostum supir taksi. Sang istri duduk di sampingnya, sedangkan ketiga anaknya berada di belakangnya. Pukul setengah sepuluh pagi, akhirnya mobil itu keluar dari kandang. Menuju kandang raksasa burung-burung besi.

Sambil harap-harap cemas di kursi belakang, sesekali aku mengintip jam tanganku atau jam digital yang ada di panel mobil. Memastikan, apakah masih ada waktu setidaknya untuk berlari-lari dari counter check-in tiket, counter bebas fiskal, counter imigrasi, hingga ruang tunggu keberangkatan, sampai akhirnya masuk ke pesawat tanpa harus dipelototi penumpang lainnya.

Maklum, perjalanan dari rumah ke bandara sangatlah panjang. Dari Ciputat ke Cengkareng biasa ditempuh 40-50 menit, jika dan hanya jika jalanan sangat-sangat lancar. Karena kalau di hari kerja normal, waktu tempuh 2 jam itu sudah cukup bagus. Syukurlah hari itu jalanan lancar. Kami tiba di bandara pukul setengah 11 kurang 10 menit. Masih 70 menit lagi sebelum keberangkatan.

Hadangan pertama yang kuhadapi adalah penjaga pintu masuk yang bertugas memeriksa paspor dan tiket. Gara-gara belum terbiasa, 10 menit lebih waktuku habis untuk mencari email booking di BlackBerry lungsuran Bapak. Sebenarnya sengaja tidak kucetak tiket yang ada di email itu, karena toh pada akhirnya tidak akan terpakai juga seperti waktu di Taiwan dulu. Jangankan dilihat kode bookingnya, dilirik kertasnya saja tidak oleh si penjaga counter.

Akhirnya walaupun emailnya belum ketemu, aku langsung bergegas masuk karena waktu terus menipis. Sampai tepat di depan si penjaga pintu masuk, ternyata yang dilihat hanya paspornya. Sigh, merasa percuma mencari email di inbox yang baru ketemu di halaman ke-8 atau ke-9, dari 20-an email yang ditampilkan per halamannya.

Beberapa orang petugas maskapai AirAsia berdiri di sekitar mesin mirip mesin ATM. Mesin itu adalah alat untuk check-in. Waktu yang terus bergerak membuatku tertarik menggunakan mesin itu karena tidak ada antrian di sana. Seorang petugas mempersilahkanku memasukkan kode booking tiket. Waduh, email booking tadi ternyata perlu juga, pikirku. Dengan tampang sedikit panik, langsung kuambil lagi BB dari saku celana dan scroll atas bawah-atas bawah mencari-cari email dengan subject AirAsia. Si Mas petugas bertanya, “ngecek inbox ya?” sambil tersenyum kecil memaklumi tingkah laku anak muda jaman sekarang yang memiliki slogan, gadget is my life.

Yup, got it, 6 hu?. oleh Dale dan Larry tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Cara dari Larry mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama agar berhasil. Karena sekali lagi, mencari kesamaan lebih sulit dan membutuhkan proses. Tidak seperti saran dari Dale yang membiarkan perbedaan itu tetap ada dan apa adanya, sehingga kemungkinan berhasil menjadi lebih cepat. Lalu, apa keuntungan dari cara Larry? Saya kira cara itu bisa membuat ikatan pertemanan menjadi lebih kuat. Kita bisa langsung nyambung ketika bertemu dengannya di lain waktu. Sedangkan cara dari Dale, menurut saya hanya dapat bekerja sementara waktu saja. Setidaknya kita punya teman ngobrol di suatu tempat yang asing bagi kita ketika kita sedang merasa sendiri. Karena percayalah, kita tidak ingin selamanya merasa bodoh ketika berbicara dengan orang lain.

Namun tentunya akan lebih baik lagi apabila kita sanggup mengkombinasikan kedua cara itu -mencari kesamaan dan membiarkan perbedaan- agar bersinergi secara optimal. Sebuah grup street dance asal Inggris, Diversity, tahu benar cara memanfaatkan keragaman anggotanya menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengantarkan mereka menjuarai ajang Britain’s Got Talent di tahun 2009 lalu. Anggotanya terdiri dari anak-anak hingga remaja, dari anak sekolahan hingga mahasiswa strata dua di sebuah perguruan tinggi. Bermodalkan ketertarikan dan kecintaan yang sama pada street dance, mereka bisa bekerjasama merangkai tarian yang sangat asyik untuk dinikmati. Dan saya yakin mereka juga menikmatinya.

Kita, bangsa Indonesia, juga punya contoh yang nyata untuk itu. Seperti dulu ketika para pahlawan kita merebut kemerdekaan. Berbekal semangat persatuan dan kesatuan yang berlandaskan kesamaan nasib dan kesamaan tujuan, mereka berhasil memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Setelah merdeka, mereka menyadari bahwa Indonesia terdiri dari suku bangsa yang tersebar di ribuan pulau. Agama yang dipeluk penduduknya pun berbeda-beda. Maka akan sangat bijak dengan menerima keragaman suku, agama, dan ras itu dalam suatu landasan dasar negara. Hingga terciptalah Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun belakangan ini, setelah negeri tetangga menobatkan dirinya sendiri sebagai the truly Asia, saya merasa bangsa kita latah dan terkesan sombong dengan mengklaim dirinya sebagai bangsa yang paling beragam, the ultimate in diversity. Tapi kalau sebutan keren itu hanya membuat bangsa ini semakin mundur, membuat kerusuhan semakin banyak, lalu apa gunanya?

Keragaman, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada. Karena toh, dari munculnya kita ke dunia ini saja kita sudah diciptakan berbeda. Masalah apakah keragaman itu nantinya akan menjadi anugerah atau musibah, hanya tinggal bagaimana kita memperlakukannya. Dengan sedikit empati dan simpati, rasanya cukup untuk menjadikan bumi Indonesia yang penuh keragaman ini menjadi penuh akan kedamaian dan kreatifitas.

*****

1. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere.
2. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Win Friends and Influence People.

sa menguasai topik yang sedang dibicarakan. Buat lawan bicara kita seolah-olah yang paling tahu dan superior. Dengan begitu diharapkan dia bisa menikmati jalannya pembicaraan, walaupun harus diakui bahwa kita harus sedikit berkorban dengan ketidaktahuan yang kita miliki dari topik pembicaraan tersebut. Dale Carnegie dan Larry King mempunyai caranya masing-masing, namun intinya tetap sama, yaitu bagaimana membuat lawan bicara kita menikmati pembicaraan yang sedang kita lakukan bersamanya.

Dua pendekatan yang disampaikan @.}\0)yrE>  k d @  T M "  d 2 Y R )   "y/{U); ri<5 lK% gaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, ta2011 2 28 8 32 36 0 59 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments typeKang Abik di Taipeihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 title3a6f6a3ec4cc02090c15149770965278http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 linkstringhttp://blostringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/mestakung/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/mengatur-layanan-di-dunia-maya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.comlinkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500http://blog.dzaia-bs.com/2009/12/cupu-ih-dzaia/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments http://blog.dzaia-bs.comlinkSM  http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 link typeJadi ceritanya di subuh hari ini saya penasaran dengan sebuah film yang ingin saya tonton di akhir minggu ini, Legend of The Guardians : The Owl of Ga’Hoole. Film animasi 3 dimensi yang diangkat dari kisah novel. Terkesan childish memang untuk anak-anak seukuran saya menonton film ini, tapi ada suatu rasa penasaran yang teramat sangat [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 summary26http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 wfw_commentrssslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/fit-proportional/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 wfw_commentrssSM1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/mestakung/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-17-penerbangan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 linkA0]X2pH?  | [ 6 i b 6 / g ; 4 q l D 8  vYT(!?Bxqstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/m-taiwan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 idDari dulu-dulu saya nggak pernah merhatiin bahwa diskon yang ada di 7-11 atau diskon waktu naik transportasi di Taipei ternyata kalo diperhitungkan bener-bener, maka kita bisa sedikit lebih untung. Nggak seberapa memang, kalo di 7-11 maksimal untungnya cuma 3 kali muter di jalanan yang dijagain ‘Pak Ogah’. Dan kalo menggunakan sistem transportasi yang sudah terintegrasi [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 updated typeVhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 content39http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/tendangan-dari-langit-sepakbola-cinta-keluarga/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 content2011 9 30 1 7 42 4 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?39http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 order2012 3 6 16 33 3 1 66 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 order typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 date typeAku memperhatikan tanganmu yang tertutup sarung tangan wool yang robek. Aku sangsi bahwa itu cukup tebal untuk melindungi kulitmu dari udara dingin yang kala itu mendekati titik beku air. Aku melihatnya dari kulit ari di pangkal jari jemarimu yang banyak terkelupas. Sebagian bekas luka-luka itu ada yang tampak mengapal. Dingin telah membius semua sisi telapak [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=13152011 5 8 18 22 12 6 128 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/about-eat-pray-and-love/http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-11-formmit/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 wfw_commentrssSMVhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 contentdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ngedorama-again/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/m-taiwan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 linkdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 link typeB2[T+$j A f 6  f_1*NN&oW#vU fd?g@=stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 link67http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/06/jazz-be-there/http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 link1http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 slash_comments type8c21b36c0ad3653864542878de7a89d7http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1stringnext_order type2012 3 6 16 33 3 1 66 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 wfw_commentrss type2012 3 12 16 2 3 0 72 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 dateCeritanya lagi diminta sama si Andy untuk bikin insert tentang Sumpah Pemuda buat radio lain sebagai partisipasi dari Radio PPI Dunia. Ternyata… bikin speech +1 menit itu nggak semudah yang dibayangkan… Pernah nonton film2 Jacky Chan yang di akhir filmnya mengungkap scene2 yang gagal? Berikut ini teks yang gw buat… Assalamualaykum wr wb hi saya Jaya dari radioppidunia, saat [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 title type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/fit-proportional/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 title type2011 5 8 18 22 12 6 128 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/06/jazz-be-there/http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 link1http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 orderSore tadi secara tidak sengaja saya melintasi sebuah mini orkestra yang dilakukan oleh anak-anak. Kebetulan letak pertunjukannya cukup dekat dengan asrama, maka saya cepat-cepat mencomot nikon D90 di kamar. Mereka memainkan lagu-lagu yang cukup familiar dengan telinga walaupun saya tidak tahu semua judulnya. Saya mengenali “A Whole New World” dan soundtrack dari Pirates of the [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 summary


Download Video: MP4
HTML5 Video Player by VideoJS


http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 content1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 wfw_commentrss type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 slash_comments2011 9 4 8 55 26 6 247 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 dateC>ebH tm?8  V O !  | L J   x P 4 i b < & kd42ge`Ff-}T8stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 content type. . . . .http://blog.dzaia-bs.com2011 11 15 18 41 22 1 319 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 updated2011 7 26 3 10 38 1 207 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 wfw_commentrss typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 wfw_commentrssdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 summary type4a38310a41edd0568bb5a2f09f0dee17http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 id_hash2011 8 25 3 50 32 3 237 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 datestringurl_etag type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 slash_comments type56http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 orde0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-5-urus-urus/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 comments0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 title type56http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 orderSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 id typeKucoba Dalam 100 Katahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 id typeSalah satu bagian tak terpisahkan dalam dunia internet adalah adanya surat elektronik atau yang biasa kita kenal dengan email. Mungkin hampir setiap dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summary2009 12 16 16 22 13 2 350 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/gadis-penjual-kaos/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 content type3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/meninggalkan-zona-nyaman/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 author2d4e19daed594bbbc55e7a39de96d407http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 content type2011 11 15 18 41 22 1 319 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 author2011 7 26 3 10 38 1 207 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 summary type2011 8 25 3 50 32 3 237 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 dateD.9je>8  z Q I   %  wi5.Q#6/iR$%VO(%\; ^\(!tr=6 xqB@ stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 slash_comments type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 title typeMusikhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hash typeedf644728b27c042b75b06870ce7313dhttp://blog.dzaiastringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 order type84http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 date type2011 4 9 19 42 28 5 99 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updated type2011 1 6 4 52 20 3 6 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/mestakung/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=12datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 wfw_commentrss5http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 slash_comments typeSumpah Pemudahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549Pernah ngerasa ketika semua orang beserta seluruh isi bumi seperti lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap kita? Bukan ‘sesuatu’-nya Syahrini loh ya. Tapi sesuatu yang meskipun itu nantinya adalah sesuatu yang baik, namun tetap membuat kita jadi nggak nyaman untuk saat ini. Well, if you don’t, then I do. Saya merasakannya beberapa bulan belakangan ini. Contohnya, [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310Saya juga heran, giliran ada jadwal fitness, saya malah bisa ngelawan rasa malas di pagi hari. Padahal kalau nggak ada jadwal itu biasanya saya lebih milih menarik lagi selimut dan membetulkan posisi tidur senyaman mungkin. Agak di luar perkiraan, karena sebelum-sebelumnya konsistensi cuma mampir sekitar 2 mingguan. Sedangkan sebulan belakangan ini, saya cukup bisa konsisten [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id type84http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 comments typeMusikhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 date type2011 1 6 4 52 20 3 6 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 wfw_commentrss type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 wfw_commentrss typeE,} ib6/a3, \ U % ~ y P D   P   } i 5 .  ~ [ ; d]8 ZS$g?$ZS-Kok, Males Nulis?http://blog.dzaia-bs.com/?p=473Kok, Males Nulis?http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 titlestrKok, Males Nulis?http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/gading-gading-ganesha/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id type2010 12 22 17 22 0 2 356 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 updated type2010 11 16 14 12 1 1 320 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 id type2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/the-last-one/http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 id type2009 7 17 1 28 39 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 link type2011stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/the-last-one/http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/in-between-difficult-choices/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 author2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 wfw_commentrss type2011 2 22 16 22 43 http://blog.dzaia-bs.com/2010/08/the-last-one/http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-3-menginjakkan-kaki-pertama-kali/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 link2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 updated2011 2 22 16 22 43 1 53 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 dateSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/you-never-know-what-you-have/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 wfw_commentrss typeKok, Males Nulis?http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/gading-gading-ganesha/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 author typeF,e^3,|QJ! n k B ; i b < | u M Ee^4/g`,%`'tjc<9j5.stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 slash_comments type2010 11 23 12 51 40 1 327 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/musik/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 link34http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 link8http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 order

Suatu hari, tak sengaja kuarahkan tangan ini pada sebuah benda kecil yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut tetikus. Jari telunjukku menekan ujung kiri si tetikus begitu hatihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 summary type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 summary type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 content type9a060cd3c3f67d4f894159fb8edf61b1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 title typestringhttp:/8http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 order

Suatu hari, tak sengaja kuarahkan tangan ini pada sebuah benda kecil yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut tetikus. Jari telunjukku menekan ujung kiri si tetikus begitu hati ini merasa sangat penasaran dengan sebuah tautan tentang sebuah buku, 100 Kata. Sulit memang menyampaikan sesuatu tepat dalam 100 kata. Kadang terlalu sedikit, kadang terlalu banyak. Namun apa salahnya mencoba? Kita tidak tahu apakah kita akan berhasil seketika, atau apakah keberhasilan kita itu akan tertunda, jika kita tidak mencobanya. Seperti yang saya lakukan saat ini. Hanya membuka Microsoft Word, menggerakkan jari-jemari, menuangkan ide, dan menuliskannya, hanya untuk menggenapkan sebuah tulisan menjadi 100 kata.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-13-koki/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 id type34http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 content type9a060cd3c3f67d4f894159fb8edf61b1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 title typeyeshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 hiddenhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 summary type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 slash_commentsG2kib4-ng=8 z w G E   } T 3  x R B  k f = k{kCxM-fa8f81n:3Makanan Pokokhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 title2011 3 26 21 27 15 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/berbalik/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 wfw_commentrssDulu sekali waktu di awal-awal munculnya film dokumenter Lingkar Ide yang dibuat sama teman-teman PPIA Victoria di Youtube, entah kenapa saya pengen banget bikin hal yang serupa di sini. Sayangnya dulu belum ada gayung bersambut. Belum ada PPI Taiwan, belum kenal dengan orang-orang yang kira-kira bisa diajak bikin film, dan belum tahu bakal dikemanakan nantinya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id_hash typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455First of all, Happy Eid for everyone. All the praise to الله Who gives us health and wealth, faith and spirit, so that we can breathe the freshness air of Eid al-Adha this year. Not much I would tell since it is the fourth Eid al-Adha that I celebrated in Taipei. Everything is almost the [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 date type
source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

Rehal Modern

Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di dateurl_modified typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-5-urus-urus/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 linkLentera Ide PPI Taiwan – The Story Behindhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 id_hash type107http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 content typeSM_*http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/meninggalkan-zona-nyaman/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 link2011 4 18 18 2 46 0 108 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 updated4http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 slash_commentsPassionhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 title4b69eb3a4310b750f95215662a9b84echttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 id_hash

Rehal Modern

Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya yang terkadang mudah berkeringat. Akibatnya membuat bagian samping buku menjadi mekar bergelombang. Kata si penjualnya sih, keuntungan dari alat ini membuat pemakainya tidak pegal lehernya ketika harus menunduk membaca buku yang tergeletak di meja, tangan juga menjadi bebas bergerak dan tidak lelah memegangi buku.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 contentSaya pikir sudah saatnya saya memulai menulis lagi. Sudah terlalu lama vakum yang ternyata itu tidak baik untuk kondisi kesehatan jiwa saya. Selama ini bukannya tidak mau menulis, cuma setelah menulis beberapa kalimat, di pertengahan jalan tiba-tiba hilang mood. Jadi sebelum saya menulis ini, banyak draft yang saya masukkan dalam tong sampah yang lalu dibersihkan. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 link typeJ d]2+XQ# ^ C  = 6   y M F  | qV6k; qW6g`:7Zmf@&ib4-stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=10592010 11 17 10 0 7 2 321 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id_hash typeKasihan bener blog ini… blog semata wayang yang jarang dibelai sama yang punya. Mentang-mentang lagi asik sama blog tetangga. Banyak yang mau diomongin sebenernya, namun suka ditunda-tunda. Jadi deh, cuma tertimbun dalam pikiran dan angan-angan… Pelan tapi pasti, hilang begitu saja dari kepala. Aha, mumpung lagi muncul sedikit nih, dan lagi sem30http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=10592010 11 17 10 0 7 2 321 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 datenullexclude typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 updated type17http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/3-minggu/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=4582009 10 27 4 30 47 1 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 date typeIni semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 id2010 4 18 16 18 43 6 108 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 updated type85http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id_hash typeRehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil knullexclude typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 comments type2009 10 27 4 30 47 1 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 wfw_commentrss type85http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 order2010 11 17 10 0 7 2 321 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 wfw_commentrss typeK63je>5o! x M F  y r J y  d a 4 -  je83TM&^Y2)fc4-0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 comments type14http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 author type[ http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 updated type2010 10 30 9 15 54 5 303 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/semoga-untuk-yang-terakhir-kalinya/#commentshttp://blog.dzadzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 updated type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 slash_comments2012 2 26 8 4 26 6 57 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 dateDay 0 – The Beginning of 30 Hari Menulishttp://blog.datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 id_hash typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 summary type16http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 id type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/04/hari-ke-19-tempat-tempat-yang-sering-dikunjungi/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 authorBeberapa bulan belakangan ini jumlah postingan di blog ini menurun drastis. Satu posting per bulan, seperti ngejar setoran yang penting ada update setiap bulan, supaya nggak merasa rugi bayar hosting. Rasanya kok malas ya nulis apaaaaa aja. Ya, apa aja yang keluar dari kepala. Apa karena sifat perfeksionis yang mengharuskan semuanya harus dilakukan dengan sempurna? [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-7-kuliah/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/the-beginning-is-half-of-the-whole/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/semoga-untuk-yang-terakhir-kalinya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 content typeL0 [T, uQ0 S L   q H <  [ 9  h   = $ c ?  fEkf83^U)"n@9.*wpL+|SGnk?8slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 order type61http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hash type845229240fb76aadda8222589716db3dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 content typeY;http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 id_hash typecfbafc2ef0ebaa4d9aff7729b277c145http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/another-project/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 wfw_commentrssstringurl_status type200url_statusstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 id_hash type1126667c7824e6e08655200f17688117http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 content type=http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 hidden typeyeshttp://blog.dstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 updated type7ec6b33a4cab81cb3acced3d95daf26fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 link typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 author7d790b6dcc84803898ec1315be76094dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 id_hashY;http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/re-writin-the-fate/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/another-project/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 wfw_commentrssyeshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 hiddenstringhttp://blo200url_statushttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/the-more-i-read-the-more-i-feel-stupid/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 comments2011 2 5 14 53 32 5 36 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 comments typeHari ke-10 : Masih Tentang Kuliahhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 link typeSMRhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 content2011 3 6 13 42 20 6 65 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 author type7ec6b33a4cab81cb3acced3d95daf26fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 id_hashdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 authorSMY;http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/another-project/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 id type845229240fb76aadda8222589716db3dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 comments typeTaiwan High-Speed Railwayhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 titleMBLZS,)QJ' n i ; 4  l e 7 0  O #  u s G @  n b : 3 ngSL~wO3nE+e81wLEkdDtGBYR)2011 8 11 19 8 19 3 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 id type2010 10 7 0 24 32 3 280 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/eid-al-adha-1431h/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 wfw_commentrssslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596stringgenerator_name typestringsy_updateperiod type2011 3 19 18 22 34 5 78 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 link typeSurat vs Emailhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 titlef7a050e40210548945c510044402cf63http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/after-4-years/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 id 2011 8 11 19 8 19 3 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 comments77http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 author type2010 10 17 13 45 14 6 290 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 updatedstringgenerator_name typestringsy_updateperiod typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 content typehtstringgenerator_name typestringsy_updateperiod type2011 3 19 18 22 34 5 78 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 id typeSMy http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 contentSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 contentSurat vs Emailhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 title2010 1 8 22 18 39 4 8 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 title type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-6-masih-tentang-urus-urus/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/eid-al-adha-1431h/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 summary type2011 7 5 21 23 40 1 186 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/2011-projects/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 content type2011 8 11 19 8 19 3 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 comments77http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 content type2010 10 17 13 45 14 6 290 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 updatedN.igb2% S , #  ng:3 xC<ki  M $ }I }vF|UL#unDyCstringhttp://blog.dzaSudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan tenis. Langsung di sini maksudnya benar-benar langsung di depan mata kepala sendiri tanpa perantara layar televisi atau monitor laptop. Lupa kapan tepatnya, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/rencana/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 date type06837ca8d0f02c7bc7b8f6a4481bcfefhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 id_hashdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/ngabuburit-sahur/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-1/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 content typeSabtu kemarin saya menghadiri seminar kecil yang dihadiri kurang lebih sekitar 500-an orang di Yue-han Hall yang diadakan oleh Youth Vision Taiwan. Tentu saja bukan karena kurang kerjaan set6http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 order6http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 id_hash typeMemaknai Hari Lebaranhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 title1d43fd8423957494902060c15fe97aa9http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-14-makan-makanan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 commentsSudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan tenis. Langsung di sini maksudnya benar-benar langsung di depan mata kepala sendiri tanpa perantara layar televisi atau monitor laptop. Lupa kapan tepatnya, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 updated typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 authorSabtu kemarin saya menghadiri seminar kecil yang dihadiri kurang lebih sekitar 500-an orang di Yue-han Hall yang diadakan oleh Youth Vision Taiwan. Tentu saja bukan karena kurang kerjaan setelah kuliah saya di kampus yang sebenarnya sudah habis sejak setahun lebih yang lalu, melainkan karena topik yang dibawakan cukup menarik buat saya. Dan yang terpenting, seminar [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 title typeSetelah lulus kuliah strata 1, waktu itu sebenarnya saya tidak tahu mau ke mana. Tidak ada sesuatu yang benar-benar ingin saya raih. Akhirnya, ya mengikuti aliran air. Menjadi seperti yang dilakukan kebanyakan orang sehabis lulus. Mencari kerja di belantara ibukota. Mungkin waktu itu gengsi saya masih besar. Jadi yang dilirik hanya perusahaan-perusahaan yang punya nama. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/12/3-hari-3-kota/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 title typeO( mkH(le1* ] X ) " Z / ( k d ;  _ SLVO"zLEe0)|PI|=8< ngulur-ulur waktunya sampai rencananya benardatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 updated typeSebelum membaca bukunya, saya sudah melihat visualisasi buku indatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/makanan-pokok/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 updated type4c707ee648b1356d068e0cd8a6a2a3c2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 wfw_commentrss typeHopefully that you might went wrong in guessing what I would talk. It is not about how to choose the best between the bads. Like for example, there is a condition when I must choose a girl who will be my future wife, and that condition does not let me say no. The choices are between [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 date type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/nikon-or-canon/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/after-4-years/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 slash_comments type2010 12 3 7 4 18 4 337 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 updatedBiasanya sih lanjutannya “till it’s gone”. Dan biasanya sesuatu di situ adalah sesuatu yang berharga that money can’t buy. Sifatnya bisa terlihat, atau hanya bisa terasa. Yang terlihat, kurang lebih temanya tentang orang-orang terdekat yang dimiliki. Baik itu keluarga, sanak sedulur, atau teman karib. Yang nggak terlihat, kalo mau agamis dikit jawabannya mengarah ke iman. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 w4c707ee648b1356d068e0cd8a6a2a3c2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 wfw_commentrss typeHopefully that you might went wrong in guessing what I would talk. It is not about how to choose the best between the bads. Like for example, there is a condition when I must choose a girl who will be my future wife, and that condition does not let me say no. The choices are between [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/nikon-or-canon/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/after-4-years/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 slash_comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 id_hash type48http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 id2http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/makanan-pokok/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 wfw_commentrssP*

Jadi ceritanya di subuh hari ini saya penasaran dengan sebuah film yang ingin saya tonton di akhir minggu ini, Legend of The Guardians : The Owl of Ga’Hoole. Film animasi 3 dimensi yang diangkat dari kisah novel. Terkesan childish memang untuk anak-anak seukuran saya menonton film ini, tapi ada suatu rasa penasaran yang teramat sangat yang nggak bisa saya ungkapkan yang mendorong saya untuk nonton film ini. Pokoknya, HARUS. Seperti dulu ketika nonton film Kung fu Panda, saking penasarannya saya sampai minggat ke Bandung karena di Jakarta sudah sulit dicari. Mungkin waktu itu memang sudah saatnya Kung fu Panda turun panggung karena memang sudah terlalu lama nongkrong di bioskop. Tapi masalahnya, saya belum nonton.

Yang pertama yang saya cari untuk survei film ini adalah plot atau alur ceritanya. Wikipedia cukup banyak membantu saya memberikan spoiler dari sisi alur cerita secara utuh. Soalnya, terkadang saya nggak ngerti keseluruhan isi film yang baru saja ditonton. Lost in translation and conversation. Yah, akibat bahasa Inggris saya yang nggak terlalu bagus. Setelah spoiler, biasanya saya mencari trailer. Yup, dari mana lagi kalau bukan dari “Kamu Tabung”. Karena dari trailer film kita bisa mengintip-intip, apa sih atau gimana sih film ini nantinya, siapa saja yang main, atau bagaimana bentuk visualisasinya. Hingga akhirnya survei kecil-kecilan itu berujung pada sebuah trailer tentang The Smurfs.

Masih ingat dengan Smurf kan ya? Komunitas makhluk biru kecil yang tinggal di hutan. Masing-masing Smurf memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Ada yang pintar, ada yang jago masak, ada yang pemalas, ada yang pemarah, ada Papa Smurf si kepala suku, dan lain-lain yang katanya berjumlah 99. Dulu saya mengenal Smurf dari komik. Walaupun katanya ada juga versi animasinya. Entah lupa entah memang belum pernah melihat, yang jelas memori saya tidak bisa mengingatnya. Cerita-cerita si Smurf lucu dan sederhana.

Balik lagi tentang trailer film Smurf yang gosipnya akan dirilis musim panas tahun depan. Juli 2011. Di trailer tersebut dikatakan bahwa film ini juga mengusung teknologi 3 dimensi. Dan di trailer tersebut juga diperlihatkan bahwa para Smurf sedang berada di kota. Awalnya, saya mengira respon-respon yang diberikan akan positif. Pertama, mereka (produser dan orang-orang di belakang layar) membangkitkan kembali kenangan masa lalu. Kedua, film ini dikembangkan dengan teknologi terkini. Namun ternyata respon yang didapat malah sebaliknya. Kolom komentar dipenuhi umpatan dan cacian. Ada juga sih yang mendukung dan memberikan apresiasi. Tapi overall, banyak yang tidak suka dengan adanya film Smurf 3 dimensi yang ada di kota itu. Dan kebanyakan, mereka yang tidak suka adalah orang-orang yang memang menjalani masa-masa ketika Smurf menjadi salah satu icon yang berkesan.

Alasan utama yang bisa saya tangkap, Smurf itu karya klasik. So, just let it be classic as it was. Karena memang begitulah mereka dulu dinikmati dan begitulah cara mereka memberi kesan tersendiri bagi para penggemarnya. Lewat komik berwarna maupun lewat layar kaca. Tidak perlu repot-repot dibuat versi 3 dimensinya. Sehingga para penikmatnya juga tidak perlu ke bioskop menggunakan kacamata 3 dimensi yang menurut beberapa orang malah membuat mereka merasa pusing ketika memakainya.

Latah teknologi? Mentang-mentang film-film sekarang banyak yang menggunakan efek 3D. Atau latah dengan kesuksesan beberapa film yang juga mengadopsi film-film zaman dulu dan diproduksi ulang dengan teknologi animasi terbaru. Alvin and the Chipmunks? Garfield? Scooby Doo? Transformers? Well, QRtikan nasi? Indomie? Jangan salah, mie yang satu itu boleh berbangga hati karena sudah terbukti telah berjasa dalam mengantarkan perjalanan hidup seorang mahasiswa PhD -yang hampir tiap hari makan Indomie atau saudara sebangsanya- yang saya kenal hingga lulus.

ter beserta maple syrup-nya, sepotong hash brown potato, dan segelas minuman. Seringnya saya memilih nai cha (teh susu) panas untuk minumnya karena saya suka dengan aroma dan rasanya. Nggak bisa dipungkiri soalnya, semakin lama kita berada di luar negeri, maka gaya hidup juga mau tidak mau harus menyesuaikan. Secara gitu ya, di sini nggak ada yang jualan nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, atau bubur ayam buat sarapan. Well, mungkin kalau tinggalnya di apartemen atau di kontrakan yang ada dapurnya, kita masih bisa masak sendiri buat sarapan. (Wait… kita? lo doang kali, kalau gw sih tetep males.)

Nah, berhubungan dengan menu sarapan yang saya sebutkan di atas -yang hampir semuanya diawali dengan kata : nasi-, kemarin saya membaca berita menarik tentang rencana Pemerintah untuk mewacanakan kampanye One Day No Rice (ODNR). Keren banget memang, di tengah-tengah berita yang membooming tentang Indomie, Pemerintah melakukan manuver dengan menyegarkan kembali isu lama yang fantastis. Alasan yang disebutkan dalam artikel itu sangat logis, yaitu menurunnya produksi beras dalam negeri yang disebabkan perubahan iklim global di mana curah hujan Indonesia menjadi sangat tinggi yang akhirnya menyebabkan seringnya gagal panen (bingung?). Dan alih-alih diatasi dengan menaikkan laju impor, diversifikasi jenis makanan pokok dinilai menjadi solusi lain yang lebih baik. Nice idea.

Di artikel lain yang masih berhubungan dengan isu di atas, disebutkan bahwa konsumsi beras di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Lebih dari 2 kali lipat dari rata-rata konsumsi beras dunia. Sangat masuk akal. Orang Indonesia khususnya yang tinggal di daerah barat, makan nasi 3 kali sehari. Sarapan, makan siang, sampai makan malam, semua harus ada nasinya. Sampai ada pepatah -yang entah dari mana asalnya- yang menyatakan, “orang Indonesia itu belum makan kalau belum makan nasi”.

Pertanyaannya, bisakah orang Indonesia hidup tanpa makan nasi. Secara ilmiah, jawabannya pasti bisa. Selama dia terus mengonsumsi air dan mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lainnya, seseorang dijamin bisa tetap hidup. Tapi secara nggak ilmiah, sudah pasti jawabannya nggak bisa. Karena untuk kasus ini bukan lagi kebiasaan yang ingin diubah, tapi budaya. Dan selama ini belum ada kan budaya orang Indonesia yang bisa diubah secara signifikan? Mengubah budaya makan nasi menurut saya mirip dengan menghilangkan budaya KKN. Hampir pasti nggak mungkin karena sudah mengakar dan mendarah daging. Kecuali…

Begini, ada sebuah cerita tentang seorang bule Australia yang cukup lama tinggal di Indonesia. Selama di Indonesia dia bisa bertahan untuk makan nasi 3 kali sehari. Padahal di negaranya dulu, dia hanya makan nasi 3 kali seminggu. Sedangkan saya di Taiwan ini jarang sarapan pakai nasi karena memang terbatasnya pilihan menu sarapan yang berasal dari beras. Bukannya tidak ada, ada namun terbatas. Jadi intinya, lingkungan bisa membentuk budaya. Begitu juga dengan wacana ODNR tadi. Selama lingkungan kita mendukung untuk tidak mengonsumsi beras secara berlebih dan selama pemerintah bisa mengkondisikan keadaan seperti itu, program ini kemungkinan bisa berhasil.

Kemudian mengenai diversifikasi pangan nasional tadi, kira-kira apa ya yang cocok untuk mengganRQ

Setelah hampir satu bulan kembali ke Taiwan, pagi tadi saya kangen dengan salah satu menu sarapan di sebuah restoran franchise terkenal berinisial M. Biasanya saya memesan paket nomor 4 yang terdiri dari 3 lembar pancake lengkap dengan butter beserta maple syrup-nya, sepotong hash brown potato, dan segelas minuman. Seringnya saya memilih nai cha (teh susu) panas untuk minumnya karena saya suka dengan aroma dan rasanya. Nggak bisa dipungkiri soalnya, semakin lama kita berada di luar negeri, maka gaya hidup juga mau tidak mau harus menyesuaikan. Secara gitu ya, di sini nggak ada yang jualan nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, atau bubur ayam buat sarapan. Well, mungkin kalau tinggalnya di apartemen atau di kontrakan yang ada dapurnya, kita masih bisa masak sendiri buat sarapan. (Wait… kita? lo doang kali, kalau gw sih tetep males.)

Nah, berhubungan dengan menu sarapan yang saya sebutkan di atas -yang hampir semuanya diawali dengan kata : nasi-, kemarin saya membaca berita menarik tentang rencana Pemerintah untuk mewacanakan kampanye One Day No Rice (ODNR). Keren banget memang, di tengah-tengah berita yang membooming tentang Indomie, Pemerintah melakukan manuver dengan menyegarkan kembali isu lama yang fantastis. Alasan yang disebutkan dalam artikel itu sangat logis, yaitu menurunnya produksi beras dalam negeri yang disebabkan perubahan iklim global di mana curah hujan Indonesia menjadi sangat tinggi yang akhirnya menyebabkan seringnya gagal panen (bingung?). Dan alih-alih diatasi dengan menaikkan laju impor, diversifikasi jenis makanan pokok dinilai menjadi solusi lain yang lebih baik. Nice idea.

Di artikel lain yang masih berhubungan dengan isu di atas, disebutkan bahwa konsumsi beras di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Lebih dari 2 kali lipat dari rata-rata konsumsi beras dunia. Sangat masuk akal. Orang Indonesia khususnya yang tinggal di daerah barat, makan nasi 3 kali sehari. Sarapan, makan siang, sampai makan malam, semua harus ada nasinya. Sampai ada pepatah -yang entah dari mana asalnya- yang menyatakan, “orang Indonesia itu belum makan kalau belum makan nasi”.

Pertanyaannya, bisakah orang Indonesia hidup tanpa makan nasi. Secara ilmiah, jawabannya pasti bisa. Selama dia terus mengonsumsi air dan mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lainnya, seseorang dijamin bisa tetap hidup. Tapi secara nggak ilmiah, sudah pasti jawabannya nggak bisa. Karena untuk kasus ini bukan lagi kebiasaan yang ingin diubah, tapi budaya. Dan selama ini belum ada kan budaya orang Indonesia yang bisa diubah secara signifikan? Mengubah budaya makan nasi menurut saya mirip dengan menghilangkan budaya KKN. Hampir pasti nggak mungkin karena sudah mengakar dan mendarah daging. Kecuali…

Begini, ada sebuah cerita tentang seorang bule Australia yang cukup lama tinggal di Indonesia. Selama di Indonesia dia bisa bertahan untuk makan nasi 3 kali sehari. Padahal di negaranya dulu, dia hanya makan nasi 3 kali seminggu. Sedangkan saya di Taiwan ini jarang sarapan pakai nasi karena memang terbatasnya pilihan menu sarapan yang berasal dari beras. Bukannya tidak ada, ada namun terbatas. Jadi intinya, lingkungan bisa membentuk budaya. Begitu juga dengan wacana ODNR tadi. Selama lingkungan kita mendukung untuk tidak mengonsumsi beras secara berlebih dan selama pemerintah bisa mengkondisikan keadaan seperti itu, program ini kemungkinan bisa berhasil.

Kemudian mengenai diversifikasi pangan nasional tadi, kira-kira apa ya yang cocok untuk mengganST$ ber-chatting ria di internet ini melebur. Keduanya ini dicurigai merupakan cikal bakal gaya berbahasa di dunia maya anak muda masa kini. Dengan sentuhan kreatifitas jiwa muda, terlepas dari namanya yang entah diambil dari mana, kita kini mengenal Bahasa Alay. Contoh sederhananya dengan mudah bisa kita temukan di status-status facebook anak-anak yang sedang menginjak usia remaja, yang sekarang ini lebih sering disebut ababil. Sebuah contoh di bawah ini saya kutip dari email seorang teman yang katanya dia dapat dari facebook seseorang. Percakapan virtual seorang alay, dengan seorang normal.

Alay : Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?

Normal : Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)

Alay : Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?

Normal : Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

Alay : Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ’emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(

Males kan ya bacanya? Dan rasanya lebih layak disebut pesan rahasia yang terenkripsi dari pada sebuah bahasa suatu negara. Dengan bahasa yang disingkat-singkat saja kita masih harus mengira-ngira maksudnya, apalagi ini hurufnya diganti angka, simbol, dan huruf besar-kecil yang sifatnya acak. Hal lain lagi yang masih menyangkut gaya bahasa ber-facebook, mengapa pada komentar-komentar atau status, banyak sekali kita temukan deretan titik-titik hampir di setiap akhir kalimat?

Itu kesalahan mayor yang terjadi dalam tata bahasa kita dalam dunia digital. Sedangkan yang minor-minor juga ada, namun biasanya tidak kentara karena terlihat lazim. Kejadian ini sering saya temukan di blog, di note-note facebook, atau di artikel-artikel lepas yang ada di internet. Sekedar meluruskan, saya tidak sedang mempermasalahkan orang-orang yang mengadopsi gaya bahasa non-formal dalam blog-blognya, seperti menggunakan kata ‘ngerjain’, dan bukan ‘mengerjakan’; ‘nyupir’ dan bukan ‘mengendarai’; ‘make’ dan bukan ‘memakai’; dll. Tapi yang membuat saya sangat terganggu adalah penggunaan ‘di’ yang salah.

Banyak sekali yang masih tidak dapat membedakan bagaimana cara menggunakan ‘di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dan ‘di-’ sebagai imbuhan yang membuat sebuah kalimat menjadi pasif. Bahasa Indonesia saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol dan tidak terlalu buruk, tapi setidaknya saya masih bisa menggunakan ‘di’ sesuai dengan fungsinya.

Seingat saya -dan saya yakin masih benar sampai saat ini-, penggunaan ‘di’ sebagai keterangan tempat itu dipisahkan dari nama benda atau nama tempat itu. Contoh:

  1. Teman saya membalas twitter temannya di kamar mandi.
  2. Kertas itu tertumpuk di meja.

Sedangkan ‘di’ sebagai imbuhan, cara menggunakannya adalah dengan menyambungkannya dengan kata yang diimbuhi. Contoh:

  1. Teman saya ditampar pacarnya.
  2. Mobil itu ditabrak sepeda.

Mudah sebenarnya untuk memeriksa apakah ‘di’ itu seharusnya disambung atau dipisah. Caranya dengan mengubah kalimat itu menjadi bahasa Inggris. ‘Di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dalam bahasa Inggris akan terpisah dengan sendirinya karena berubah menjadi ‘in’, ‘on’, atau ‘at’. Sedangkan ‘TS

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Bah, baris ketiga dari isi Sumpah Pemuda itu mana laku lagi zaman sekarang? Walaupun saya yakin, dari sejak mulai ke sekolah pakai celana pendek warna merah sampai seumuran ke kampus pakai celana jeans, ada satu mata pelajaran yang pasti diajarin, yaitu Bahasa Indonesia. Terkecuali kalau sekolahnya di luar negeri. Tapi yang saya heran, kenapa hampir semua orang Indonesia di Indonesia ini -selain media massa-, dalam berkomunikasi jarang banget atau bahkan langka yang menggunakan bahasa Indonesia? Maksud saya, bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Perkara lama sih sebenarnya. Dari dulu sejak bisa ngomong sampai sekarang, saya juga begitu. Bahasa Indonesia hanya dipakai di ruang-ruang formal. Maksudnya begini, waktu saya belajar bahasa asing entah itu Inggris, Jerman, atau Mandarin, bahasa yang diajarkan itulah bahasa yang memang digunakan untuk menulis ataupun bercakap-cakap, baik ruang formal maupun non-formal. Teknik serta teori yang diajarkan di kelas bahasa itu secara langsung memang bisa dipraktikkan. Tapi kalau bahasa Indonesia? Kita mungkin akan aneh mendengar percakapan dalam keseharian yang menggunakan bahasa Indonesia yang seharusnya. Misalkan saja antara seorang tukang bajaj yang lagi bernegosiasi dengan calon penumpangnya, sebut saja namanya Mawar.

Mawar : “Pak, saya ingin pergi ke Pondok Indah Mall. Berapakah harga yang harus saya bayar?”

Tukang bajaj : “Dua puluh ribu rupiah, nona.”

Mawar : “Bagaimana jika sepuluh ribu rupiah saja, Pak? Karena jarak dari sini ke sana kan tidak sampai 2 kilometer.”

Tukang bajaj : “Mengapa nona tidak berjalan kaki saja kalau memang Anda merasa jaraknya dekat?”

Aneh, kan? Dan akan wajar kalau percakapan yang terjadi seperti ini,

Mawar : “Bang, ke PIM berapa duit?”

Tukang bajaj : “noban lah neng…”

Mawar : “ya elah bang… ceban aja lah, ke PIM doang ini… tuh, keliatan dari sini… ngesot dikit juga nyampe…”

Tukang bajaj : “muke lo deket! itu bulan juga keliatan dari sini…”

Nah, itu salah satu contoh keseharian kita di dunia nyata yang menjelaskan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar yang telah diajarkan di bangku-bangku sekolah itu menjadi tidak praktikal ketika diterapkan dalam masyarakat. Dan sebelum kita melihat perilaku berbahasa di dunia maya, mari kita ambil telepon genggam kita masing-masing dan buka menu ‘Messages’ atau ‘SMS’. Kemudian pilih menu ‘inbox’. Yakin seyakin-yakinnya, akan banyak sekali ditemukan kata-kata yang disingkat. Dan karena kita sudah sangat terlatih, saya yakin pesan singkat di bawah ini akan sangat mudah terbaca maksudnya.

Oi, btw bsk jd ke bdg ga?

Jd, gmn lo jd mo brg ga?

Teknologi merubah budaya. Dulu kita mengenal pager. Teknologi yang belum sempat mem-booming dan segera tergantikan oleh telepon genggam yang laris manis bak kacang goreng. Pager dan fitur Short Message Service pada telepon genggam ini menuntut kita mengirimkan pesan sependek-pendeknya. Dan cara termudah adalah dengan menyingkat kata-kata yang bisa disingkat. Konsep sederhananya, menghilangkan huruf-huruf vokal pada sebuah kata. Sampai akhirnya tanpa disadari kita terbiasa menggunakan singkatan-singkatan itu.

Tidak cukup lama setelah kata SMS cukup sering terdengar, internet mulai mudah diraih. Berkenalanlah kita dengan salah satu produk internet yang memudahkan kita berhubungan dengan orang lain. Email dan chat client. Kedua produk ini fungsinya berbeda seiring waktu. Email digunakan untuk hal-hal yang lebih serius dan resmi, sedangkan chat client atau client messenger lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi.

Cara kita ber-SMS danU

First of all, Happy Eid for everyone. All the praise to الله Who gives us health and wealth, faith and spirit, so that we can breathe the freshness air of Eid al-Adha this year. Not much I would tell since it is the fourth Eid al-Adha that I celebrated in Taipei. Everything is almost the same as the three years before. Without surrounded by voice of Takbiran, without ketupat and opor in the morning as a breakfast, without barbecuing satay in the afternoon, without all kinds of mutton menu (gulai, tongseng, or tengkleng) for lunch and diner -today, I ate seafood burger and french fries for brunch; rames rice with fried chicken for diner-, worst of all, without family. Well, I guess I just get used to it. And as the year before, I wish it is gonna be my last Eid al-Adha in Taipei. The pictures below will show you the situation of Eid al-Adha at Taipei Grand Mosque.

Please upgrade your browser

Yesterday, a friend of mine sent an email to the mailing list that I follow. There are two links of videos that he took at Eid al-Adha two years ago. One of them contains my first experience in slaughtering the goat to be sacrificed. I was a little bit nervous at that time. Hesitated whether I could do this job in the right way, or not. Before the execution, I was given some advises by the expert fellow and ustadz Issa Chao about how to slaughter. I put the knife on the goat’s throat. Then by saying “Bismillahi Allahu Akbar” I started to move the knife forward with a deep pushing. I pulled it slowly and deep. And pushed it again forward for the second time by reducing the push. Pulled it again for the second time, not as strong as before. At last, I moved it again forward as the finishing touch and make it sure that the head was not cut off. Hopefully, I did it right at that time. إن شاء الله.

v>ng mau memulainya. Toh, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.

dap negara kita.</p> <p>Mencuplik kata2 dari John F Kennedy, jangan tanyakan apa yg bisa negara berikan padamu, namun tanyakandatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 updated type2010 8 19 19 1 38 3 231 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hash type845229240fb76aadda8222589716db3dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hashslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434url_etag updated last_updated subtitle lastbuilddate url next_order generator filter language link title url_status url_modified sy_updateperiod exclude configured_url generator_name sy_updatefrequency keysstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 content type$O http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/i-just-knew-what-was-happened-to-me/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 date type2010 4 21 10 27 29 2 111 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_comments type6http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hash typeedf644728b27c042b75b06870ce7313dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hashV

Mini Orchestra at National Taiwan University

Sore tadi secara tidak sengaja saya melintasi sebuah mini orkestra yang dilakukan oleh anak-anak. Kebetulan letak pertunjukannya cukup dekat dengan asrama, maka saya cepat-cepat mencomot nikon D90 di kamar. Mereka memainkan lagu-lagu yang cukup familiar dengan telinga walaupun saya tidak tahu semua judulnya. Saya mengenali “A Whole New World” dan soundtrack dari Pirates of the Caribbean. Saya senang melihat orang mahir bermusik. Sayangnya tidak ada satu alat musik pun yang saya kuasai dengan baik. Sebenarnya saya ingin belajar bermusik, setidaknya untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Atau seperti Arai dalam Sang Pemimpi, memetikkan dawai gitar untuk menggetarkan hati Zakiah Nurmala.

us Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya yang terkadang mudah berkeringat. Akibatnya membuat bagian samping buku menjadi mekar bergelombang. Kata si penjualnya sih, keuntungan dari alat ini membuat pemakainya tidak pegal lehernya ketika harus menunduk membaca buku yang tergeletak di meja, tangan juga menjadi bebas bergerak dan tidak lelah memegangi buku.</p>CCx x pApALR mereka. Dari sekian wanita yang ditugaskan untuk mempromosikan produknya, saya menemukan dua yang termanis di booth milik dua produsWXang Child’s Dream Foundation yang didirikannya. Ia juga menyampaikan bahwa sebagai volunteer, persiapan yang matang adalah hal yang terpenting.

Tak terasa satu putaran jarum panjang jam dinding berlalu. Di jam kedua ini saatnya para pengunjung mangajukan pertanyaan. Pertanyaan yang mengalir cukup beragam, mulai dari mengapa mendirikan organisasi baru dan tidak bergabung dengan yang sudah ada; kontribusi apa yang bisa dilakukan seorang wanita karir atau seorang anak di tingkat 9; kesulitan-kesulitan yang dihadapi; cerita-cerita menarik yang ditemui; dll. Sayang, beberapa kali acungan tangan saya di antara tangan-tangan yang terangkat tidak sempat mendapat perhatian dari moderator. Mungkin lain kali saya harus mengenakan pakaian yang lebih ngejreng supaya bisa mendapat kesempatan bertanya. Padahal saya ingin bertanya, “have you achieved what you want to achieve?” Saya amat penasaran.

Saya baru tahu kalau ada passion semacam yang dimiliki Daniel. Karena selama ini yang saya kira, bekerja sosial hanyalah panggilan hati nurani sebagai manusia. Wujud nyata dari empati dan simpati. Dan bukan passion. A lesson learned.

ternya. Pengalamannya sebagai volunteer di perbatasan Thailand dan Burma (Myanmar) membuat dia kembali terjun ke dunia sosial setelah sekolahnya tuntas dan memutuskan untuk bergabung dengan Taipei Overseas Peace Service. Pembicara lainnya adalah Daniel Siegfried. Daniel berasal dari negerinya Roger Federer, ia adalah seorang mantan bankir yang meninggalkan pekerjaannya ketika ia berada di puncak sukses sebagai direktur termuda yang pernah dimiliki oleh sebuah bank terkemuka di Swiss, UBS. Terlahir di Eropa membuatnya mandiri lebih cepat. Mulai bekerja di usia 15 tahun, dan akhirnya bisa menghidupi dirinya sendiri sebelum usianya berkepala dua. Daniel mendirikan Child’s Dream Foundation, organasasi non-profit yang peduli terhadap pendidikan anak-anak di Thailand dan sekitarnya. Sebagai moderator, seorang gadis Taiwan bernama Pei-Ru Kuo yang juga pernah mencicipi dunia volunteering dalam beberapa waktu.

Saya mulai dulu dari cerita yang disampaikan Sam. Kasus yang terjadi di perbatasan Thailand dan Burma -yang belum pernah saya dengar sebelumnya- adalah topik utama yang disampaikan oleh Sam sebagai pangalamannya selama menjadi volunteer. Daerah perbatasan Thailand-Burma merupakan daerah pengungsian yang sayangnya kebanyakan dari pengungsinya adalah ilegal. Pengungsi-pengungsi ilegal tanpa identitas ini seiring waktu membentuk komunitas yang makin lama makin membesar. Statusnya yang ilegal membuat mereka sulit bergerak, sulit mendapatkan pendidikan bagi anak-anak, serta sulit mendapatkan pekerjaan formal dan layak bagi yang berusia produktif. Di sini lah peran para pekerja sosial diperlukan, yaitu untuk memberikan pendampingan kepada para pengungsi dalam berbagai hal. Menjelang akhir sesi presentasinya, Sam menyampaikan bahwa pada akhirnya kita tetap tidak akan dapat merubah dunia walaupun dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Karena dunia tidak ingin kita merubahnya. Apa yang bisa didapat dari pengorbanannya sebagai volunteer adalah, learning and understanding. Belajar dan mengerti.

Sesi berikutnya giliran Daniel -si Swiss- yang mendapat kesempatan bercerita. Mendengar kisah-kisah awal Daniel terjun ke dunia sosial, mengingatkan saya pada orang terkaya yang juga mendirikan organisasi sosial bernama Bill & Melinda Gates Foundation. Saya sempat amazed dengan orang ini -seperti juga teman, kerabat, serta keluarganya yang terheran-heran dengan keputusannya-, meninggalkan seluruh kekayaan dan kesuksesannya untuk membantu anak-anak yang kesulitan mendapatkan pendidikan. Jika dulu uangnya bisa dikatakan lebih dari cukup, maka sekarang hanya cukup untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Orang-orang mengira seolah Daniel mendapatkan panggilan spiritual atau apa lah yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Dalam pengakuannya dia mengatakan bahwa bekerja sebagai pekerja sosial adalah passion-nya. Daniel sedikit banyak bercerita tentXW

Sabtu kemarin saya menghadiri seminar kecil yang dihadiri kurang lebih sekitar 500-an orang di Yue-han Hall yang diadakan oleh Youth Vision Taiwan. Tentu saja bukan karena kurang kerjaan setelah kuliah saya di kampus yang sebenarnya sudah habis sejak setahun lebih yang lalu, melainkan karena topik yang dibawakan cukup menarik buat saya. Dan yang terpenting, seminar ini dibawakan dalam bahasa Inggris. Melihat bencana yang terjadi di Indonesia kurang lebih dalam sebulan belakangan ini (Mentawai, Wasior, dan Merapi) sedikit mengusik sisi keingintahuan saya dalam hal volunteering. Karena kejadian di Indonesia kemarin itu sempat membuat saya terpikir sesaat untuk menjadi relawan, suatu saat nanti. Pada kesempatan itu topik yang diambil adalah “Idealism or Self-interest? Critical Views on International Volunteerism.”

Seminar tersebut menghadirkan 2 orang tokoh yang sudah malang melintang di dunia volunteering. Sam Lai, lahir dan besar di Taiwan, mengenalkan dirinya sebagai seorang explorer dan suka berteman dengan orang-orang. Sam memulai petualangannya sebagai volunteer sejak dia bersekolah di Inggris ketika sedang melanjutkan studi masternya. Pengalamannya sebagai volunteer di perbatasan Thailand dan Burma (Myanmar) membuat dia kembali terjun ke dunia sosial setelah sekolahnya tuntas dan memutuskan untuk bergabung dengan Taipei Overseas Peace Service. Pembicara lainnya adalah Daniel Siegfried. Daniel berasal dari negerinya Roger Federer, ia adalah seorang mantan bankir yang meninggalkan pekerjaannya ketika ia berada di puncak sukses sebagai direktur termuda yang pernah dimiliki oleh sebuah bank terkemuka di Swiss, UBS. Terlahir di Eropa membuatnya mandiri lebih cepat. Mulai bekerja di usia 15 tahun, dan akhirnya bisa menghidupi dirinya sendiri sebelum usianya berkepala dua. Daniel mendirikan Child’s Dream Foundation, organasasi non-profit yang peduli terhadap pendidikan anak-anak di Thailand dan sekitarnya. Sebagai moderator, seorang gadis Taiwan bernama Pei-Ru Kuo yang juga pernah mencicipi dunia volunteering dalam beberapa waktu.

Saya mulai dulu dari cerita yang disampaikan Sam. Kasus yang terjadi di perbatasan Thailand dan Burma -yang belum pernah saya dengar sebelumnya- adalah topik utama yang disampaikan oleh Sam sebagai pangalamannya selama menjadi volunteer. Daerah perbatasan Thailand-Burma merupakan daerah pengungsian yang sayangnya kebanyakan dari pengungsinya adalah ilegal. Pengungsi-pengungsi ilegal tanpa identitas ini seiring waktu membentuk komunitas yang makin lama makin membesar. Statusnya yang ilegal membuat mereka sulit bergerak, sulit mendapatkan pendidikan bagi anak-anak, serta sulit mendapatkan pekerjaan formal dan layak bagi yang berusia produktif. Di sini lah peran para pekerja sosial diperlukan, yaitu untuk memberikan pendampingan kepada para pengungsi dalam berbagai hal. Menjelang akhir sesi presentasinya, Sam menyampaikan bahwa pada akhirnya kita tetap tidak akan dapat merubah dunia walaupun dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Karena dunia tidak ingin kita merubahnya. Apa yang bisa didapat dari pengorbanannya sebagai volunteer adalah, learning and understanding. Belajar dan mengerti.

Sesi berikutnya giliran Daniel -si Swiss- yang mendapat kesempatan bercerita. Mendengar kisah-kisah awal Daniel terjun ke dunia sosial, mengingatkan saya pada orang terkaya yang juga mendirikan organisasi sosial bernama Bill & Melinda Gates Foundation. Saya sempat amazed dengan orang ini -seperti juga teman, kerabat, serta keluarganya yang terheran-heran dengan keputusannya-, meninggalkan seluruh kekayaan dan kesuksesannya untuk membantu anak-anak yang kesulitan mendapatkan pendidikan. Jika dulu uangnya bisa dikatakan lebih dari cukup, maka sekarang hanya cukup untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Orang-orang mengira seolah Daniel mendapatkan panggilan spiritual atau apa lah yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Dalam pengakuannya dia mengatakan bahwa bekerja sebagai pekerja sosial adalah passion-nya. Daniel sedikit banyak bercerita tentYZ

Sebelum membaca bukunya, saya sudah melihat visualisasi buku ini dalam film garapan Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) yang berjudul Bahwa Cinta Itu Ada. Dan seperti layaknya film yang diangkat dari novel, versi film Gading-Gading Ganesha juga memiliki alur yang cepat dan tidak rinci. Banyak adegan-adegan yang dipotong agar cerita yang setebal 390 halaman itu bisa rampung dalam kurun waktu kurang dari 2 jam. Seperti ketika Slamet akhirnya memutuskan untuk memilih Siti Zulaeha ketimbang Dewi, di saat Slamet mengalami kebimbangan antara pilihannya sendiri dengan pilihan ibunya. Proses yang melibatkan Pak dhe-nya dalam mengambil keputusan itu tidak diungkap dalam film, padahal di situlah titik krusial bagi Slamet yang akhirnya memilih Eha. Selain pemotongan adegan, ada juga yang perubahan-perubahan yang dilakukan dalam film tersebut. Seperti adegan ketika Ria marah di restoran hotel yang sebenarnya tidak diceritakan dalam novel, juga adegan Poltak yang terlambat masuk kelas yang mana dosen yang menegurnya saat itu seharusnya adalah dosen pria dan bukan dosen wanita -yang diperankan oleh Nurul Arifin-. Embel-embel cinta dan alur flashback yang coba dibawakan dalam versi filmnya juga sepertinya agak dipaksakan.

Dibandingkan versi filmnya -yang mana keadaan saat ini sudah terlalu modern untuk menghadirkan kembali suasana tempo dulu-, versi bukunya saya rasakan lebih banyak memanggil memori-memori lama seputar kampus ITB. Suasana OSPEK, praktikum, ekskul atau kegiatan unit, ujian, dosen killer (saya suka bagian joke tentang nilai, di mana nilai A hanya untuk Tuhan, nilai B untuk dosennya, maka mahasiswanya paling banter hanya dapat nilai C), semangat mengerjakan tugas akhir, menjadi kumpulan chapter yang cukup bisa merangkum segala kejadian yang dialami oleh mahasiswa ITB. Kemudian tentang acara Iota Tau Beta, memang dulu ada ya? Apa ini sama dengan Open House Unit? Mungkin karena setting waktunya yang berada jauh ke belakang -bahkan waktu saya belum direncanakan muncul ke dunia-, jadi ya dalam beberapa bagian saya sempat kehilangan bayangan untuk menggambarkannya dalam imajinasi saya.

Ria, Fuad, Slamet, Benny, Gun Gun, dan Poltak, enam tokoh yang dihadirkan dalam novel ini berasal dari daerah dan budaya yang berbeda-beda, tingkat ekonomi yang berbeda, jurusan yang berbeda, seolah ingin menggambarkan keragaman yang ada di ITB. Perkenalan sesaat ketika pendaftaran yang berujung pada persahabatan abadi. Sangat disayangkan, novelnya sangat datar. Tidak jelas karakter mana yang mau dibangun. Terlalu memaksakan kalau keenamnya semua dijadikan karakter utama. Maka jadi lah novel ini seperti kumpulan cerita pendek dari enam tokoh yang memiliki masalahnya sendiri-sendiri yang kemudian dikemas dalam satu buku dan sengaja dicari-cari benang merah di antara keenamnya. Alur cerita yang terjadi juga tidak karuan. Lompat-lompat tidak jelas. Tidak ada surprise, bahkan bagian-bagian yang (mungkin) diharapkan bisa menjadi klimaks cerita jadi terkesan datar. Saya rasa bukan saya saja yang tidak terpancing emosinya. Di lain sisi, novel ini bisa menjadi bacaan yang ringan sambil ngeteh-ngeteh di sore hari sambil makan pisang goreng. Atau untuk menunggu pesanan makanan datang, atau juga untuk dibaca sambil menunggu MRT datang.

Kesan lain dalam buku ini, mungkin bagi kalangan non-ITB akan terasa sekali kalau novel ini sangat narsis. Saya juga enggak habis pikir akan sebegitu banyaknya kalimat yang membangga-banggakan almamater. Khas ITB sekali. Sombongnya enggak hilang-hilang. Selain kearoganannya yang tidak kasat mata, novel ini juga terkesan sangat idealis. Seidealis semangat mahasiswa baru ketika baru masuk ITB. Bagus sih sebenarnya, untuk mengingatkan alumni-alumninya dan pembaca-pembacanya agar kembali ke jalan yang benar -buat yang merasa jalannya sudah berbelok-. Keidealisan ini juga yang sangat terbaZYUca melalui pesan yang coba dibawakan oleh novel ini di akhir-akhir cerita.

Saya tidak bisa bilang buku ini jelek, tapi agak berat juga untuk mengatakan buku ini bagus. Karena walaupun banyak celah dalam buku ini, namun banyak juga knowledge baru, joke-joke yang baru saya tahu, dan sejarah ITB yang disampaikan oleh Pak Dermawan. Selain itu ada juga kutipan-kutipan hadist, dan salah satunya adalah hadist Nabi yang berbunyi,

Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberi tahu bahwa ia mencintainya
(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)

g dari 2 jam. Seperti ketika Slamet akhirnya memutuskan untuk memilih Siti Zulaeha ketimbang Dewi, di saat Slamet mengalami kebimbangan antara pilihannya sendiri dengan pilihan ibunya. Proses yang melibatkan Pak dhe-nya dalam mengambil keputusan itu tidak diungkap dalam film, padahal di situlah titik krusial bagi Slamet yang akhirnya memilih Eha. Selain pemotongan adegan, ada juga yang perubahan-perubahan yang dilakukan dalam film tersebut. Seperti adegan ketika Ria marah di restoran hotel yang sebenarnya tidak diceritakan dalam novel, juga adegan Poltak yang terlambat masuk kelas yang mana dosen yang menegurnya saat itu seharusnya adalah dosen pria dan bukan dosen wanita -yang diperankan oleh Nurul Arifin-. Embel-embel cinta dan alur flashback yang coba dibawakan dalam versi filmnya juga sepertinya agak dipaksakan.

Dibandingkan versi filmnya -yang mana keadaan saat ini sudah terlalu modern untuk menghadirkan kembali suasana tempo dulu-, versi bukunya saya rasakan lebih banyak memanggil memori-memori lama seputar kampus ITB. Suasana OSPEK, praktikum, ekskul atau kegiatan unit, ujian, dosen killer (saya suka bagian joke tentang nilai, di mana nilai A hanya untuk Tuhan, nilai B untuk dosennya, maka mahasiswanya paling banter hanya dapat nilai C), semangat mengerjakan tugas akhir, menjadi kumpulan chapter yang cukup bisa merangkum segala kejadian yang dialami oleh mahasiswa ITB. Kemudian tentang acara Iota Tau Beta, memang dulu ada ya? Apa ini sama dengan Open House Unit? Mungkin karena setting waktunya yang berada jauh ke belakang -bahkan waktu saya belum direncanakan muncul ke dunia-, jadi ya dalam beberapa bagian saya sempat kehilangan bayangan untuk menggambarkannya dalam imajinasi saya.

Ria, Fuad, Slamet, Benny, Gun Gun, dan Poltak, enam tokoh yang dihadirkan dalam novel ini berasal dari daerah dan budaya yang berbeda-beda, tingkat ekonomi yang berbeda, jurusan yang berbeda, seolah ingin menggambarkan keragaman yang ada di ITB. Perkenalan sesaat ketika pendaftaran yang berujung pada persahabatan abadi. Sangat disayangkan, novelnya sangat datar. Tidak jelas karakter mana yang mau dibangun. Terlalu memaksakan kalau keenamnya semua dijadikan karakter utama. Maka jadi lah novel ini seperti kumpulan cerita pendek dari enam tokoh yang memiliki masalahnya sendiri-sendiri yang kemudian dikemas dalam satu buku dan sengaja dicari-cari benang merah di antara keenamnya. Alur cerita yang terjadi juga tidak karuan. Lompat-lompat tidak jelas. Tidak ada surprise, bahkan bagian-bagian yang (mungkin) diharapkan bisa menjadi klimaks cerita jadi terkesan datar. Saya rasa bukan saya saja yang tidak terpancing emosinya. Di lain sisi, novel ini bisa menjadi bacaan yang ringan sambil ngeteh-ngeteh di sore hari sambil makan pisang goreng. Atau untuk menunggu pesanan makanan datang, atau juga untuk dibaca sambil menunggu MRT datang.

Kesan lain dalam buku ini, mungkin bagi kalangan non-ITB akan terasa sekali kalau novel ini sangat narsis. Saya juga enggak habis pikir akan sebegitu banyaknya kalimat yang membangga-banggakan almamater. Khas ITB sekali. Sombongnya enggak hilang-hilang. Selain kearoganannya yang tidak kasat mata, novel ini juga terkesan sangat idealis. Seidealis semangat mahasiswa baru ketika baru masuk ITB. Bagus sih sebenarnya, untuk mengingatkan alumni-alumninya dan pembaca-pembacanya agar kembali ke jalan yang benar -buat yang merasa jalannya sudah berbelok-. Keidealisan ini juga yang sangat terba[ 

RDK bukan Rida-Dewi-Kita. Grup vokal itu kan sudah bubar lama. Saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat seorang teman saya yang baru melangsungkan siaran terakhirnya kemarin. Risma Diniar Kosasih alias DJ Imo. Saya kenal dengan cewek yang suaranya cempreng ketika siaran ini sudah cukup lama. Mungkin sudah berlangsung sekitar 1 tahun lebih 1 bulan lewat 1 hari. Seperti layaknya pertemanan yang terjadi di radio tempat kami pernah bekerja membanting tulang, memeras keringat, menyayat hati, serta menguras uang saku itu, kami belum pernah sekalipun bertemu secara fisik. Namun layaknya persahabatan di radio itu pula, kami bisa cepat akrab. Apalagi kami sama-sama masuk di seksi sibuk yang mengurusi urusan dapur radio itu.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan ketika kemarin diberi kesempatan untuk memberikan kata-kata terakhir. Tapi enggak tahu kenapa, mungkin karena terbawa suasana haru, jadinya enggak banyak yang saya sampaikan. Maka, sekarang ini lah saatnya untuk melengkapi kekurangan yang kemarin. Hitung-hitung jika suatu saat dia butuh surat rekomendasi dari saya, maka saya tinggal copy-paste saja postingan ini.

Imo yang saya kenal, punya komitmen tinggi terhadap tanggung jawab yang dia emban. Rasanya tiap jumat pagi di program ADUHAI (Arsitektur Dunia Hai hai hai -singkatan yang agak maksa-) atau senin pagi di program TRASI (Tradisional Sehat Ala Imo), anak ini jarang absen dan jarang telat. Kecuali memang ketika musim-musim ujian. Karena mau gimana juga study is priority. Imo juga seorang yang -saya kira- mudah bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Terbuka dan apa adanya. Ceplas-ceplos. Enggak suka ya bilang enggak suka.

Kalau kemarin dia baru saja mengakui dosanya yang seabrek-abrek karena kelakuannya yang suka ngerjain orang itu, itu sama sekali enggak aneh buat saya. Karena dulu dia pernah cerita kalau punya keinginan buat jadi intelijen. Intelijen dan tukang usil, sebelas-dua belas lah ya. Maka enggak heran juga kalau anak ini tergolong yang cukup cepat belajar. Bukannya mau menyulut perang gender, tapi biasanya kalau ada DJ cewek yang lagi ada masalah dengan teknis, rasanya sabar aja enggak cukup buat nahan kebawelan si DJ yang saking paniknya.

Selain sebagai partner in work, Imo juga bisa menempatkan diri sebagai tempat sharing. Dan kalau dia lagi kuliah masalah cinta, dengan semena-mena dia suka membodoh-bodohi saya. Mungkin kalau diibaratkan, seorang Profesor sedang menguliahi anak SD -atau anak TK?-. Sayang, advise-advise yang dia berikan belum berhasil. Memang enggak bisa disalahkan juga sih, karena terkadang yang saya lakukan tidak sesuai dengan arahan-arahan yang dia berikan.

Kalau tentang hobi sampingannya yang suka ngegosip dengan bibirnya yang menurut saya agak dower itu, saya rasa itu cuma bentuk kepedulian dan perhatiannya kepada teman-teman dan orang-orang di sekitarnya. Karena saya tahu, she treasures friendship.

Semoga sukses dalam cita dan cinta, Imo. Semoga kita bertemu, suatu saat nanti. إن شاء الله

dan cinta, Imo. Semoga kita bertemu, suatu saat nanti. إن شاء الله

membawa anjing kecil berlari-lari kesana-kemari. Begitu kuambil koperku dan sempat berjalan beberapa langkah, si petugas dan anjing itu mendekatiku. Anjing itu mengendus-endus koper hijau tua milikku, dan aku disuruhnya untuk membuka koper itu di tempat penggeledahan barang yang tak jauh dari sana.

Tidak sedikit yang mengalami nasib serupa sepertiku. Aku melihat deretan buah-buah segar dan juga beberapa ikat sayur, serta makanan-makanan lainnya tersusun berantakan di meja pemeriksaan. Kalau semuanya dikumpulkan, rasanya bukan tidak mungkin sebuah restoran, atau minimal warung makan kecil yang menyediakan masakan internasional dari berbagai negara bisa didirikan di salah satu penjuru terminal kedatangan. Abon dan rendang diambil oleh mereka karena terbuat dari daging. Sedangkan ikan dan kacang-kacangan masih diperbolehkan untuk dibawa. Karena itu lah aku jadi rajin menolak jika ibu menawarkanku untuk membawa ma\

Akhir-akhir ini saya baru nyadar kenapa dulu kalo Bapak nanya “mau makan ke mana sekarang?”, terus anak-anaknya pada bilang “terserah”, biasanya Bapak me-reply, “mana ada makanan namanya terserah” (nada jengkel). Yeah, now I know and more understand about his feeling. Kalo buat saya sendiri, jawaban “terserah” itu bukan karena nggak mau mikir atau nggak pengen sesuatu. Tapi lebih karena ngasih kesempatan buat yang lain, kalo memang lagi ingin makan sesuatu. Kalo kemudian saya mengatakan keinginan saya, maka saudara saya yang lain bakal dapet saingan. Masalahnya adalah, akhirnya semua bilang “terserah”. Mungkin yang lain juga berpikiran sama, dan siapa tahu Bapak udah punya ide atau keinginan sendiri mau milih makan ke mana. Buntut-buntutnya, Bapak ngasih pilihan dan kemudian dilakukan voting. Atau, ada satu yang usul (dengan nada sedikit terpaksa) dan yang lain mengikuti.

Suatu saat saya berada di posisi Bapak, mencoba menginisiasi sebuah diskusi dengan sebuah pertanyaan. Diharapkan dari pertanyaan tersebut, akan lahir beragam pendapat yang dari situ akan diformulasikan menjadi sebuah keputusan. Kadangkala pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan terbuka. Seperti pertanyaan Bapak. Contoh, “ada ide nggak buat ini-itu?” Ketika pertanyaan ini buntu dan hanya membuat keheningan, maka pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan pilihan. Misal, “kalo ini gimana? kalo itu gimana?” Pertanyaan ini memang bisa memancing pendapat, tapi bisa juga tetap nihil hasil kalo yang ditanya bilang, “terserah deh.”

Nggak ada yang salah sih dengan jawaban terserah. Sisi baiknya, diskusi berjalan lebih cepat karena nggak ada pihak-pihak yang bertentangan (kalo dilihat dari sisi luar, walopun isi hati siapa yang tahu?). Tapi ya itu… c’mon lah, masa ngasih pendapat aja nggak bisa. So, I learned from it. Jadi, untuk ke depannya mungkin saya akan mengurangi menjawab “terserah”.

tidak etis untuk menceritakan keseluruhan isi cerita yang kukandung. Sebab itu akan menghilangkan rasa penasaran para calon-calon pembacaku yang sudah tertarik dengan sampul depanku yang bertuliskan ‘Pemenang Hadiah NOBEL SASTRA 2006′, lalu dengan seketika membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mengambilku pada rak-rak atau di tumpukan-tumpukan yang ada di toko buku besar maupun kecil, di tumpukan-tumpukan toko buku second hand, taman-taman baca, atau di perpustakaan-perpustakaan. Aku tahu, kau semakin tidak sabar bukan? Aku bisa mendengar suara hatimu berkata, “hentikan omong kosong ini, dan mulailah bercerita!”

Semua ini diawali oleh cerita seorang mayat yang tersungkur di dasar sumur. Dan seperti semua mayat pada umumnya, ia juga memiliki nama ketika sukma masih menyatu bersama raganya. Mayat naas itu bernama Elok Effendi. Ia dibunuh akibat perbuatan bodohnya yang meresahkan si pembunuh, hingga si pembunuh merasa tidak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya. Sekarang, kau harus mengingat dua nama ini baik-baik, Hitam dan Enishte Effendi. Tapi jangan mengira Hitam adalah sebuah warna, melainkan ia adalah sebuah nama. Setelah 12 tahun pergi meninggalkan Istanbul, Hitam akhirnya kembali karena diminta oleh Enishte-nya untuk membantu sebuah pekerjaan rahasia yang ditugaskan Sultstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 updated typeIni semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 summaryA(nother) Projecthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 title]^ atnya. Hitam kemudian mengunjungi satu per satu rumah para ilustrator itu (Kupu-kupu, Bangau, dan Zaitun). Di sebuah tempat persembunyian salah satu ilustrator, akhirnya mereka berempat berkumpul. Terjadi perdebatan dan perkelahian yang cukup menarik di sana. Mata si pembunuh ditusuk oleh jarum yang pernah membuat mata Tuan Osman buta. Hitam yang bergelut dengan si pembunuh, mengalami luka yang cukup parah akibat tusukan belati. Hingga akhirnya si pembunuh itu berhasil meloloskan diri. Namun sayang, di tengah perjalanannya untuk pergi mengasingkan diri, si pembunuh itu harus mati mengenaskan di tangan Hasan. Bagaimana akhirnya nasib Hitam dan ilustrator lainnya itu? Tenang saja, tidak ada yang perlu dicemaskan karena kisah ini berakhir bahagia.

Beberapa paragraf di atas aku rasa cukup untuk memberikan gambaran kepadamu mengenai jalannya cerita. Sekarang aku ingin berbagi hal-hal lain yang ada dalam pikiran si pemilikku itu. Yang pertama, dia terasa menikmati sekali chapter ‘Aku adalah Esther’. Jika engkau tidak tahu siapa itu Esther, dia adalah perempuan Yahudi tua yang sering ditugaskan sebagai pengantar pesan dan surat. Ada kalanya ketika yang diantarkan adalah surat cinta, maka engkau bisa memanggilnya dengan sebutan Esther si Mak Comblang. Dalam chapter-chapter si Esther, kita akan dibawa untuk lebih memahami perasaan-perasaan yang tak terungkap. Sinyal-sinyal yang hanya dikirim lewat hati dan hanya bisa tertangkap oleh hati. Selain itu, chapter tentang Esther biasanya tidak membawakan hal-hal yang berat. Sedangkan yang kedua, pemilikku ini sangat seksama mencermati chapter ‘Aku adalah Shekure’. Aku tidak heran, karena dia memang senang mempelajari dan memahami tingkah laku manusia berkromosom XX. Shekure memiliki 2 peran di sini, sebagai ibu dari 2 orang anak, dan juga sebagai seseorang yang sedang jatuh cinta. Hal terakhir yang ingin kusampaikan mengenai si pemilikku ini adalah, percayalah bahwa dia tidak terlalu menyukaiku. Sebabnya, aku bukanlah buku yang mudah dibaca. Aku melihatnya yang terkadang bertampang bingung dengan sedikit kernyitan kecil di dahi. Sambil membaca sebuah kalimat berulang-ulang karena tidak mengerti maksud dari sebuah kalimat yang tertulis di sini. Jika pun akhirnya dia berhasil menyelesaikannya hingga lembar terakhir, itu hanya karena penasaran dengan si pelaku pembunuhan dan juga karena dia tidak ingin membiarkanku terlantar tak terbaca.

Terakhir, izinkan aku membekalimu dengan 2 buah pesan tersurat yang sedikit menohok pemilikku ketika membacanya. Dua buah kalimat yang penuh pelajaran akan arti cinta dan pernikahan.

Cinta akan muncul setelah pernikahan. (Hal. 339)

Cinta bukanlah penderitaan demi penderitaan, melainkan sebuah makna untuk meraih-Mu. (Hal. 379)

yatu bersama raganya. Mayat naas itu bernama Elok Effendi. Ia dibunuh akibat perbuatan bodohnya yang meresahkan si pembunuh, hingga si pembunuh merasa tidak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya. Sekarang, kau harus mengingat dua nama ini baik-baik, Hitam dan Enishte Effendi. Tapi jangan mengira Hitam adalah sebuah warna, melainkan ia adalah sebuah nama. Setelah 12 tahun pergi meninggalkan Istanbul, Hitam akhirnya kembali karena diminta oleh Enishte-nya untuk membantu sebuah pekerjaan rahasia yang ditugaskan Sultan kepadanya. Sebuah pekerjaan -yang aku tidak tahu apakah engkau mengenal profesi ilustrator atau tidak- untuk mendekorasi ‘Kitab Segala Pesta’. Dalam penyelesaian kitab ini, Enishte meminta kerabat-kerabatnya sesama ilustrator untuk membantunya. Ketiga kerabatnya itu memiliki panggilan Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Salah satu dari ketiganya inilah yang dicurigai membunuh Elok Effendi, dan di tengah cerita juga membunuh Enishte Effendi. Itulah bingkai besar dari ceritaku.

Kemudian, apakah engkau termasuk seseorang yang suka dengan kisah-kisah cinta? Jangan khawatir, aku akan melanjutkan bagian tentang kisah cinta yang terkandung dalam diriku. Tentu saja bukan kisah cin^_]ta seperti Romeo dan Juliet, atau Beauty and The Beast. Kisah cinta ini tentang seorang wanita yang kesepian. Shekure, anak perempuan satu-satunya dari Enishte Effendi, dikisahkan sebagai seorang istri yang telah ditinggal pergi suaminya selama 4 tahun ke medan perang. Wanita yang dikisahkan sangat cantik ini -mana ada sih tokoh utama wanita yang diberi karakter buruk rupa?- telah memiliki 2 orang anak yang masih kecil bernama Orhan dan Shevket. Mereka tinggal serumah dengan Enishte Effendi bersama seorang budak bernama Hayriye setelah rumah suami Shekure dirasakan mulai tidak nyaman sejak kepergian suaminya yang tak kembali. Alkisah kedatangan Hitam ke rumah Enishte berhasil membuncahkan kembali benih-benih cinta Shekure. Dulu Shekure pernah menolak Hitam. Namun kini cerita itu berbalik. Keduanya dilanda asmara. Sayangnya perasaan itu harus terhalang oleh status Shekure yang masih menjadi seorang istri dan juga ditunjang oleh ketidaksukaan Enishte kepada Hitam. Suatu ketika, Enishte dibunuh secara kejam oleh seorang kerabat ilustratornya. Momen ini dimanfaatkan Shekure dan Hitam untuk melangsungkan pernikahan mereka. Alasannya bukan hanya karena cinta, itu hanya salah satunya saja. Alasan lain pernikahan Hitam dan Shekure yaitu karena Shekure tidak ingin kembali ke rumah suaminya yang lama, di mana di sana ada adik iparnya yang bernama Hasan yang juga menginginkan Shekure. Walaupun Hitam dan Shekure telah menjadi pasangan suami istri, namun kewajiban Hitam sebagai suami dibatasi oleh Shekure sebagai syarat pernikahan. Hitam dilarang melakukan suatu hal yang layaknya dilakukan pasangan suami istri apabila ia belum bisa menemukan pelaku yang membunuh Enishte-nya.

Hingga akhirnya kabar kematian Enishte ini sampai ke kalangan istana. Hitam menyerahkan semua karya yang ditinggalkan Enishte-nya kepada Sultan. Sultan kemudian memerintahkan Tuan Osman -pemilik bengkel seni ketiga ilustrator yang diduga sebagai pembunuh Enishte- dan Hitam untuk mengusut kasus ini. Mereka hanya diberikan waktu 3 kali pergantian siang dan malam untuk menuntaskannya. Dan apabila dalam kurun waktu 3 hari tersebut Tuan Osman dan Hitam tidak dapat menemukan pembunuhnya, maka mereka lah yang akan menjalani hukuman dari Sultan, di mana nyawa menjadi taruhan. Langkah pertama yang dilakukan Tuan Osman adalah memeriksa karya-karya Enishte Effendi yang dikerjakan bersama-sama ketiga ilustratornya, Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Tuan Osman sangat mengerti sifat-sifat ilustratornya. Ia bisa menebak jitu siapa yang membuat suatu lukisan tanpa tandatangan hanya dengan mengamatinya, baik dengan mata telanjang maupun dengan kaca pembesar yang telah menjadi kawan sejatinya. Pada sebuah lukisan, Tuan Osman menyadari ada hal yang ganjil pada hidung kuda yang dia amati. Penemuan ini disampaikan pada Sultan yang kemudian Sultan memerintahkan untuk mengadakan sayembara kepada ketiga ilustrator dari bengkel seni Tuan Osman itu. Para ilustrator itu diminta untuk menggambarkan seekor kuda pada sebuah kertas kosong. Langkah ini ternyata tidak memberikan hasil yang berarti karena si pembunuh melukis kuda itu dengan cara yang berbeda setelah ia mencurigai sayembara dadakan itu. Di hari kedua, Tuan Osman meminta kepada Sultan untuk dapat memasuki Ruang Penyimpanan Harta. Setelah 2 hari lamanya, petunjuk itu akhirnya ditemukan oleh Hitam. Sebuah lukisan kuda dengan keanehan pada hidung. Bagian hidung kuda yang terpotong dalam lukisan itu mirip dengan hidung kuda yang ada pada salah satu karya Enishte Effendi yang dibantu oleh ilustrator-ilustratornya. Dengan pengamatan yang jeli dari Tuan Osman, pelaku pembunuhan itu akhirnya diketahui.

Setelah pelaku diketahui oleh Tuan Osman, Hitam pergi mencarinya. Namun sebelum itu, ia mencari istri dan anak-anaknya terlebih dahulu. Shekure dan anak-anaknya tidak ditemui di rumahnya. Atas informasi dari Esther, ternyata Shekure kembali ke rumah suaminya yang lama atas kemauan Shevket. Hitam mengambil kembali mereka dari sana. Dan dalam perjalanan pulang, Hitam mengamankan keluarganya di tempat kerab_^

Ini semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti semut-semut dari ketinggian yang melebihi awan. Hingga akhirnya aku tiba di negerinya Chiang-Kai Sek seperti sekarang ini. Kini aku berada di sebuah pulau kecil yang mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah negara. Walaupun pengakuan itu tidak sepenuhnya diakui oleh semua negara. Maka dari itulah pemerintah negeri ini tidak lelahnya mengkampanyekan ‘U.N. for Taiwan’. Tapi kau tahu kan? Di dalam PBB sana ada sebuah kekuatan yang tidak akan membiarkan negeri kecil ini untuk bergabung. Sebuah kekuatan yang sangat besar. Namun begitu, negeri tempat aku berada kini diakui reputasinya dalam hal yang berkaitan dengan produk-produk yang dikonsumsi oleh orang-orang yang mengaku dirinya modern dan melek teknologi.

Ah, maafkan aku yang bertele-tele dan terlalu masyuk bercerita ke sana ke mari. Itu tadi hanyalah pelampiasanku yang terpendam -karena selama ini tak ada yang mendengarkanku- akan euforia bahwa aku sedang berada di luar negeri saat ini. Aku tahu kau telah menungguku menceritakan ringkasan dari imajinasi liar Orhan Pamuk si orang Turki, yang tertuang di dalam lembaran-lembaran kertas setebal tujuh ratus sekian halaman ini bukan? Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu tapi dengan suatu persyaratan yaitu, aku tidak akan menceritakannya kepadamu hingga tuntas. Dan jika kau bertanya mengapa aku melakukan itu, aku punya dua alasan yang sudah kupersiapkan. Pertama, karena aku menceritakan sebuah misteri tentang pembunuhan. Kedua, aku merasa tidak etis untuk menceritakan keseluruhan isi cerita yang kukandung. Sebab itu akan menghilangkan rasa penasaran para calon-calon pembacaku yang sudah tertarik dengan sampul depanku yang bertuliskan ‘Pemenang Hadiah NOBEL SASTRA 2006′, lalu dengan seketika membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mengambilku pada rak-rak atau di tumpukan-tumpukan yang ada di toko buku besar maupun kecil, di tumpukan-tumpukan toko buku second hand, taman-taman baca, atau di perpustakaan-perpustakaan. Aku tahu, kau semakin tidak sabar bukan? Aku bisa mendengar suara hatimu berkata, “hentikan omong kosong ini, dan mulailah bercerita!”

Semua ini diawali oleh cerita seorang mayat yang tersungkur di dasar sumur. Dan seperti semua mayat pada umumnya, ia juga memiliki nama ketika sukma masih menyatu bersama raganya. Mayat naas itu bernama Elok Effendi. Ia dibunuh akibat perbuatan bodohnya yang meresahkan si pembunuh, hingga si pembunuh merasa tidak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya. Sekarang, kau harus mengingat dua nama ini baik-baik, Hitam dan Enishte Effendi. Tapi jangan mengira Hitam adalah sebuah warna, melainkan ia adalah sebuah nama. Setelah 12 tahun pergi meninggalkan Istanbul, Hitam akhirnya kembali karena diminta oleh Enishte-nya untuk membantu sebuah pekerjaan rahasia yang ditugaskan Sultan kepadanya. Sebuah pekerjaan -yang aku tidak tahu apakah engkau mengenal profesi ilustrator atau tidak- untuk mendekorasi ‘Kitab Segala Pesta’. Dalam penyelesaian kitab ini, Enishte meminta kerabat-kerabatnya sesama ilustrator untuk membantunya. Ketiga kerabatnya itu memiliki panggilan Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Salah satu dari ketiganya inilah yang dicurigai membunuh Elok Effendi, dan di tengah cerita juga membunuh Enishte Effendi. Itulah bingkai besar dari ceritaku.

Kemudian, apakah engkau termasuk seseorang yang suka dengan kisah-kisah cinta? Jangan khawatir, aku akan melanjutkan bagian tentang kisah cinta yang terkandung dalam diriku. Tentu saja bukan kisah cin`" VO#]A  ~ h C ^ R %  T M , k 9   } M  xO3 pi=6Ticket" width="300" height="250" />

Ticket

Enterance Gate of Leofoo Village

Entrance Gate of Leofoo Village

Entering The Castle of Joy & Fun

Entering The Castle of Joy & Fun

Read before usage

Read before usage

Ring of Fire

Ring of Fire... buat pemanasan...

Pagodas Revenge

Pagoda's Revenge... gerak jatuh bebas...

Old Oil Well

Old Oil Well... dilewat, kurang menantang...

Screaming Condor... the main dishstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 comments2011 11 10 19 37 19 3 314 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 updatedEid al-Adha 1432Hhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/06/jazz-be-there/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/re-writin-the-fate/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 wfw_commentrss2011 6 21 18 31 12 1 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 datef2ef69343ebdb8f9180ed0ec297ade6fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/thats-what-i-am/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 id_hash typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 title typestringhttp://blog.dzslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 author typeSM���90��http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 contentSepakbola dan Pendeteksi Cahayahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/i-just-knew-what-was-happened-to-me/http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 linkHari ke-9 : Fotografihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 id_hash type2011 11 10 19 37 19 3 314 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/06/jazz-be-there/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 title typeBahasa Indonesia (baca: Én.do.né.sya)http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 id type�������a�����������H��5
y^1*





h
*

{MF N




 _X+$datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 author type2009 7 22 15 29 28 2 203 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 updateddatehttp://blog.dzastringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 comments type2009 8 10 19 18 36 0 222 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 slash_comments type2011 3 26 20 2 54 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 order typed5931bb8e60d2487a653cf136562e71dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 content type80http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 orderSuatu hari, tak sengaja kuarahkan tangan ini pada sebuah benda kecil yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut tetikus. Jari telunjukku menekan ujung kiri si tetikus begitu hati ini merasa sangat penasaran dengan sebuah tautan tentang sebuah buku, 100 Kata. Sulit memang menyampaikan sesuatu tepat dalam 100 kata. Kadang terlalu sedikit, kadang terlalu banyak. Namun apa [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/04/hari-ke-19-tempat-tempat-yang-sering-dikunjungi/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 comments type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-7-kuliah/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/the-beginning-is-half-of-the-whole/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/semoga-untuk-yang-terakhir-kalinya/http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 link2011 10 27 19 55 10 3 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/new-years-eve-2011/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 author type2009 7 22 15 29 28 2 203 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 author

http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 contentb8| trB@{tD S L #  Q ( ! T  -  | cP"|O%ZU)"hG#dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 id0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/super-8-super/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/musik/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 comments typeThat’s What I Amhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 comments type'phttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 content87http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 slash_comments2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 slash_comhttp://blog.dzaia-bs.com/feed/configured_urlhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id2009 9 14 18 54 27 0 257 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 dateslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 id_hash typeSM=http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 id9http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 orderdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-8-sepakbola/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 id type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/musik/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 comments typeThat’s What I Amhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 title87http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 slash_comments2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 slash_comments73http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 link typec4hM  b [ ;  V ;  U * # [}SN lC(f^W"?Di Taiwan, untuk mahasiswa master dibebankan total 36 credits. Di Indonesia kita kenal dengan sebutan SKS. 24 credits diambil di kelas-kelas kuliah reguler, 2 credits adalah kelas seminar, dan 6 credits untuk Thesis. Banyak cara untuk menghabiskan credits tersebut. Dengan rata-rata mata kuliah memiliki beban 3 credits, cara yang normalslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 authorSelain masjid dan warung-warung makan, yang mana tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat dengan intensitas terbesar yang dikunjungi, ada tempat-tempat lain yang memiliki intensitas di bawah itu yang dikunjungi tentunya dengan maksud dan tujuan tertentu. National Taiwan University of Science and Technology atau Taiwan Tech. bisa dikatakan sebagai kampus ke-2. Terletak bersebelahan dengan kampusku, di kampus ini [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 summary12http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 orderDi Taiwan, untuk mahasiswa master dibebankan total 36 credits. Di Indonesia kita kenal dengan sebutan SKS. 24 credits diambil di kelas-kelas kuliah reguler, 2 credits adalah kelas seminar, dan 6 credits untuk Thesis. Banyak cara untuk menghabiskan credits tersebut. Dengan rata-rata mata kuliah memiliki beban 3 credits, cara yang normal adalah mengambil pola 3-3-2. Maksudnya, [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 slash_comments typeKalimat ini baru saya dengar sewaktu mengikuti workshop kecil di kampus tentang bagaimana cara menulis introduction yang baik untuk sebuah paper atau proposal. Menurut sang pembicara saat itu, kata-kata ini berasal dari seorang filsuf Yunani yang terkenal dengan teori matematikanya tentang segitiga, Pythagoras. Menurut sumber yang lain, Pythagoras tidak mengatakannya persis demikian. Melainkan dia berkata, [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-15-travelling-in-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 slash_comments type2011 6 15 18 37 49 2 166 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/the-n-factor/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 id_hash typeSaya berhitung, dalam 3 tahun terakhir ini saya sudah bolak-balik Indonesia-Taiwan sebanyak 5 kali. Setiap tahunnya, mulai dari 2008, saya selalu pulang 2 kali ke Indonesia. Tapi tahun ini baru satu kali, dan semoga untuk yang terakhir kalinya. Dari maskapai yang umum digunakan seperti China Air dan Eva Air, sampai maskapai yang nggak umum, Cebu [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 author type2010 8 11 16 54 52 2 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 updatedHsin-Chu Science Parkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 author typed"9 v?c\3 v L  n A :   z T 9 M   m 0 D^R$stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 contentslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 summary typeKalo sudah nonton filmnya Matt Damon yang judulnya Adjustment Bureau, pasti langsung nyambung. Berkisah tentang David Norris, seorang calon senator yang sedang aktif berkampanye mewakili kotanya, terlibat asmara dengan seorang wanita yang ditemuinya di …. toilet pria. Setelah pertemuan kedua di bus, maka dengan serta merta si calon senator itu memiliki feeling bahwa wanita itu [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 wfw_commentrss typehttp://b2010 12 14 7 20 20 1 348 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 id_hash type81http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 id52http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-13-koki/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 commentsSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 contentKalo sudah nonton filmnya Matt Damon yang judulnya Adjustment Bureau, pasti langsung nyambung. Berkisah tentang David Norris, seorang calon senator yang sedang aktif berkampanye mewakili kotanya, terlibat asmara dengan seorang wanita yang ditemuinya di …. toilet pria. Setelah pertemuan kedua di bus, maka dengan serta merta si calon senator itu memiliki feeling bahwa wanita itu [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 wfw_commentrss type2011 6 9 12 58 23 3 160 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/leofoo-village/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 commentsProf, are you sure you want me to do this during weekend?http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 titlee( tmE<wpJ e ^ 4 f 7 5  l K   { W 6  |uHA4 e^9?voC<http://blog.dzaia-bs.com/2010/11/eid-al-adha-1431h/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/2011-projects/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 wfw_commentrss

Jika kesempatan itu tidak ada, maka gue yang mengejarnya.

Jika kesempatan itu tidak juga ada, maka gue yang menciptakannya.

Karena dalam hidup, kesempatan hanya datang satu kali.

Dan waktu tidak berdetak ke kiri.

~ Adhitya Mulya, Catatan Mahasiswa Gila hal.173-174 ~

http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/passion/http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 order type2011 2 1 19 39 11 1 32 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 contentdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 authorSelalu ada yang berubah. Entah tentang perasaan maupun keadaan. Jakarta tidak jauh berbeda dengan sembilan bulan yang lalu. Masih macet, masih sumpek, dan masih membuat tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi hati kecil berkata sebaliknya. Ia betah tinggal di Indonesia. Macet, sumpek, dan kekesalan-kekesalan lainnya tentang kota itu seakan bisa dilupakan begitu saja ketika ada [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 id type&http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 content89http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 idstringgenerator typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328http://blog.dzaia-bs.com/2011/03/massimiliano-allegri/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 tistringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 updated type64ce38a8ab96522d37cd986733f0f777http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 slash_commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706http://blog.dzaia-bs.com/2012/05/hari-ke-20-radio-ppi-dunia/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 link type67a646530b9cfa41e1148f8b17a5757bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/eid-al-adha-1431h/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/2011-projects/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 wfw_commentrssSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 contentdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 id typef( KDwP< c \ 1 *  ` ?  n M   [ T +  K D   B   rk@9aU)"|TK'http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 author2010 12 30 6 29 20 3 364 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 order type8http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 summary type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 id_hash typeRe-Writing The Fatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/tentang-film-facebook/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/leofoo-village/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 ordstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 content typeeb9776639714de8841c02e53a3f0b8f7http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 order typeSM8http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 id_hash typeRe-Writing The Fatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/tentang-film-facebook/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/prof-are-you-sure-you-want-me-to-do-this-during-weekend/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 linkg4Fib6/mS& w  [ T ( ! n i @ T M )  rkEXKFB=-&d]1*VQ(\')stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 slash_comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 author type2010 11 17 10 0 7 2 321 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/new-years-eve-2011/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ngedorama-again/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 wfw_commentrssL http://blog.dzaia-bs.com/?p=1dateupdated typeMau nggak mau, suka nggak suka, dan setelah dipikir masak-masak, beberapa waktu yang lalu akhirnya gw memutuskan untuk mengakhiri karir di Radio PPI Dunia. Decision has been made, and it’s time for the young ones. It’s time for regeneration. Yes, berakhir sudah kerja sampingan yang menurut gw lebih mirip kerja beneran, cuma beda di pendapatan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/berbalik/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 id type

Di tengah-tengah pencarian referensi untuk tulisan yang sedang saya buat, ingatan saya tersesat dalam tumpukan-tumpukan memori yang tumpang tindih. Ada sebuah cerita yang saya ingat, tapi saya lupa sumbernya dari mana. Untungnya pilihannya tidak banyak, hanya dua. Kalau tidak di youtube, berarti di arsip siaran radio. Ternyata di youtube tidak ada. Dan benar, ditemukan di arsip siaran-siaran saya. Karena saya pikir isinya sangat bermanfaat untuk dibagi, terutama untuk teman-teman yang suka menulis, maka arsip file tersebut saya edit-edit dulu agar content-nya lebih efektif dan efisien untuk diperdengarkan ulang.

Acara ini dulu disiarkan di Radio PPI Dunia pada tanggal 30 Mei 2010, sekitar pukul 9-12 WIB. Dan berikut ini adalah versi pendeknya, tanpa lagu-lagu.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 summary type2009 10 27 4 30 47 1 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 updatedMaaf, kemarin saya kelewatan untuk posting. Padahal program ini baru 2 hari berjalan. Menjaga kedisiplinan tidak semudah yang dibayangkan. Dan seperti halnya para loser yang selalu punya alasan untuk membuat dirinya merasa tidak bersalah, saya pun begitu. Kemarin memang agak hectic karena sedang ada acara di rumah. Di waktu pagi sudah membuat draft sedikit-sedikit, saya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 id_hash typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 author type2010 11 17 10 0 7 2 321 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ngedorama-again/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 updated typeh6# ^:[T+  j c . ' d ] 4 - j c = # _ X * # s n 9 2  sY-&`Y+$stringlink typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 order type2011 9 6 19 34 16 1 249 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.cstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 link typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 order type2011 9 6 19 34 16 1 249 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 content typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 author typeBangkitnya Para Legendahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 author type5b19140405de0f5a1e4584e641f09834http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 author typeb0ba9169e56727811b7071e18397fcdahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 comments typeVolunteeringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 titleHari ke-1 : Taiwan, Sebuah Pelarianhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 idi,S rm81 oN  | T K   z s L C   t S  n e : 3  q C <  jc:dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 authorThe Last Onehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 title13http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 slash_comments5b494f1fa900dd160db8f034b43bd28dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 author type*http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 content2009 9 30 7 53 11 2 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 content typeHari ke-3 : Menginjakkan Kaki Pertama Kalihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 slash_comments2010 5 26 3 34 6 2 146 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 content typestringhttp://blog.dzaia5b494f1fa900dd160db8f034b43bd28dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 id_hash2009 9 30 7 53 11 2 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 slash_comments typeNew Companionhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 author69http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 order13http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 orderHari ke-16 : Nonton Bioskop di Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 slash_comments2e54aa1d27c499a70b932e210642247bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 summary typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 slash_comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 title typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 authorj@d \ W , ' S L (  h O $  e ^ 6 / x D =  &RA:W0voD= cZ,%]slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=13522011 3 26 21 27 15 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/the-more-i-read-the-more-i-feel-stupid/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 idRemember The Decemberhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 titleLanjut lagi membahas tentang perkuliahanku di Taiwan. Lewat satu tahun, aku masih menyisakan 9 credits untuk diselesaikstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/the-more-i-read-the-more-i-feel-stupid/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 content typeRemember The Decemberhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 titleLanjut lagi membahas tentang perkuliahanku di Taiwan. Lewat satu tahun, aku masih menyisakan 9 credits untuk diselesaikan. Maka di semester ketiga itu aku mendaftarkan diri pada 3 kelas, yang semuanya tentang rangkaian terintegrasi atau integrated circuit alias IC. Yang pertama, dari namanya saja mata kuliah ini sudah memusingkan, yaitu Computer Aided Analysis & Optimization of [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 wfw_commentrss type2012 4 1 0 47 51 6 92 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 content type2b1d36942f0d1d58c22c486d13822357http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 id_hash2012 3 8 12 14 50 3 68 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 date type2011 3 31 12 0 32 3 90 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 updated2010 9 21 15 52 41 1 264 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 date typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 wfw_commentrss typeJanuary 2007, Taiwan started to open their new mass transport which promising fast and convenient service for the public. Taiwan High-Speed Railway (THSR) has become one of preferable choices to move around the cities around Taiwan besides using city bus or conventional train. Its advantage is obvious, it cuts the time significantly. By using conventional [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 order type2011 3 26 21 27 15 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 datek, le92 qP* w M H   } C    : c 3 #  a 1 V O #  }SLyD= o%\ http://blog.dzaia-bs.com/2011/03/massimiliano-allegri/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/massimiliano-allegri/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-4-memulai-petualangan-baru/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-4-memulai-petualangan-baru/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 comments2http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 slash_comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 date typehttp://blhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/massimiliano-allegri/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/massimiliano-allegri/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-4-memulai-petualangan-baru/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-4-memulai-petualangan-baru/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 slash_comments type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/nelayan-dan-ketidakberdayaan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/nelayan-dan-ketidakberdayaan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 title typeSM5 http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 summary typel( l=:f]4( \ ;   h ? ] )   r o J 0 d].,yPDmf81 zsD= datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/fit-proportional/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 wfw_commentrss type http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 contentdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 author2012 3 15 16 11 52 3 75 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 updated2010 12 22 17 22 0 2 356 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 date2http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 slash_comments type2009 7 17 1 28 39 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 date15http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 id type223520400051b12e5d24a789f3cda551http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 stringsubtitle typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/3-minggu/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 id typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 authorSaya baru ngerti filosofi dari Halal Bi Halal, entah memang bener begitu adanya atau hanya untuk memberi makna mengenai Halal Bi Halal itu sendiri. Momen itu ada dalam acara Halal Bi Halal yang digelar oleh keluarga besar nenek dari ayah. Tapi sebelum itu, saya gambarkan dulu seberapa besar keluarga ini. Dalam keluarga ini, saya adalah [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/do-you-treasure-childhood/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 author type7fecfacf11472a96d89337d5a73b0085http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 wfw_commentrss typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 contentdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 slash_comments type2009 7 17 1 28 39 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 date15http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 slash_comments223520400051b12e5d24a789f3cda551http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 id_hash3a0ba84fff92a0b33f2ec9422f587966http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 id_hashm:;34 s ;  | Q J   r s J >  {SM%o;}SN&p wpJ wChttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/the-last-one/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 author type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/in-between-difficult-choices/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 order type #4http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 content1327455f720f19c571a73a8d94516a20http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-3-menginjakkan-kaki-pertama-kali/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 wfw_commentrssPlease upgrade your browser Sepulang shalat Jumat, Pak Erly tiba-tiba menawarkan sebuah ajakan yang sulit ditolak. Melihat pameran fotografi di TWTC. Dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin saya beli. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter penduduk Taipei yang datang ke pameran. Terutama pameran mobil, komputer, dan fotografi. Tidak sedikit yang datang ke pameran-pameran itu [...]http://blog.dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/the-last-one/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 wfw_commentrss4http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 slash_commentsSM#4http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 content1327455f720f19c571a73a8d94516a20http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-3-menginjakkan-kaki-pertama-kali/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 wfw_commentrssPlease upgrade your browser Sepulang shalat Jumat, Pak Erly tiba-tiba menawarkan sebuah ajakan yang sulit ditolak. Melihat pameran fotografi di TWTC. Dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin saya beli. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter penduduk Taipei yang datang ke pameran. Terutama pameran mobil, komputer, dan fotografi. Tidak sedikit yang datang ke pameran-pameran itu [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 slash_comments typeHari ke-19 : Tempat-tempat Yang Sering Dikunjungihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 titleSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/you-never-know-what-you-have/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643Hari ke-7 : Kuliahhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 titleThe Beginning is Half of The Wholehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 title type2010 12 30 6 29 20 3 364 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 dateSemoga Untuk Yang Terakhir Kalinya…http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/gading-gading-ganesha/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 content typeSMT$http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 contentSetelah hampir satu bulan kembali ke Taiwan, pagi tadi saya kangen dengan salah satu menu sarapan di sebuah restoran franchise terkenal berinisial M. Biasanya saya memesan paket nomor 4 yang terdiri dari 3 lembar pancake lengkap dengan butter beserta maple syrup-nya, sepotong hash brown potato, dan segelas minuman. Seringnya saya memilih nai cha (teh susu) [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 slash_comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 idnLdT+X-& } v I B   D   H   { _ ;  m ? 8  {wrL jIpgdenlanguage2010 8 1 12 48 42 6 213 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 wfw_commentrss type50http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 order2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 slash_comments7c013ce7350c327e5be64781cb3199c6http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-10-masih-tentang-kuliah/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 linkdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 date type2012 3 4 16 54 14 6 64 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 updatedBerbaju polo coklat lengan panjang, lelaki yang berdiri di pojok stand itu terlihat sangat bodoh. Katanya sih mau ikutan jualan, tapi yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjadi patung. Atau sekedar menjadi pelengkap keragaman species Homo Sapiens yang memang didominasi oleh perempuan di stand berlabel ‘Stand Mahasiswa’ dalam acara tabligh akbar yang diadakan oleh IMDAT-Taichung, [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/kegagalan-adalah-keberhasilan-yang-tertunda-ditunda-tundakan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 id2011 10 20 19 19 51 3 293 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 updated type2012 3 20 17 4 27 1 80 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=14732011 6 15 18 37 49 2 166 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash hidden summary id wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=4182009 6 21 12 54 26 6 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 title type313a07f6216b47a9a536e14f1ea91a9ahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=5372010 8 11 16 54 52 2 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 dateSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/taiwan-high-speed-railway/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 link6b0852d69fab925f39b32849011e385ehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 id_hashof^W*#e>( V O ) & x q I @   } Q J U N !  d]2+nH}vIB[T, ym@9ja8http://wordpress.org/?v=3.3.2generatorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/the-last-one/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 commentsBerbalikhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 title2011 2 17 16 30 58 3 48 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 idslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=163865http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 content typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 contentf3701e22104542ab892b4f7fdb1081ddhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 id_hash typeSMPohttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-3-menginjakkan-kaki-pertama-kali/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-18-friends/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-18-friends/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 summary typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 title type33http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/new-companion/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 title typeDetik-detik kepergian 2010 terasa semakin mendebarkan. Tahun yang mungkin bisa saya bilang sebagai tahun kegagalan sebentar lagi menghilang dan tak akan pernah kembali lagi. Kecuali ada mesin waktu. Tapi daripada menyesali, lebih baik diambil saja hikmahnya. Paling tidak di tahun ini saya jadi tahu apa yang mau saya lakukan dan apa yang saya inginkan ke [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-16-nonton-bioskop-di-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 comments23http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 link type2011 6 9 12 58 23 3 160 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 dateNew Year’s Eve 2011http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 titlee45a6d7b848c783bf9da76d99b798e38http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 id_hashdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 id typepX~ ~ w S 2 r ~ R K   f Z - & bA8 d4 p ~c31~wID datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 slash_comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 author typea3fb66608abdadb6265b7480851ada70http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 wfw_commentrss type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 slash_comments2010 9 27 20 53 14 0 270 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 order typeYah… walaupun sudah agak basi, tapi masih boleh lah buat ditampilin… Maklum, baru selesai diedit… enjoyhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 link type10http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/kegagalan-adalah-keberhasilan-yang-tertunda-ditunda-tundakan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rdk/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 wfw_commentrss2010 11 27 22 17 49 5 331 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 dateh http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 updated type103http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 orderSetiap saya menyadari tentang suatu hal, sering muncul pertanyaan kepada diri sendiri, “apa ya yang Allah rencanakan buat saya?” Hal yang saya maksud adalah ketika rencana yang saya buat tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Tapi bukan karena rencana itu gagal atau tidak berjalan. Sebaliknya, berjalan lebih cepat dari yang diharapkan. Buat saya keadaan seperti ini [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 link type70http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 id_hash typehhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 contentslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash hidden summary id wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423Biasanya istilah ngabuburit dipakai orang-orang sebagai kegiatan menunggu waktu beduk magrib. Untuk kasus saya kali ini berbeda. Saya lagi menunggu waktu sahur yang akan datang sekitar 1,5 jam lagi. Jam 3 pagi saya bersama Bapak akan pergi ke warung gudeg ceker yang ada di kota Surakarta. Maaf, tidak akan ada laporan pandangan mata ataupun pandangan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 link type74http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 id_hash type1427d9733bca6914d67fe19091018d82http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 id_hashKetika ingin memulai menulis artikel ini, saya merasakan sedikit keraguan. Saya khawatir menggunakan judul yang sama dengan peserta writing contest Pesta Blogger 2010 lainnya. Sebab saya takut dikira nggak kreatif, atau bahkan disebut plagiat. Karena di era serba canggih sekarang ini, gampang sekali menyulap karya milik orang lain menjadi milik pribadi. Tinggal tekan Ctrl+C kemudian [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 link type28http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 orderq\ur1  u Q 0  h A 8   p W * % c g[2N-mL|uP8jM{V%V&$uhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-5-urus-urus/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 wfw_commentrssIn Between Difficult Choiceshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 title7http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/menjadi-inspirasi/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 wfw_commentrssYou Never Know What You Havehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 title2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 slash_comments2010 11 27 22 17 49 5 331 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 id type2010 3 9 13 14 6 1 68 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/meninggalkan-zona-nyaman/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 summary typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 wfw_commentrss type4a73c55faffacb2f867971d27199514fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 id_hashSM`http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 updated typeSatu lagi cara yang saya dapatkan untuk mengelompokkan sifat seseorang dan orang-orang. Biasanya saya hanya mengacu pada 4 personality yang dulu dikemukakan oleh Florence Littauer : Sanguinis, Melankolis, Phlegmatis, dan Koleris. Di bagian pengenalan tokoh Arial dalam novel “5 cm”, di situ Donny Dhirgantoro mengenalkan saya tentang teori kebutuhan menurut McClelland. Bahwa manusia didorong oleh [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 updated type2012 3 13 16 7 39 1 73 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 order typeGading-Gading Ganeshahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/jakarta-8-hari/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 authorSMfhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 idNowadays, technology becomes one of important things in our life to make our work easier and more practical. Speaking of technology, it is close or identical to electronics. Beside Japan and United States who are leading in this market since long time ago, Taiwan in the last 20 years has become one of new players [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 title typerf5 lB= q B   <  S N #  e : 5  W3uFbA|UL"ZU1sD=d'Jayakatatitle2011 2 17 16 30 58 3 48 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 comments typeInterview bersama Ahmad Fuadi @radioppiduniahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 titlecbf5cf59573d6ed8297d83ffad4fa575http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 link typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 id type8http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 slash_commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 date type01c624890fad7c3511988cc1a1fd1c09http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 id_hashslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rdk/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 title type2010 3 9 13 14 6 1 68 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 link45http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 orderdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 authorSalah satu hobiku adalah memasak. Boleh percaya boleh tidak. Tidak sampai memasak yang rumit-rumit. Yang penting simpel dan enak. Enak, menurut seleraku. Walaupun di asrama tidak boleh memasak, sesekali aku curi-curi kesempatan untuk bisa berkreasi di atas magic jar. Selama di asrama, karena tidak mungkin menggunakan kompor listrik, maka magic jar adalah pengganti kompor. Dengan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 date type8c4bfb903e23df4fffc0334d39f1db66http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 id_hashyeshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 hidden2012 3 13 16 7 39 1 73 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 author typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717Ceritanya sudah agak lama, yaitu pada 3-4 Juli yang lalu. Ceritanya ada 2 orang teman yang sama2 ngajak ke sana. Nggak tau juga, kenapa juga harus gw yang diajak? Padahal belum ada niat pergi ke Taroko dalam waktu deket. Biar pada nggak penasaran seperti apa Taroko, sok, silakan dilihat oleh-oleh yang nggak seberapa…http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 comments typeMestakunghttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/volunteering/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 link35http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-1/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 link90http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 date type2ac4b9460636267ba9e64fb083f31750http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/12/3-hari-3-kota/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 link88http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/prof-are-you-sure-you-want-me-to-do-this-during-weekend/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 slash_comments types`ca; c5. o h > z Y / * m ft]4zPIcB\U' mjc@ cslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/kucoba-dalam-100-kata/http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 slash_comments type2011 5 16 8 22 58 0 136 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 updatedd32ffdd6476013f1c77775f28e5d727dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 id_hash2010 12 17 13 59 15 4 351 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/03/kok-males-nulis/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 summary type770cfc07eea254bda66c8c425ed2ed81http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 id_hash2012 3 7 15 4 8 2 67 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 dateh\http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 date typeAkhirnya selesai juga membaca sebuah novel yang boleh dibilang topiknya agak jauh dari normal untuk dibaca oleh seseorang yang belum pernah mencicipi dan mengerti bagaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, tapi nahkodanya masih ragu-ragu. Saya juga baru sadar ketika ada teman yang mengomentari tentang novel yang saya review dalam acara Kutu Buku [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 summarydzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/the-n-factor/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-11-formmit/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 author typeBeing considered to be the top of ICT manufacturer by conquering 90% of WiFi market share in the world, Taiwan has moved to the next level of ICT industry. The E-Taiwan program which was established in 2002 had developed very well and fast in order to support Taiwan to enter the new era of mobilization [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 authorc7897caa3c174adaa37d8e8fcdbb12b5http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 id_hash2011 4 12 17 11 11 1 102 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 date2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/hsin-chu-science-park/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 wfw_commentrsst^jf_7 { t N B   U N %  n g @ .  ] [ &  p G @  |uT_> zZ2+}PI stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 content typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hash typeedf644728b27c042b75b06870ce7313dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 slash_comments type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 id_hash type0414b31d70ba5bb1400b360f968aad1ahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 authorslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 summary typeRDK bukan Rida-Dewi-Kita. Grup vokal itu kan sudah bubar lama. Saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat seorang teman saya yang baru melangsungkan siaran terakhirnya kemarin. Risma Diniar Kosasih alias DJ Imo. Saya kenal dengan cewek yang suaranya cempreng ketika siaran ini sudah cukup lama. Mungkin sudah berlangsung sekitar 1 tahun lebih 1 bulan lewat 1 [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 content typeSMUhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 title typeHari ke-13 : Kokihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 content typeSM,dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 id_hash type570c33cc6c81ea456a70e73469588c56http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 order type68http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 title typeTaroko Tourhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 id_hash type283403ca4e6a2fd2c730062af7020477http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/prof-are-you-sure-you-want-me-to-do-this-during-weekend/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 slash_comments type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 slash_commentsuXAmf=1}c:3 q K ! b H   n l @ 9  i P %  o ? =  e;4 vU&vqHxsHAstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 updated typeAda yang bilang bahwa “jangan terlalu membenci seseorang/sesuatu, karena mungkin suatu saat perasaan itu bisa berbalik.” Demikian juga sebaliknya. Sampai suatu saat, gue menemukan seorang teman yang menulis entah di mana dengan menggunakan prinsip ini yang kemudian dia buat hipotesa baru yang intinya, “buatlah seseorang jadi setengah mati benci kepadamu supaya dia menyukaimu.” Aneh ya? [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 date typeHari ke-5 : Urus-urushttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 title2011 5 31 17 40 31 1 151 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 comments type7ba6aedf61db5499a5f2e00b4aba9924http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 link type

Aw aw aw… lama sekali nggak nge-blog, yo wis lah, numpang curcol lewat sebentar… Song of the week nih kayanya…

http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 content3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 slash_commentsMenjadi Inspirasihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 link typeMeninggalkan Zona Nyamanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 slash_comments2010 11 16 14 12 1 1 320 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 order type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 order type2010 9 20 7 10 33 0 263 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 comments type12http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/what-if/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 link2010 12 22 17 22 0 2 356 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 id type2009 7 17 1 28 39 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 title typeSM_http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 link typeSMO http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 author typevd d]0)LE  w Q O "  r L $ q J F   { M F   ` Y . ' uJCZ5~U; [V.' stringconfigured_url typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 comments type2011 3 19 18 22 34 5 78 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 updated2010 5 28 7 19 34 4 148 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 idslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622Malam itu aku sedang mencabuti bulu-bulu jenggot Bapak. Bapak memang punya caranya sendiri dalam menjaga penampilan. Daripada menggunakan alat cukur, dia lebih memilih untuk menyuruh anak atau keponakannya untuk membersihkan rambut-rambut kecil yang tumbuh di sekitar dagu hingga jambang dengan memakai pinset kecil. Di tengah-tengah waktu, Bapak menanyakan tentang kabar dari lamaran beasiswaku ke Taiwan. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469Ingatan saya kembali ke pertengahan tahun 2007, di mana ketika itu saya mendatangi salah satu acara launching sebuah buku berjudul “Dalam Mihrab Cinta”. Dalam beberapa hari berikutnya saya menuliskan resensinya di sini. Di Istora Senayan, tempat acara itu berlangsung, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan sosok di balik guratan-guratan pena dari pengarang novel best seller [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 author type2012 3 11 15 28 27 6 71 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 comments type2011 1 18 18 28 43 1 18 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 id_hash typeRDKhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 slash_comments type102http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 order2011 11 7 12 49 39 0 311 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/musik/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 link2010 11 23 12 51 40 1 327 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 content type3http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/mestakung/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 slash_comments type2010 10 30 9 15 54 5 303 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 summary type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 slash_commentswPgL+b]9 d C   g 3 ,  s I  k d 9 2  f c . ' {PIWP&stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 id typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 wfw_commentrss type55http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 updated type2010 11 5 17 47 57 4 309 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 date4http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 slash_commentsNggak ada yang istimewa hari ini. Begitu juga empat tahun yang lalu di tanggal dan bulan yang sama. Saat demam blog lagi unyu2nya. Trend blogging waktu itu masih meningkat, walaupun sebenarnya sudah lama muncul ke permukaan. Seiring dengan membaiknya akses internet di Indonesia, bermunculanlah blog-blog pribadi sebagai ajang eksis (kalau tidak mau dikatakan narsis, tapi [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 wfw_commentrss type46http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 author type2011 3 6 13 42 20 6 65 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 link typeSurat Untuk Nenekhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 titleUntuk Suara Muda Indonesiahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/2011-projects/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 slash_comments type2010 8 26 23 57 14 3 238 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 wfw_commentrss type36http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 order8d4c27751aeb057d30e1208cb53f24e0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 id_hashSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/jakarta-8-hari/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 updated typeSM 'http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 contentslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=15192010 10 13 2 47 57 2 286 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 date1http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 slash_comments2011 8 22 23 3 37 0 234 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 updatedx\@vd]., m L ` e ^ 0 )  | z N G   [:rQyrB@ e@|VS)"aZ2)Y@2011 3 13 14 39 4 6 72 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 updated8http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 slash_comments2012 3 5 16 3 45 0 65 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/memaknai-hari-lebaran/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 link type15http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 orderslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467http://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 linkKegagalan Adalah Keberhasilan Yang Tertunda Ditunda-tundakanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 title2012 4 30 23 43 38 0 121 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 title type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 id_hash type2011 7 17 18 28 3 6 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673http://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-14-makan-makanan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488http://blog.dzaia-bs.com/2011/07/rencana/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 title type3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 slash_commentsSM)http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 content6c83e8b5b59f06c20dd9e7543fa26f4bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 id_hash typeMenonton film itu seperti tebak-tebak buah manggis. Kadang dapat yang manis, dan kalau lagi sial dapat yang asem. Untung feeling saya kali ini benar. Satu lagi film yang menurut saya bagus, That’s What I Am. Genre film ini adalah drama keluarga. Kisah seorang anak kecil berumur belasan tahun, mungkin sekitar kelas 6 SD kalau di Indonesia. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 link type71http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 orderslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516http://blog.dzaia-bs.com/2011/08/ngabuburit-sahur/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 title type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 updated typea269a9c1d913437ec6a54cec9e210e3ahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 id_hashslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636http://blog.dzaia-bs.com/2010/10/empathy-and-symphaty-for-diversity/http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 linky RiA8WP* Z 9  b A   t m 8 1  ] +  [Y2!^$qj;MFqj5.[3'928b407f1675b3b4caa446563e3efa27http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id_hashg http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 contentAwal kedatangannya ke AC Milan sebagai suksesor Leonardo, saya sangat sangsi kalau dia bisa mengembalikan performa Milan ke level tertinggi. Allegri memang tergolong “cukup” memiliki pengalaman sebagai pelatih, namun minus pengalaman sebagai caretaker tim papan atas. Tim terbaik yang pernah dibesutnya hanya sekelas Cagliari. Jadi keraguan saya sebenarnya cukup beralasan. Namun setelah melihat performa AC [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 link typeZeke, mungkin maksud nama Inggrisnya adalah Zack, dia lah yang menjemputku di airport. Zeke adalah teman sekelas Gray. Sebelum berangkat, aku dan Gray sudah saling berkomunikasi lewat email. Tadinya dia yang mau menjemput, tapi karena ada halangan yang mendesak, dia meminta tolong kepada Zeke. Aku langsung mengenalinya begitu keluar dari ruang kedatangan, dan juga sebaliknya. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 link type2011 9 6 19 34 16 1 249 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 comments typec314fcdd3cf0a90a41390b6c4be1b23bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/nikon-or-canon/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/surat-vs-email/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 comments typeAfter 4 Years…http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 title5http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/03/kok-males-nulis/http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 linkNamanya Soni. Asal dari Brebes. Ayah dari tiga orang anak. Suami dari seorang wanita yang pekerjaannya tidak tetap. Badannya kekar, berkulit coklat sawo yang matang terpanggang sinar matahari. Telapak tangannya kasar dan keras, cerminan pekerjaan dan tempat kerjanya yang memang tidak pernah ramah. Hanya orang-orang bernyali besar yang bisa menghadapi. Lautan nan luas yang diiringi [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 id type2012 3 8 12 14 50 3 68 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 order type310261e9bafc4d3817f05369526ccb74http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 id_hash2011 3 31 12 0 32 3 90 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 slash_comments type19561ffffa18bb2da003559f86409ea6http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 id_hash2010 9 21 15 52 41 1 264 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-11-formmit/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 content type101http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 orderslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/makanan-pokok/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 id_hash typezXaZ+)UN h H y r C  N (  X Q   e 5 pE@ jc;!d"[T,stringsy_updatefrequency typeKasihan bener blog ini… blog semata wayang yang jarang dibelai sama yang punya. Mentang-mentang lagi asik sama blog tetangga. Banyak yang mau diomongin sebenernya, namun suka ditunda-tunda. Jadi deh, cuma tertimbun dalam pikiran dan angan-angan… Pelan tapi pasti, hilang begitu saja dari kepala. Aha, mumpung lagi muncul sedikit nih, dan lagi sempat, tulis sekarang ah… [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/sepakbola-dan-pendeteksi-cahaya/http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 link0http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 author type2009 9 30 7 53 11 2 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 id_hash type2010 5 26 3 34 6 2 146 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-9-fotografi/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 link2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/aku-sebuah-buku/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=16712012 3 16 15 53 4 4 76 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 link0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 slash_commentsSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rehal-modern/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 author typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash hidden summary id wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=4292009 7 17 7 48 19 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/bahasa-indonesia-baca-en-do-ne-sya/http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 link5http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 comments type{FpiA&kfE G   z w B ;   q J -  0  a:kJ[5pI42011 3 13 14 39 4 6 72 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 dateMassimiliano Allegrihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 titleGray menghampiri kamarku saat sore menjelang malam di hari pertamaku tiba. Waktu itu aku sedang tidur-tiduran di kamar. Lagi malas keluar karena memang masih capek. Yang bikin tambah malas lagi karena kamarku letaknya di lantai 4. Kami berdiskusi tentang jadwal untuk mengurus apa-apa yang perlu diurus seperti pendaftaran ulang, medical check-up, ARC (Alien Resident Certificate), [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 summary2012 3 5 16 3 45 0 65 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 dateHari ke-4 : Memulai Petualangan Baruhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=13312010 5 28 7 19 34 4 148 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 id type2012 4 30 23 43 38 0 121 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 dateHari ke-20 : Radio PPI Duniahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 titleSaya memang bukan Apple user, atau setidaknya belum. Mungkin segera. Namun meski belum menjadi Apple user, saya termasuk orang yang menyayangkan ketika Steve Jobs meninggal di usia yang belum begitu tua. Alasannya, karena dia adalah salah satu orang yang sangat saya ingin temui dalam hidup ini. 56 tahun itu baru saatnya PNS menginjak masa pensiun [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 summary2012 3 11 15 28 27 6 71 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256SM[ http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 content2011 7 17 18 28 3 6 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 dateNelayan dan Ketidakberdayaanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 titleBeberapa waktu yang lalu saya sempat kesal dengan sebuah artikel di internet tentang pembatasan penggunaan premium. Katanya BBM jenis ini masih dipakai di 3 negara saja. Dua dikategorikan negara miskin, dan satu lagi entah termasuk kategori apa karena kalau mau dibilang miskin pada kenyataannya negeri itu punya sumber daya alam yang melimpah, banyak mall di [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 slash_comments type14http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 slash_comments2011 11 7 12 49 39 0 311 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/first-photo-fn/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 content typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 id type75http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 order2010 10 30 9 15 54 5 303 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 id type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 content type|\ha7{tO y X #  } v A :  v o B ;   W >   S L + c\6yX1.XQ,[3stringurl_status typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 comments typeThe More I Read, The More I Feel Stupidhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/08/robotika-robot-problematika/http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-10-masih-tentang-kuliah/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 title type79http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-8-sepakbola/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 content typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 updated typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 author1126667c7824e6e08655200f17688117http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 id_hash2011 6 24 19 24 52 4 175 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 updated2010 3 31 19 21 9 2 90 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/super-8-super/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 hidden typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 slash_comments typecfbafc2ef0ebaa4d9aff7729b277c145http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 id_hash598219f57a995643934987a7b716ad58http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/which-one-am-i/http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id_hash type9193b8b1a37cf6802575b8aefceb955ahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/taiwan-high-speed-railway/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 slash_comments type}T&f?<{vA: \ Z , % z T <  N %  { Z 4  | u F ?  xCY6aZ-&stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 comments type2010 12 14 7 20 20 1 348 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 updated2010 10 7 0 24 32 3 280 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 idslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/after-4-years/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 wfw_commentrss41http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 orderb4767de533aa10aaef06c24dbcac7a29http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 id_hashSatu manfaat yang sangat berharga dan patut disyukuri dari meninggalkan lingkungan lama dan masuk ke dalam lingkungan yang baru adalah, semakin banyak kita bisa mengenal orang. Lebih dari 90% orang-orang yang kutemui di Taiwan belum pernah kutemui sebelumnya. Beberapa menjadi teman baik, beberapa menjadi teman sehobi sepermainan, beberapa kenal seadanya, beberapa hanya bisa dikagumi tanpa [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 id_hash type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 slash_comments95http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/suasana-baru/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 link9c3a51e520337972dbe280eb5ad3739fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 id typef7a050e40210548945c510044402cf63http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 id typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 updated typeAbout Eat Pray and Lovehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/the-n-factor/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 comments6b10f90df58d8e73fcccf0c25c779213http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 summary type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 id typeM-Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 id_hash type60http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/hsin-chu-science-park/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id type~Zl2  l K z Y 1 ( z R 1   S $ {K|uGBle<5\@ ~IBsl@9uZ%excludestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 wfw_commentrss type2011 5 31 17 40 31 1 151 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/remember-the-december/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/do-you-treasure-childhood/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 slash_comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=4612009 12 16 16 22 13 2 350 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/aku-sebuah-buku/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 link38http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 id_hash typeTerserahhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 title2010 11 16 14 12 1 1 320 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 content typeJika kesempatan itu tidak ada, maka gue yang mengejarnya. Jika kesempatan itu tidak juga ada, maka gue yang menciptakannya. Karena dalam hidup, kesempatan hanya datang satu kali. Dan waktu tidak berdetak ke kiri. ~ Adhitya Mulya, Catatan Mahasiswa Gila hal.173-174 ~http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 wfw_commentrss2010 9 20 7 10 33 0 263 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/06/jazz-be-there/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 wfw_commentrssGagal rencana jalan-jalan ke Hualien. Karena menurut gosip dan informasi dari website yang kurang terpercaya, taifun akan lewat di sebelah barat Taiwan di akhir minggu ini, dan hujan deras bakal mengguyur daerah barat, tengah, selatan, bahkan utara. Untuk mengobati sakit hati, saya langsung meluncur ke website turisme-nya Taiwan. Ternyata, mulai minggu ini ada Taipei International [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 id type5eda4050a64f175715badff5979298dahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rehal-modern/http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 link31http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 author472250ce2d24e08cea1548b06b428c3fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 id_hash2011 11 15 18 41 22 1 319 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 dateslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=15102011 7 26 3 10 38 1 207 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 date3 tahun lalu, Ramadhan-ku saat itu sepenuhnya dihabiskan di Taipei. Ramadhan pertama (dalam 23 tahun) yang jauh dari keluarga. Agak aneh memang merasakan puasa di lingkungan baru, karena saat itu juga aku baru beberapa hari tiba di Taiwan. Masih jelas dalam ingatan, waktu pertama kali ke masjid dan bertemu dengan Pak Zul. Pertemuan di masjid [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ramadhan-tahun-ini/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 date typeV!mfAhD# ^ U ( ! h d 9 2  X * # d ] 2 + ] / ( _. e`9IeJ$!ve problem with them. As long as it is entertaining, I am gonna watch it.

The lesson is, nggak semua yang modern, yang mutakhir, dan yang terkini itu selalu baik dan bernilai positif. Ada kalanya, justru sebaliknya, yang jadul dan yang kuno lah yang dicari. Karena di situlah nilai kesan dan kenangannya. Seru juga kalau ada mesin waktu dan kita bisa kembali ke masa lalu. Menunggu jemputan sekolah sambil nonton My Little Pony atau Alvin and The Chipmunks. Atau menyewa video betamax untuk nonton Goggle V, Sarivan, atau Gaban, bareng tetangga-tetangga di kampung.

Yang pertama yang saya cari untuk survei film ini adalah plot atau alur ceritanya. Wikipedia cukup banyak membantu saya memberikan spoiler dari sisi alur cerita secara utuh. Soalnya, terkadang saya nggak ngerti keseluruhan isi film yang baru saja ditonton. Lost in tran18http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 order2009 9 14 18 54 27 0 257 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 updated2010 12 7 3 0 12 1 341 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/lentera-ide-ppi-taiwan-the-story-behind/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 updated typeTendangan Dari Langit : Sepakbola + Cinta + Keluargahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 id type92http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/nikon-or-canon/http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/eid-al-adha-1431h/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 comments83http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/surat-untuk-nenek/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/untuk-suara-muda-indonesia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 title type105http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/passion/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 id_hash typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 id type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 id2011 1 6 4 52 20 3 6 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 dateNgedorama Again…http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/makanan-pokok/http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 authori 

Ada yang bilang bahwa “jangan terlalu membenci seseorang/sesuatu, karena mungkin suatu saat perasaan itu bisa berbalik.” Demikian juga sebaliknya. Sampai suatu saat, gue menemukan seorang teman yang menulis entah di mana dengan menggunakan prinsip ini yang kemudian dia buat hipotesa baru yang intinya, “buatlah seseorang jadi setengah mati benci kepadamu supaya dia menyukaimu.” Aneh ya? Tapi gue rasa, nggak ada yang aneh dalam hal perasaan. Nothing is impossible. Dan fenomena inilah yang bikin gue senyam-senyum sendiri waktu nonton film Flipped.

Film ini ceritanya sederhana down to earth, tapi juga cukup lengkap. Ada tentang keluarga, kehidupan bertetangga, childhood, friendship, love, dan yang nggak kalah penting, sarat dengan pesan moral. Runtutan adegannya juga oke banget, saling berganti antara sudut pandangnya Bryce Loski dan Juli Baker. Kita seolah-olah dibawa untuk mengerti gimana sebenarnya perasaan si Bryce ke Juli, dan Juli ke Bryce. Ceritanya sendiri katanya memang diangkat dari novel, tapi walaupun tanpa membaca novelnya, dengan nonton filmnya saja gue rasa cukup bisa mendapatkan keseluruhan isi cerita. Sangat-sangat beda dengan kebanyakan film yang diangkat dari novel yang bikin gue sering bertanya dalam hati, “apa nih maksudnya?”

Ini salah satu film yang membuat gue sangat-sangat terkesan, wow. Seperti waktu nonton Love Actually atau 500 Days of Summer. Memang sangat drama sekali, karena memang kekuatannya ada pada dialog-dialog yang terjadi dan juga monolog-monolog dari Bryce dan Juli. Tapi kok rasanya durasi 1,5 jam terasa sangat cepat, bahkan ketika progress bar di video player mendekati batas akhir, gue berharap film ini masih akan lebih panjang. I just like this movie so much -and I hope it won’t be flipped-.

Salah satu adegan yang gue suka adalah ketika Chet (kakeknya Bryce) menasehati Bryce tentang kejujuran,

Chet : I’d hate to see you swim out so far, you can’t swim back.
Bryce : Sir?
Chet : It’s about honesty, son.
Sometimes a little discomfort in the beginning…
…can save a whole lot of pain down the road.

Adegan lainnya adalah ketika Juli ngobrol dengan ayahnya (Richard) yang lagi melukis,

Richard : You have to look at the whole landscape.
Juli : What does that mean?
Richard : A painting is more than the sum of its parts.
A cow by itself is just a cow.
A meadow by itself is just grass, flowers.
And the sun peeking through the trees is just a beam of light.
But you put them all together…
…and it can be magic.
http://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 link

Hadirnya bulan Desember gue rasa banyak membawa berkah, salah satunya sebagai pengingat, a reminder. Selain ngingetin kita bahwa musim dingin itu ada -terutama di belahan bumi bagian utara-, dia juga ngingetin kita bahwa introspeksi diri itu penting. Dari tingkat personal sampai perusahaan besar mulai itung-itungan bahwa apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan apakah resolusi-resolusi dan target-target yang udah dicanangkan di awal tahun sudah semuanya terlaksana, atau baru sebagian, atau bahkan belum sama sekali. Entah apa jadinya kalo semua bulan adalah bulan Juni atau Juli, mungkin yang ada kita bakal sering ke bioskop karena di bulan-bulan itu lah biasanya dirilis film-film Hollywood yang paling ditunggu-tunggu, dan kita jadi lupa bahwa hidup harus punya tujuan.

Kata ‘resolusi’ itu sendiri sebenernya jarang banget gue denger sebelom ketemu sama yang namanya internet. Gue baru ngeh ketika tiap akhir atau awal tahun orang-orang mulai nulis wishy washy mereka di website-website pribadinya. Dari dulu gue bukanlah orang yang punya resolusi tiap tahun dan rajin update tiap tahunnya berganti. Gue takut kalo kepingin yang muluk-muluk, kalo nantinya nggak kesampean malah akan bikin kecewa. Kalopun di awal tahun ini gue menyatakan sebuah resolusi, gue rasa itu bukanlah resolusi pribadi yang unik. Yang keluar dari mulut gue waktu itu jelas adalah hal-hal umum yang akan terucap dari seseorang yang lagi kuliah dan S3, alias Still Stay Single. Let the river flow kalo kata orang barat sih. Hidup yang mengalir laksana sungai.

Pernah punya temen yang agak eksentrik or a little bit extraordinary? That kind friend of mine pernah suatu saat nulis di status facebook-nya, ‘Aku tidak benci kegagalan. Aku hanya benci penyesalan.’ It stabbed me right onto my heart. Biasanya yah, orang-orang itu kan menyesal karena gagal, tapi dari 2 kalimat itu tersirat sebuah pertanyaan bahwa kenapa harus menyesal karena gagal? You’ve done at very best you could, then why should you regret? The problem is, have I done the best I could? I don’t think so.

Time does fly and clock is always ticking. Hoping there is no regret in the end. Thanks, December.

p://blog.dzaia-bs.com/?p=480 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/about-eat-pray-and-love/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 comments type

Rehal Modern

Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya yang terkadang mudah berkeringat. Akibatnya membuat bagian samping buku menjadi mekar bergelombang. Kata si penjualnya sih, keuntungan dari alat ini membuat pemakainya tidak pegal lehernya ketika harus menunduk membaca buku yang tergeletak di meja, tangan juga menjadi bebas bergerak dan tidak lelah memegangi buku.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 contentPassionhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 title1http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 content type2010 9 21 15 52 41 1 264 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 order type_*http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/makanan-pokok/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 content type2010 8 27 0 34 1 4 239 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/03/kok-males-nulis/http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 linkse menunjang untuk karakter seperti itu. Meski agak kontras dengan Mark yang sebenarnya bermata innocent. Andrew Garfield sebagai Eduardo juga berakting sangat bagus. Terasa natural. Mungkin hanya Justin Timberlake saja yang saya kira tidak bisa menutupi kepopulerannya saat bermain di film ini.

Mark sendiri tidak ambil pusing tentang film ini. Dalam sebuah talkshow tentang ‘The Facebook Effect with Mark Zuckerberg‘ ia menyatakan bahwa mungkin ia tidak akan menonton film tersebut. Alasannya, film itu diangkat dari sebuah buku yang seolah-olah menceritakan awal mula berdirinya facebook. Padahal Mark sama sekali tidak ikut dalam proses penulisannya. Salah satu hal yang disangkal Mark dari film tersebut adalah ide tercetusnya pembuatan facemash yang berasal dari pelariannya setelah diputus oleh pacarnya. Ia berdalih bahwa sejak dulu hingga kini, ia masih berpacaran dengan orang yang sama. Tapi sejauh ini, saya mempunyai sebuah anggapan tentang suatu karya, bahwa di dunia ini tidak ada yang 100% fiksi dan tidak ada yang 100% nyata. Ada sisi-sisi yang diilhami dari pengalaman penulis dalam suatu fiksi, dan ada pula “bumbu-bumbu” agar cerita non-fiksi menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Kemudian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini? Bagaimana cara Mark membela diri dalam adegan perundingan cukup bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik ide. Bahwa ide saja tidak cukup untuk mewujudkan mimpi, tanpa tahu bagaimana cara membuatnya menjadi kenyataan. Winklevoss cs. boleh punya ide brilian, tapi hanya Mark yang tahu bagaimana ide itu bisa menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga.

arnya. Menurut suatu sumber, kampus Harvard memang tidak boleh digunakan dalam pembuatan film sejak 1970.

Sedangkan dari segi cerita utamanya sendiri tidak begitu rumit. Mark dan Eduardo memulai proyek kecil bernama facemash. Mark mendapat ide ini untuk membalas perlakuan Erica, sedangkan Eduardo berperan karena memberikan algoritma dasar website tersebut dan juga berpartisipasi dalam initial funding. Facemash berhasil membuat sistem jaringan Harvard down, kejadian ini membuat Winklevoss bersaudara dan satu teman India-nya melirik Mark untuk bekerja bersama mereka sebagai programmer. Singkat cerita, Mark tidak mengikuti apa yang Winklevoss bersaudara itu inginkan, namun malah membuat sendiri sebuah proyek bernama ‘thefacebook’ bersama Eduardo. Proyek ini semakin berkembang di Harward, dan mereka pun berkeinginan memperluas proyeknya ke universitas-universitas lain. Blowing-nya ‘thefacebook’ membuat Mark dan Eduardo mau tidak mau harus mencari sponsor agar website tersebut bisa tetap running. Dari sini lah crash itu muncul. Mark tidak mau websitenya akan bersifat komersil, sedangkan Wardo tidak bisa lagi membantunya secara finansial.

Dari keretakan ini datanglah Sean Parker, pendiri Napster yang gagal dari Silicon Valley, yang mencium bau harum akan proyeksi keuntungan dari ‘thefacebook’. Sean berhasil mempengaruhi Mark yang akhirnya mengesampingkan Wardo sebagai rekan bisnisnya yang pernah ditunjuk sendiri oleh Mark sebagai CFO. Di bawah Sean pula lah nama ‘thefacebook’ kehilangan ‘the’-nya dan menyisakan ‘facebook’. Namun bersama Sean pula ‘facebook’ menjadi sangat besar dengan mendapatkan dana melimpah dari berbagai investor. Pada akhirnya, Winklevoss bersaudara yang tidak suka karena merasa idenya dicuri, menggugat Mark ke pengadilan. Begitu juga Eduardo merasa ditipu setelah share yang dimilikinya terus menerus mengecil.

Sekarang tentang pemeran utamanya, si Jesse Eisenberg. Memilih Jesse sebagai Mark yang dingin, lugas, tanpa basa basi, misterius, nerd, dan anti kompromi memang pilihan yang sangat tepat. Mata tajam Jes

Dalam suatu seminar tentang hubungan India-Cina yang diadakan di Taiwan, seorang Profesor wanita dari University of Hongkong yang saat itu bertindak sebagai moderator membuka sesi dialog seminar tersebut dengan sebuah perumpamaan menarik. Ia menceritakan tentang pengalamannya ketika mengunjungi salah satu daerah di Cina bagian utara, yang ketika itu ia temukan banyak sekali spanduk bernada ‘save our water’. Secara spontan ia pun beranggapan bahwa di daerah itu kekurangan air bersih. Demikian juga ketika ia menanggapi sebuah pernyataan seorang negarawan terhadap negara yang diduga memiliki konflik terhadap negaranya. Negarawan tersebut menyatakan bahwa mereka sesungguhnya bersaudara, ‘we are brothers’. Menurut intuisinya pernyataan tersebut justru memberikan makna sebaliknya. Maka ketika Mark Zuckerberg membantah bahwa film The Social Network adalah berdasarkan kisah nyata, saya malah merasa ia telah menegaskan bahwa film itu sangat mencerminkan dirinya.

The Social Network, saya ingin sedikit mengomentari filmnya David Fincher yang dibintangi oleh Jesse Eisenberg itu. Adegan percakapan cepat dan terdengar high-level antara Erica dan Mark langsung membuat saya menghakimi bahwa dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk menonton film ini hingga tuntas. Selama kurang lebih 2 jam film berlangsung, ternyata judging saya cukup tepat. David memainkan alur yang random, alur maju dan alur mundur yang sulit diprediksi yang dilengkapi dengan dialog-dialog cerdas yang cukup padat. Kadang kita dibawa ke dalam sejarah, dan terkadang kita dibawa ke dalam plot saat sejarah itu dibawa di meja perundingan. Sedikit yang saya sayangkan adalah setting lokasi kampusnya yang tidak dilakukan di kampus Harvard yang sebenarnya. Menurut suatu sumber, kampus Harvard memang tidak boleh digunakan dalam pembuatan film sejak 1970.

Sedangkan dari segi cerita utamanya sendiri tidak begitu rumit. Mark dan Eduardo memulai proyek kecil bernama facemash. Mark mendapat ide ini untuk membalas perlakuan Erica, sedangkan Eduardo berperan karena memberikan algoritma dasar website tersebut dan juga berpartisipasi dalam initial funding. Facemash berhasil membuat sistem jaringan Harvard down, kejadian ini membuat Winklevoss bersaudara dan satu teman India-nya melirik Mark untuk bekerja bersama mereka sebagai programmer. Singkat cerita, Mark tidak mengikuti apa yang Winklevoss bersaudara itu inginkan, namun malah membuat sendiri sebuah proyek bernama ‘thefacebook’ bersama Eduardo. Proyek ini semakin berkembang di Harward, dan mereka pun berkeinginan memperluas proyeknya ke universitas-universitas lain. Blowing-nya ‘thefacebook’ membuat Mark dan Eduardo mau tidak mau harus mencari sponsor agar website tersebut bisa tetap running. Dari sini lah crash itu muncul. Mark tidak mau websitenya akan bersifat komersil, sedangkan Wardo tidak bisa lagi membantunya secara finansial.

Dari keretakan ini datanglah Sean Parker, pendiri Napster yang gagal dari Silicon Valley, yang mencium bau harum akan proyeksi keuntungan dari ‘thefacebook’. Sean berhasil mempengaruhi Mark yang akhirnya mengesampingkan Wardo sebagai rekan bisnisnya yang pernah ditunjuk sendiri oleh Mark sebagai CFO. Di bawah Sean pula lah nama ‘thefacebook’ kehilangan ‘the’-nya dan menyisakan ‘facebook’. Namun bersama Sean pula ‘facebook’ menjadi sangat besar dengan mendapatkan dana melimpah dari berbagai investor. Pada akhirnya, Winklevoss bersaudara yang tidak suka karena merasa idenya dicuri, menggugat Mark ke pengadilan. Begitu juga Eduardo merasa ditipu setelah share yang dimilikinya terus menerus mengecil.

Sekarang tentang pemeran utamanya, si Jesse Eisenberg. Memilih Jesse sebagai Mark yang dingin, lugas, tanpa basa basi, misterius, nerd, dan anti kompromi memang pilihan yang sangat tepat. Mata tajam Jes

Detik-detik kepergian 2010 terasa semakin mendebarkan. Tahun yang mungkin bisa saya bilang sebagai tahun kegagalan sebentar lagi menghilang dan tak akan pernah kembali lagi. Kecuali ada mesin waktu. Tapi daripada menyesali, lebih baik diambil saja hikmahnya. Paling tidak di tahun ini saya jadi tahu apa yang mau saya lakukan dan apa yang saya inginkan ke depannya nanti. Maka tulisan kali ini akan saya jadikan sebagai pengingat. The to-do list of 2011.

Ada beberapa hal yang menumpuk di otak saya yang saya yakin tidak akan terwujud di tahun ini yang tinggal dalam hitungan jam. Ide-ide ini muncul secara tiba-tiba. Ada yang keluar ketika sedang bersepeda mencari makan malam misalnya. Ada yang timbul di balik bilik merenung. Ada yang terangsang setelah menonton film, membaca status dan mengintip tautan-tautan yang dibagi oleh teman melalui jejaring sosial. Ada juga yang seketika mengganggu ketika lampu kamar telah dimatikan dan hendak pergi ke dunia mimpi.

Ide-ide ini secara garis besar akan saya bagi menjadi 2 jenis proyek, komersil dan non-komersil. Proyek komersil tujuannya jelas untuk mencari sesuap dua suap berlian. Mencoba peruntungan di dunia bisnis yang katanya penuh intrik, namun juga menyediakan lautan peluang bagi orang-orang yang jeli. Sedangkan proyek non-komersil memiliki tujuan untuk mencari kepuasan batin. Walaupun kadang kala agak aneh juga ketika passion dan bakat tidak bertemu. Misalkan passionnya melukis, tapi lukisannya jauh dari bagus yang bahkan anak kecil bisa melukis lebih bagus darinya.

Untuk proyek komersil pertama, saya ingin memulai start-up di bidang multimedia seperti yang pernah tuliskan idenya di sini. Ini sebenarnya bukan bidang baru, namun saya melihat ada ceruk pasar untuk kalangan middle-end. Karena rata-rata bisnis ini dikelola untuk kalangan orang-orang yang mau-apa-tinggal-bilang-langsung-ada. Kalau melihat dari peralatan kerjanya, memang bisnis ini memerlukan modal awal lebih dari delapan digit rupiah. Tapi dengan kemajuan teknologi, maka saya yakin dengan teknologi yang ada saat ini, modal awal itu bisa ditekan serendah mungkin.

Proyek komersil kedua adalah membuat sistem terintegrasi baik itu untuk promosi dan database untuk bisnis futsal milik keluarga. Semoga saja bisa sedikit membantu untuk meningkatkan pemasukan. Syukur-syukur kalau sistemnya bisa dijual. Sedangkan proyek komersil ketiga adalah ingin bergabung dengan seorang teman dalam menjalankan bisnis kuliner. Saya kepikiran untuk mengadopsi cara berdagang orang Taiwan untuk diterapkan di sana. Goalnya adalah, membuat bisnis ini agar bisa dijadikan bisnis waralaba.

Mengenai proyek non-komersil, saya ingin membuat blog/website tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Latar belakangnya saya kira cukup jelas. Banyak sekali saya temui di internet baik media maupun personal yang sudah lupa berbahasa Indonesia, padahal tulisan tersebut disampaikan untuk publik secara formal. Mungkin saya akan menggandeng beberapa orang yang masih peduli akan bahasa Indonesia. Proyek non-komersil berikutnya adalah 30 hari menulis. Namun konsepnya akan saya buat semi-biography dan khusus membahas tentang kehidupan saya selama di Taiwan (narsis ya?). Kalau ide ini sih datangnya dari teman radio, Meity.

Apabila ada yang ingin membantu saya atau berkolaborasi dalam proyek-proyek (kecuali proyek ’30 Hari Menulis’) tersebut, dengan senang hati saya akan membuka diri.

Tidak lupa juga, selain proyek-proyek tersebut saya masih punya obsesi pribadi untuk bisa menjejakkan kaki di Stanford University. Jadi tahun 2011 nanti akan menjadi tahun persiapan untuk bisa menuju ‘Stanford 2012′.

hat client. Kedua produk ini fungsinya berbeda seiring waktu. Email digunakan untuk hal-hal yang lebih serius dan resmi, sedangkan chat client atau client messenger lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi.

Cara kita ber-SMS dan 

Not mine of course, I do apologize for disappointing you when you expected to read my funny story after read the title. You know (or if you don’t know then I’ll tell you) that I am not good enough at making fun of myself. So, it is about the movie that I just watched last night. A good one indeed. I felt lucky, because sometimes between the movie and it’s title do not link each other. Like, you really want see something from the movie, but you don’t get it. Fortunately, this movie could bring me satisfaction. Especially, from it’s story. Lots of smart jokes, light story but so deep and meaningful. And luckily the main actor (Keir Gilchrist) played well. He could act so natural at his young age. Or, maybe because lately I enjoy this kind of genre, a family-drama movie which contains a bit of romance and tons of humor.

Then, what kind of story that attracted me to share it to you? Well, there is a teenage named Craig. He is like a common teenager who is struggling with his study to triumph the best university and the best future in life. Craig feels so obsessed about it since his father is very demanding. Therefore he planned to commit suicide for several time as a runaway. But then he always succeeded not to continue his idea. Hence, he went to the doctor to cure his “sickness”. The doctor who examined him could not find something matter on him, but Craig still insisted that he was “sick”. Not physically, yet mentally. As a result, Craig was moved to the curing environment and had to stay for 5 days minimum to get the appropriate treatment in the hospital. He found a lot of people who actually have mental-illness. Some of them are really really “sick”, and the other are not so “sick”. And then the story, was just to begin… Okay, I think it’s enough to give you the intro, it’ll be better if you watch it. I guarantee it’s not gonna disappoint you. Finger crossed.

(English mode : OFF) Saya suka dengan kisah di film ini yang menyindir cara pandang orang-orang pada umumnya tentang kesuksesan, tapi dibungkus dengan ringan dan lucu. Kita yang senantiasa berlomba-lomba meraih sekolah-sekolah terbaik, supaya bisa mendapat pekerjaan layak, sukses, banyak uang, hingga bisa membeli segalanya, dan jadi bahagia karenanya, terkadang lupa akan arti kebahagiaan itu sendiri. Lupa bahwa kita juga harus pursue happiness.

/p>bs.com/2011/02/fit-proportional/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 link


Download Video: MP4
HTML5 Video Player by VideoJS


http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 comments typeMestakunghttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 title2011 2 17 16 30 58 3 48 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 comments typeInterview bersama Ahmad Fuadi @radioppiduniahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 titleng saya tawarkan. Kemudian datang lagi penawar kedua. Karena dia tidak tahu kalo barang saya sudah di-take si penawar pertama, maka kita bilang ke penawar kedua kalo harga nett-nya adalah 950. Toh kalo penawar kedua ini menyerah, kita masih punya cadangan si penawar pertama. Namun kalo si penawar kedua ini setuju, kita bisa mengorbankan si penawar pertama. Begitu seterusnya hingga waktu yang kita tentukan. Dengan begitu kita bisa menjual dengan harga yang mendekati 1000. Dengan cara ini, keuntungan yang saya dapatkan bisa maksimal. Cara lainnya adalah, kita langsung menyatakan deal ketika harga nett sudah disetujui pembeli. Tapi dengan cara ini, maka keuntungannya sangat minimal. So, what is the lesson?

Apa yang salah dari cara yang pertama? Saya nggak mau menghakimi apakah ini salah atau benar, baik atau buruk. Cuma yang saya rasakan apabila saya melakukan cara yang pertama, kelihatan sekali sisi ketamakan sebagai seorang manusia. Selalu ingin lebih dan lebih. Dan terlebih lagi, tidak ada kejujuran di sana. Well, orang-orang itu juga sebenarnya kan nggak tahu berapa harga yang sebenarnya kita inginkan. Lagipula di dunia maya ini semua bisa disamarkan. Pakai saja account fiktif untuk melakukan penjualan. Jadi kesempatan melakukan kebohongan itu sebenarnya terbuka lebar. Tapi siapa yang bisa menutup mata Yang Maha Melihat? Kepada si penawar pertama kita bilang A, kepada si penawar kedua kita bilang B. Yang ada malaikat Atid jadi rajin nulis di kitab keburukan kita. Dan terus terang, saya punya pikiran untuk melakukan cara ini walaupun akhirnya saya melakukan cara yang kedua. Saya pikir kalau saya sudah cukup dengan sejumlah tertentu, buat apa punya lebih?

Berikutnya, lagi-lagi saya harus merepotkan pihak keluarga untuk masalah transaksinya. Kali ini saya melibatkan my big brother buat membawa barangnya ke pihak pembeli dan bertransaksi. Thanks to him. Hmmm… somehow I feel so naive. I want to learn being independent, however I am still bothering the people around me. Alhamdulillah transaksi berjalan lancar dan pembeli cukup puas. Terlihat dari SMS-nya dalam merespon pesan singkat yang saya kirimkan yang menanyakan tentang kondisi kamera itu.

Selanjutnya adalah bagaimana mengirimkan uang itu supaya bisa sampai ke Taiwan. Beberapa alternatif saya pertimbangkan. Apakah melalui pengiriman kilat, atau melalui transfer rekening yang dulu pernah dilakukan ortu saya. Tapi kedua opsi ini bisa dibilang sama sekali nggak menguntungkan karena biaya pengiriman dan tukaran kurs yang rendah. Bisa-bisa uang yang sampai di tangan nantinya jauh berkurang dari hasil penjualan kamera. Padahal jumlah itu sudah dipas-pasin paling nggak sampai saya balik ke Indonesia. Kalau dulu mungkin lebih menguntungkan menukar USD ke TWD di Taiwan. Sayangnya sekarang nilai USD lagi jeblok-jebloknya di Taiwan. Apalagi ditambah kalo dari USD ke TWD, kita melakukan dua kali penjualan (IDR ke USD kemudian USD ke TWD) yang menyebabkan semakin turunnya nilai uang kita. Sedangkan Rupiah walaupun lebih nggak tentu naik-turunnya, tapi kalo dihitung-hitung masih lebih menguntungkan menukar langsung dari IDR ke TWD di Taiwan.

Suatu hari saya teringat ada teman yang bekerja di sini yang sering mengirimkan uang untuk anaknya di Indonesia. Jadilah saya agen pengiriman uang dadakan. Saya menawarkan jasa pengiriman uang ke rekeningnya di Indonesia dengan nilai tambah yaitu, tanpa biaya pengiriman dan nilai tukar yang kompetitif. Nggak pake basa-basi lagi, dia langsung setuju dengan tawaran saya. Beberapa hari kemudian uang dalam jumlah yang telah disetujui langsung diberikan ke saya. Dan terakhir, sekali lagi saya harus meminta tolong kepada big brother buat mengirimkan uang hasil jual kamera itu ke rekening teman saya. Thanks to him again. And yes, at last if everything goes fine, at least I can survive until my way back into a place called home.

All in all, despite there were obstacles that I have faced and many more that I will face, I think that I’ve just found new excitement in life.

Saya cukup puas dengan pertandingan Safin melawan Agassi, walaupun agak sedih juga karena harus merelakan 800 NT. Jadi pengen main tenis lagi, tapi masih bisa mukul nggak ya?

ada Christopher Rungkat, Hendri Susilo Pramono, Bonit Wiryawan, Ayu Vani, Jessy Rompies, Liza Andriyani, dan Sandy Gumulya. Dan kebetulan waktu itu melihat dari jarak yang sangat dekat, jadi kerasnya laju bola memang sangat terasa. Fotografer media yang duduk di sebelah saya selalu menggunakan mode multiple-shots di kameranya agar tidak kehilangan momen saat aksi-aksi terjadi.

Namun itu bukanlah untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya saya pernah merasakan menonton langsung pertandingan berkelas dunia yang berlangsung di lapangan tenis Senayan. Saat itu sedang berlangsung penyisihan Piala Davis dan Piala Fed. Tim Indonesia di antaranya diwakili oleh Suwandi, Prima Simpatiaji, Angelique Wijaya, Ayu Vani, dan Romana Tedjakusuma (yang lain saya lupa). Sayang kedua tim kita kalah. Tim Davis entah kalah oleh negara mana saya lupa. Tim Piala Fed dilumpuhkan oleh Cina yang memang memiliki pemain-pemain berkelas dunia. Ada Li Na dan Shuai Peng di nomor tunggal yang memang sangat aktif di kejuaraan-kejuaraan WTA. Di nomor ganda mereka juga sangat kuat. Bola hijau muda yang hilir mudik dengan kecepatan tinggi dari raket ke raket itu membuat saya sering menggeleng heran dan mengucap “gila” atau “buset” saat para pemain mengarahkannya ke sudut-sudut lapangan yang melintas rendah di atas net.

Awal tahun ini di Taipei Arena dalam ajang Rise of Legends, sekali lagi saya merasakan bagaimana aura para atlet tenis itu berada dekat dengan saya. Walaupun, jarak dari tempat duduk saya dengan lapangan memang lumayan jauh. Adalah 2 mantan petenis dunia yang bertanding di sana, Andre Agassi dan Marat Safin. Adapula petenis peringkat 10 ATP saat ini, Mikhail Youzhny serta dua petenis tuan rumah, Lu Yen-Hsun (petenis nomor 1 Taiwan yang pernah mengalahkan Andy Roddick di Wimbledon 2010), dan Jimmy Wang. Ada tiga pertandingan, dua kali pertandingan tunggal dan sekali pertandingan double. Pertandingan pertama mempertemukan Yen-Hsun dengan Youzhny yang hanya berlangsung dalam satu set. Sedangkan pertandingan kedua mempertemukan Safin dan Agassi dengan menggunakan format ‘the best of three’. Pertandingan ketiga adalah pertandingan double. Agassi berdampingan dengan Yen-Hsun, dan Jimmy berpartner dengan Safin.

Di pertandingan pertama, game berlangsung cukup ketat. Meskipun judulnya eksebisi, namun Youzhny tetap mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tapi sepertinya memang tidak terlalu ngoyo jika melihat dalam beberapa minggu ke depan dia sudah harus siap dengan Grand Slam pertama di tahun ini di Melbourne. Yen-Hsun pun di depan ribuan pendukungnya tampak lebih percaya diri dan akhirnya memengkan pertandingan tersebut walau sempat terkatung-katung di awal permainan. Pertandingan ini dimenangkan oleh Yhen-Hsu dengan skor 7-5. Pertandingan berikutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Safin dengan pukulan-pukulan kerasnya dan Agassi dengan return service-nya yang sering membuat mati langkah lawan. Safin yang lebih muda 10 tahun dari Agassi, masih mempunyai pukulan-pukulan sisa-sisa kejayaannya dulu ketika menjadi pemain nomor satu sedunia. Pun begitu dengan Agassi. Walau usianya sudah berkepala empat, dia masih bisa mengimbangi forehand dan service keras Safin. Tidak jarang mereka bergurau, dan tidak jarang pula merek

Safin vs Agassi

Sudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan tenis. Langsung di sini maksudnya benar-benar langsung di depan mata kepala sendiri tanpa perantara layar televisi atau monitor laptop. Lupa kapan tepatnya, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya yang saya ingat ada Christopher Rungkat, Hendri Susilo Pramono, Bonit Wiryawan, Ayu Vani, Jessy Rompies, Liza Andriyani, dan Sandy Gumulya. Dan kebetulan waktu itu melihat dari jarak yang sangat dekat, jadi kerasnya laju bola memang sangat terasa. Fotografer media yang duduk di sebelah saya selalu menggunakan mode multiple-shots di kameranya agar tidak kehilangan momen saat aksi-aksi terjadi.

Namun itu bukanlah untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya saya pernah merasakan menonton langsung pertandingan berkelas dunia yang berlangsung di lapangan tenis Senayan. Saat itu sedang berlangsung penyisihan Piala Davis dan Piala Fed. Tim Indonesia di antaranya diwakili oleh Suwandi, Prima Simpatiaji, Angelique Wijaya, Ayu Vani, dan Romana Tedjakusuma (yang lain saya lupa). Sayang kedua tim kita kalah. Tim Davis entah kalah oleh negara mana saya lupa. Tim Piala Fed dilumpuhkan oleh Cina yang memang memiliki pemain-pemain berkelas dunia. Ada Li Na dan Shuai Peng di nomor tunggal yang memang sangat aktif di kejuaraan-kejuaraan WTA. Di nomor ganda mereka juga sangat kuat. Bola hijau muda yang hilir mudik dengan kecepatan tinggi dari raket ke raket itu membuat saya sering menggeleng heran dan mengucap “gila” atau “buset” saat para pemain mengarahkannya ke sudut-sudut lapangan yang melintas rendah di atas net.

Awal tahun ini di Taipei Arena dalam ajang Rise of Legends, sekali lagi saya merasakan bagaimana aura para atlet tenis itu berada dekat dengan saya. Walaupun, jarak dari tempat duduk saya dengan lapangan memang lumayan jauh. Adalah 2 mantan petenis dunia yang bertanding di sana, Andre Agassi dan Marat Safin. Adapula petenis peringkat 10 ATP saat ini, Mikhail Youzhny serta dua petenis tuan rumah, Lu Yen-Hsun (petenis nomor 1 Taiwan yang pernah mengalahkan Andy Roddick di Wimbledon 2010), dan Jimmy Wang. Ada tiga pertandingan, dua kali pertandingan tunggal dan sekali pertandingan double. Pertandingan pertama mempertemukan Yen-Hsun dengan Youzhny yang hanya berlangsung dalam satu set. Sedangkan pertandingan kedua mempertemukan Safin dan Agassi dengan menggunakan format ‘the best of three’. Pertandingan ketiga adalah pertandingan double. Agassi berdampingan dengan Yen-Hsun, dan Jimmy berpartner dengan Safin.

Di pertandingan pertama, game berlangsung cukup ketat. Meskipun judulnya eksebisi, namun Youzhny tetap mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tapi sepertinya memang tidak terlalu ngoyo jika melihat dalam beberapa minggu ke depan dia sudah harus siap dengan Grand Slam pertama di tahun ini di Melbourne. Yen-Hsun pun di depan ribuan pendukungnya tampak lebih percaya diri dan akhirnya memengkan pertandingan tersebut walau sempat terkatung-katung di awal permainan. Pertandingan ini dimenangkan oleh Yhen-Hsu dengan skor 7-5. Pertandingan berikutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Safin dengan pukulan-pukulan kerasnya dan Agassi dengan return service-nya yang sering membuat mati langkah lawan. Safin yang lebih muda 10 tahun dari Agassi, masih mempunyai pukulan-pukulan sisa-sisa kejayaannya dulu ketika menjadi pemain nomor satu sedunia. Pun begitu dengan Agassi. Walau usianya sudah berkepala empat, dia masih bisa mengimbangi forehand dan service keras Safin. Tidak jarang mereka bergurau, dan tidak jarang pula merekN 

Being considered to be the top of ICT manufacturer by conquering 90% of WiFi market share in the world, Taiwan has moved to the next level of ICT industry. The E-Taiwan program which was established in 2002 had developed very well and fast in order to support Taiwan to enter the new era of mobilization technology. This evolution brought Taiwan to evolve their program from E-Taiwan into M-Taiwan. M-Taiwan (M stands for mobile) became the next stage of ICT industry in Taiwan.

It was starting from December 2005 when the Science and Technology Advisory Group (STAG) of Executive Yuan developed a WiMax blueprint. They believed if WiMax would be the preferred technology to deliver M-Service, M-Learning, and M-Life in the M-Taiwan program. And to realize the program, the government should dive into the pocket deeply. In the year 2005, 42 million USD has been spent, and more 70 million USD in the year after. All in all, this four year program will cost around 212 million USD totally, and for the exchange, it is expected to stimulate Taiwan’s industry to invest approximately 630 million USD on WiMax network infrastructure.

To strengthen Taiwan’s ICT infrastructure and services to provide a world class broadband access environment for internet users has become one of the major objectives of the program. Hence, the government needs to encourage all corporate, both local and foreign companies, to take apart on this project. Enhance infrastructure, upgrade the communications equipment, creating a mobile data service industry, and build a competitive mobile industry environment, are specified objectives of M-Taiwan.

Some strategies which were adopted for the technology development, also has been planned to achieve the goals. The first strategy is, build a complete WiMax ecosystem. Then, developed differentiated applications and design a coupled WiFi/WiMax network to leverage strength of Taiwan’s WiFi industry. For non-technical strategies, the government plans to leverage government sponsored research and development projects, and participate in international standards activities and collaborate with international organizations. To assist all the projects which belong to M-Taiwan program, the government has built M-Taiwan support center to conduct network entrance and interoperability test. And after the M-Taiwan succeeded, Taiwan will move to the top level of ICT life, which they named U-Taiwan. U is for ubiquitous.

*****

Score : 82
#1 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

Sorry for my bad English.

//blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 updated type2011 2 22 16 22 43 1 53 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/rencana/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=14152011 5 16 8 22 58 0 136 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 wfw_commentrss typeJika kesempatan itu tidak ada, maka gue yang mengejarnya. Jika kesempatan itu tidak juga ada, maka gue yang menciptakannya. Karena dalam hidup, kesempatan hanya datang satu kali. Dan waktu tidak berdetak ke kiri. ~ Adhitya Mulya, Catatan Mahasiswa Gila hal.173-174 ~http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 wfw_commentrss2011 5 31 17 40 31 1 151 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 content typelut. Yah nggak perlu seekstrim Pak Bondan lah, toh makanan di sini nggak semaknyus makanan2 di Indonesia.

yang berharga that money can’t buy. Sifatnya bisa terlihat, atau hanya bisa terasa. Yang terlihat, kurang lebih temanya tentang orang-orang terdekat yang dimiliki. Baik itu keluarga, sanak sedulur, atau teman karib. Yang nggak terlihat, kalo mau agamis dikit jawabannya mengarah ke iman. Tapi kalo mau yang umum-umum saja, ya masalah kesehatan. Alhamdulillah, yang agamis masih belum hilang, asal jangan ditanya soal kualitasnya sih. Alhamdulillah juga kesehatan saya kemarin juga ngedrop. Untungnya cuma 1-2 hari.

Kalo ibu Anda sudah ngasih sangu bawaan yang macem2 yang menurut Anda mikir “ih, ngapain sih dibawain beginian, kayak penting aja?”, sebaiknya jangan ditolak. Sosok ibu memang bukan tukang ramal, tapi saya percaya kalo firasat seorang ibu buat anaknya itu kuat. Sangat sangat kuat. Jadinya waktu kemarin saya dikasih sangu beberapa sachet “wind rejector” buat jaga2 kalo kemasukan angin, saya nggak nolak. Padahal seumur-umur saya nggak pernah minum obat herbal yang katanya diminum orang-orang pinter itu. Dan pertama kalinya saya nyicip obat herbal itu adalah, di sela-sela roti tawar sebagai alternatif selai. Harus saya akui memang ketepatan produk itu ngasih slogan. Selain peminumnya, cara yang digunakan buat minum juga harus pinter.

Karena nggak cocok dengan rasanya, jadi saya pasrahkan beberapa sachet yang tersisa itu buat MakUwok yang pusing keliling2 nggak nemu2 obat herbal itu. Toh, saya juga jarang sakit di sini. Paling setahun sekali. Tapi yang namanya karma, bukan cuma bagus buat buka puasa, tapi juga bagus buat ngasih pelajaran supaya besok2 kalo ngasih mbok ya jangan semuanya. Sisainlah 1-2 biji buat serep.

Kondisi Taipei seminggu kemarin memang bikin males keluar kamar. Udah dingin, hujan pula. Akibat sering basah2an yang dibarengi program diet perut dan diet kantong, ditambah lagi jarang olahraga kecuali jalan kaki atau bersepeda yang sama sekali nggak ngeluarin keringet, akhirnya TKO juga saya hari minggu kemarin. Tapi kok bisa ngepas weekend gitu ya?

Gejala sih udah terasa mulai Jumat malem. Terasa ada radang di tenggorokan. Sabtu, badan mulai terasa demam sama sakit kepala. Eh, lah kok Sabtu malem diajak dinner syukuran pindah rumah… Gimana mau nolak coba? Seumur-umur saya juga belum pernah es tiga (baca : ping san) -jangan sampe deh-, namun waktu itu saya siap kalo saya bakal pingsan untuk pertama kalinya di rumah itu. Akhirnya Sabtu malem saya selamat tiba di kamar dan berhasil memingsankan diri di atas matras busa 2 lapis, di bawah selimut bulu tebal yang dibeli di pasar 3 tahun lalu. Hari Minggu saatnya tepar seharian, dan hanya keluar ke tempat2 yang terjangkau buat ngisi tenaga.

Untuk recoverynya, saya memilih cara yang alami. Tanpa obat. Yang pertama banyak minum air putih. Yang pertama supaya H2O itu bisa diubah jadi oksigen dalam darah, yang kedua supaya panas dalam tubuh bisa sering dikeluarkan melalui urin. Oke, jangan percaya sama teori yang barusan tapi yang jelas banyak minum air putih itu bagus buat kesehatan. Yang kedua saya menjadi fruitivora. Banyak makan buah. Senin kemarin misalnya. Seharian saya nggak makan nasi. Pagi sarapan jambu biji yang udah dipotong2. Siang makan menu vegetarian. Malemnya makan pisang 2 buah. Meski malemnya perut keroncongan dan akhirnya nyari diganjel pake ubi bakar yang rasanya mirip ubi Cilembeu. Pun minum susunya adalah susu kedelai.

Walaupun masih ada sisa-sisa demam, sugesti merasa telah melaksanakan hidup sehat bisa berdampak pada kesehatan itu sendiri. Kemarin malem saya kira bakal kambuh lagi karena susah nggak bisa tidur. Syukurlah pas bangun saya sudah merasa sehat kembali.

Saya baru baca tadi siang kalo ternyata cara Pak Bondan untuk mengatasi efek samping dari makan makanan enak adalah dengan melakukan detoks (detoksifikasi). Yaitu dengan hanya mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran selama 2 hari berturut-tur

Biasanya sih lanjutannya “till it’s gone”. Dan biasanya sesuatu di situ adalah sesuatu yang berharga that money can’t buy. Sifatnya bisa terlihat, atau hanya bisa terasa. Yang terlihat, kurang lebih temanya tentang orang-orang terdekat yang dimiliki. Baik itu keluarga, sanak sedulur, atau teman karib. Yang nggak terlihat, kalo mau agamis dikit jawabannya mengarah ke iman. Tapi kalo mau yang umum-umum saja, ya masalah kesehatan. Alhamdulillah, yang agamis masih belum hilang, asal jangan ditanya soal kualitasnya sih. Alhamdulillah juga kesehatan saya kemarin juga ngedrop. Untungnya cuma 1-2 hari.

Kalo ibu Anda sudah ngasih sangu bawaan yang macem2 yang menurut Anda mikir “ih, ngapain sih dibawain beginian, kayak penting aja?”, sebaiknya jangan ditolak. Sosok ibu memang bukan tukang ramal, tapi saya percaya kalo firasat seorang ibu buat anaknya itu kuat. Sangat sangat kuat. Jadinya waktu kemarin saya dikasih sangu beberapa sachet “wind rejector” buat jaga2 kalo kemasukan angin, saya nggak nolak. Padahal seumur-umur saya nggak pernah minum obat herbal yang katanya diminum orang-orang pinter itu. Dan pertama kalinya saya nyicip obat herbal itu adalah, di sela-sela roti tawar sebagai alternatif selai. Harus saya akui memang ketepatan produk itu ngasih slogan. Selain peminumnya, cara yang digunakan buat minum juga harus pinter.

Karena nggak cocok dengan rasanya, jadi saya pasrahkan beberapa sachet yang tersisa itu buat MakUwok yang pusing keliling2 nggak nemu2 obat herbal itu. Toh, saya juga jarang sakit di sini. Paling setahun sekali. Tapi yang namanya karma, bukan cuma bagus buat buka puasa, tapi juga bagus buat ngasih pelajaran supaya besok2 kalo ngasih mbok ya jangan semuanya. Sisainlah 1-2 biji buat serep.

Kondisi Taipei seminggu kemarin memang bikin males keluar kamar. Udah dingin, hujan pula. Akibat sering basah2an yang dibarengi program diet perut dan diet kantong, ditambah lagi jarang olahraga kecuali jalan kaki atau bersepeda yang sama sekali nggak ngeluarin keringet, akhirnya TKO juga saya hari minggu kemarin. Tapi kok bisa ngepas weekend gitu ya?

Gejala sih udah terasa mulai Jumat malem. Terasa ada radang di tenggorokan. Sabtu, badan mulai terasa demam sama sakit kepala. Eh, lah kok Sabtu malem diajak dinner syukuran pindah rumah… Gimana mau nolak coba? Seumur-umur saya juga belum pernah es tiga (baca : ping san) -jangan sampe deh-, namun waktu itu saya siap kalo saya bakal pingsan untuk pertama kalinya di rumah itu. Akhirnya Sabtu malem saya selamat tiba di kamar dan berhasil memingsankan diri di atas matras busa 2 lapis, di bawah selimut bulu tebal yang dibeli di pasar 3 tahun lalu. Hari Minggu saatnya tepar seharian, dan hanya keluar ke tempat2 yang terjangkau buat ngisi tenaga.

Untuk recoverynya, saya memilih cara yang alami. Tanpa obat. Yang pertama banyak minum air putih. Yang pertama supaya H2O itu bisa diubah jadi oksigen dalam darah, yang kedua supaya panas dalam tubuh bisa sering dikeluarkan melalui urin. Oke, jangan percaya sama teori yang barusan tapi yang jelas banyak minum air putih itu bagus buat kesehatan. Yang kedua saya menjadi fruitivora. Banyak makan buah. Senin kemarin misalnya. Seharian saya nggak makan nasi. Pagi sarapan jambu biji yang udah dipotong2. Siang makan menu vegetarian. Malemnya makan pisang 2 buah. Meski malemnya perut keroncongan dan akhirnya nyari diganjel pake ubi bakar yang rasanya mirip ubi Cilembeu. Pun minum susunya adalah susu kedelai.

Walaupun masih ada sisa-sisa demam, sugesti merasa telah melaksanakan hidup sehat bisa berdampak pada kesehatan itu sendiri. Kemarin malem saya kira bakal kambuh lagi karena susah nggak bisa tidur. Syukurlah pas bangun saya sudah merasa sehat kembali.

Saya baru baca tadi siang kalo ternyata cara Pak Bondan untuk mengatasi efek samping dari makan makanan enak adalah dengan melakukan detoks (detoksifikasi). Yaitu dengan hanya mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran selama 2 hari berturut-turk on me, or not?

de yang ditayangkan di Kick Andy yang menampilkan Prof. Yohanes Surya misalnya. Atau pernah membaca artikel Beliau tentang teori ini. Atau memang karena Anda adalah seorang fisikawan jenius sekelas Sheldon Cooper atau Leonard Hofstadter yang pastinya sudah tahu tentang semua teori fisika di luar kepala. Mestakung adalah semesta mendukung. Suatu konsep fisika tentang alam semesta. Yaitu ketika kita berada pada kondisi kritis, maka akan terjadi pengaturan diri agar kita bisa keluar dari kondisi kritis itu. Makin kritis kondisinya, maka makin besar pula peluang kita untuk bisa keluar dari kondisi tersebut. Kurang lebih seperti itu yang diutarakan oleh Prof. Yohanes.

Beliau mencontohkannya dengan membuat kondisi kritisnya sendiri pada saat membuat paspor untuk kuliah di luar negeri. Letak kritisnya agak absurd menurut saya. Worst case-nya adalah paspor itu jadi hangus tak terpakai. Contoh lain, ketika Beliau diharuskan mengajar di kampus yang menerimanya untuk lanjut kuliah di Amerika, padahal kemampuannya berbahasa Inggris saat itu sangat minim. Titik kritisnya saat itu adalah bahwa dia memiliki waktu 3 bulan untuk jumping ke program doktor, atau menjadi bahan tertawaan mahasiswa-mahasiswa di sana karena ketidakmahirannya berbahasa Inggris. Hasilnya, Beliau berhasil keluar dari titik kritis itu.

Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh sebenarnya, karena konsep ini menurut pengamatan empiris saya terjadi hampir pada setiap siswa dan mahasiswa. Biasanya semakin mendekati deadline, kreatifitas menjadi meningkat. Ketika tiba-tiba kita tahu jawaban-jawaban dari soal-soal ujian saat mendekati waktu yang hampir berakhir. Ketika banyak master berseliweran saat tugas pendahuluan praktikum harus segera dikumpulkan. Ketika otak yang tiba-tiba encer saat mendekati batas waktu proposal skripsi atau thesis dikirim.

Kisah-kisah sukses lain tentang para ilmuwan Indonesia di luar negeri yang juga pernah ditayangkan di program tv yang sedang mengalami ribut-ribut masalah eksploitasi anak itu, kalau mau ditelaah dari segi latar belakangnya, maka mayoritas didominasi oleh kondisi kritis. Latar belakang para ilmuwan sukses itu berawal dari keadaan susah. Orang tua mereka rata-rata harus berjuang untuk mencukupi periuk nasi di meja makan. Tidak ada yang merupakan anak pengusaha kaya, pejabat suskses, atau keturunan bangsawan. Kondisi kritis tersebut bagi mereka menjadi bahan bakar yang tak pernah habis. Maka ketika nasib baik datang bertubi-tubi menghampiri mereka kemudian, alam semesta mendukungnya.

Saya kira konsep ini juga yang melatarbelakangi cerita super saiya dalam kisah Dragon Balls. What does not kill you makes you stronger. Apa yang tidak membunuhmu, akan menjadikanmu lebih kuat. Keluar dari zona nyaman. Karena zona nyaman mematikan kreatifitas. Memang nyaman, tapi ya segitu-segitu saja. Tidak naik-naik, tidak berkembang. Bahkan lama kelamaan tidak mustahil malah menjadi tumpul. Dan akhirnya, useless. Tidak berguna dan tidak bermanfaat. Lalu apa bedanya dengan ada dan tiada? Fatalnya, saya merasa berada di dalam zona tersebut. Kedengarannya memang naif, lebih ingin susah dari pada nyaman. Ya, tapi begitulah yang saya rasakan.

Maka saya sedang mencoba mengkreasikan sendiri kondisi kritis saya. Walaupun sesungguhnya terjadi di luar perencanaan, melainkan terlanjur kadung. Empat tahun adalah batas waktu maksimal yang diizinkan untuk menetap di kampus saya sebagai mahasiswa strata dua. Dan sampai sekarang, after three and a half years, belum ada bayangan kapan bakal disidang. Boro-boro sidang, nulis aja belum. Jadi sekarang saya memang sedang tidak nyaman, selain ancaman dikeluarkan dari kampus karena kelamaan, pertanyaan dari kiri kanan tentang kapan sidang juga sangat2 mengusik. Saya buat lebih kritis lagi dengan tidak meminta bantuan dari orang tua dalam hal finansial saya ke depan. Bukan apa-apa, I just wanna try to stand on my own feet and not to bother them anymore.

Well, let see if this “Mestakung” theory will really wor

Dari sebuah episode yang ditayangkan di Kick Andy yang menampilkan Prof. Yohanes Surya misalnya. Atau pernah membaca artikel Beliau tentang teori ini. Atau memang karena Anda adalah seorang fisikawan jenius sekelas Sheldon Cooper atau Leonard Hofstadter yang pastinya sudah tahu tentang semua teori fisika di luar kepala. Mestakung adalah semesta mendukung. Suatu konsep fisika tentang alam semesta. Yaitu ketika kita berada pada kondisi kritis, maka akan terjadi pengaturan diri agar kita bisa keluar dari kondisi kritis itu. Makin kritis kondisinya, maka makin besar pula peluang kita untuk bisa keluar dari kondisi tersebut. Kurang lebih seperti itu yang diutarakan oleh Prof. Yohanes.

Beliau mencontohkannya dengan membuat kondisi kritisnya sendiri pada saat membuat paspor untuk kuliah di luar negeri. Letak kritisnya agak absurd menurut saya. Worst case-nya adalah paspor itu jadi hangus tak terpakai. Contoh lain, ketika Beliau diharuskan mengajar di kampus yang menerimanya untuk lanjut kuliah di Amerika, padahal kemampuannya berbahasa Inggris saat itu sangat minim. Titik kritisnya saat itu adalah bahwa dia memiliki waktu 3 bulan untuk jumping ke program doktor, atau menjadi bahan tertawaan mahasiswa-mahasiswa di sana karena ketidakmahirannya berbahasa Inggris. Hasilnya, Beliau berhasil keluar dari titik kritis itu.

Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh sebenarnya, karena konsep ini menurut pengamatan empiris saya terjadi hampir pada setiap siswa dan mahasiswa. Biasanya semakin mendekati deadline, kreatifitas menjadi meningkat. Ketika tiba-tiba kita tahu jawaban-jawaban dari soal-soal ujian saat mendekati waktu yang hampir berakhir. Ketika banyak master berseliweran saat tugas pendahuluan praktikum harus segera dikumpulkan. Ketika otak yang tiba-tiba encer saat mendekati batas waktu proposal skripsi atau thesis dikirim.

Kisah-kisah sukses lain tentang para ilmuwan Indonesia di luar negeri yang juga pernah ditayangkan di program tv yang sedang mengalami ribut-ribut masalah eksploitasi anak itu, kalau mau ditelaah dari segi latar belakangnya, maka mayoritas didominasi oleh kondisi kritis. Latar belakang para ilmuwan sukses itu berawal dari keadaan susah. Orang tua mereka rata-rata harus berjuang untuk mencukupi periuk nasi di meja makan. Tidak ada yang merupakan anak pengusaha kaya, pejabat suskses, atau keturunan bangsawan. Kondisi kritis tersebut bagi mereka menjadi bahan bakar yang tak pernah habis. Maka ketika nasib baik datang bertubi-tubi menghampiri mereka kemudian, alam semesta mendukungnya.

Saya kira konsep ini juga yang melatarbelakangi cerita super saiya dalam kisah Dragon Balls. What does not kill you makes you stronger. Apa yang tidak membunuhmu, akan menjadikanmu lebih kuat. Keluar dari zona nyaman. Karena zona nyaman mematikan kreatifitas. Memang nyaman, tapi ya segitu-segitu saja. Tidak naik-naik, tidak berkembang. Bahkan lama kelamaan tidak mustahil malah menjadi tumpul. Dan akhirnya, useless. Tidak berguna dan tidak bermanfaat. Lalu apa bedanya dengan ada dan tiada? Fatalnya, saya merasa berada di dalam zona tersebut. Kedengarannya memang naif, lebih ingin susah dari pada nyaman. Ya, tapi begitulah yang saya rasakan.

Maka saya sedang mencoba mengkreasikan sendiri kondisi kritis saya. Walaupun sesungguhnya terjadi di luar perencanaan, melainkan terlanjur kadung. Empat tahun adalah batas waktu maksimal yang diizinkan untuk menetap di kampus saya sebagai mahasiswa strata dua. Dan sampai sekarang, after three and a half years, belum ada bayangan kapan bakal disidang. Boro-boro sidang, nulis aja belum. Jadi sekarang saya memang sedang tidak nyaman, selain ancaman dikeluarkan dari kampus karena kelamaan, pertanyaan dari kiri kanan tentang kapan sidang juga sangat2 mengusik. Saya buat lebih kritis lagi dengan tidak meminta bantuan dari orang tua dalam hal finansial saya ke depan. Bukan apa-apa, I just wanna try to stand on my own feet and not to bother them anymore.

Well, let see if this “Mestakung” theory will really wor

Hopefully that you might went wrong in guessing what I would talk. It is not about how to choose the best between the bads. Like for example, there is a condition when I must choose a girl who will be my future wife, and that condition does not let me say no. The choices are between two girls who are extremely good looking that can melt every heart of men, shaliha, clever and diligent, rich and generous, very down-hearted person, or in other words, both of them are almost perfect. But (I know you don’t like this word), one of them can not give you descendant. And another one, she can give you a child but she only has a year to live because she is suffering a deadly disease which there is no possible way to heal. Even if you did istikhara for many times, I believe you are still confuse to decide.

Gladly, the problem that I am facing right now is not as difficult as that, yet not easy to decide. As you know (or may don’t know), recently my daily life were always full of thinking about the you-know-what. I’ve tried to speed up to catch the deadline because I have to collect the abstract proposal in the beginning of May. (Indonesian mode : ON; takut kalo2 suatu saat dibaca sama lab mate atau bahkan sama si Prof). Mungkin perlu saya beritahu dulu topik dari thesis saya. Jadi ceritanya si Prof lagi tertarik membuat CMOS sensor. Para pecinta fotografi mungkin tau apa itu CMOS sensor. Sekilas saja, kamera digital saat ini didominasi oleh 2 teknologi sensor, CCD dan CMOS. Hal ini bisa diperhatikan pada data spesifikasi kamera di bagian jenis sensor. CCD adalah teknologi sensor yang lebih dulu ada, sedangkan CMOS baru muncul di awal-awal 1990-an. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, dan karena itulah keduanya masih dipakai sampai sekarang.

Nah, karena dulu saya datang ke Taiwan tanpa persiapan apa2, maksudnya saya tidak punya proposal research yang bisa ditawarkan kepada Prof, maka saya menyerahkan keputusan mengenai topik thesis ini kepada beliau. Awalnya dia ingin membuat sesuatu dengan OLED (Organic LED), namun karena topik itu bukan spesialisasinya dan saat itu saya juga mentok, maka akhirnya topik thesis saya berubah. Saya diminta membuat desain CMOS sensor. Terus terang saya bengong dong dikasih topik susah begitu, tapi saya nggak mau menolak karena topik ini juga cukup menarik buat saya. Singkat cerita, saya belajar sedikit demi sedikit tentang topik ini. Yang kebayang, kerjaan saya akan selesai hingga tahap simulasi. Tapi ternyata, lab meeting terakhir hari Rabu kemarin merubah bayangan saya selama ini…

Rabu kemarin saya dapat jatah presentasi progress. Lupa tepatnya, apakah di tengah-tengah atau di akhir presentasi saya, si Prof berdikusi dengan lab mate yang lain dalam bahasa yang nggak saya mengerti. Di akhir obrolannya itu, dia bilang ke saya yang pada intinya dia mau membuat proto-type dari desain yang lagi saya kerjain. Dan dia nggak peduli berapapun uang yang perlu dikeluarkan untuk membuat sensor yang terbaik. Kaget, senang, bingung, sedih, campur baur. Perasaannya nggak bisa diungkapkan dengan kata2.

Banyak hal yang bikin saya senang, dan ada juga yang mengganjal apabila saya mengiyakan permintaan si Prof. Mungkin sedihnya dulu kali ya. Dengan meneruskan topik ini hingga tahap pembuatan proto-type atau fabrikasi artinya, saya hampir nggak mungkin lulus di semester ini. Karena sekarang saja saya baru mempelajari software simulasinya, dan desainnya sendiri belum jadi. Estimasi saya, desain dan simulasi ini baru akan selesai di bulan Juni. Jadi di bulan Juli bisa fokus pada penulisan dan persiapan sidang. Berarti kan kalau sampai fabrikasi, butuh waktu lagi. Dan tingkat kerumitannya juga bertambah berkali-kali lipat. Tau sendiri kan kalo elektronik itu sering banyak “hantu”-nya. Maksudnya, pasti selalu saja ada faktor-X yang membuat si devais bekerja sedikit menyimpang dari yang diharapkan. Intinya, paling nggak harus nambah 2-3 bulan lagi untuk menyelesaikan masa fabrikasinya.

Lalu benefitny

Yang pernah nonton film Mr.Nobody (2009) mungkin akan tahu ke mana arah pembicaraan kita kali ini. Nemo Nobody memang aneh untuk sebuah nama, tapi apa sih yang aneh untuk sebuah cerita fiksi? Dikisahkan di awal film tersebut, ketika Nemo tersadar dari tidur panjangnya dan ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berumur 118 tahun. Menariknya lagi Nemo tidak sedang di Bumi, teknologi saat itu memungkin manusia untuk bermigrasi ke Mars dan hidup di sana. Inti film ini adalah ketika Nemo didatangi seorang reporter. Nemo yang menjadi orang tertua yang ada saat itu diminta menceritakan kehidupannya yang dulu. Dan penonton pun diajak menebak-nebak, cerita mana yang merupakan cerita sebenarnya.

Percabangan cerita Nemo berawal ketika perpisahan kedua orangtuanya di stasiun kereta. Saat itu Nemo harus memutuskan untuk memilih tinggal bersama ayahnya, atau dengan ibunya. Nemo pun menceritakan kedua cabang hidupnya itu. Baik ketika ia memilih tinggal bersama ayahnya, dan juga ibunya. Ketika ia bersama ibunya, Nemo jatuh cinta dengan Anna yang merupakan saudara tirinya. Sedangkan dalam cerita Nemo-memilih-tinggal-bersama-ayahnya, cerita berkembang dengan percabangan berikutnya. Yaitu ketika cintanya ditolak oleh Elise (yang kemudian akhirnya Nemo menikahi Jean), dan ketika cintanya diterima oleh Elise meski tanpa akhir bahagia.

Akhir film ini sebenarnya agak kurang seru, karena kita diberi clue untuk menebak cerita mana yang sebenarnya dialami Nemo. Menurut saya akan lebih seru kalau penonton dibiarkan terombang-ambing dalam rasa penasarannya. Toh, pesan dari film ini (lagi-lagi menurut saya) juga agak buram. Yang menarik buat saya adalah idenya. Bahwa adanya kita sekarang ini, detik ini, di tempat ini, dalam kondisi seperti ini, adalah merupakan sebuah hasil dari pilihan-pilihan kita yang tak terhitung banyaknya yang ada di masa lalu.

Bisa saja, saya misalnya, jika beberapa tahun yang lalu hanya membiarkan informasi tentang beasiswa di suatu milis itu lewat begitu saja, mungkin saat ini saya tidak berada di atas matras busa di sebuah asrama di suatu kampus di Taiwan sambil mengupdate isi blog. Atau, bisa saja pada tanggal 25 Agustus 2007 saya menuruti kegelisahan saya di atas pesawat dan memutuskan untuk langsung kembali ke Indonesia sesampainya di Chiang Kai-Shek Airport. Ada kemungkinan yang tak terhitung banyaknya yang membuat kita berada dalam kondisi begini saat ini. Dan itu semua adalah hasil pilihan kita entah itu merupakan pilihan yang tepat atau tidak. Pilihan buat kita adalah, merencanakannya dengan matang atau membiarkan waktu yang menentukannya tanpa tahu apakah itu baik atau buruk bagi kita.

Saya baru saja diingatkan oleh teman beberapa hari yang lalu tentang “connecting the dots”-nya Steve Jobs dalam pidatonya di Stanford University dulu. Di akhir pesannya yang pertama Steve berkata,

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

Suatu hari jika kita mau melihat ke belakang, mungkin kita bisa melihat bagaimana benang merah bisa menyulam keadaan kita pada saat ini. Bagaimana kejadian-kejadian acak bisa membuat cerita menjadi manis atau sedih. Jadi rasanya nggak adil kalau ada yang menyalahkan keadaan. Sama saja dia menyalahkan pilihan-pilihannya sendiri.

n bicara kita seolah-olah yang paling tahu dan superior. Dengan begitu diharapkan dia bisa menikmati jalannya pembicaraan, walaupun harus diakui bahwa kita harus sedikit berkorban dengan ketidaktahuan yang kita miliki dari topik pembicaraan tersebut. Dale Carnegie dan Larry King mempunyai caranya masing-masing, namun intinya tetap sama, yaitu bagaimana membuat lawan bicara kita menikmati pembicaraan yang sedang kita lakukan bersamanya.

Dua pendekatan yang disampaikan tiganya lahir dari tiga generasi yang berbeda, dan hampir berbeda dalam segala hal kecuali satu, mereka sangat gila membaca.

Gusdur. Sosok penuh kontroversi yang pernah memimpin Republik ini. Humoris, pluralis, dan berwawasan luas. Tidak tanggung-tanggung, sisi humoris Beliau bahkan pernah memakan korban seorang kepala negara Amerika Serikat, yang saat itu dijabat oleh Bill Clinton. Ketika itu di White House, sewaktu Clinton dan Gusdur hanya sedang berdua, Gusdur bertanya pada Clinton, “ngomong-ngomong dulu waktu sama Lewisnky di sebelah mana?” [3] Sebagai seorang pluralis, Beliau disegani oleh tokoh-tokoh serta pemuka-pemuka agama. Dan sebagai orang yang berwawasan luas, masa muda Beliau banyak digunakan untuk membaca.

Lebih memilih membolos kelas demi membaca di perpustakaan sudah merupakan tanda tak wajar dari orang yang gila membaca. Di saat teman-teman sebayanya belajar materi pelajaran sekolah, Beliau malah memilih membaca Das Kapital, The Little Red Book (Quotations from Chairman Mao Tsetung), serta teori-teori Plato dan Aristoteles. Bukan itu saja, di meja kerjanya pernah ditemukan tumpukan buku-buku sastra, dan novel intelijen [4]. Satu hal lain yang membuat saya kagum dari Beliau adalah kemampuannya bergurau yang sangat cerdas.

Saya memang belum membaca buku Negeri 5 Menara. Namun dari wawancara yang pernah saya lakukan dengan tokoh Raja yang sebenarnya, Adnin Armas, saya bisa merasakan hausnya dia akan ilmu. Prinsip-prinsip yang diajarkan dalam ponpes seperti, “sebaik-baik teman duduk adalah buku” dan pesan Sayyidina Ali “ikatlah ilmu dengan menulis” benar-benar dia amalkan. Wajar saja dia bisa menguasai beberapa bahasa, karena selama di ponpes, tangannya tidak pernah lepas dari kamus. Buku itu dibacanya sambil menunggu giliran kamar mandi atau sambil menunggu antrian makan. Alasannya cukup menarik, yaitu karena buku-buku kecil atau buku-buku yang isinya cukup ringan, biasa dihabiskan dalam sehari dua hari. Sehingga dia membutuhkan buku yang lama untuk dihabiskan dibaca, yaitu kamus [5].

Kiky, pertama kali bertemu di jaman ketika masih berseragam putih abu-abu dulu. Saling mengenal di tahun pertama tapi baru di tahun kedua kita berkesempatan menempati ruang kelas yang sama. Di kelas 2 ini, tempat duduk langganan saya di baris kedua dari belakang, di deretan yang berhadapan dengan meja guru. Sedangkan Kiky, dia memiliki tempat favorit di pojok belakang tepat di belakang tempat duduk saya. Saya tahu kebiasaan-kebiasaan yang dia lakukan sehari-harinya ketika di kelas. Tidak ada yang aneh sebenarnya dengan anak ini, kecuali kebiasaannya meminjam buku di perpustakaan dengan judul dan tema yang terkadang membuat dahi berkerut. Dia pernah meminjam buku tentang wayang, buku kumpulan puisi, novel, buku sejarah, buku sastra lama, bahkan buku cerita dongeng. Cuma buku pelajaran saja yang enggak pernah dipinjamnya dari perpustakaan.

Menyenangkan mengajak dia berdikusi atau hanya sekedar ngobrol yang enggak penting. Karena dia akan meladeni setiap pertanyaan dan pernyataan yang dilemparkan, dan menjawabnya dari berbagai sisi. Dan jangan pernah takut kalau dia akan enggak nyambung dengan topik yang kita berikan. Percayalah, dia itu Google berwujud manusia. Jadi kita bisa ngobrol dengannya tentang film, olahraga, politik, budaya, fashion, sampai gosip artis.

Referensi :

  1. http://www.ted.com/talks/lang/eng/sebastian_seung.html
  2. http://www.imdb.com/title/tt0338013/
  3. http://www.youtube.com/watch?v=IVCpxOiye5o
  4. http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1149
  5. http://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-ber

    Lumrahnya dengan semakin banyak membaca maka semakin banyak informasi yang didapat, semakin pintar. Tapi itu kan kalau dilihat dari sisi yang sangat ideal. Tanpa memperhatikan adanya leakage memory, ingatan-ingatan yang menghilang seiring waktu dan ketidakterlatihannya. Karena seperti layaknya otot tubuh, sebenarnya otak juga dapat dilatih untuk mengingat. Ingatan yang ada dalam otak terjadi karena adanya hubungan antar neuron yang membentuk synapse, di mana neurotransmitter saling berinteraksi dan berkomunikasi layaknya dua orang yang sedang bertelepon [1]. Dengan semakin sering mengingat tentang suatu hal, maka synapse dan hubungan antar neuron di titik yang mengingat hal tersebut akan semakin kuat. Walaupun tidak ada jaminan untuk itu, sebab kompleksitas otak manusia yang sangat rumit.

    Film Eternal Sunshine of The Spotless Mind [2] mengkhayalkan bagaimana kemajuan teknologi dapat memetakan ingatan-ingatan dalam otak seseorang dengan bantuan komputer. Diceritakan di sana tentang kisah Joel Barish (Jim Carrey) yang ingin melupakan Clementine (Kate Winslet) pasangannya. Joel mengunjungi klinik praktek ilegal yang menerima pasien yang ingatannya tentang sesuatu ingin dihilangkan. Si pasien dibius dan dipakaikan alat di kepalanya. Dan ketika si pasien tertidur, sang operator membidik titik-titik sinyal yang merepresentasikan tentang sesuatu itu dan menghapusnya dari peta otak yang terlihat di komputer. Seiring menghilangnya titik-titik sinyal tersebut, maka hilang pula ingatannya. Keadaan riilnya, synapse yang menyimpan ingatan tersebut diganggu sehingga tidak ada komunikasi antar neuron di titik tersebut.

    Belum lama saya melihat status FB teman saya, “Albert Einstein just using 6% of his brain,… dst.” Untuk memastikannya, saya tanyakan pada Google. Google memang tahu segalanya, dari informasi yang benar sampai yang sampah. Ada yang bilang bahwa Einstein menggunakan 10% kemampuan otaknya, ada juga yang bilang 30%, tapi yang saya percayai adalah pendapat seorang dokter yang menyangkal semua angka-angka tersebut. Dengan alasan, tidak ada metode yang jelas untuk mengukur daya guna dari otak si Einstein. Sangat masuk akal, karena otak juga merupakan organ yang bisa tumbuh dan berkembang, dan juga bisa mengalami penurunan kemampuan seiring bertambahnya usia. Jadi kalau memang mau diteliti, harus diteliti dari dia lahir sampai meninggal.

    Lalu bagaimana bisa dengan membaca, bukannya tambah pintar malah tambah bodoh? Mungkin lebih mudah dijelaskan dengan analagi air dan botol kosong. Diibaratkan botol ini adalah volume seluruh informasi mengenai suatu hal yang spesifik yang ada di alam raya, tentang fisika misalnya. Dan air adalah informasi-informasi tentang fisika. Lazimnya, apabila botol diisi air, maka ruang kosong di dalam botol itu semakin lama semakin berkurang. Jika dikembalikan pada keadaan riilnya, pengetahuan kita tentang fisika menjadi lebih banyak. Sedangkan hal yang tidak diketahui tentang fisika, semakin sedikit. Rasanya semakin pintar.

    Sekarang bayangkan botol itu adalah botol yang telah direkayasa, jika diisi air maka botol itu ikut membesar. Misalkan, volume awal botol adalah 2 liter dan telah terisi 200 ml. Ketika saya menambahkan 100 ml ke dalamnya, volume botol itu berubah menjadi 5 liter. Dan ketika saya tambahkan lagi 50 ml, volumenya membengkak hingga 10 liter misalnya. Jadi di awal kondisi, saya merasa telah menguasai 10% dari semua ilmu fisika. Dan kemudian saya membaca lagi. Ketika saya membaca, terkuak informasi-informasi baru yang ternyata ada di dunia fisika. Padahal sebelumnya saya tidak mengira hal itu ada di dunia fisika. Jadi berikutnya saya hanya merasa menguasai 6%-nya. Dan setelah membaca untuk yang berikutnya, saya malah merasa baru menguasai 3,5%-nya saja. Merasa semakin bodoh.

    Kalau boleh saya memiliki rasa iri tanpa dengki, maka rasa itu akan saya tujukan kepada tiga orang ini, Alm. Abdurrahman Wahid alias Gusdur, tokoh Raja yang ada di dalam novel Negeri 5 Menara, dan juga teman saya, panggil saja dia Kiky. Ke.sama-ahmad-fuadi-radioppidunia/

a semakin banyak informasi yang didapat, semakin pintar. Tapi itu kan kalau dilihat dari sisi yang sangat ideal. Tanpa memperhatikan adanya leakage memory, ingatan-ingatan yang menghilang seiring waktu dan ketidakterlatihannya. Karena seperti layaknya otot tubuh, sebenarnya otak juga dapat dilatih untuk mengingat. Ingatan yang ada dalam otak terjadi karena adanya hubungan antar neuron yang membentuk synapse, di mana neurotransmitter saling berinteraksi dan berkomunikasi layaknya dua orang yang sedang bertelepon [1]. Dengan semakin sering mengingat tentang suatu hal, maka synapse dan hubungan antar neuron di titik yang mengingat hal tersebut akan semakin kuat. Walaupun tidak ada jaminan untuk itu, sebab kompleksitas otak manusia yang sangat rumit.

Film Eternal Sunshine of The Spotless Mind [2] mengkhayalkan bagaimana kemajuan teknologi dapat memetakan ingatan-ingatan dalam otak seseorang dengan bantuan komputer. Diceritakan di sana tentang kisah Joel Barish (Jim Carrey) yang ingin melupakan Clementine (Kate Winslet) pasangannya. Joel mengunjungi klinik praktek ilegal yang menerima pasien yang ingatannya tentang sesuatu ingin dihilangkan. Si pasien dibius dan dipakaikan alat di kepalanya. Dan ketika si pasien tertidur, sang operator membidik titik-titik sinyal yang merepresentasikan tentang sesuatu itu dan menghapusnya dari peta otak yang terlihat di komputer. Seiring menghilangnya titik-titik sinyal tersebut, maka hilang pula ingatannya. Keadaan riilnya, synapse yang menyimpan ingatan tersebut diganggu sehingga tidak ada komunikasi antar neuron di titik tersebut.

Belum lama saya melihat status FB teman saya, “Albert Einstein just using 6% of his brain,… dst.” Untuk memastikannya, saya tanyakan pada Google. Google memang tahu segalanya, dari informasi yang benar sampai yang sampah. Ada yang bilang bahwa Einstein menggunakan 10% kemampuan otaknya, ada juga yang bilang 30%, tapi yang saya percayai adalah pendapat seorang dokter yang menyangkal semua angka-angka tersebut. Dengan alasan, tidak ada metode yang jelas untuk mengukur daya guna dari otak si Einstein. Sangat masuk akal, karena otak juga merupakan organ yang bisa tumbuh dan berkembang, dan juga bisa mengalami penurunan kemampuan seiring bertambahnya usia. Jadi kalau memang mau diteliti, harus diteliti dari dia lahir sampai meninggal.

Lalu bagaimana bisa dengan membaca, bukannya tambah pintar malah tambah bodoh? Mungkin lebih mudah dijelaskan dengan analagi air dan botol kosong. Diibaratkan botol ini adalah volume seluruh informasi mengenai suatu hal yang spesifik yang ada di alam raya, tentang fisika misalnya. Dan air adalah informasi-informasi tentang fisika. Lazimnya, apabila botol diisi air, maka ruang kosong di dalam botol itu semakin lama semakin berkurang. Jika dikembalikan pada keadaan riilnya, pengetahuan kita tentang fisika menjadi lebih banyak. Sedangkan hal yang tidak diketahui tentang fisika, semakin sedikit. Rasanya semakin pintar.

Sekarang bayangkan botol itu adalah botol yang telah direkayasa, jika diisi air maka botol itu ikut membesar. Misalkan, volume awal botol adalah 2 liter dan telah terisi 200 ml. Ketika saya menambahkan 100 ml ke dalamnya, volume botol itu berubah menjadi 5 liter. Dan ketika saya tambahkan lagi 50 ml, volumenya membengkak hingga 10 liter misalnya. Jadi di awal kondisi, saya merasa telah menguasai 10% dari semua ilmu fisika. Dan kemudian saya membaca lagi. Ketika saya membaca, terkuak informasi-informasi baru yang ternyata ada di dunia fisika. Padahal sebelumnya saya tidak mengira hal itu ada di dunia fisika. Jadi berikutnya saya hanya merasa menguasai 6%-nya. Dan setelah membaca untuk yang berikutnya, saya malah merasa baru menguasai 3,5%-nya saja. Merasa semakin bodoh.

Kalau boleh saya memiliki rasa iri tanpa dengki, maka rasa itu akan saya tujukan kepada tiga orang ini, Alm. Abdurrahman Wahid alias Gusdur, tokoh Raja yang ada di dalam novel Negeri 5 Menara, dan juga teman saya, panggil saja dia Kiky. Ke 

Nggak ada yang istimewa hari ini. Begitu juga empat tahun yang lalu di tanggal dan bulan yang sama. Saat demam blog lagi unyu2nya. Trend blogging waktu itu masih meningkat, walaupun sebenarnya sudah lama muncul ke permukaan. Seiring dengan membaiknya akses internet di Indonesia, bermunculanlah blog-blog pribadi sebagai ajang eksis (kalau tidak mau dikatakan narsis, tapi memang eksis dan narsis hanya beda tipis) di dunia maya. Social media seperti facebook dan twitter masih belum setenar sekarang. WordPress dan Blogspot menjadi platform yang mainstream untuk nge-blog. Dan setelah ditimbang-timbang dan dicoba-coba dengan segala kelebihan dan kekurangan dari masing-masing platform, akhirnya saya memilih WordPress sebagai CMS blog saya. Sampai saat ini.

Waktu itu saya memang lagi nganggur2nya, kelar Tugas Akhir dan lagi nunggu wisudaan. Jadi lah, blog sebagai sarana pelampiasan. Dengan motto “I share coz I care” alias pamer, saya coba menulis apa-apa yang terjadi di sekitar saya. Apa-apa yang saya pikir, saya lihat, saya dengar, saya makan, dan saya jalani, saya tulis di diary virtual ini. Lucu juga ketika ngeliat ke belakang, tulisan-tulisan tanpa konsistensi. Kadang sok formal, kadang sok gaul. Kadang sok serius, kadang sok main2. Tapi terus terang, sampai saat ini saya masih belum nemuin gaya tulisan saya. Karena kalau mau ditelusuri, sebenarnya saya terlalu mudah terpengaruh orang lain. Misalnya habis baca novel, maka tulisan saya bergaya layaknya novelis. Atau ketika menuntaskan tulisan bergaya opini dengan argumentasi kuat, maka tulisan saya terbawa seperti itu.

Dari segi konten, beberapa tulisan yang menurut saya tidak relevan atau basi, saya hapus. Kategorinya juga saya tambah-kurangi. Mengikuti apa yang saya pikirkan saat itu. Sedangkan dari segi desainnya sendiri, saya juga masih suka ganti2. Pengen bikin minimalis nan manis, tapi skill masih kurang. Jadi biasanya cuma ngutak-atik PHP sama CSS-nya aja. Itu pun cuma pindah2in letak dan minor editing. Tapi hasilnya lumayanlah, saya jadi belajar sedikit2 backend-nya website. Pun sampai sekarang, saya masih kurang sreg dengan tampilan yang ada.

Bagaimana dengan komentar dan popularitas? Dulu, saya pikir kayaknya seru juga kalau punya banyak pengunjung. Saling balas komen, berbalas kunjungan, dan berlanjut ke kopi darat. Saya pun rajin blogwalking dan meninggalkan jejak, berharap blog saya dikunjungi balik. Tak ada yang gratis di dunia, semua ada “take and give”-nya. Tapi ternyata capek juga berlaku seperti itu. Dan akhirnya, saya berhenti melakukan aktivitas yang tak ikhlas seperti itu. Saya hanya meninggalkan jejak, kalau memang benar2 ingin komen dan nggak bisa ditahan. Karena sebenarnya hasrat komen itu selalu ada, cuma sering saya tahan. Pernah juga mengikutkan blog ini untuk lomba. Namun hasilnya, nggak pernah ada yang nyangkut sebagai juara. Bukannya saya menyerah, tapi saya memang tidak bisa menulis dengan niat mencari hadiah.

Dan pada akhirnya, saya tidak ingin mencari apa-apa lagi dari blog ini. Selain sebagai sarana buat saya untuk belajar menulis, ditambah sedikit2 pamer dan ajang narsis.

isahkan dari nama benda atau nama tempat itu. Contoh:

  1. Teman saya membalas twitter temannya di kamar mandi.
  2. Kertas itu tertumpuk di meja.

Sedangkan ‘di’ sebagai imbuhan, cara menggunakannya adalah dengan menyambungkannya dengan kata yang diimbuhi. Contoh:

  1. Teman saya ditampar pacarnya.
  2. Mobil itu ditabrak sepeda.

Mudah sebenarnya untuk memeriksa apakah ‘di’ itu seharusnya disambung atau dipisah. Caranya dengan mengubah kalimat itu menjadi bahasa Inggris. ‘Di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dalam bahasa Inggris akan terpisah dengan sendirinya karena berubah menjadi ‘in’, ‘on’, atau ‘at’. Sedangkan ‘ 

Saya juga heran, giliran ada jadwal fitness, saya malah bisa ngelawan rasa malas di pagi hari. Padahal kalau nggak ada jadwal itu biasanya saya lebih milih menarik lagi selimut dan membetulkan posisi tidur senyaman mungkin. Agak di luar perkiraan, karena sebelum-sebelumnya konsistensi cuma mampir sekitar 2 mingguan. Sedangkan sebulan belakangan ini, saya cukup bisa konsisten 2-3 kali ke gym dalam seminggu. Tiga kali kalau rencana seminggu berjalan lancar, dan dua kali kalo memang ada hal-hal yang terjadi di luar perencanaan. Dengan lama exercise 1,5-2 jam. Hasilnya cukup terasa. Badan jadi lebih tahan dingin dan nggak gampang lemes. Berat badan juga berkurang +3 kg, masuk zona normal weight BMI walaupun masih di batas atas. Efek yang terakhir ini sebenarnya terbantu dengan program diet kantong secara ketat.

Menjaga konsistensi ternyata lebih mudah selama memiliki motivasi. Dan motivasi saya bukan cuma satu, ada beberapa. Ibarat lidi, sebatang lidi lebih mudah patah daripada seikat bukan? Motivasi pertama, saya nggak boleh sakit dalam beberapa bulan ke depan. I need to be fit. Ada segunung kerjaan di depan siap diselesaikan dengan waktu yang terbatas. Kedua, cukup banyak teman yang mengeluhkan bahwa perutnya mulai maju. Ada yang menghibur diri dengan berkilah bahwa kemajuan perut sebanding dengan kemajuan karir. Agak berbeda dengan saya yang kemajuan perut tidak ada hubungannya dengan karir. Jadi sebenernya saya takut kalo perut ini dibiarkan begitu saja tanpa dilatih dan dikeluarkan lemaknya, maka akan semakin maju tak terkendali. Takutnya nanti kalau kembali ke Indonesia untuk fitting baju, akan susah dapat ukuran yang pas. Motivasi ketiga adalah karena saya nggak mau rugi setelah membayar keanggotaan untuk 6 bulan. Masih ada 5 bulan kurang lagi.

Sambil latihan, saya suka memperhatikan tingkah orang-orang yang datang ke sana. Banyak macamnya. Ada yang bookaholic yang mana orang-orang ini adalah kutu buku sejati. Sambil exercise masih aja baca buku. Biasanya para bookaholic ini kelihatannya lebih serius membacanya daripada olahraganya. Ada juga yang memang datang untuk menjaga stamina. Terutama yang saya perhatikan adalah para atlet kampus dan mereka-mereka yang benar-benar care dengan vitalitas tubuhnya. Tentu ada juga bodybuilder-bodybuilder sejati yang datang untuk membentuk otot-otot tubuhnya. They really work out there. Ada juga pemula yang sekedar coba-coba, dan ada juga yang TP-TP. Dan tentu saja ada tipe-tipe yang datang musiman karena membawa misi khusus, seperti saya.

Biasanya saya memulai dengan treadmill. Waktunya sekitar 30-50 menit dengan kecepatan rendah sekitar 6 km/h. Menyesuaikan dengan program “loss weight” yang ada di treadmill. Gym di kampus memiliki beberapa jenis treadmill, biasanya saya memilih yang lebih cepat dan lebih banyak mengonsumsi kalori. Dan ternyata waktu berputar lebih lambat di atas treadmill. Beberapa kali saya sempat mencoba bermain sudoku di atas treadmill. Susah, saya baru berhasil 2 kali menyelesaikan sudoku di atas treadmill. Selanjutnya saya menyicipi alat-alat lain yang ada di sana. Untuk saat ini prioritasnya adalah alat-alat yang dapat melatih otot perut. Setelah selesai dengan itu semua, terakhir saya lanjutkan dengan alat cycling selama 20-30 menit atau berlari ringan lagi di treadmill.

Nggak tau juga apakah prosedur yang selama ini saya lakukan sudah benar atau belum. Karena pada dasarnya memang cuma bermodal sotoy dan coba-coba.

, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrss2011 2 22 16 22 43 1 53 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 wfw_commentrss typeb 

Awal kedatangannya ke AC Milan sebagai suksesor Leonardo, saya sangat sangsi kalau dia bisa mengembalikan performa Milan ke level tertinggi. Allegri memang tergolong “cukup” memiliki pengalaman sebagai pelatih, namun minus pengalaman sebagai caretaker tim papan atas. Tim terbaik yang pernah dibesutnya hanya sekelas Cagliari. Jadi keraguan saya sebenarnya cukup beralasan. Namun setelah melihat performa AC Milan di separuh musim ini, saya puas. Allegri memberi warna yang berbeda dengan pelatih-pelatih Milan sebelumnya, Leonardo dan Ancelotti. Yang menyenangkan dari Allegri adalah dia sanggup memberi kepercayaan pada pemain-pemain muda. Karena masalah yang diderita Milan selama beberapa musim ke belakang tidak lepas dari umur pemain-pemain tumpuannya yang bisa dibilang mendekati masa-masa uzur.

Meski memang posisi pemain inti masih dipegang pemain-pemain senior, tapi dia kerap memasukkan beberapa pemain mudanya. Merkel, Emanuelson, dan Strasser adalah nama-nama yang agak asing namun kerap menjadi penyegar di lapangan tengah selain ada juga Boateng dan Flamini yang namanya lebih familiar di telinga. Lapangan tengah tidak melulu menjadi tempat buat Gattuso, Pirlo, Seedorf, Ambrosini, atau pemain jangkar baru berpengalaman, Van Bommel. Lini belakang juga lebih segar dengan masuknya Tiago Silva dan Abate. Walau memang di lini belakang ini pemain uzurnya bisa dibilang paling seabrek termasuk posisi penjaga gawang. Tanpa mengabaikan kondisi lini depan, tentunya semua setuju kalau Milan (hampir) punya segalanya di sana.

Kelebihan Allegri lainnya, ia cukup jeli melakukan rotasi dan juga mengutak-atik taktik. Pakem formasi 4-3-3 yang diterapkan cukup solid untuk menyerang sekaligus bertahan. Formasi ini memang sepertinya menjadi idola di berbagai klub Eropa belakangan ini, menyingkirkan formasi 4-4-2 yang sebelumnya lazim digunakan. Saya cukup kaget dengan starting line-up Milan ketika melawan Tottenham Hotspur di leg kedua Piala Champion kemarin. Mengatasi absennya Van Bommel dan Pirlo sebagai deep-playmaker, Allegri mempercayakan peran itu pada Seedorf. Hasilnya sama sekali not bad, Seedorf mampu dengan baik mengalirkan serangan dari tengah. Memang sudah nasib saja jika akhirnya langkah Milan harus terhenti di babak perdelapan final. Setidaknya Milan masih berpeluang merebut Scudetto dan Coppa Italia di musim ini.

Forza Milan!

diri untuk menggabungkan diri dengan mereka, karena hanya dengan begitu lah saya bisa bertemu dengan teman-teman yang mempunyai ketertarikan yang sama, dan tentunya dengan tujuan untuk membangun Indonesia. Itulah alasan saya bergabung dengan radioppidunia.

Alasan saya yang lain bergabung dengan Radio PPI Dunia adalah, saya juga ingin belajar bagaimana cara menyampaikan ide, pemikiran, dan informasi dengan baik kepada khalayak umum. Karena terus terang, saya agak kesulitan kalo disuruh berpidato, atau berbicara di depan umum.

Sekilas tentang Radio PPI Dunia, radio ini dijalankan 24 jam sehari 7 hari seminggu. Pendengar bisa mendengarkan radioppidunia melalui website www.radioppidunia.com. Radio PPI Dunia memang sedikit berbeda dengan radio frekuensi yang sudah ada selama ini, radioppidunia menggunakan internet sebagai media utamanya atau yang dikenal dengan radio streaming. Pendengar pun bisa bersilaturahmi dengan teman-teman Indonesia yang sedang tinggal di berbagai negara lewat fasilitas Chatbox yang ada di website tersebut. Kita harus berterimakasih pada teknologi yang membuat semuanya ini mungkin terjadi. Yang membuat informasi dapat disebarluaskan kapan saja di mana saja.

Hal yang menarik lainnya dari radioppidunia adalah konsep yang mereka buat. Edukatif, Informatif, dan Entertaining. Edukatif… Ya karena selain kru2nya tersebar dari 5 benua, background keilmuastringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 id typehttp://blog.dzaia-bsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 id typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310

Biasanya istilah ngabuburit dipakai orang-orang sebagai kegiatan menunggu waktu beduk magrib. Untuk kasus saya kali ini berbeda. Saya lagi menunggu waktu sahur yang akan datang sekitar 1,5 jam lagi. Jam 3 pagi saya bersama Bapak akan pergi ke warung gudeg ceker yang ada di kota Surakarta. Maaf, tidak akan ada laporan pandangan mata ataupun pandangan rasa. Soalnya nanti sampeyan ngiler-ngiler waktu baca tulisan ini di saat puasa.

Walaupun bisa berinternetan, tapi sungguh, internet di sini sungguh-sungguh menguji kesabaran. Tapi syukurlah, karena saya lagi sedang ingin mengurangi dosis berinternet. Sekedar pamer, entah berapa belas biji duren bergantian memasuki rongga mulut saya yang menguliti daging buah dari bijinya. Dan saya malah merasa mabuk internet daripada mabuk duren. Untuk beberapa hari ke depan saya nggak tahu masih bisa berinternet lagi atau tidak, karena di rumah Kakek tidak ada koneksinya. Eh, ada sih, telkomnet instan (masih ada nggak ya? Haha). Pilihan lain, kalau mau harus berjalan beberapa tapak keluar rumah dan singgah di warnet.

Susah. Kalau mau hiatus tapi setengah-setengah ya gini jadinya. Saya malah bawa kertas tugas yang rencananya dulu isinya mau saya pindahkan di blog supaya dibaca orang. Tugas dari mata kuliah yang nggak ada ujiannya, cuma ngerjain tugas 4 biji dan voila, 90 di tangan. Pertama untuk sharing, karena saya rasa isinya cukup lumayan menambah wawasan. Kedua, karena agar target setiap-bulan-minimal-4-post terpenuhi.

Akan ada empat tulisan, isinya tentang teknologinya Taiwan. Tentu dalam bahasa Inggris. Tapi tenang, kata-katanya nggak akan susah-susah. Malah cenderung memalukan karena grammar and vocab limitation saya.

stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 title typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 authorJakarta, Delapan Harihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 title4http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 idHopefully that you might went wrong in guessing what I would talk. It is not about how to choose the best between the bads. Like for example, there is a condition when I must choose a girl who will be my future wife, and that condition does not let me say no. The choices are between [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/surat-untuk-nenek/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/surat-untuk-nenek/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/lentera-ide-ppi-taiwan-the-story-behind/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335http://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 linkWa di mana? Hmmm… saya ngerasa dapet kepercayaan yang luar biasa dari si Prof. Kepercayaan buat meng-handle sebuah kerjaan yang akan memakan biaya yang nggak sedikit, padahal masih tingkat master. Kesempatan yang mungkin hanya akan saya rasakan sekali seumur hidup untuk bisa mendesain sesuatu dari nothing menjadi something. Pengalaman yang didapat juga pasti akan berlipat-lipat daripada hanya melakukan simulasi di depan komputer. Tantangannya memang tinggi, tapi sebanding dengan hasil yang didapat nantinya. Selain itu, paling tidak hal ini bisa menghapus kekhawatiran saya di meja sidang. Saya agak trauma dengan skripsi saya yang juga berupa simulasi. Saat itu salah satu dosen penguji mengkritik saya yang cuma bisa menggunakan software tanpa memahami teori yang ada dibaliknya. Simulasi belum bisa menjamin bahwa desain kita baik. Jadi jika memang nanti berhasil diproduksi, ada kepuasan batin yang terpenuhi. Ah, pasti luar biasa.

Dilemanya adalah, saya takut mengecewakan ortu lagi dengan menunda-nunda kelulusan. Di sisi lain, saya juga nggak mau menyia2kan kepercayaan dari si Prof.

collect the abstract proposal in the beginning of May. (Indonesian mode : ON; takut kalo2 suatu saat dibaca sama lab mate atau bahkan sama si Prof). Mungkin perlu saya beritahu dulu topik dari thesis saya. Jadi ceritanya si Prof lagi tertarik membuat CMOS sensor. Para pecinta fotografi mungkin tau apa itu CMOS sensor. Sekilas saja, kamera digital saat ini didominasi oleh 2 teknologi sensor, CCD dan CMOS. Hal ini bisa diperhatikan pada data spesifikasi kamera di bagian jenis sensor. CCD adalah teknologi sensor yang lebih dulu ada, sedangkan CMOS baru muncul di awal-awal 1990-an. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, dan karena itulah keduanya masih dipakai sampai sekarang.

Nah, karena dulu saya datang ke Taiwan tanpa persiapan apa2, maksudnya saya tidak punya proposal research yang bisa ditawarkan kepada Prof, maka saya menyerahkan keputusan mengenai topik thesis ini kepada beliau. Awalnya dia ingin membuat sesuatu dengan OLED (Organic LED), namun karena topik itu bukan spesialisasinya dan saat itu saya juga mentok, maka akhirnya topik thesis saya berubah. Saya diminta membuat desain CMOS sensor. Terus terang saya bengong dong dikasih topik susah begitu, tapi saya nggak mau menolak karena topik ini juga cukup menarik buat saya. Singkat cerita, saya belajar sedikit demi sedikit tentang topik ini. Yang kebayang, kerjaan saya akan selesai hingga tahap simulasi. Tapi ternyata, lab meeting terakhir hari Rabu kemarin merubah bayangan saya selama ini…

Rabu kemarin saya dapat jatah presentasi progress. Lupa tepatnya, apakah di tengah-tengah atau di akhir presentasi saya, si Prof berdikusi dengan lab mate yang lain dalam bahasa yang nggak saya mengerti. Di akhir obrolannya itu, dia bilang ke saya yang pada intinya dia mau membuat proto-type dari desain yang lagi saya kerjain. Dan dia nggak peduli berapapun uang yang perlu dikeluarkan untuk membuat sensor yang terbaik. Kaget, senang, bingung, sedih, campur baur. Perasaannya nggak bisa diungkapkan dengan kata2.

Banyak hal yang bikin saya senang, dan ada juga yang mengganjal apabila saya mengiyakan permintaan si Prof. Mungkin sedihnya dulu kali ya. Dengan meneruskan topik ini hingga tahap pembuatan proto-type atau fabrikasi artinya, saya hampir nggak mungkin lulus di semester ini. Karena sekarang saja saya baru mempelajari software simulasinya, dan desainnya sendiri belum jadi. Estimasi saya, desain dan simulasi ini baru akan selesai di bulan Juni. Jadi di bulan Juli bisa fokus pada penulisan dan persiapan sidang. Berarti kan kalau sampai fabrikasi, butuh waktu lagi. Dan tingkat kerumitannya juga bertambah berkali-kali lipat. Tau sendiri kan kalo elektronik itu sering banyak “hantu”-nya. Maksudnya, pasti selalu saja ada faktor-X yang membuat si devais bekerja sedikit menyimpang dari yang diharapkan. Intinya, paling nggak harus nambah 2-3 bulan lagi untuk menyelesaikan masa fabrikasinya.

Lalu benefitnyu nggak dengan kamera saya. Saya kasih batas waktu kalo memang masih berminat, tapi kalo nggak ya nggak apa-apa juga. Sampai batas waktunya lewat, email saya nggak dibalas, jadi saya anggap deal yang dulu disepakati sudah nggak berlaku lagi. Rencana sedikit saya ubah, 2 jalur penjualan saya tutup sementara dan memastikan dulu supaya barangnya sampai di Indonesia. Setelah mencari beberapa alternatif kemungkinan menggunakan jasa pengiriman barang yang semurah mungkin, akhirnya ada teman lain yang bisa dititipi. Lebih tepatnya, temannya teman yang adalah pilot di maskapai penerbangan berinisial CI. Tapi yang membuat sedikit gelisah adalah waktu pengirimannya yang melewati perkiraan waktu habisnya uang saku. Suka nggak suka, di bulan Maret saya harus me-manage pengeluaran supaya lebih efisien lagi.

Dunia dagang nggak seperti ilmu pasti. Bisa diprediksi, tapi tetap didominasi dengan ketidakpastian di sana. Sulit memprediksi kapan bertemunya penawaran dan permintaan. So, I prepared for the worst case. Katakanlah kamera itu akan laku di minggu akhir bulan Maret. Dengan sisa uang sekitar 3000-an di awal bulan Maret, berarti maksimal pengeluaran per hari tidak boleh lebih 100元. Sebagai gambaran untuk sekali makan dengan menu gizi seimbang di dalam kampus rata-rata diperlukan 50-70元, sedangkan kalo makan di luar memerlukan sekitar 80-100元. Strategi saya ada kembali bersahabat dengan mie instan dan makanan kaleng, 2 hal yang sebenarnya saya hindari. Tapi nggak terlalu sering juga. Untuk mie instan (50元 dapet 6) misalnya, dikonsumsi sekali dalam 5 hari. Sedangkan untuk mackarel (32元/kaleng di toserba kampus, 39元/kaleng di Welcome), 2 kaleng per minggu yang mana 1 kalengnya bisa untuk 2 kali makan. Sedangkan margin kelebihannya bisa digunakan untuk membeli buah atau cemilan.

Kembali lagi ke masalah kamera. Di sepertiga bulan Maret, akhirnya si kamera tiba di Indonesia. Dan saya harus melibatkan ibu saya (sorry Mom) dan beberapa orang untuk menjemput kamera itu ke rumah. I hate to bother anyone, but I needed someone who really can be trusted, and who else besides your family? Setelah kamera sudah dipastikan sampai di rumah, lapak jualan kembali saya buka. Tapi kali ini cuma yang di kaskus aja yang saya buka karena dari pengalaman sebelumnya permintaan di lapak bursa tidak begitu signifikan. Sehari, 2 hari, 3 hari, 4 hari, lapak jualan sepi peminat. Jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah tangan, itu pun kayaknya nggak ada yang serius nawarnya. Harga yang ditawar masih terlalu rendah. Keadaan semakin meresahkan seiring menipisnya isi dompet. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya bisa mendapatkan uang buat survive di bulan berikutnya bila the worst of the worst will happen, i.e. kameranya nggak laku.

Di hari ke-5 akhirnya saya buka lagi lapak baru di bursa. Bedanya dengan lapak sebelumnya, saya tambahkan kontak email di sana. Saya nggak terlalu berharap banyak. Paling responnya mirip seperti sebelum-sebelumnya. But such the love that moves in mysterious way, so does the life. When God put interventions in our life, impossible is nothing. Dalam 2 hari setelah lapak dibuka, masalah berikutnya muncul. Saya bingung menentukan kepada siapa kamera saya akan dijual karena email saya cukup kebanjiran peminat. Sempat dilema juga karena terkadang saya bingung apakah posisi penjual yang lebih kuat, atau pembeli yang lebih kuat. Sebagai penjual tentu saya menginginkan harga jual setinggi mungkin, berkebalikan dengan si pembeli. Di sini saya beranggapan posisi saya cukup kuat karena si pembeli menginginkan barang yang saya jual. Di sisi lain, dengan menetapkan harga tinggi maka para pembeli akan kabur. Menunjukkan titik lemah sebagai penjual.

Pelajaran yang saya dapat dari proses tersebut rasanya cukup berharga. Contoh kasusnya begini, saya menetapkan harga jual 1000 dan dari awal saya menyatakan membuka negosiasi. Jadi harga yang sebenarnya saya inginkan katakanlah 900. Suatu saat datanglah penawar pertama, yang pada akhirnya dia setuju dengan harga nett 900 ya

Lately my blog seems really boring, isn’t it? No more photos and videos. Well, right now I kinda feel like what Mr.Anang says in his song which is titled “Separuh Jiwaku Pergi.” Not so that a part of my soul, actually. But yeah, I feel incomplete. I’m missing something that belong together for such quite long time. We always shared our journeys and stories. But then, it had to go to its new Master in the name of sacrifice.

Hampir 3 bulan sejak saya mencoba menantang diri sendiri. Sampai saat ini hasilnya bisa dibilang cukup berhasil, walau nggak semulus yang dibayangin. Di bulan Januari lalu saya memutuskan untuk berhenti menerima uang saku dari ortu buat membiayai biaya hidup selama di Taiwan. Padahal waktu itu kondisi keuangan saya cukup kritis. Setelah dikurangi untuk membayar SPP di semester yang baru, sisa uang yang saya pegang kira-kira hanya cukup untuk 1-2 bulan. Hasil perhitungan saya, dengan menggunakan rata-rata pengeluaran rutin yang biasa saya keluarkan per bulan, maka uang itu cuma cukup sampai akhir Februari atau awal Maret. Buat mengatasi hal itu tentunya saya sudah menyiapkan rencana. Plan A-nya mencari part-time job, sedangkan plan cadangannya adalah dengan merelakan kamera kesayangan.

Plan A ternyata tidak berjalan mulus. Kebanyakan part-time job di Taipei memerlukan penguasaan bahasa Mandarin yang lancar. Pernah sih suatu saat saya nemuin restoran yang nggak terlalu mentingin bahasa Mandarin, tapi memang kalo bisa ya lebih baik. Restoran itu salah satu restoran halal yang ada di Taipei. Lokasinya juga nggak jauh dari kampus, sekitar 10 menitan naik sepeda. Sayangnya, kalah cepat. Waktu nanya ke owner-nya, dia bilang baru aja dia dapat pegawai baru. Padahal saya udah ngebayangin bisa dapet fasilitas makan gratis kalo jadi pegawai di sana, dan gajinya bisa buat saving. Rata-rata part time job di resto Taipei sekitar 95元/jam (1元 = +/- Rp 300), dan biasanya per shift-nya sekitar 4-5 jam per hari. MOS Burger atau McD deket kampus biasanya sering buka tuh. Tapi ya itu tadi, kendala di bahasa. Tapi saya nggak begitu khawatir karena plan A ini memang coba-coba. Kalo dapet syukur, kalo nggak ya juga nggak apa-apa.

Secara plan A nggak berjalan lancar, plan B terpaksa dieksekusi. Plan B ini sebenarnya memang rencana utama, karena saya yakin kemungkinan keberhasilannya akan cukup besar. Jadi kamera Nikon D90 yang dipingit 2 tahun yang lalu di toko kamera di dekat MRT Zhishan, mau nggak mau harus dipindahtangan alias dijual. Saya buka 2 jalur penjualan yang memang jamak dipakai buat ajang jual-beli kamera secara online yaitu, forum kaskus.us dan juga bursa.fotografer.net. Di bursa.fotografer kita nggak bisa bikin lapak jualan sebelum poin kita di fotografer.net sampai angka 300. Jadi di bulan Januari kemarin saya rajin ngasih komen di sana dan upload beberapa foto yang kira-kira bisa naikin poin lebih cepat. Perbandingan kedua jalur tersebut, respon dari kaskus di awal-awal sangat bagus. Banyak yang langsung nawar baik lewat japri atau posting di threadnya. Sedangkan dari bursa, responnya kurang cepat dan nggak banyak.

Untuk transaksinya saya nawarin 2 metode pembayaran, COD (Cash on Delivery) atau transfer rekening (barang dianter lewat jasa pengiriman). Untuk transfer rekening ini, di kaskus bisa menggunakan metode Rekber (rekening bersama). Hingga suatu saat di awal bulan Februari, habis bernegosiasi dengan beberapa orang, akhirnya tercapai juga deal dengan seorang pembeli potensial. Namun bukan berarti urusan selesai sampai di situ. Masalahnya adalah, barang jualan masih ada di Taiwan sedangkan transaksinya di Indonesia. Jadi mau nggak mau saya ngasih catatan di thread-nya bahwa barang baru bisa dianter pertengahan bulan Februari, setelah barangnya saya titipin ke teman yang mau balik ke Jakarta. Hingga sampai hampir saatnya tiba, ternyata teman saya nggak jadi balik ke Jakarta. O yeah…

Saya minta maaf ke calon pembeli itu lewat email bahwa barangnya belom bisa dikirim dan sekalian tanya apakah masih berminat ata"http://blog.dzaia-bs.com/smilies/yahoo_smiley.gif" alt=":)" class="wp-smiley" width="18" height="18" title=":)" />

in his song which is titled “Separuh Jiwaku Pergi.” Not so that a part of my soul, actually. But yeah, I feel incomplete. I’m missing something that belong together for such quite long time. We always shared our journeys and stories. But then, it had to go to its new Master in the name of sacrifice.

Hampir 3 bulan sejak saya mencoba menantang diri sendiri. Sampai saat ini hasilnya bisa dibilang cukup berhasil, walau nggak semulus yang dibayangin. Di bulan Januari lalu saya memutuskan untuk berhenti menerima uang saku dari ortu buat membiayai biaya hidup selama di Taiwan. Padahal waktu itu kondisi keuangan saya cukup kritis. Setelah dikurangi untuk membayar SPP di semester yang baru, sisa uang yang saya pegang kira-kira hanya cukup untuk 1-2 bulan. Hasil perhitungan saya, dengan menggunakan rata-rata pengeluaran rutin yang biasa saya keluarkan per bulan, maka uang itu cuma cukup sampai akhir Februari atau awal Maret. Buat mengatasi hal itu tentunya saya sudah menyiapkan rencana. Plan A-nya mencari part-time job, sedangkan plan cadangannya adalah dengan merelakan kamera kesayangan.

Plan A ternyata tidak berjalan mulus. Kebanyakan part-time job di Taipei memerlukan penguasaan bahasa Mandarin yang lancar. Pernah sih suatu saat saya nemuin restoran yang nggak terlalu mentingin bahasa Mandarin, tapi memang kalo bisa ya lebih baik. Restoran itu salah satu restoran halal yang ada di Taipei. Lokasinya juga nggak jauh dari kampus, sekitar 10 menitan naik sepeda. Sayangnya, kalah cepat. Waktu nanya ke owner-nya, dia bilang baru aja dia dapat pegawai baru. Padahal saya udah ngebayangin bisa dapet fasilitas makan gratis kalo jadi pegawai di sana, dan gajinya bisa buat saving. Rata-rata part time job di resto Taipei sekitar 95元/jam (1元 = +/- Rp 300), dan biasanya per shift-nya sekitar 4-5 jam per hari. MOS Burger atau McD deket kampus biasanya sering buka tuh. Tapi ya itu tadi, kendala di bahasa. Tapi saya nggak begitu khawatir karena plan A ini memang coba-coba. Kalo dapet syukur, kalo nggak ya juga nggak apa-apa.

Secara plan A nggak berjalan lancar, plan B terpaksa dieksekusi. Plan B ini sebenarnya memang rencana utama, karena saya yakin kemungkinan keberhasilannya akan cukup besar. Jadi kamera Nikon D90 yang dipingit 2 tahun yang lalu di toko kamera di dekat MRT Zhishan, mau nggak mau harus dipindahtangan alias dijual. Saya buka 2 jalur penjualan yang memang jamak dipakai buat ajang jual-beli kamera secara online yaitu, forum kaskus.us dan juga bursa.fotografer.net. Di bursa.fotografer kita nggak bisa bikin lapak jualan sebelum poin kita di fotografer.net sampai angka 300. Jadi di bulan Januari kemarin saya rajin ngasih komen di sana dan upload beberapa foto yang kira-kira bisa naikin poin lebih cepat. Perbandingan kedua jalur tersebut, respon dari kaskus di awal-awal sangat bagus. Banyak yang langsung nawar baik lewat japri atau posting di threadnya. Sedangkan dari bursa, responnya kurang cepat dan nggak banyak.

Untuk transaksinya saya nawarin 2 metode pembayaran, COD (Cash on Delivery) atau transfer rekening (barang dianter lewat jasa pengiriman). Untuk transfer rekening ini, di kaskus bisa menggunakan metode Rekber (rekening bersama). Hingga suatu saat di awal bulan Februari, habis bernegosiasi dengan beberapa orang, akhirnya tercapai juga deal dengan seorang pembeli potensial. Namun bukan berarti urusan selesai sampai di situ. Masalahnya adalah, barang jualan masih ada di Taiwan sedangkan transaksinya di Indonesia. Jadi mau nggak mau saya ngasih catatan di thread-nya bahwa barang baru bisa dianter pertengahan bulan Februari, setelah barangnya saya titipin ke teman yang mau balik ke Jakarta. Hingga sampai hampir saatnya tiba, ternyata teman saya nggak jadi balik ke Jakarta. O yeah…

Saya minta maaf ke calon pembeli itu lewat email bahwa barangnya belom bisa dikirim dan sekalian tanya apakah masih berminat ata

Kalimat ini baru saya dengar sewaktu mengikuti workshop kecil di kampus tentang bagaimana cara menulis introduction yang baik untuk sebuah paper atau proposal. Menurut sang pembicara saat itu, kata-kata ini berasal dari seorang filsuf Yunani yang terkenal dengan teori matematikanya tentang segitiga, Pythagoras. Menurut sumber yang lain, Pythagoras tidak mengatakannya persis demikian. Melainkan dia berkata, “The beginning is half of everything.” Intinya sih sama saja, permulaan adalah setengah dari semuanya, dari garis finish yang ingin kita tempuh. Dan karena yang mengatakan ini adalah seorang filsuf dan juga seorang matematikawan, rasanya sulit buat mengelak atau menyangkal pernyataan dia. Sebaliknya, yang saya rasakan dalam beberapa hari belakangan ini malah sangat sejalan. Dengan sisi yang agak sedikit berbeda, saya punya pandangan tersendiri tentang hal ini.

Dalam sebuah proses mencapai suatu tujuan, setelah melalui jalinan perenungan dan pemikiran panjang, saya merasa ada dua tembok besar yang siap menghadang kita. Tembok yang pertama adalah langkah awal, dan tembok kedua adalah pertengahan jalan. Salah satu contoh, hal ini sering saya rasakan di atas treadmill. Ketika tombol start sudah ditekan, maka mesin akan terus menyala sampai instruksi yang sudah disetel tadi selesai dieksekusi. Mau nggak mau menuntut kaki untuk terus berlari sampai treadmill itu berhenti. Tombol stop memang tersedia dan bisa ditekan sewaktu-waktu, namun saya menganggapnya sebagai “the button for the loser” yang kalau ditekan sebelum mesin berhenti maka saya akan mengecap diri saya sebagai pecundang.

Atau misalkan seorang petinju. Maka ketika ia sudah masuk ke dalam ring tinju, tidak ada pilihan lain selain bertanding. Begitu juga seorang pembalap yang telah memasuki lintasan balap, kesebelasan yang telah memasuki lapangan pertandingan, atau matador yang telah memasuki arena, tidak ada pilihan selain menuntaskan pertandingan dan permainan hingga usai jika tidak ingin disebut pecundang. Kita bisa mencontoh Rafael Nadal tentang bagaimana menjadi juara sesungguhnya. Nadal lebih memilih tetap bertanding hingga akhir walau terpincang-pincang dan tidak mungkin menang sewaktu menghadapi Andy Murray di sebuah pertandingan final di Belanda, daripada harus menyatakan menyerah kalah pada wasit. Padahal menyerah karena cedera adalah suatu hal yang bisa dimaklumi. Maka dalam hal ini, the winner is not always about who wins the game, melainkan tentang siapa yang bisa bertahan hingga akhir dan telah memberikan yang terbaik.

Keadaan-keadaan di atas sesungguhnya belum benar-benar membuat pemainnya tidak punya pilihan, karena pintu keluar selalu terbuka. Tapi karena contoh-contoh di atas adalah olahragawan yang punya jiwa sportivitas tinggi dan keinginan untuk menang, maka jarang ditemui yang memilih menyerah sebelum bertanding. Cerita heroik Tariq bin Ziyad mungkin merupakan cerita yang bisa menginspirasi kita tentang bagaimana caranya mengeluarkan semua kekuatan terpendam untuk memenangkan sebuah peperangan. Tariq bin Ziyad benar-benar menghilangkan pilihan untuk menyerah dengan membakar habis kapalnya yang merupakan satu-satunya jalan keluar yang bisa ditempuh apabila mengalami kekalahan. Tidak ada pilihan selain hidup dan berjuang, atau mati fi sabilillah.

Kok, jadi agak ngelantur ya. Jadi pada intinya, ketika kita punya keinginan, cita-cita, atau tujuan yang sangat-sangat besar, maka segeralah lakukan langkah awal. Segera masuki ring tinju, lintasan balap, lapangan bola, dan arena pertandingan. Segera basah dan lanjutkan pesan dari Meggy Z dalam lagu ‘Terlanjur Basah’. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Selain itu, dengan segera memasuki arena bertanding, kita bisa melihat garis finish yang akan kita capai. Dengan begitu kita tahu berapa jarak yang diperlukan dari titik start hingga finish, sehingga kita bisa mengira-ngira tenaga yang kita perlukan. Susun strategi kapan 'dan di mana harus berlari kencang, kapan mengambil nafas, kapan harus melihat ke belakang melihat sejauh mana kompetitor kita mengejar.

Mengapa saya share tentang hal ini? Karena saya baru saja mencemplungkan diri dalam kolam cita-cita yang pernah terucap sebagai resolusi di awal tahun ini. Well, still a lot more to do. But, according to what Pythagoras said, I just need to do another half of it. :)

1; Intinya sih sama saja, permulaan adalah setengah dari semuanya, dari garis finish yang ingin kita tempuh. Dan karena yang mengatakan ini adalah seorang filsuf dan juga seorang matematikawan, rasanya sulit buat mengelak atau menyangkal pernyataan dia. Sebaliknya, yang saya rasakan dalam beberapa hari belakangan ini malah sangat sejalan. Dengan sisi yang agak sedikit berbeda, saya punya pandangan tersendiri tentang hal ini.

Dalam sebuah proses mencapai suatu tujuan, setelah melalui jalinan perenungan dan pemikiran panjang, saya merasa ada dua tembok besar yang siap menghadang kita. Tembok yang pertama adalah langkah awal, dan tembok kedua adalah pertengahan jalan. Salah satu contoh, hal ini sering saya rasakan di atas treadmill. Ketika tombol start sudah ditekan, maka mesin akan terus menyala sampai instruksi yang sudah disetel tadi selesai dieksekusi. Mau nggak mau menuntut kaki untuk terus berlari sampai treadmill itu berhenti. Tombol stop memang tersedia dan bisa ditekan sewaktu-waktu, namun saya menganggapnya sebagai “the button for the loser” yang kalau ditekan sebelum mesin berhenti maka saya akan mengecap diri saya sebagai pecundang.

Atau misalkan seorang petinju. Maka ketika ia sudah masuk ke dalam ring tinju, tidak ada pilihan lain selain bertanding. Begitu juga seorang pembalap yang telah memasuki lintasan balap, kesebelasan yang telah memasuki lapangan pertandingan, atau matador yang telah memasuki arena, tidak ada pilihan selain menuntaskan pertandingan dan permainan hingga usai jika tidak ingin disebut pecundang. Kita bisa mencontoh Rafael Nadal tentang bagaimana menjadi juara sesungguhnya. Nadal lebih memilih tetap bertanding hingga akhir walau terpincang-pincang dan tidak mungkin menang sewaktu menghadapi Andy Murray di sebuah pertandingan final di Belanda, daripada harus menyatakan menyerah kalah pada wasit. Padahal menyerah karena cedera adalah suatu hal yang bisa dimaklumi. Maka dalam hal ini, the winner is not always about who wins the game, melainkan tentang siapa yang bisa bertahan hingga akhir dan telah memberikan yang terbaik.

Keadaan-keadaan di atas sesungguhnya belum benar-benar membuat pemainnya tidak punya pilihan, karena pintu keluar selalu terbuka. Tapi karena contoh-contoh di atas adalah olahragawan yang punya jiwa sportivitas tinggi dan keinginan untuk menang, maka jarang ditemui yang memilih menyerah sebelum bertanding. Cerita heroik Tariq bin Ziyad mungkin merupakan cerita yang bisa menginspirasi kita tentang bagaimana caranya mengeluarkan semua kekuatan terpendam untuk memenangkan sebuah peperangan. Tariq bin Ziyad benar-benar menghilangkan pilihan untuk menyerah dengan membakar habis kapalnya yang merupakan satu-satunya jalan keluar yang bisa ditempuh apabila mengalami kekalahan. Tidak ada pilihan selain hidup dan berjuang, atau mati fi sabilillah.

Kok, jadi agak ngelantur ya. Jadi pada intinya, ketika kita punya keinginan, cita-cita, atau tujuan yang sangat-sangat besar, maka segeralah lakukan langkah awal. Segera masuki ring tinju, lintasan balap, lapangan bola, dan arena pertandingan. Segera basah dan lanjutkan pesan dari Meggy Z dalam lagu ‘Terlanjur Basah’. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Selain itu, dengan segera memasuki arena bertanding, kita bisa melihat garis finish yang akan kita capai. Dengan begitu kita tahu berapa jarak yang diperlukan dari titik start hingga finish, sehingga kita bisa mengira-ngira tenaga yang kita perlukan. Susun strategi kapan 

A few weeks ago, I just said yes to put myself into another challenging challenge. It is not about thesis, nor about the survival things that I faced lately. It is about realizing what I wanted to do for so long. The dream that almost buried. But for now on, I can’t say what it is. I will tell when the time has come. Just let says that I am in the middle of a project, and I was trusted to get it done. Besides this project is getting along with my desire, I accepted it because this won’t take my time as much as my previous “job”s. So yeah, I’ve considered all the risks. Moreover, in this project I have privilege to pick whoever up to cooperate with. What I can say is that I am so thankful for this opportunity, I can build my dream team to make my dream come true. It’s like how the Team Dragon (from Team Medical Dragon dorama movie) was built. Put the right person into the right place. A perfection.

Honestly, I do not have enough experience and comprehensive knowledge about the project. I will just count on my intuition and willingness to learn something new. Well, I can’t wait to see what my team can make.

stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/what-if/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 link type2010 12 22 17 22 0 2 356 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 updated type2010 11 16 14 12 1 1 320 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 order type7ba6aedf61db5499a5f2e00b4aba9924http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 date type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 link type

Aw aw aw… lama sekali nggak nge-blog, yo wis lah, numpang curcol lewat sebentar… Song of the week nih kayanya…

http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 link typeAda yang bilang bahwa “jangan terlalu membenci seseorang/sesuatu, karena mungkin suatu saat perasaan itu bisa berbalik.” Demikian juga sebaliknya. Sampai suatu saat, gue menemukan seorang teman yang menulis entah di mana dengan menggunakan prinsip ini yang kemudian dia buat hipotesa baru yang intinya, “buatlah seseorang jadi setengah mati benci kepadamu supaya dia menyukaimu.” Aneh ya? [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 author2010 9 20 7 10 33 0 263 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 comments type12http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 id2009 7 17 1 28 39 4 198 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 updated

Saya pikir sudah saatnya saya memulai menulis lagi. Sudah terlalu lama vakum yang ternyata itu tidak baik untuk kondisi kesehatan jiwa saya. Selama ini bukannya tidak mau menulis, cuma setelah menulis beberapa kalimat, di pertengahan jalan tiba-tiba hilang mood. Jadi sebelum saya menulis ini, banyak draft yang saya masukkan dalam tong sampah yang lalu dibersihkan. Ada suatu program yang pernah saya canangkan di akhir 2010, yaitu untuk menulis kisah-kisah saya selama di Taiwan. Dari awal hingga akhir. Dan, karena sekarang saya sudah meninggalkan Taiwan untuk seterusnya, jadi program ini tampaknya bisa dimulai. Saya merencanakan untuk memulainya di awal Maret, yang berarti 3 hari lagi dari sekarang.

O ya, saya bilang sebelumnya bahwa saya meninggalkan Taiwan. Pasti pada berpikir kalau saya akhirnya lulus. Tidak. Saya tidak lulus. Setelah kurang lebih empat setengah tahun merantau, saya tidak berhasil membawa pulang selembar ijazah. Jika ada yang bertanya kenapa, biasanya saya akan menjawab sudah jenuh. Itu yang utama. Namun di balik itu banyak pikiran-pikiran lain yang membuat akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari sana. Saya tidak ada masalah dengan akademik. Nilai-nilai yang dapatkan sangat cukup untuk membuat saya lulus. Tapi bukan itu masalahnya. Ah, tidak seru kalau saya ceritakan sekarang, karena nanti saya kehabisan bahan untuk ditulis di 30 Hari Menulis.

Lalu kalau ada yang mau bertanya lagi, gimana sih rasanya jadi seorang DO-er? Mungkin sekarang saya akan menjawab, not that bad. :)

a terjadi begitu saja seperti air yang mengalir, seperti angin yang bertiup.

Dan beginilah saya di beberapa hari terakhir, hidup di malam hari, tidur di siang hari. Malam hari bergabung bersama anak-anak Taiwan di bawah basement perpustakaan tempat study room 24 jam. Percayalah, anak-anak berkacamata itu kadang sering membuat kita minder, tapi sering juga membuat kita nggak ingin kalah. Siang harinya, bersama mimpi menjalajahi negeri yang hanya ada di alam bawah sadar. Bedanya, kalo dulu saya nggak tahu harus ngapain dengan thesis ini. Sekarang, saya nggak tahu apakah sempat menyelesaikan semuanya dengan waktu yang tersisa. Bedanya lagi, dulu rasanya kalo sudah mentok ya mentok to rok tok tok. Kalo kini, ada saja ide-ide yang muncul entah dari mana buat menyelesaikan masalah itu. Ibarat kalo dulu naik mobil di jalanan ibukota, yang mana kalo sudah macet, ya nggak bisa ke mana-mana. Kalo sekarang, ibaratnya naik motor. Kalo macet di jalan raya, masih bisa lewat trotoar. Mungkin ini namanya the power of deadline.

Melihat ke belakang lalu ke depan, sepertinya Allah mendengar dan mengabulkan doa saya. Saat ini, saya melihat banyak sekali tantangan di hari-hari ke depan. Dan semua konspirasi yang ada yang membuat saya nggak nyaman ini, adalah sebuah setting yang manis yang Allah rancang supaya saya bisa mendapatkan apa yang saya minta dari-Nya. Sekarang tinggal membuktikan bahwa di ujung perjalanan yang berliku, penuh rintangan, dan melelahkan ini, ada buah yang manis yang menunggu.

Matahari sudah menempati singgasananya, saatnya mengucapkan selamat datang dunia mimpi.

fw_commentrss summary idhttp://blhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/thats-what-i-am/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 comments27439fc1ac0cc657be91faa5a4e9aa1fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 id typedhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 content2011 4 30 12 45 37 5 120 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 wfw_commentrss type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 comments~dak perlu segitunya diperjuangkan untuk bolak-balik ke kasir buat bayar. Kecuali kalo emang mau ngegodain yang jaga kasir. Tapi maksud saya, nggak ada salahnya memulai kebiasaan baik dari hal-hal yang kecil. Efisiensi 1 NT memang saat ini tidak terasa, namun apabila suatu saat nanti transaksi yang kita lakukan itu satuannya berubah menjadi ribuan, atau jutaan, it means a lot.

grasi di sini, maka untungnya bisa 2 kali lipat dari itu. Berarti bisa 6 kali muter.

Di 7-11 yang ada di kampus, setiap pembelian dengan kelipatan 10 NT, maka kita akan dapet diskon 10%. Dengan pembulatan ke atas apabila digit terakhirnya di atas 5. Misal, total harganya 74 NT, maka kita dapet diskon 7 NT (74 NT dibulatkan jadi 70 NT kemudian dikali 10%). Tapi kalo total harganya 75 NT, maka kita dapet diskon 8 NT (75 NT dibulatkan jadi 80 NT kemudian dikali 10%). Jadi sebenernya harga total 74 NT dan 75 NT itu bayarnya sama-sama 68 NT. Jadi tips pertama untuk jajan di 7-11 yang ada di areal kampus, usahakan total harga barang yang dibeli memiliki angka 5 di belakangnya.

Kemudian, kita ingin beli 2 jenis barang. Yang satu harganya 25 NT, dan yang satu lagi 35 NT. Apakah sebaiknya kita bayar satu-satu, atau kita bayar semuanya langsung? Silakan pilih sendiri, saya hanya akan mencontohkan hitung-hitungannya. Apabila dibayar langsung, maka kita akan dapat diskon 6 NT ((25 + 35) * 10%). Jadi kita harus membayar 54 NT. Sedangkan apabila kita bayar satu per satu, maka total diskon yang kita dapat adalah 7 NT, dan kita hanya perlu membayar 53 NT. Nah, kalau kita ingin membeli 3 barang dengan harga 23 NT, 24 NT, dan 25 NT, bagaimanakah cara membayar yang paling menguntungkan? Kalo kita bayar satu per satu, maka total diskonnya adalah 7 NT. Kalo kita bayar langsung, total diskonnya sama-sama 7 NT. Tapi kalo kita bayar yang 23 NT dan 24 NT dulu, kemudian baru bayar yang 25 NT, maka total diskonnya adalah 8 NT (hitung sendiri ya). Tips yang kedua, jangan malas menghitung. :D

Beda lagi dengan penggunaan transportasi di Taipei ini. Dengan catatan, hal ini hanya bisa dilakukan dengan yoyo card (kartu dengan RF-ID yang digunakan sebagai alat pra-bayar). Sistem transportasi yang terintegrasi antara moda MRT dan moda bus ini memberikan fasilitas potongan harga apabila kita berpindah dari MRT ke bus, atau dari bus ke MRT, dalam rentang waktu tertentu (kalo tidak salah 1 jam). Jadi apabila kita berpergian naik MRT, kemudian harus pindah menggunakan bus, maka saat membayar bus kita hanya dikenakan separuh harga dari harga yang harus kita bayar di bus itu. Tentunya selama masih dalam rentang waktu yang ditentukan. Begitu juga apabila di awal kita menggunakan bus, kemudian berpindah naik MRT, maka di MRT tersebut kita hanya dikenai separuh harga. Hal ini nggak berlaku apabila kita menggunakan moda transportasi yang sama. Misal, dari bus ke bus atau MRT ke MRT, tidak ada pemotongan harga di sana.

Kebetulan, dari kampus saya ke Carrefour dilalui oleh 2 moda transportasi ini. Dengan MRT, dalam sekali jalan saya perlu mengeluarkan 16 NT. Dan apabila menggunakan bus, maka saya harus mengeluarkan 12 NT. Pertanyaannya, cara manakah yang lebih menguntungkan untuk bolak-balik dari kampus ke Carrefour apabila saya belanja di Carrefour kurang dari 1 jam?

A. Berangkat dan pulang naik MRT.
B. Berangkat dan pulang naik bus.
C. Berangkat naik MRT, pulang naik bus.
D. Berangkat naik bus, pulang naik MRT.
E. Berangkat dan pulang naik sepeda, atau jalan kaki. (Kalo ini menghabiskan 100 NT karena habis itu kelaperan)

*Mungkin ini pertanyaan yang akan saya ajukan dalam mencari calon “Menteri Keuangan” pribadi. :P

Sekilas memang terkesan apa yang saya bahas ini remeh temeh. 1 NT yang hanya sekitar Rp 300 ti

Dari dulu-dulu saya nggak pernah merhatiin bahwa diskon yang ada di 7-11 atau diskon waktu naik transportasi di Taipei ternyata kalo diperhitungkan bener-bener, maka kita bisa sedikit lebih untung. Nggak seberapa memang, kalo di 7-11 maksimal untungnya cuma 3 kali muter di jalanan yang dijagain ‘Pak Ogah’. Dan kalo menggunakan sistem transportasi yang sudah terintegrasi di sini, maka untungnya bisa 2 kali lipat dari itu. Berarti bisa 6 kali muter.

Di 7-11 yang ada di kampus, setiap pembelian dengan kelipatan 10 NT, maka kita akan dapet diskon 10%. Dengan pembulatan ke atas apabila digit terakhirnya di atas 5. Misal, total harganya 74 NT, maka kita dapet diskon 7 NT (74 NT dibulatkan jadi 70 NT kemudian dikali 10%). Tapi kalo total harganya 75 NT, maka kita dapet diskon 8 NT (75 NT dibulatkan jadi 80 NT kemudian dikali 10%). Jadi sebenernya harga total 74 NT dan 75 NT itu bayarnya sama-sama 68 NT. Jadi tips pertama untuk jajan di 7-11 yang ada di areal kampus, usahakan total harga barang yang dibeli memiliki angka 5 di belakangnya.

Kemudian, kita ingin beli 2 jenis barang. Yang satu harganya 25 NT, dan yang satu lagi 35 NT. Apakah sebaiknya kita bayar satu-satu, atau kita bayar semuanya langsung? Silakan pilih sendiri, saya hanya akan mencontohkan hitung-hitungannya. Apabila dibayar langsung, maka kita akan dapat diskon 6 NT ((25 + 35) * 10%). Jadi kita harus membayar 54 NT. Sedangkan apabila kita bayar satu per satu, maka total diskon yang kita dapat adalah 7 NT, dan kita hanya perlu membayar 53 NT. Nah, kalau kita ingin membeli 3 barang dengan harga 23 NT, 24 NT, dan 25 NT, bagaimanakah cara membayar yang paling menguntungkan? Kalo kita bayar satu per satu, maka total diskonnya adalah 7 NT. Kalo kita bayar langsung, total diskonnya sama-sama 7 NT. Tapi kalo kita bayar yang 23 NT dan 24 NT dulu, kemudian baru bayar yang 25 NT, maka total diskonnya adalah 8 NT (hitung sendiri ya). Tips yang kedua, jangan malas menghitung. :D

Beda lagi dengan penggunaan transportasi di Taipei ini. Dengan catatan, hal ini hanya bisa dilakukan dengan yoyo card (kartu dengan RF-ID yang digunakan sebagai alat pra-bayar). Sistem transportasi yang terintegrasi antara moda MRT dan moda bus ini memberikan fasilitas potongan harga apabila kita berpindah dari MRT ke bus, atau dari bus ke MRT, dalam rentang waktu tertentu (kalo tidak salah 1 jam). Jadi apabila kita berpergian naik MRT, kemudian harus pindah menggunakan bus, maka saat membayar bus kita hanya dikenakan separuh harga dari harga yang harus kita bayar di bus itu. Tentunya selama masih dalam rentang waktu yang ditentukan. Begitu juga apabila di awal kita menggunakan bus, kemudian berpindah naik MRT, maka di MRT tersebut kita hanya dikenai separuh harga. Hal ini nggak berlaku apabila kita menggunakan moda transportasi yang sama. Misal, dari bus ke bus atau MRT ke MRT, tidak ada pemotongan harga di sana.

Kebetulan, dari kampus saya ke Carrefour dilalui oleh 2 moda transportasi ini. Dengan MRT, dalam sekali jalan saya perlu mengeluarkan 16 NT. Dan apabila menggunakan bus, maka saya harus mengeluarkan 12 NT. Pertanyaannya, cara manakah yang lebih menguntungkan untuk bolak-balik dari kampus ke Carrefour apabila saya belanja di Carrefour kurang dari 1 jam?

A. Berangkat dan pulang naik MRT.
B. Berangkat dan pulang naik bus.
C. Berangkat naik MRT, pulang naik bus.
D. Berangkat naik bus, pulang naik MRT.
E. Berangkat dan pulang naik sepeda, atau jalan kaki. (Kalo ini menghabiskan 100 NT karena habis itu kelaperan)

*Mungkin ini pertanyaan yang akan saya ajukan dalam mencari calon “Menteri Keuangan” pribadi. :P

Sekilas memang terkesan apa yang saya bahas ini remeh temeh. 1 NT yang hanya sekitar Rp 300 ti 

Mulai tanggal 1 besok akhirnya saya bisa keluar dari suasana asrama yang telah ditinggali sejak September 2007. Yeah, it was long long ago and what the heck I was doing all this time?!?!? *angry with myself. Tenang… tenang… saya keluar bukan karena di-DO atau karena melakukan pelanggaran macem-macem semacem pelecehan seksual atau ketahuan pakai narkoba. As I announced before that my stay in Taipei was still in question, therefore I decided to get suspension for this semester. Which means, in this semester I am officially off. And I have finished the business with the academic affairs since Tuesday. The tuition and the dormitory’s deposit will be refund in three weeks. Well, I can allocate it to pay the rent of my “new home”. O ya, karena untuk dapet status cuti itu maka saya harus keluar dari dorm.

Sepertinya memang saya perlu suasana baru juga. Terus terang walaupun suasana di asrama sangat pewe, tapi membosankan juga kalo ditempati selama 3 tahun 8 bulan. Selain bosan dengan tata letak lemari-lemari yang segede-gede gaban dan nggak bisa dipindah-pindah, saya juga nggak leluasa untuk masak. Untuk urusan masak memasak ini, boleh diadu kalo mau tau. Yah, paling saya yang kalah. Tapi nggak bisa dipungkiri kalo saya punya passion dalam bidang ini. Kalo di rumah, apalagi kalo Ibu lagi masak, saya biasanya sesekali ke dapur buat ‘mengganggu’. Entah buat icip-icip, atau sekedar ngaduk-ngaduk masakan. Nah, di tempat yang baru nanti saya bisa melampiaskan passion ini.

Selain kebebasan untuk memasak, di ‘rumah’ baru nanti saya bisa leluasa menggunakan bahasa Indonesia. Karena hampir semua penghuninya orang Indonesia, kecuali satu orang Filipina. Walopun beberapa orang bilang bahasa Inggris saya bagus, yang padahal sebenernya hancur, tapi tetep saya lebih plong kalo ngomong pake bahasa Indonesia. Nggak perlu mikir vocab dan grammar. Meski saya juga bukan orang yang talkative, setidaknya saya bisa ngobrol-ngobrol yang penting nggak penting, becanda-becanda, yang intinya sih silaturrahmi dan bersosialisasi. Di asrama saya jarang sekali ngomong dengan room mate. Dalam seminggu, jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Biasanya kalo mau minta tolong atau ada hal-hal yang dirasakan cukup penting buat diobrolin. Bukan karena sentimen dengan negara tetangga, tapi memang karena saya bukan orang yang mudah memulai percakapan.

Seperti yang saya bilang tadi bahwa sebenarnya suasana asrama sangat pewe. Air minum gratis, mesin cuci dan mesin pengering yang harganya cukup terjangkau, dan internet cepat, adalah hal-hal yang perlu diantisipasi setelah nanti keluar dari asrama. Dan manajemen keuangan tampaknya perlu dimodifikasi supaya bisa mencukupi buat kebutuhan harian.

aku apabila kita menggunakan moda transportasi yang sama. Misal, dari bus ke bus atau MRT ke MRT, tidak ada pemotongan harga di sana.

Kebetulan, dari kampus saya ke Carrefour dilalui oleh 2 moda transportasi ini. Dengan MRT, dalam sekali jalan saya perlu mengeluarkan 16 NT. Dan apabila menggunakan bus, maka saya harus mengeluarkan 12 NT. Pertanyaannya, cara manakah yang lebih menguntungkan untuk bolak-balik dari kampus ke Carrefour apabila saya belanja di Carrefour kurang dari 1 jam?

A. Berangkat dan pulang naik MRT.
B. Berangkat dan pulang naik bus.
C. Berangkat naik MRT, pulang naik bus.
D. Berangkat naik bus, pulang naik MRT.
E. Berangkat dan pulang naik sepeda, atau jalan kaki. (Kalo ini menghabiskan 100 NT karena habis itu kelaperan)

*Mungkin ini pertanyaan yang akan saya ajukan dalam mencari calon “Menteri Keuangan” pribadi. :P

Sekilas memang terkesan apa yang saya bahas ini remeh temeh. 1 NT yang hanya sekitar Rp 300 tidak perlu segitunya diperjuangkan untuk bolak-balik ke kasir buat bayar. Kecuali kalo emang mau ngegodain yang jaga kasir. Tapi maksud sayK musim dingin dan musim panas yang ekstrim dan memiliki SDA yang melimpah. Kolam susu kalau kata Koes Ploes. Tapi Indonesia terlalu nyaman sehingga membuat kita terlena dan tidak mau untuk sedikit bersusah payah menjadi lebih baik. Saya suka iri dengan etos kerja orang-orang Asia Timur. Mengapa kita tidak bisa seperti mereka?

m yang melimpah, banyak mall di kota-kota besar, pejabatnya sering jalan-jalan keluar negeri, dan tiap ada konser penyanyi luar yang tiketnya mahal-muahal tapi selalu sold out. Sedangkan kalau mau dikatakan negara kaya juga nggak mungkin, secara utangnya banyak dan nggak akan pernah lunas sampai tujuh turunan. Selain itu masih banyak juga yang tidur di pinggir-pinggir jalan berumahkan gerobak dorong, banyak copet dan jambret di pasar, dan masih ada juga ya nggak punya email resmi (eh, kok?). Dan sedihnya negara itu tidak lain dan tidak bukan adalah negara kelahiran saya.

Bukan karena Indonesia menjadi negara yang jadi terlihat miskin yang membuat saya kesal melainkan karena tidak adanya keinginan untuk bersama-sama keluar dari zona nyaman (dalam hal ini menjadi nyaman dengan harga bensin murah), baik niat dari pemerintahnya maupun dari masyarakatnya. Dari sisi pemerintah, ketetapan yang mereka berlakukan tidak cukup tegas untuk memaksa masyarakat yang tergolong mampu. Masa’ iya Toyota Alphard masih pakai premium? Meski sudah diberedarkan himbauan-himbauan, tapi tidak ada ketegasan untuk menolak masyarakat mampu-tapi-pelit itu untuk menggunakan bensin bersubsidi. Dari sisi masyarakatnya sendiri (dalam hal ini masyarakat mampu-tapi-pelit), agak susah juga sebenarnya untuk dipaksa. Karena mungkin dalam kepala mereka sudah tertanam dengan kuat prinsip ekonomi “usaha seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal” sejak berseragam putih-biru ke sekolah.

Serba susah juga sih ya negeri ini. Menggunakan sistem demokrasi Pancasila yang seharusnya bisa memaksimalkan keunggulan antara sistem liberal yang menomorsatukan hak-hak rakyat, dan sistem sosial yang menerapkan ketegasan pemerintah, tapi hasilnya malah setengah-setengah. Kewenangan pemerintah terutama yang bersifat sedikit strict akan dinilai mengekang hak rakyat. Sebaliknya, ketika rakyat dibiarkan sebebas-bebasnya yang terjadi adalah kebablasan. Saya kira tidak susah mencari kedua contoh di atas. Oke biar lebih jelas, untuk contoh pertama misalnya waktu kasus pemblokiran pornografi oleh Kemenkominfo. Cukup jelaskan gimana rakyat berteriak-teriak merasa hak-haknya dikekang? Kemudian mengenai contoh realisasi kebebasan berekspresi. Cukup dengan membaca salah satu judul film lokal yang diputar di bioskop, dan seketika kita akan melihat bagaimana kreatifnya para produser dan sutradara kita menggabungkan genre horor dan genre tujuh-belas-plus, kadang diselingi genre humor, dalam satu kemasan.

Solusi? Yang ada hanyalah solusi klise, atau bisa dibilang semua orang sudah tahu solusinya. HANYA saja tidak mau menerapkannya. Maksud lo, Jay? Halah, jangan memaksa saya bicara tentang PPKn. Poci-poci? Ya, tentu saja dukungan semua pihak harus selaras. Top-down and bottom-up. Pemerintah mungkin hanya perlu memperlihatkan ketegasannya, dan tentu saja harus tahan sogokan sana sini. Sedangkan sebagai rakyat (jelata?), kita seyogyanya bisa mendukung kebijakan yang pemerintah tetapkan sekaligus meningkatkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan sekitar kita.

Pertanyaan berikutnya yang mungkin membuat gatel adalah, apa kita bisa mempercayakan negeri ini dengan pemerintah kita saat ini? Termasuk DPR, MPR, dan Kejaksaan? Satu quote yang sering saya dengar baik dari milis maupun dari sumber-sumber lain mungkin bisa dijadikan awalan yang baik untuk memulai, “mari nyalakan lilin dan berhenti mengutuk kegelapan”. Since we have no power to change the big problem, at least we still can do our best by not increase the problem bigger or try to reduce it little by little.

Kembali ke judul post ini. Indonesia mungkin adalah tempat ternyaman di dunia untuk ditinggali. Tidak ada

Beberapa waktu yang lalu saya sempat kesal dengan sebuah artikel di internet tentang pembatasan penggunaan premium. Katanya BBM jenis ini masih dipakai di 3 negara saja. Dua dikategorikan negara miskin, dan satu lagi entah termasuk kategori apa karena kalau mau dibilang miskin pada kenyataannya negeri itu punya sumber daya alam yang melimpah, banyak mall di kota-kota besar, pejabatnya sering jalan-jalan keluar negeri, dan tiap ada konser penyanyi luar yang tiketnya mahal-muahal tapi selalu sold out. Sedangkan kalau mau dikatakan negara kaya juga nggak mungkin, secara utangnya banyak dan nggak akan pernah lunas sampai tujuh turunan. Selain itu masih banyak juga yang tidur di pinggir-pinggir jalan berumahkan gerobak dorong, banyak copet dan jambret di pasar, dan masih ada juga ya nggak punya email resmi (eh, kok?). Dan sedihnya negara itu tidak lain dan tidak bukan adalah negara kelahiran saya.

Bukan karena Indonesia menjadi negara yang jadi terlihat miskin yang membuat saya kesal melainkan karena tidak adanya keinginan untuk bersama-sama keluar dari zona nyaman (dalam hal ini menjadi nyaman dengan harga bensin murah), baik niat dari pemerintahnya maupun dari masyarakatnya. Dari sisi pemerintah, ketetapan yang mereka berlakukan tidak cukup tegas untuk memaksa masyarakat yang tergolong mampu. Masa’ iya Toyota Alphard masih pakai premium? Meski sudah diberedarkan himbauan-himbauan, tapi tidak ada ketegasan untuk menolak masyarakat mampu-tapi-pelit itu untuk menggunakan bensin bersubsidi. Dari sisi masyarakatnya sendiri (dalam hal ini masyarakat mampu-tapi-pelit), agak susah juga sebenarnya untuk dipaksa. Karena mungkin dalam kepala mereka sudah tertanam dengan kuat prinsip ekonomi “usaha seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal” sejak berseragam putih-biru ke sekolah.

Serba susah juga sih ya negeri ini. Menggunakan sistem demokrasi Pancasila yang seharusnya bisa memaksimalkan keunggulan antara sistem liberal yang menomorsatukan hak-hak rakyat, dan sistem sosial yang menerapkan ketegasan pemerintah, tapi hasilnya malah setengah-setengah. Kewenangan pemerintah terutama yang bersifat sedikit strict akan dinilai mengekang hak rakyat. Sebaliknya, ketika rakyat dibiarkan sebebas-bebasnya yang terjadi adalah kebablasan. Saya kira tidak susah mencari kedua contoh di atas. Oke biar lebih jelas, untuk contoh pertama misalnya waktu kasus pemblokiran pornografi oleh Kemenkominfo. Cukup jelaskan gimana rakyat berteriak-teriak merasa hak-haknya dikekang? Kemudian mengenai contoh realisasi kebebasan berekspresi. Cukup dengan membaca salah satu judul film lokal yang diputar di bioskop, dan seketika kita akan melihat bagaimana kreatifnya para produser dan sutradara kita menggabungkan genre horor dan genre tujuh-belas-plus, kadang diselingi genre humor, dalam satu kemasan.

Solusi? Yang ada hanyalah solusi klise, atau bisa dibilang semua orang sudah tahu solusinya. HANYA saja tidak mau menerapkannya. Maksud lo, Jay? Halah, jangan memaksa saya bicara tentang PPKn. Poci-poci? Ya, tentu saja dukungan semua pihak harus selaras. Top-down and bottom-up. Pemerintah mungkin hanya perlu memperlihatkan ketegasannya, dan tentu saja harus tahan sogokan sana sini. Sedangkan sebagai rakyat (jelata?), kita seyogyanya bisa mendukung kebijakan yang pemerintah tetapkan sekaligus meningkatkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan sekitar kita.

Pertanyaan berikutnya yang mungkin membuat gatel adalah, apa kita bisa mempercayakan negeri ini dengan pemerintah kita saat ini? Termasuk DPR, MPR, dan Kejaksaan? Satu quote yang sering saya dengar baik dari milis maupun dari sumber-sumber lain mungkin bisa dijadikan awalan yang baik untuk memulai, “mari nyalakan lilin dan berhenti mengutuk kegelapan”. Since we have no power to change the big problem, at least we still can do our best by not increase the problem bigger or try to reduce it little by little.

Kembali ke judul post ini. Indonesia mungkin adalah tempat ternyaman di dunia untuk ditinggali. Tidak ada%n yang aneh. Seperti yang sudah kita dengar dari cerita-cerita sukses para pedagang bahwa, there is no secret recipes for success instead of work hard and face the failure again, again, and again. Seperti juga kata pepatah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Dan kau, tak dapat disangkal lagi, sangat percaya akan hal itu bukan? Sehingga kau ingin segera menjemput kegagalan agar lebih cepat bertemu dengan keberhasilan?

“Hah? Ya, sejujurnya aku pernah berpikir seperti itu. Tapi sekarang akhirnya aku sadar bahwa kegagalan itu tidak perlu diada-adakan karena tanpa diada-adakan pun kelak akan terjadi jika memang harus terjadi. Yang terpenting adalah memberikan seluruh upaya agar memberi hasil yang maksimal. Bila kemudian tetap gagal, at least we’ve done the best we could, and give no place for regret.”

Semoga kau bisa banyak belajar dari kejadian kemarin.

“Terima kasih. Alhamdulillah, aku cukup bersyukur berada di sekitar teman-teman yang mau saling memberi dukungan. Aku bahkan mendapat banyak wejangan dan masukan untuk memperbaiki kekurangan-kekuranganku saat itu. Aku jadi merasa tidak merugi karena datang ke sana dengan kombinasi sistem transportasi yang sama sekali tidak hemat.” *menghibur diri

“Hei, mau kuberi tahu sesuatu? Kemarin di stand kami yang menjual bubur 4-in-1 yang dibanjiri pembeli itu, aku mendengar sesuatu yang lucu.”

Apa itu?

“Aku mendengar seorang pembeli yang kehilangan konsentrasi waktu membeli bubur itu. Katanya, karena ada cowok ganteng di situ.” :

Ah, kau saja yang GR. Dari mana kau yakin bahwa kau yang dimaksud?

“Aku melihatnya menoleh ke arahku.”

i akan melayani setiap ada yang mengajaknya bicara. Bisa dikatakan aku lebih banyak menggunakan pikiranku untuk bicara daripada mulutku.”

Jadi, apa maksudmu datang ke sini jauh-jauh, lalu diam saja dan berharap jualanmu banyak terjual?

“Aku pernah mendapat masukan dari teman, juga dari artikel yang pernah kubaca, serta dari video yang pernah kutonton lewat internet, tentang bagaimana menjalankan suatu bisnis. Intinya ialah, seorang pedagang sangat sangat sangat harus mengenal calon customer-nya. Dan itu artinya ia harus bertemu langsung dengan calon customer-nya. Mungkin bisa saja kita melakukan survei dari internet, atau meminta bantuan untuk melakukan survei langsung ke lapangan. Namun, dengan cara-cara seperti itu seorang pedagang tidak akan pernah tahu keadaan riil sebenarnya yang terjadi. Bagaimana kelakuan, sikap, tindak tanduk, mimik, dan hal-hal detail dari para calon customer tidak akan pernah kita dapatkan seutuhnya jika kita menggunakan tangan kedua untuk memperoleh informasi itu. Jadi, tujuanku ke sini adalah untuk beberapa hal. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, untuk memenuhi the most important thing that seller must do, which is meet your customers. Ketiga, untuk melakukan pengamatan baik itu kepada customer, partner, maupun competitor. Dalam hal ini competitor tidaklah aku anggap sebagai pesaing, melainkan sebagai pihak yang kita bisa belajar lebih banyak hal daripadanya karena kemiripan yang kita miliki.”

Ah, itu kan alasan pembenaranmu saja. Tetap saja yang terlihat dari dirimu itu kalah sebelum bertanding. Engkau tidak siap untuk berjualan, bahkan kelihatan niatnya saja tidak.

“Silakan saja kalau mau menilaiku bagaimana. Itu hakmu. Tapi perkataanmu itu sebagian ada benarnya. Aku memang tidak mempersiapkannya dengan matang, padahal aku sudah merencanakan sesuatu sebelumnya. Meski kemudian aku tidak terlalu niat seperti yang kuniatkan sebelumnya. Jadi, aku sendiri bingung mengapa seperti itu.”

Orang yang aneh. Eh, tapi tunggu dulu. Siapa tahu ada sesuatu dibalik sikap pasif itu. Di balik tempurung tengkorak kepalamu itu tersimpan suatu pemikira

Berbaju polo coklat lengan panjang, lelaki yang berdiri di pojok stand itu terlihat sangat bodoh. Katanya sih mau ikutan jualan, tapi yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjadi patung. Atau sekedar menjadi pelengkap keragaman species Homo Sapiens yang memang didominasi oleh perempuan di stand berlabel ‘Stand Mahasiswa’ dalam acara tabligh akbar yang diadakan oleh IMDAT-Taichung, hari Minggu kemarin. Wajar saja kalau dagangannya hanya terjual satu. Iya, dari jam 10 pagi hingga sekitar jam 3 sore dia cuma berhasil menjual satu dagangannya. Sekali lagi, SATU. Lupakan dari lulusan mana dan sedang berkuliah di mana dia, karena itu sama sekali tidak menunjukkan apa-apa selain kebodohannya. Dari jaman kuda gigit besi hingga sekarang, yang namanya berjualan di pasar atau di bazar, mau tidak mau sang penjual harus memiliki keagresifan dalam menjemput calon pembelinya. Ketika ada customer datang, si penjual seharusnya lebih vokal lagi dalam mempromosikan barangnya. Tapi yang dilakukan laki-laki itu hanya diam dan tersenyum. Paling sesekali saja dia bilang, “kaos batiknya Mbak, Mas, 300-an saja.” Bodoh, bukan?

“Hei, bukannya aku tidak mau bersibuk-sibuk ria dan ceriwis seperti teman-teman di samping kiri kananku yang rajin menyapa para calon pembeli, tapi memang karena aku merasa aku tidak bisa.”

Oke, maukah kau jelaskan mengapa kau tidak bisa?

“Baik. Asal kau tahu bahwa aku bukanlah orang yang supel, luwes, dan pandai bergaul. Aku bukan seorang sanguinis yang bisa menghidupkan dan menceriakan suasana dengan mudahnya. Aku bukanlah tipe pemecah atau pelebur batu es yang bisa mencairkan kebekuan dalam suatu situasi yang ‘garing’. Bukan tipe orang yang akan menegur duluan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, tetapi akan melayani setiap ada yang mengajaknya bicara. Bisa dikatakan aku lebih banyak menggunakan pikiranku untuk bicara daripada mulutku.”

Jadi, apa maksudmu datang ke sini jauh-jauh, lalu diam saja dan berharap jualanmu banyak terjual?

“Aku pernah mendapat masukan dari teman, juga dari artikel yang pernah kubaca, serta dari video yang pernah kutonton lewat internet, tentang bagaimana menjalankan suatu bisnis. Intinya ialah, seorang pedagang sangat sangat sangat harus mengenal calon customer-nya. Dan itu artinya ia harus bertemu langsung dengan calon customer-nya. Mungkin bisa saja kita melakukan survei dari internet, atau meminta bantuan untuk melakukan survei langsung ke lapangan. Namun, dengan cara-cara seperti itu seorang pedagang tidak akan pernah tahu keadaan riil sebenarnya yang terjadi. Bagaimana kelakuan, sikap, tindak tanduk, mimik, dan hal-hal detail dari para calon customer tidak akan pernah kita dapatkan seutuhnya jika kita menggunakan tangan kedua untuk memperoleh informasi itu. Jadi, tujuanku ke sini adalah untuk beberapa hal. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, untuk memenuhi the most important thing that seller must do, which is meet your customers. Ketiga, untuk melakukan pengamatan baik itu kepada customer, partner, maupun competitor. Dalam hal ini competitor tidaklah aku anggap sebagai pesaing, melainkan sebagai pihak yang kita bisa belajar lebih banyak hal daripadanya karena kemiripan yang kita miliki.”

Ah, itu kan alasan pembenaranmu saja. Tetap saja yang terlihat dari dirimu itu kalah sebelum bertanding. Engkau tidak siap untuk berjualan, bahkan kelihatan niatnya saja tidak.

“Silakan saja kalau mau menilaiku bagaimana. Itu hakmu. Tapi perkataanmu itu sebagian ada benarnya. Aku memang tidak mempersiapkannya dengan matang, padahal aku sudah merencanakan sesuatu sebelumnya. Meski kemudian aku tidak terlalu niat seperti yang kuniatkan sebelumnya. Jadi, aku sendiri bingung mengapa seperti itu.”

Orang yang aneh. Eh, tapi tunggu dulu. Siapa tahu ada sesuatu dibalik sikap pasif itu. Di balik tempurung tengkorak kepalamu itu tersimpan suatu pemikira

Dulu sekali waktu di awal-awal munculnya film dokumenter Lingkar Ide yang dibuat sama teman-teman PPIA Victoria di Youtube, entah kenapa saya pengen banget bikin hal yang serupa di sini. Sayangnya dulu belum ada gayung bersambut. Belum ada PPI Taiwan, belum kenal dengan orang-orang yang kira-kira bisa diajak bikin film, dan belum tahu bakal dikemanakan nantinya kalau film itu jadi. Kan nggak mungkin ya bikin film sendirian? Mungkin bisa aja, kalau dipaksain. Jadi ya, harapan tinggal lah harapan. Kalau ditanya motivasinya apa, hmmm… sebenarnya sih ingin coba-coba aja. Soalnya di mata saya, membuat film adalah sesuatu yang cool, seperti halnya menjadi penyiar radio. Buat saya, bukan karena akting Leonardo DiCaprio di film Inception atau Christian Bale di Batman – The Dark Night yang membuat saya memfavoritkan kedua film itu, melainkan karena tangan dingin si Christopher Nolan. Makanya, saya kepingin mencoba untuk menjadi man behind the screen. Melihat sebuah karya bukan dari hasilnya, melainkan dari bagaimana cara membuatnya. Dan membuat film pendek adalah langkah awal dari sebuah cita-cita bisnis saya di masa depan.

Dulu saya memang pernah bilang ke Alief, yang waktu itu belum jadi Ketua PPI Taiwan, kalau saya mau buat video semacam Lingkar Ide itu di sini. Alhamdulillah, obrolan santai di warung pecel lele TMS yang dulu pernah terjadi itu masih diingat sama dia. Setelah video dokumenter pertama dari CYCU muncul, barulah saya mendapat kesempatan untuk membuat seri video dokumenter berikutnya. Bulan Maret kemarin proyek ini dimulai. Alief menghubungi Mbak Ervin, penanggungjawab di bidang Informasi dan Multimedia di PPI Taiwan, untuk berkolaborasi dengan saya dalam proyek ini. Mbak Ervin sendiri bukan orang yang asing buat saya. Bukan karena kita sama-sama D90-er, tapi memang sebelumnya kita sudah sering ketemu. Langkah pertama kami adalah membentuk tim. Tidak sulit, karena saya sudah mengincar beberapa nama yang saya kenal yang saya kira adalah orang-orang yang capable dalam bidangnya. Tim yang akan kami bentuk adalah tim kecil. Mengapa harus kecil? Agar mudah dalam koordinasi dan masing-masing bisa fokus dengan pekerjaannya. Ada 4 bagian penting dalam pembuatan sebuah film, konsep atau ide cerita, naskah, pengambilan gambar, dan pasca produksi. Satu bagian lagi, yang bisa menyatukan atau mensinergikan keempat bagian itu.

Kalau boleh memilih, sebenarnya saya cuma ingin menjadi salah satu bagian dalam proses pembuatan film itu sendiri, bukan menjadi sutradara. Tapi karena saya yang diserahi mandat, saya merasa bertanggungjawab akan kelancaran proyek ini dari awal sampai akhir. Dan posisi yang tepat untuk mengerjakan tanggung jawab itu adalah sutradara. Waktu Mbak Ervin tanya tentang orang-orang yang akan direkrut sebagai kru, saya langsung menunjuk Pak Erly untuk posisi pengambil gambar, dan Hadziq untuk berurusan dengan pasca produksi. Pak Erly sendiri sebenarnya bukan seorang yang akrab dengan kamera video. Dia lebih akrab, atau bahkan sangat akrab dengan kamera DSLR Pentax-nya. Menurut saya dasar-dasar videografi tidak jauh berbeda dengan fotografi (memperhatikan lighting, komposisi, dan warna), perbedaannya hanya pada gambarnya yang diam dan bergerak. Agar hasil video nanti tetap memperhatikan estetika seni fotografi, saya kira si Bapak dosen ini adalah orang yang pas untuk posisi cameraman atau videographer. Pemilihan Hadziq sebagai penanggung jawab urusan pasca produksi adalah karena saya tahu bahwa dia sangat akrab dengan urusan olah video. Beberapa kali saya pernah memergoki video-video buatannya yang dia sebar di youtube ataupun facebook. Kemudian, bagaimana dengan penulis naskahnya? Buat saya, penulis naskah haruslah orang yang akrab dengan buku. Banyak membaca dan jago menulis. Kalau akhirnya si Ketua NTUST-ISA, Citra, yang terpilih dalam tim kami, bisa jadi itu bukanlah suatu kebetulan. Bayangan saya, memang dia lah yang akan ada di posisi penulis naskah. Pertama, karena dia suka menulis di blognya. Yang kedua, karena dia suka membaca. Ya, saya tahu itu dari blognya. Untungnya ada Mbak Ervin, karena saya ragu untuk meminta dia bergabung dalam tim kami sebab saya belum kenal dia.

Keraguan kedua saya adalah ketika meminta mereka untuk bergabung. Kuliah di Taiwan untuk beberapa orang sangat menyita waktu. Saya takut salah satu dari mereka tidak bisa bergabung karena terlalu hectic dengan kerjaannya. Syukurlah itu tidak terjadi. Satu persatu email permintaan kesediaan bergabung dengan tim, disetujui. Dengan begitu, terbentuklah tim yang menurut saya cukup ideal untuk membuat sebuah pilot project video dokumenter. Untuk waktu produksinya sendiri, di awal rencana saya memperkirakan akan selesai dalam waktu 6 minggu dengan hanya menggunakan waktu akhir pekan (Sabtu-Minggu) untuk bekerja. Dimulai dari awal bulan April dan diharapkan selesai pada pertengahan bulan Mei. Namun, karena ada beberapa hal yang terjadi di luar perkiraan, project pertama ini baru benar-benar selesai atau dirilis pada tanggal 25 Mei 2011. Sebagai edisi perdana, tentunya karya ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak lubang-lubang yang bisa dijadikan ruang untuk diperbaiki pada kesempatan berikutnya.

ke Alief, yang waktu itu belum jadi Ketua PPI Taiwan, kalau saya mau buat video semacam Lingkar Ide itu di sini. Alhamdulillah, obrolan santai di warung pecel lele TMS yang dulu pernah terjadi itu masih diingat sama dia. Setelah video dokumenter pertama dari CYCU muncul, barulah saya mendapat kesempatan untuk membuat seri video dokumenter berikutnya. Bulan Maret kemarin proyek ini dimulai. Alief menghubungi Mbak Ervin, penanggungjawab di bidang Informasi dan Multimedia di PPI Taiwan, untuk berkolaborasi dengan saya dalam proyek ini. Mbak Ervin sendiri bukan orang yang asing buat saya. Bukan karena kita sama-sama D90-er, tapi memang sebelumnya kita sudah sering ketemu. Langkah pertama kami adalah membentuk tim. Tidak sulit, karena saya sudah mengincar beberapa nama yang saya kenal yang saya kira adalah orang-orang yang capable dalam bidangnya. Tim yang akan kami bentuk adalah tim kecil. Mengapa harus kecil? Agar mudah dalam koordinasi dan masing-masing bisa fokus dengan pekerjaannya. Ada 4 bagian penting dalam pembuatan sebuah film, konsep atau ide cerita, naskah, pengambilan gambar, dan pasca produksi. Satu bagian lagi, yang bisa menyatukan atau mensinergikan keempat bagian itu.

Kalau boleh memilih, sebenarnya saya cuma ingin menjadi salah satu bagian dalam proses pembuatan film itu sendiri, bukan menjadi sutradara. Tapi karena saya yang diserahi mandat, saya merasa bertanggungjawab akan kelancaran proyek ini dari awal sampai akhir. Dan posisi yang tepat untuk mengerjakan tanggung jawab itu adalah sutradara. Waktu Mbak Ervin tanya tentang orang-orang yang akan direkrut sebagai kru, saya langsung menunjuk Pak Erly untuk posisi pengambil gambar, dan Hadziq untuk berurusan dengan pasca produksi. Pak Erly sendiri sebenarnya bukan seorang yang akrab dengan kamera video. Dia lebih akrab, atau bahkan sangat akrab dengan kamera DSLR Pentax-nya. Menurut saya dasar-dasar videografi tidak jauh berbeda dengan fotografi (memperhatikan lighting, komposisi, dan warna), perbedaannya hanya pada gambarnya yang diam dan bergerak. Agar hasil video nanti tetap memperhatikan estetika seni fotografi, saya kira si Bapak dosen ini adalah orang yang pas untuk posisi cameraman atau videographer. Pemilihan Hadziq sebagai penanggung jawab urusan pasca produksi adalah karena saya tahu bahwa dia sangat akrab dengan urusan olah video. Beberapa kali saya pernah memergoki video-video buatannya yang dia sebar di youtube ataupun facebook. Kemudian, bagaimana dengan penulis naskahnya? Buat saya, penulis naskah haruslah orang yang akrab dengan buku. Banyak membaca dan jago menulis. Kalau akhirnya si Ketua NTUST-ISA, Citra, yang terpilih dalam tim kami, bisa jadi itu bukanlah suatu kebetulan. Bayangan saya, memang dia lah yang akan ada di posisi penulis naskah. Pertama, karena dia suka menulis di blognya. Yang kedua, karena dia suka memb 

Selalu ada yang berubah. Entah tentang perasaan maupun keadaan. Jakarta tidak jauh berbeda dengan sembilan bulan yang lalu. Masih macet, masih sumpek, dan masih membuat tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi hati kecil berkata sebaliknya. Ia betah tinggal di Indonesia. Macet, sumpek, dan kekesalan-kekesalan lainnya tentang kota itu seakan bisa dilupakan begitu saja ketika ada ajakan bersilaturahmi dengan kerabat, keluarga, dan kawan. Katanya sih, silaturahmi itu obat panjang umur. Wallahualam.

Seperti orang-orang yang sudah lama nggak ketemu dengan saya, reaksi mereka rata-rata sama, “sekarang kurusan?” Bahkan terkadang ada tambahannya, “sekarang putihan, mukanya lebih bersih…” Alasan klasik saya biasanya, “di sana nggak pernah main tenis.” Kalau tentang berat badan yang kelihatannya banyak berkurang, saya lebih sering mengelak, “ah, enggak… biasa aja… masa’ segini dibilang kurus, sih?” Sebetulnya saya cuma sedikit malu buat mengungkapkan rahasia di balik itu.

Kepulangan delapan hari kemarin memang agak mendadak. Baru direncanakan sekitar 2 minggu sebelumnya setelah ditelepon oleh pihak imigrasi untuk segera angkat kaki dari Taiwan sebelum tanggal 1 Juni karena visa residence sebagai pelajar tidak berlaku lagi setelah saya mengajukan cuti untuk semester ini di akhir bulan April. Jadi ya memang saya nggak punya banyak pilihan selain keluar dari Taiwan, di samping saya termasuk orang yang males cari perkara dengan pihak-pihak terkait yang mungkin bisa ngasih dispensasi untuk tetap di Taiwan. Dan saya lebih memilih jalan termudah yang bisa dilalui yang tanpa harus banyak berurusan dengan orang lain.

Kalap. Seperti harimau yang baru dilepas dari kandangnya dan dimasukkan ke kandang domba yang gemuk-gemuk. Tiba hari Senin malam, mie rebus tek-tek yang lewat depan rumah jadi pengobat rindu yang pertama. Hari Selasa setelah ngurus keperluan di bank untuk persyaratan visa, daerah Barito jadi tujuan untuk mengobati rasa kangen sama Blenger Burger. Hari Rabu, okonomiyaki dan Thai milk tea di Carrefour Lebak Bulus jadi sasaran. Hari Kamis malam, ikutan ngantri steak Holycow di daerah Radio Dalam. Hari Jumat, dibuatin sop buntut sama bulik. Hari Sabtu, mampir di Iga Bakar Panglima di daerah Kebayoran. Saya pesan yang rasa hot lemon. Hari Minggu, bakmi GM di foodcourt PIM 2 sambil ketemu temen-temen. Hari Senin malam, bebek-sambel-ijo-nya “Bebek Ayu” di deket UMJ jadi penutup kuliner. Ini bukan pembalasan atau penyangkalan karena sering dibilang lebih kurus, Bapak saya lebih suka menyebutnya perbaikan gizi.

Satu hal lain yang saya syukuri dengan kepulangan yang tidak direncanakan itu adalah sebuah jawaban dalam ketidakpastian. Sebagai orang yang lebih suka menunggu daripada mencari tahu, jawaban yang ditunggu-tunggu itu telah terjawab walau tidak secara langsung. Ah, kalau masalah ini sebenarnya lebih suka untuk tidak kuceritakan. Mungkin tidak saat ini, mungkin lain kali, atau tidak sama sekali. Iya benar, ini mengenai rahasia Tuhan tentang makhluk-Nya yang dipasangkan dengan makhluk-Nya yang lain yang telah ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz.

Masih banyak hal-hal lain yang membuat senang dengan kepulangan itu. Tapi, lagi-lagi bukan untuk kuceritakan di sini. :)

g.

Kesan lain dalam buku ini, mungkin bagi kalangan non-ITB akan terasa sekali kalau novel ini sangat narsis. Saya juga enggak habis pikir akan sebegitu banyaknya kalimat yang membangga-banggakan almamater. Khas ITB sekali. Sombongnya enggak hilang-hilang. Selain kearoganannya yang tidak kasat mata, novel ini juga terkesan sangat idealis. Seidealis semangat mahasiswa baru ketika baru masuk ITB. Bagus sih sebenarnya, untuk mengingatkan alumni-alumninya dan pembaca-pembacanya agar kembali ke jalan yang benar -buat yang merasa jalannya sudah berbelok-. Keidealisan ini juga yang sangat terba5 

Kalo sudah nonton filmnya Matt Damon yang judulnya Adjustment Bureau, pasti langsung nyambung. Berkisah tentang David Norris, seorang calon senator yang sedang aktif berkampanye mewakili kotanya, terlibat asmara dengan seorang wanita yang ditemuinya di …. toilet pria. Setelah pertemuan kedua di bus, maka dengan serta merta si calon senator itu memiliki feeling bahwa wanita itu adalah the one. Sayang, ternyata menurut “the plan” yang ditulis oleh “the chairman”, David dan Elise (nama wanita itu) tidak ditakdirkan untuk bersama. Hal itu disampaikan oleh agen dari “Adjusment Bureau”. Tugas para agen sendiri adalah untuk memastikan bahwa semua yang terjadi di dunia ini sesuai dengan “the plan”. David pun tidak rela jika dia harus berpisah dengan Elise. Akhirnya David dibantu oleh Harry, yang juga seorang agen, untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Elise dengan menggunakan “chance” yang ada. Akhirnya? Well, I won’t spoil.

Tadinya saya mengharapkan film ini akan seru dengan banyak adegan laga dan kejar-kejaran khas ala Matt Damon. Ada juga sih kejar-kejarannya antara David dengan si agen-agen yang mirip Doraemon dengan pintu-ke-mana-saja nya itu. Seru dikit. Tapi jujur, I couldn’t feel the emotion. Datar. Dan dari segi cerita juga terlalu aneh. Dari mulai pertemuan di toilet dan langsung jatuh cinta, “the plan”, “the agent”, “the chairman”, dan juga diterapkannya pepatah “selama janur kuning belum melengkung…”. Coba tonton sendiri dan silakan tertawa belakangan. Oke, sudah cukup menghujatnya meski sebenernya saya jarang-jarang mengritik kejelekan film, dan lebih suka mengambil segi positifnya saja walaupun film itu sudah keterlaluan nggak bisa bikin get into it.

Ide ceritanya mungkin menarik. Packaging-nya yang kurang menarik. Saya sendiri dibuat mikir di akhir film ini, apa iya kalau kita benar-benar mau berusaha sekuat tenaga akan bisa merubah takdir? Sebagaimana David dan Elise merubah “the plan” karena “the chairman” pada akhirnya berkesimpulan bahwa mereka harus bersama. Ngerti kan ya apa yang dimaksud “the plan”, dan siapa “the chairman” itu? Saya menebak saja kalo “the plan” itu adalah takdir dan “the chairman” adalah Tuhan. Sedangkan para agen adalah hmmm… jin atau malaikat. Jadi lucu apabila film ini ditafsirkan dalam realita. Seorang malaikat membocorkan rencana takdir kepada manusia. Si manusia tidak setuju dengan takdir itu. Dan pada akhirnya Tuhan menulis ulang takdir untuknya.

Saya percaya bahwa siapa yang bersungguh-sungguh niscaya akan berhasil. Tapi film ini, menurut saya, terlalu.

ringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 summary typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184http://blog.dzaia-bs.com/2011/03/the-beginning-is-half-of-the-whole/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 wfw_commentrss32http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 order05ba373fcd2bb7f642578e7ce4a9cbe2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 id_hash27http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 orderslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=11262010 4 18 16 18 43 6 108 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/semoga-untuk-yang-terakhir-kalinya/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 wfw_commentrss

Tepat satu minggu setelah Kakek berulang tahun, Aku tak pernah menyangka kalau pesan singkat yang masuk ke HP-ku siang tadi mengabarkan bahwa Nenek telah pergi menghadap Sang Ilahi Robbi. Pikiranku langsung tak karuan, Nek. Mengingat semua memori tentang Nenek bisa melelehkan air mata yang lama tak pernah mengalir. Aku masih ingat suara Nenek di ujung telepon sebulan yang lalu. Selalu mengingatkan agar Aku tetap rajin belajar, rajin solat, dan jaga kesehatan. Aku yakin, itu juga yang selalu engkau panjatkan untuk anak cucumu di setiap doa di akhir solatmu. Sebuah doa khusyuk yang pernah kudengar dan kulihat.

Tawaran Bapak untuk menengokmu di awal bulan ini kutolak begitu saja karena Aku yakin kita bisa ber-Lebaran bersama lagi di tahun ini. Menikmati bubur panas buatanmu di kala sarapan, menyantap tape ketan di hari Lebaran, menyicipi kue apem yang baru matang, dan ketan warna-warni yang selalu jadi sarapan sebelum kita berangkat ke lapangan bersama untuk menunaikan solat Ied. Hampir setiap tahun kita melewati itu bersama, dan selalu kurindukan momen-momen itu setiap tahunnya. Kini momen itu tak akan terjadi lagi. Hanya akan berkelebat sewaktu-waktu mengenangmu.

Nenek adalah wanita hebat yang pernah kutahu. Selalu mendampingi dan melayani Kakek sepanjang waktu. The great woman behind the great man. Kakek memang tidak salah pilih. Kalian pasangan hebat yang bisa membuat anak-anaknya mendidik anak-anaknya hingga memiliki pendidikan yang cukup. Mungkin satu-satunya pasangan Kakek-Nenek yang tujuh dari sepuluh cucunya bisa masuk ke salah satu kampus terbaik di Indonesia, dan masih mungkin akan bertambah menjadi delapan, sembilan, hingga sepuluh-sepuluhnya. Dan Nenek adalah seorang wanita dengan etos kerja tinggi yang dipadankan dengan kerendahan hati. Bangun pagi, menyapu dan membersihkan halaman, memasak, menyiapkan makanan untuk Kakek, mengantar Kakek kontrol ke dokter, menunjukkan bahwa Nenek selalu berusaha menjadi istri terbaik bagi Kakek, menjadi teladan bagi anak cucunya. Tak pernah meminta dan menuntut ini-itu.

Terkadang dalam percakapan kita di telepon kita saling diam karena bingung mau ngomong apa. Apakah Nenek merasakan sinyal-sinyal kerinduanku yang mengalir? Karena Aku menangkap yang sebaliknya. Suara Nenek terdengar begitu gembira mendengar suaraku. Seakan-akan lupa akan semua masalah yang dihadapi. Ah, engkau kan memang selalu begitu. Menutupi semua masalahmu agar anak-anak dan cucu-cucumu tidak mengkhawatirkanmu. Nek, Aku kangen senyuman Nenek, candaan Nenek, nasehat-nasehat Nenek, masakan Nenek. Begitu pula Kakek, anak-anakmu, dan cucu-cucumu, kami semua pasti akan merindukanmu.

Sudah punya belom? Mbok cari… Mumpung Kakek Nenek masih ada…“. Nek, maafkan Aku yang tak bisa memenuhi permintaanmu untuk melihatku mendapatkan pendamping yang sempurna dan mendapatkan keturunan daripadanya kelak. Permintaan yang hampir selalu kita bahas setiap kali kita bertemu. Padahal Aku ingin istriku nanti mengenalmu, dan engkau mengenalnya. Aku ingin agar istriku nanti bisa belajar banyak darimu. Belajar bagaimana menjadi istri yang bertanggungjawab pada suami dan tidak lupa dengan perannya sebagai ratu dalam rumah tangga. Mendampingi di saat susah dan senang. Menjadi bahan bakar untuk selalu bersemangat dalam hidup.

Hanya doa yang dapat kukirimkan untukmu karena Aku tak dapat mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhir. Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah Nenek Hj. Sri Sugiyanti, maafkanlah segala khilafnya, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.

 

Taipei,

Cucumu yang menyanyangimu

ur/http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 link 

Setiap saya menyadari tentang suatu hal, sering muncul pertanyaan kepada diri sendiri, “apa ya yang Allah rencanakan buat saya?” Hal yang saya maksud adalah ketika rencana yang saya buat tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Tapi bukan karena rencana itu gagal atau tidak berjalan. Sebaliknya, berjalan lebih cepat dari yang diharapkan. Buat saya keadaan seperti ini memiliki konsekuensi seperti 2 sisi mata uang. Di satu pihak, goal akan tercapai lebih cepat. Di pihak lain, apakah saya akan siap?

Ini tentang pengalaman-pengalaman saya selama beberapa bulan belakangan ini. Di awal tahun ini saya sempat mencetuskan beberapa resolusi yang akan dijadikan bibit-bibit atau persiapan dalam mengolah bisnis yang lebih serius di Indonesia nantinya. Maka dibuatlah sebuah skenario untuk menunjang rencana besar ini dengan langkah awalnya : stop thinking, stop planning, and get action. Waktu pertama kali menjalankan skenario tersebut, yang ada hanya rasa pesimis. It is not gonna work, atau, can make it? Pengalaman mempengaruhi rasa percaya diri. Bukan hanya dalam berbisnis, namun dalam banyak hal. Dan pengaruhnya sangat-sangat besar. Karena setelah satu dua kali menjalaninya, untuk ketiga dan seterusnya terasa akan lebih mudah.

Networking, tali silaturahmi. Dalam berbisnis, ini lah kunci yang membuat proses berjalan lebih cepat. Bukan sekali dua kali saya terbantu dengan pertolongan teman, even without asking them. Ujug-ujug ada saja yang menawarkan diri untuk membantu saya. Sewaktu pulang dari bazar di Taichung, seorang kawan menawarkan kesediaannya untuk menjualkan kaos batik saya di bazar yang bakal digelar di kampusnya. Beberapa waktu berikutnya, tiba-tiba ditawari lagi bantuan dari seorang teman yang lain yang mau dititipi barang dagangan. Di lain waktu, seorang kenalan di negara lain menawarkan kerjasama yang menarik. Ya, tentunya masih berhubungan dengan jualan kaos batik. One thing we should know, semua kerjasama sifatnya harus mutualisme.

Nggak nyangka juga semua bisa berjalan secepat ini. Padahal dalam bayangan saya, permulaan ini akan terasa berat. Sangat sangat berat. Tapi yang namanya manusia pasti hanya bisa mengikuti rencana besar yang sudah digariskan Tuhannya. Kalau Dia ingin lebih cepat, maka nggak ada yang nggak mungkin. Demikian juga kebalikannya.

Itu satu. Satu dari dua rencana besar saya di tahun ini. Seperti halnya berjualan batik, rencana kedua ini nggak kalah menyenangkannya dan nggak kalah pula kemajuannya. Baru satu proyek selesai di akhir Mei kemarin, proyek berikutnya langsung menanti. And the good news is, kalau kata teman saya kemarin, “itu mah hobi yang dibayar”. Apa lagi yang lebih menyenangkan daripada hobi yang dibayar?

Mungkin saya lagi merasakan apa yang pernah dirasakan Steve Jobs dan Steve Woz, Bill Gates dan Paul Allen, atau Larry dan Sergey di garasi mobil. Melakukan hobi yang dibayar. Hingga kemudian mereka keluar dari dunia pendidikan dan lebih menekuni dan menikmati melakukan hobinya. Lalu bisa sukses dan meraih mimpinya. Saat mimpi sudah terwujud, do we have to care about… school? Bukannya sekolah itu untuk menggapai cita-cita? Kalau cita-cita itu harus ditempuh tanpa sekolah, bagaimana? Setidaknya saya belum terpikir untuk senekad itu sih. Paling nggak untuk saat ini.

during-weekend/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 authord'Jayakatatitlehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 link45http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 comments typeMestakunghttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 titleyeshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 hiddenckarena kekaguman kepada seseorang yang memang terlihat istimewa di mata.

Happy watching.

dapat yang asem. Untung feeling saya kali ini benar. Satu lagi film yang menurut saya bagus, That’s What I Am. Genre film ini adalah drama keluarga. Kisah seorang anak kecil berumur belasan tahun, mungkin sekitar kelas 6 SD kalau di Indonesia. Ceritanya simple. Kisah klasik anak SD lah. Ada cinta monyet, ada si jagoan yang suka malak, ada si pintar, ada anak-anak yang dijauhi karena fisiknya jelek, ada guru favorit, yang jelas tidak jauh berbeda dengan masa kecil kita di umur-umur segitu.

Selain dari segi cerita, yang menjadi concern saya dari sebuah film adalah sinematografi. Sedangkan untuk scoring musiknya, saya kurang begitu memperhatikan. Karena nggak begitu mengerti. Dari sisi sinematografinya menurut saya film ini sangat baik. Memang tidak ada visual effect (sepertinya) tapi komposisi dan angle-nya mantap, serta fokus dan bokehnya lensa kamera terasa bisa dimaksimalkan. Sangat terasa terutama untuk shoot-shoot close up. Selain itu editing warnanya juga memberi kesan jadul. Sangat klop dengan ceritanya yang memang mengusung tema tempo dulu.

Balik lagi ke jalan ceritanya. Untuk cerita lengkapnya silakan tonton sendiri. Saya hanya ingin mengumbar dan berbagi cerita dari sedikit adegan-adegan yang menurut saya menarik. Pertama adalah kisah si Stanley atau yang lebih dikenal oleh teman-temannya dengan sebutan “Big G”. “Big” karena badannya yang besar, dan “G” dari ginger karena rambutnya yang merah. Ditambah lagi dengan telinganya lebar, jadilah si Big G menjadi sasaran untuk diledek dan dikerjai oleh teman-temannya. Tapi dibalik itu, Big G adalah anak yang pintar. Big G bukannya tidak bisa membela diri ketika di-bully, dia hanya tidak mau. Alasannya sederhana, karena dia tidak bisa membuat anak-anak nakal itu menjadi anak yang baik. Dan kalaupun dia bisa membuatnya menjadi baik, maka akan ada anak lain yang mengambil tempat si anak-anak nakal itu.

Ada lagi kisah dari Mr.Simon, si guru teladan. Ia digosipkan memiliki kelainan seksual, yakni sebagai homo. Gosip itu berhembus tidak sengaja, namun dijadikan senjata bagi anak muridnya yang nakal untuk membalas dendam karena pernah diberi skorsing akibat menyakiti temannya dengan jaket hingga luka. Si anak nakal itu kemudian mengadu ke orangtuanya tentang isu homo itu. Orangtua si murid nakal ini akhirnya melapor ke Kepala Sekolah dan meminta untuk menindak Mr.Simon. Kepala Sekolah meminta waktu untuk berbicara dulu dengan Mr.Simon. Adalah reaksi dari Mr.Simon yang menurut saya di luar dugaan. Mr.Simon tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal bahwa ia seorang homo. Dia tidak ingin menjawabnya dengan jawaban. Karena dengan memberi jawaban, menurutnya itu akan mengikuti keinginan dari si anak nakal dan juga orangtuanya.

Dua adegan ini cukup bisa menjadi pelajaran. Bahwa setiap masalah tidak perlu diselesaikan dengan konfrontasi. Big G mungkin bisa menang kalau bergelut dengan si anak-anak nakal itu. Tapi masalah tidak akan berhenti sampai di situ. Begitu juga dengan cerita Mr.Simon. Alih-alih menyangkal fitnah yang ditujukan padanya, ia lebih memilih diam. Dan memang, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda serta bukti yang menunjukkan bahwa ia seorang homo, pada akhirnya fitnah itu hilang dengan sendirinya tanpa ada yang mempedulikan. Mr.Simon pun tetap menjadi guru favorit murid-muridnya. Tidak selalu yang menang itu yang kuat, ada kalanya yang menang adalah yang bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Terus terang, saya suka sekali genre-genre film seperti ini. Cerita yang mengandung nilai-nilai prinsipil yang dikemas dengan cara yang sederhana. Tentang harga diri, rasa iba, toleransi, dan rasa cinta yang lugu. Belum bisa dibilang cinta yang sebenarnya atau cinta sejati memang, namun lebih kepada cinta yang tanpa nafsu. Muncul begitu saja hanya 

Menonton film itu seperti tebak-tebak buah manggis. Kadang dapat yang manis, dan kalau lagi sial dapat yang asem. Untung feeling saya kali ini benar. Satu lagi film yang menurut saya bagus, That’s What I Am. Genre film ini adalah drama keluarga. Kisah seorang anak kecil berumur belasan tahun, mungkin sekitar kelas 6 SD kalau di Indonesia. Ceritanya simple. Kisah klasik anak SD lah. Ada cinta monyet, ada si jagoan yang suka malak, ada si pintar, ada anak-anak yang dijauhi karena fisiknya jelek, ada guru favorit, yang jelas tidak jauh berbeda dengan masa kecil kita di umur-umur segitu.

Selain dari segi cerita, yang menjadi concern saya dari sebuah film adalah sinematografi. Sedangkan untuk scoring musiknya, saya kurang begitu memperhatikan. Karena nggak begitu mengerti. Dari sisi sinematografinya menurut saya film ini sangat baik. Memang tidak ada visual effect (sepertinya) tapi komposisi dan angle-nya mantap, serta fokus dan bokehnya lensa kamera terasa bisa dimaksimalkan. Sangat terasa terutama untuk shoot-shoot close up. Selain itu editing warnanya juga memberi kesan jadul. Sangat klop dengan ceritanya yang memang mengusung tema tempo dulu.

Balik lagi ke jalan ceritanya. Untuk cerita lengkapnya silakan tonton sendiri. Saya hanya ingin mengumbar dan berbagi cerita dari sedikit adegan-adegan yang menurut saya menarik. Pertama adalah kisah si Stanley atau yang lebih dikenal oleh teman-temannya dengan sebutan “Big G”. “Big” karena badannya yang besar, dan “G” dari ginger karena rambutnya yang merah. Ditambah lagi dengan telinganya lebar, jadilah si Big G menjadi sasaran untuk diledek dan dikerjai oleh teman-temannya. Tapi dibalik itu, Big G adalah anak yang pintar. Big G bukannya tidak bisa membela diri ketika di-bully, dia hanya tidak mau. Alasannya sederhana, karena dia tidak bisa membuat anak-anak nakal itu menjadi anak yang baik. Dan kalaupun dia bisa membuatnya menjadi baik, maka akan ada anak lain yang mengambil tempat si anak-anak nakal itu.

Ada lagi kisah dari Mr.Simon, si guru teladan. Ia digosipkan memiliki kelainan seksual, yakni sebagai homo. Gosip itu berhembus tidak sengaja, namun dijadikan senjata bagi anak muridnya yang nakal untuk membalas dendam karena pernah diberi skorsing akibat menyakiti temannya dengan jaket hingga luka. Si anak nakal itu kemudian mengadu ke orangtuanya tentang isu homo itu. Orangtua si murid nakal ini akhirnya melapor ke Kepala Sekolah dan meminta untuk menindak Mr.Simon. Kepala Sekolah meminta waktu untuk berbicara dulu dengan Mr.Simon. Adalah reaksi dari Mr.Simon yang menurut saya di luar dugaan. Mr.Simon tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal bahwa ia seorang homo. Dia tidak ingin menjawabnya dengan jawaban. Karena dengan memberi jawaban, menurutnya itu akan mengikuti keinginan dari si anak nakal dan juga orangtuanya.

Dua adegan ini cukup bisa menjadi pelajaran. Bahwa setiap masalah tidak perlu diselesaikan dengan konfrontasi. Big G mungkin bisa menang kalau bergelut dengan si anak-anak nakal itu. Tapi masalah tidak akan berhenti sampai di situ. Begitu juga dengan cerita Mr.Simon. Alih-alih menyangkal fitnah yang ditujukan padanya, ia lebih memilih diam. Dan memang, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda serta bukti yang menunjukkan bahwa ia seorang homo, pada akhirnya fitnah itu hilang dengan sendirinya tanpa ada yang mempedulikan. Mr.Simon pun tetap menjadi guru favorit murid-muridnya. Tidak selalu yang menang itu yang kuat, ada kalanya yang menang adalah yang bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Terus terang, saya suka sekali genre-genre film seperti ini. Cerita yang mengandung nilai-nilai prinsipil yang dikemas dengan cara yang sederhana. Tentang harga diri, rasa iba, toleransi, dan rasa cinta yang lugu. Belum bisa dibilang cinta yang sebenarnya atau cinta sejati memang, namun lebih kepada cinta yang tanpa nafsu. Muncul begitu saja hanya 

Namanya Soni. Asal dari Brebes. Ayah dari tiga orang anak. Suami dari seorang wanita yang pekerjaannya tidak tetap. Badannya kekar, berkulit coklat sawo yang matang terpanggang sinar matahari. Telapak tangannya kasar dan keras, cerminan pekerjaan dan tempat kerjanya yang memang tidak pernah ramah. Hanya orang-orang bernyali besar yang bisa menghadapi. Lautan nan luas yang diiringi iringan ombak dan berhembuskan angin, bahkan terkadang badai. Namun itu tidak berarti bagi Soni, sebagai cucu moyang seorang pelaut Indonesia. Buatnya, laut adalah kawan. Dan laut, adalah sumber penghasilan.

Mas Soni, begitu saya memanggilnya, seorang nelayan di perantauan. Sudah hampir dua belas tahun ia mengadu nasib di perairan Taiwan. Tetap bertahan di sini walau upahnya dipotong sana sini oleh agensi. Dari mulai uang makan, uang asuransi kesehatan, uang asuransi tenaga kerja, uang pengurusan dokumen, dan lain-lain yang bisa dipotong. Belum lagi diomeli majikan kalau sedang kerja. Kadang memang masalah emosi yang tak terkendali. Harap maklum, laut itu buas. Begitu juga orang-orangnya. Atau masalah komunikasi. Karena sewaktu datang ke Taiwan Mas Soni tidak dibekali dengan pelatihan bahasa. Meski begitu, saya cukup salut dengan kemauannya untuk belajar. Jadi hingga saat ini dia tidak lagi menghadapi kendala bahasa lisan.

Pertanyaan saya muncul ketika tidak sanggup lagi menganalisa, mengapa ia mau melakukan semua itu? Tanpa upah yang layak, tanpa standar prosedur kerja baik, bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan. Rasanya kok ingin menangis, kesal, marah, semuanya campur baur waktu dia menjawab, “habis gimana lagi Mas? Anak istri di rumah kan harus makan.” Lalu saya korek-korek lagi asal muasal mengapa dia bisa sampai ke Taiwan. Dulunya Mas Soni ini pernah punya kapal sendiri. Begitu juga teman-temannya di Brebes sana. Dulu mata pencahariannya sebagai nelayan di perairan Brebes sudah mencukupi untuk memberi makan anak dan istri, menyekolahkan anak-anak, dan menabung sisanya. Hingga suatu saat harga bahan bakar tidak lagi masuk akal dan membuat setiap pergi melaut, Mas Soni dan kawan-kawannya bukannya dapat untung, tapi malah merugi. Biaya produksi terlalu besar, terutama untuk bahan bakar. Sedangkan harga ikan dan hasil laut di pasaran kenaikannya tidak signifikan.

Lalu datanglah angin surga yang dibawa angin laut membawa janji-janji surga. Bekerja di luar negeri katanya lebih menjanjikan. Uangnya banyak. Tidak seperti di Indonesia, bisa makan sehari dua kali saja sudah syukur. Tapi… tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Sebelum Bapak-Bapak nelayan pergi ke negeri seberang, Bapak-Bapak harus bayar biaya administrasi ini-itu dulu. Dan jangan lupa, tanda tangan atau cap jempol kontrak. Isinya? Eiiiiits… tunggu dulu, Bapak-Bapak tidak bisa baca isi kontraknya. Karena kalau Bapak baca dulu surat kontrak ini, maka Bapak-Bapak akan ketinggalan pesawat. Si Bapak heran? Loh, kenapa baru disuruh tanda tangan begitu mau berangkat? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin waktu masih senggang?

Sampai di Taiwan, Bapak-Bapak nelayan ini seperti keluar kandang macan dan masuk kandang serigala. Mereka tidak tahu akan dapat gaji berapa. Agen tidak pernah memberikan transparansi. Bapak nelayan bertanya, ini dipotong apa-apa saja? Tidak pernah ada jawaban. Bisa saja jawabannya diganti, tapi dengan pertanyaan “mau apa kamu tanya macam-macam? mau saya pulangkan?” Gaji yang diterima jauh sekali dari aturan. Menurut Bapak-bapak itu, biasanya gaji yang diberikan bertingkat. Bulan pertama segini, bulan kedua hingga setahun segini, tahun kedua segini, dan tahun ketiga segini. Jumlahnya tidak tetap antar nelayan. Semua bergantung pada si agen. Agen yang agak baik, potongannya kecil. Yang nakal, potongannya besar. Sayangnya, agensi sangatlah powerful. Sulit disentuh, sulit dijinakkan.

Kadang sedih melihat wajah-wajah mereka. Berada di posisi yang lemah dan hanya bisa pasrah. Di sisi lain cukup salut. Saling menghibur satu sama lain di kala istirahat berlabuh. Saling melukiskan senyuman di wajah-wajah yang kelelahan. Lelah karena bekerja yang tak kenal waktu, lelah karena amarah yang selalu dipendam, lelah karena janji-janji yang hanya numpang lewat ke telinga mereka tanpa pernah mereka rasakan hasilnya.

Permasalahan yang ada di dunia kerja para nelayan perantau di Taiwan ini cukup pelik. Benang kusut yang sulit diurai. Bahkan mencari ujungnya untuk mulai mengurai pun sulit. Perlu kehati-hatian dan ketelatenan tingkat tinggi ditambah kesabaran tanpa ujung untuk bisa merapikannya. Jangan sampai usaha yang dilakukan bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah keruwetan. Semoga saja usaha yang sedang dirintis akan membuahkan hasil yang manis.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak punya pendidikan yang cukup. Tidak bisa menyalahkan Pemerintah Indonesia yang tidak memberikan mereka pendidikan yang layak dan tidak bisa melindungi warganya di luar negeri. Tidak bisa juga menyalahkan agensi-agensi nakal yang mengebiri hak-hak mereka. Tidak bisa pula menyalahkan Pemerintah Taiwan yang kurang awas terhadap abusement kepada tenaga kerja asing. Saya hanya bisa menyalahkan ketidakberdayaan saya sendiri ketika saya tidak tahu apa yang bisa saya jawab ketika Mas Soni bilang, “ya nanti kalo kita-kita balik ke Indo, Mas-Mas ini bantu apa lah buat kita…”

Lalu untuk apakah ilmu yang saya peroleh selama ini, saat permasalahan ada di depan mata dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka?

bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan. Rasanya kok ingin menangis, kesal, marah, semuanya campur baur waktu dia menjawab, “habis gimana lagi Mas? Anak istri di rumah kan harus makan.” Lalu saya korek-korek lagi asal muasal mengapa dia bisa sampai ke Taiwan. Dulunya Mas Soni ini pernah punya kapal sendiri. Begitu juga teman-temannya di Brebes sana. Dulu mata pencahariannya sebagai nelayan di perairan Brebes sudah mencukupi untuk memberi makan anak dan istri, menyekolahkan anak-anak, dan menabung sisanya. Hingga suatu saat harga bahan bakar tidak lagi masuk akal dan membuat setiap pergi melaut, Mas Soni dan kawan-kawannya bukannya dapat untung, tapi malah merugi. Biaya produksi terlalu besar, terutama untuk bahan bakar. Sedangkan harga ikan dan hasil laut di pasaran kenaikannya tidak signifikan.

Lalu datanglah angin surga yang dibawa angin laut membawa janji-janji surga. Bekerja di luar negeri katanya lebih menjanjikan. Uangnya banyak. Tidak seperti di Indonesia, bisa makan sehari dua kali saja sudah syukur. Tapi… tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Sebelum Bapak-Bapak nelayan pergi ke negeri seberang, Bapak-Bapak harus bayar biaya administrasi ini-itu dulu. Dan jangan lupa, tanda tangan atau cap jempol kontrak. Isinya? Eiiiiits… tunggu dulu, Bapak-Bapak tidak bisa baca isi kontraknya. Karena kalau Bapak baca dulu surat kontrak ini, maka Bapak-Bapak akan ketinggalan pesawat. Si Bapak heran? Loh, kenapa baru disuruh tanda tangan begitu mau berangkat? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin waktu masih senggang?

Sampai di Taiwan, Bapak-Bapak nelayan ini seperti keluar kandang macan dan masuk kandang serigala. Mereka tidak tahu akan dapat gaji berapa. Agen tidak pernah memberikan transparansi. Bapak nelayan bertanya, ini dipotong apa-apa saja? Tidak pernah ada jawaban. Bisa saja jawabannya diganti, tapi dengan pertanyaan “mau apa kamu tanya macam-macam? mau saya pulangkan?” Gaji yang diterima jauh sekali dari aturan. Menurut Bapak-bapak itu, biasanya gaji yang diberikan bertingkat. Bulan pertama segini, bulan kedua hingga setahun segini, tahun kedua segini, dan tahun ketiga segini. Jumlahnya tidak tetap antar nelayan. Semua bergantung pada si agen. Agen yang agak baik, potongannya kecil. Yang nakal, potongannya besar. Sayangnya, agensi sangatlah powerful. Sulit disentuh, sulit dijinakkan.

Kadang sedih melihat wajah-wajah mereka. Berada di posisi yang lemah dan hanya bisa pasrah. Di sisi lain cukup salut. Saling menghibur satu sama lain di kala istirahat berlabuh. Saling mely 

Malam itu aku sedang mencabuti bulu-bulu jenggot Bapak. Bapak memang punya caranya sendiri dalam menjaga penampilan. Daripada menggunakan alat cukur, dia lebih memilih untuk menyuruh anak atau keponakannya untuk membersihkan rambut-rambut kecil yang tumbuh di sekitar dagu hingga jambang dengan memakai pinset kecil. Di tengah-tengah waktu, Bapak menanyakan tentang kabar dari lamaran beasiswaku ke Taiwan. Aku bilang dengan datar, “Ya, diterima.” Hening sejenak. Respon Bapak biasa saja waktu itu. Oh ya, Bapak kemudian memanggil Ibu. Menyampaikan kabar gembira itu. Wajah Ibu kelihatan senang. Memang baru hari itu kabar dari NTU datang siang harinya. Lewat email. Dan saya memilih merahasiakannya untuk disampaikan pada waktu yang tepat. Ternyata malah keduluan oleh pertanyaan Bapak malam itu. Berikut ini email pertama yang masuk ke inbox emailku.

Dear Student,

Congratulations to your successful application to NTU.
The admission notice will be posted in a couple of weeks.

Please read attached files carefully. And email the reply form back ASAP.

Semuanya berjalan lancar hingga hari keberangkatan tiba. Lancar, meski repot. Banyak dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk mengurus visa resident Taiwan. Walau dulu aku santai saja dengan ribetnya pengurusan visa itu. Tapi setelah banyak komentar dari teman-teman yang juga mengalami nasib serupa, aku jadi berpikir ulang, mungkin aku bisa santai karena tinggal di Jakarta. Keadaan yang berbeda dialami teman-teman yang ada di luar daerah. Yang paling menyulitkan di antara dokumen-dokumen yang harus dilengkapi ialah ijazah yang harus dilegalisir di Depkumham dan Deplu, yang tidak bisa sehari jadi. Jadi teman-teman yang di luar Jakarta harus mondar-mandir hanya untuk mendapatkan cap dan tanda tangan dari kedua departemen tersebut. Jadi untuk Pemerintah Indonesia, mohonlah untuk berunding dengan Pemerintah Taiwan agar teman-teman yang ingin belajar itu diberi kemudahan.

Aku juga mempersiapkan diri mempelajari bahasa Mandarin, hanya untuk tahu bagaimana cara menyapa dan memperkenalkan diri. Yang ternyata sampai di Taiwan, apa yang pernah dipelajari waktu kursus bahasa Mandarin itu, nggak berbekas sama sekali dan memilih cari aman dengan bahasa Inggris yang belepotan. Aku pernah menuliskan hal itu di sini.

Tidak banyak lagi yang kuingat waktu itu, selain harga tiket pulang-pergi yang sekitar 5 jutaan Rupiah. Dan akhirnya, pada tanggal 25 Agustus 2007, itulah hari di mana cerita panjang sejarahku dimulai.

Masa’ temenan di FB dan di G+ isinya orang-orang itu juga.

Pada akhirnya, untuk layanan G+ ini saya agak kurang yakin bahwa dia bisa melewati pencapaian Facebook dan Twitter. Google memang berhasil dalam membuat layanan email yang seperti unlimited itu, sangat berhasil dalam mesin pencarian, berhasil pula dalam membuat pencitraan satelit lewat Google Maps dan Google Earth-nya, juga berhasil dalam mengembangkan cloud computing dengan Google Docs-nya. Tapi, Google sering gagal sebelum-sebelumnya, dengan Google Buzz-nya, Google Wave, Picasa, Orkut, dan lain-lain. Dan sekali lagi, lewat G+ ini Google tampaknya masih belum bisa belajar apa yang membuatnya berhasil, dan apa yang membuatnya gagal.

ts title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=14814a73c55faffacb2f867971d27199514fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 id_Setelah lulus kuliah strata 1, waktu itu sebenarnya saya tidak tahu mau ke mana. Tidak ada sesuatu yang benar-benar ingin saya raih. Akhirnya, ya mengikuti aliran air. Menjadi seperti yang dilakukan kebanyakan orang sehabis lulus. Mencari kerja di belantara ibukota. Mungkin waktu itu gengsi saya masih besar. Jadi yang dilirik hanya perusahaan-perusahaan yang punya nama. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 link typeO 

Munculnya Google+ terus terang membuat saya bingung. Bingung karena mau diapakan lagi account layanan ini? Apalagi katanya dari segi fungsi, G+ hanya merupakan perpaduan dari Facebook dan Twitter. Kalau tidak ada sesuatu yang baru dari G+, sepertinya kok sia-sia kalau membuat account di sana. Masa’ isinya disamakan dengan FB? Sebelumnya saya sudah menghapus beberapa account layanan di dunia maya. Friendster, dihapus karena tidak terupdate dan tidak termanage, dan sepertinya teman-teman malu main denganku di sana. Pernah juga punya account di Linkedin, tapi kemudian dihapus karena sepertinya nggak penting-penting amat kalau bukan orang yang punya catatan karir segudang. Mungkin lebih cocok dengan orang kantoran yang melek IT karena dari sana bisa dijadikan rujukan sebagai portofolio buat loncat ke perusahaan lain. Begitu juga account di about.me. Sempat punya tapi nggak lama. Alasannya karena nggak punya foto yang cukup bagus buat dipajang di sana, dan daripada profile page dibuat di about.me mendingan dipasang di website pribadi saja nantinya. Juga Blogspot. Accoutnya dihapus karena bingung mau update apa, sedangkan update blog ini saja keteteran.

Saat ini account layanan jaringan sosial yang masih diaktifkan tinggal beberapa saja, yaitu Flickr sebagai galeri foto, Goodreads sebagai database koleksi buku-buku, Youtube sebagai koleksi video, dan Facebook tentu saja walau dulu sempat dihibernate untuk waktu yang cukup lama tapi nggak tahan juga buat mengaktifkannya kembali pada akhirnya. Sedangkan Twitter, memang saya merasa belum butuh jadi tidak saya bikin. Untuk layanan lokal, saya punya account di Fotografer.net dan Kaskus.us, yang keduanya mungkin terpaksa dimiliki sebagai jembatan untuk berbisnis beberapa bulan yang lalu. Tentu saja saya juga masih punya account di Yahoo! dan Google seperti semua orang. Yah, karena kedua layanan email dari kedua perusahaan itu memang sudah dipakai sejak lama dan enggan pindah sebab sudah banyak dicatut dan tersimpan dalam address book, daftar YM!, dan kontak resmi saya yang tersebar di hampir semua kenalan-kenalan di milis-milis.

Jadi banyak sekali identitas pribadi yang saya berikan cuma-cuma di dunia maya ini. Kalau mau dicari lewat Google dengan memasukkan nama lengkap saya, maka 4 link teratas memang mengacu pada website-website yang saya kelola. Banyaknya account-account ini sering membuat saya bingung untuk mengelolanya. Seperti, saya kebingungan database gambar-gambar di blog ini akan disimpan di Picasa atau di Flickr. Demikian juga waktu punya video yang ingin diupload. Apakah akan diupload di FB-kah atau di Youtube-kah. Lingkar pertemananpun juga begitu. Masa’ temenan di FB dan di G+ isinya orang-orang itu juga.

Pada akhirnya, untuk layanan G+ ini saya agak kurang yakin bahwa dia bisa melewati pencapaian Facebook dan Twitter. Google memang berhasil dalam membuat layanan email yang seperti unlimited itu, sangat berhasil dalam mesin pencarian, berhasil pula dalam membuat pencitraan satelit lewat Google Maps dan Google Earth-nya, juga berhasil dalam mengembangkan cloud computing dengan Google Docs-nya. Tapi, Google sering gagal sebelum-sebelumnya, dengan Google Buzz-nya, Google Wave, Picasa, Orkut, dan lain-lain. Dan sekali lagi, lewat G+ ini Google tampaknya masih belum bisa belajar apa yang membuatnya berhasil, dan apa yang membuatnya gagal.

m/?p=620 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/2011-projects/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 slash_comments typeUntuk Suara Muda Indonesiahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 title2010 8 26 23 57 14 3 238 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 author type2011 3 6 13 42 20 6 65 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 slash_commestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 content type 

In the first meeting of the class, Prof.Sheen talked about how Taiwan is always updating their technology in order to improve their quality of life. It was started with E-Taiwan program. E means Electronic or Digital. This program was adopted as the key component of the “Challenge 2008 : The 6-Year National Development Plan”. The program began in May 2002. The government at that time had an e-agenda which aiming to develop the information and communications infrastructure across the country, boosts industry competitiveness, upgrade the government’s performance, and transforms Taiwan as an e-leader in Asia. The program contains five core aspects which are: e-Infrastructure, e-Government, e-Industry, e-Life, and e-Opportunity.

Five goals had been determined for this program. (1) Demonstrate to the world the ICT usage policy and initial investments and effectiveness of e-Taiwan project. (2) Based on the viewpoints of sociology and QoL (Quality of Life), to clarify the Taiwanese digital usage state, subjective awareness, perceptions on e-services and the following cognition toward e-Life. (3) Aim to construct localized QoL indicators for information society in Asia, which is reacting to the ongoing research framework and trend on the developed nations. (4) Do the best to facilitate Taiwan’s NII (National Information Infrastructure) achieving main concerns on building a user-centered information society. (5) To make good use of project results, and try to distribute and integrate the resource and government’s investments.

Some methods had been done to reach the goals. (1) Qualitative and quantitative methods are co-adopted to do data collection and therefore to accomplish the first wave baseline model. (2) 2124 subjects, with different sex, age, education, marital status, occupation, and income are involved in the 6-months project, ICT using in work, internet access, and ability to operate the e-service are all inquired inside a list of 70 questions. (3) Besides a one-month sampling interview through telephone, deeply focus groups are invited to express theis experience, influence, satisfaction, and expectation in e-Life. (4) EFA and CFA are used to help Taiwan’s indicator of QoL, which contains of 5 segments. (5) Regression Analysis are adopted to get thorough understanding toward e-Life and QoL.

By running the program with all means, and got positive responses from the people, no wonder if nowadays ICT has become important part of Taiwan.

*****

Score : 84
#2 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

I think it should be the #1. My bad, I did not write the date on the paper.

ya arti yang lain untuk satu kata ajaib itu. Adalah cerita Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas, serta obrolan dengan seorang teman lama yang belum pernah bertemu sebelumnya, di Bandung, beberapa waktu yang lalu. Ada hal yang sama yang saya tangkap [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 slash_comments typeDulu sekali waktu di awal-awal munculnya film dokumenter Lingkar Ide yang dibuat sama teman-teman PPIA Victoria di Youtube, entah kenapa saya pengen banget bikin hal yang serupa di sini. Sayangnya dulu belum ada gayung bersambut. Belum ada PPI Taiwan, belum kenal dengan orang-orang yang kira-kira bisa diajak bikin film, dan belum tahu bakal dikemanakan nantinya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 id typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id_hash type2010 3 31 19 21 9 2 90 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 date10http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 link typeIt’s Kind of Funny Storyhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 title type2d/wPM$ ] V , Q J  j G ' b G   . RMdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 updated typeGading-Gading Ganeshahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 title0http://bldatelast_updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 order type2009 8 10 19 18 36 0 222 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 id2010 12 17 13 59 15 4 351 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-8-sepakbola/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 comments type2011 10 27 19 55 10 3 300 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 dateA few weeks ago, I just said yes to put myself into another challenging challenge. It is not about thesis, nor about the survival things that I faced lately. It is about realizing what I wanted to do for so long. The dream that almost buried. But for now on, I can’t say what it [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 summary59http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/leofoo-village/http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/volunteering/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-1/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 comments2009 7 22 15 29 28 2 203 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 title type* mf:3zY X / ( X S %  | u E stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/so-far-so-good-even-though-not-so-smooth/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/first-photo-fn/http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 link2011 6 21 18 31 12 1 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 date typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 content*f n;b[3 W P "   Q L   c \ . '  f 2011 3 26 20 2 54 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 updated91730d3e19fe1ee615c502a03712e75bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 title type2010 12 3 7 4 18 4 337 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 date1227af1011ce5edbd7f8da35df96d8c8http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-13-koki/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 id typeGagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Pernah mendengar pepatah atau kalimat tersebut? Mungkin para perfeksionis sangat mengerti dan memahami kalimat itu. Hingga di setiap tindakannya harus ada rencana. Setiap proyek harus ada blue-print nya. Namun mungkin itu juga yang membuat para perfeksionis selalu mengulur-ulur waktunya sampai rencananya benar2 sempurna, sebelum akhirnya dia mengeksekusi rencana tersebut. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 order type7http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 slash_commentsTentang (Film) Facebookhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 title2010 11 4 9 40 38 3 308 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 wfw_commentrssdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 link type* ZQ&! x Q -  e 0 V O % stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/so-far-so-good-even-though-not-so-smooth/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 author type1cddc8bc04d0bf58b39f67020d268e90http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 id_hash typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/gadis-penjual-kaos/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 link82http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 order typeHari ke-6 : Masih Tentang Urus-urushttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 title2012 3 19 15 43 31 0 79 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 id typeSudah lama juga sebenarnya saya join fotografer-dot-net. Hanya saja karena dulu masih malu2 dan ragu2, jadinya setiap berkunjung ke website itu kerjaannya hanya ngintipin hasil karya orang2. Hingga akhirnya, pagi kemarin saya berhasil meng-upload foto saya yang pertama. Dan foto pertama saya di website itu adalah foto masjid besar Taipei. Harus dimaklumi fotonya masih jauh [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 title typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 date typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 authorNgirit to The Maxhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 title2011 12 15 18 34 35 3 349 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 updated:`3, e83 v L  , U N #  )  rI=jcCSM"O http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 contentslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 summary type2011 9 14 15 44 27 2 257 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/10/sumpah-pemuda/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 commentsSMxhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/i-just-knew-what-was-happened-to-me/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 wfw_commentrss2010 1 8 22 18 39 4 8 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 dateBerhubung ada beberapa bagian yang saya lupa tentang perkuliahan, terutama nama mata kuliahnya, maka topik tentang kuliah akan saya sambung sepulangnya saya dari Bandung. Hari ini saya sedang di Bandung. Tidak lain dan tidak bukan karena sedang ada hajatan di sini. Adik saya akan menikah hari Minggu besok. Karena Sang Calon adalah orang Bandung, maka [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 content type2011 7 5 21 23 40 1 186 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 content typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/musik/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 updated type2011 8 11 19 8 19 3 223 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 dateslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 summary typeE-Taiwan : The Secret Behinds The Modern Life of Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 title2010 10 17 13 45 14 6 290 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 date6ge70, { U < { _ / t k ? 8  ] 6 3 54http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 slash_comments type2011 2 5 14 53 32 5 36 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 updated93http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 orderSo Far So Good, Even Though Not So Smoothhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/after-4-years/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 author72http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/suasana-baru/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 wfw_commentrss2011 10 20 19 19 51 3 293 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 dateSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 content type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 slash_comments2012 3 20 17 4 27 1 80 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 date96230d1f01e8bb2af916da8860ce8ab9http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 id_hash typeWaktu masih di kampus ganesha dulu, gw mulai berkenalan dengan yang namanya dorama Jepang. Sebelumnya juga pernah sih, sewaktu salah satu stasiun televisi swasta masih rajin menayangkan sinetron-sinetron impor itu. Tokyo Love Story, salah satu judul yang masing gw ingat, namun tidak dengan isi ceritanya. Ada lagi dorama yang masih ingat -karena pemeran wanitanya yang [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 date typeSMXyhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 content type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 slash_commentsSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 content type4FyKF y r I ^ 6 /  | S 8   k M$stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/i-just-knew-what-was-happened-to-me/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 comments

Trading at somewhere-night-market in Beijing © Hendra Kurniawan

Aku memperhatikan tanganmu yang tertutup sarung tangan wool yang robek. Aku sangsi bahwa itu cukup tebal untuk melindungi kulitmu dari udara dingin yang kala itu mendekati titik beku air. Aku melihatnya dari kulit ari di pangkal jari jemarimu yang banyak terkelupas. Sebagian bekas luka-luka itu ada yang tampak mengapal. Dingin telah membius semua sisi telapak tanganmu hingga mati rasa. Hingga kau tidak sadar bahwa kulit tanganmu sering bergesekan dan mambuatnya luka. Melihat keadaanmu, aku tak tega. Harga yang kami tawar terkadang memang tak masuk akal. Engkau meresponnya dengan wajah memelas. Sampai sekarang, aku masih tak mengerti jalan pikiranmu saat berdagang…

http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 contentHari ke-8 : Sepakbolahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 author2011 4 30 12 45 37 5 120 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 updatede7f3fe94b8de3d874e51f2cd29367b40http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 id typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572Yesterday was my first time I did Eid al-Adha prayer at the different place from the four consecutive years before. Not in the different country, yet the location was different. The Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, together with PCI-NU Taiwan, collaborated to hold Eid prayer for Indonesian muslims who live in Taiwan, especially in [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 id21http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 hidden typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 wfw_commentrss type xKDTM) x W 1  l e ; stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/in-between-difficult-choices/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 comments type2012 3 24 2 7 30 5 84 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 datede8586efeefda81416eb4894388a8a26http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id8>le<5s  z =  k d > $ } R K   ng92 bU>2012 4 1 4 0 13 6 92 0last_updatedDi tengah-tengah pencarian referensi untuk tulisan yang sedang saya buat, ingatan saya tersesat dalam tumpukan-tumpukan memori yang tumpang tindih. Ada sebuah cerita yang saya ingat, tapi saya lupa sumbernya dari mana. Untungnya pilihannya tidak banyak, hanya dua. Kalau tidak di youtube, berarti di arsip siaran radio. Ternyata di youtube tidak ada. Dan benar, ditemukan di [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 summary49http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 slash_comments type

SMS dikirim...

SMS dikirim...

.

.

.

.

.

SMS diterima...

SMS diterima...

http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 content5http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 id0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 author2011 4 18 18 2 46 0 108 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 updated typeWaktu & Kesempatanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 content typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 order typeRamadhan Tahun Inihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 order type" kP)!~wR7  z u L +  \ U 4 slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/so-far-so-good-even-though-not-so-smooth/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 linkdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 author05ba373fcd2bb7f642578e7ce4a9cbe2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 title type53http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 summary type2010 4 18 16 18 43 6 108 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 updated typeWhat Ifhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 title2011 8 21 18 26 33 6 233 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 slash_comments type.F znG6 n C >   } b :  dyPdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 updated typeLumrahnya dengan semakin banyak membaca maka semakin banyak informasi yang didapat, semakin pintar. Tapi itu kan kalau dilihat dari sisi yang sangat ideal. Tanpa memperhatikan adanya leakage memory, ingatan-ingatan yang menghilang seiring waktu dan ketidakterlatihannya. Karena seperti layaknya otot tubuh, sebenarnya otak juga dapat dilatih untuk mengingat. Ingatan yang ada dalam otak terjadi karena adanya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-10-masih-tentang-kuliah/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 wfw_commentrss6bb4ffeaf82248c70e69b1b0b9bfb32dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 updated type
Please upgrade your browser

Sepulang shalat Jumat, Pak Erly tiba-tiba menawarkan sebuah ajakan yang sulit ditolak. Melihat pameran fotografi di TWTC. Dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin saya beli. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter penduduk Taipei yang datang ke pameran. Terutama pameran mobil, komputer, dan fotografi. Tidak sedikit yang datang ke pameran-pameran itu bukan untuk melihat atau membeli produk-produk yang ditawarkan, melainkan mencari keturunan Hawa yang bersedia untuk direkam gambarnya ke dalam memori yang tertanam pada kamera DSLR mereka. Dari sekian wanita yang ditugaskan untuk mempromosikan produknya, saya menemukan dua yang termanis di booth milik dua produsen kamera yang paling banyak digunakan.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 content3rd New Year Eve in Taipeihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 id typeRencanahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 date type2010 8 27 0 34 1 4 239 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555Ngabuburit Sahurhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 titleSMRhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 content type2011 8 22 23 3 37 0 234 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/taiwan-high-speed-railway/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 wfw_commentrssEmpathy and Sympathy for Diversityhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 title"P c\0)\U'" s L C   } v i P 2012 5 1 7 54 11 1 122 0url_modifiedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 author64ac9be2bb45bafcd9d6d4ace7fdf43ahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 date typeSM Zhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/02/day-0-the-beginning-of-30-hari-menulis/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 link4YR"p<5  d 8 1  t ] " j c 4 XQ$url_etag updated last_updated subtitle lastbuilddate url next_order generator filter language link title url_status url_modified sy_updateperiod exclude configured_url generator_name sy_updatefrequency keysTue, 01 May 2012 07:54:11 +0000lastbuilddatestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 wfw_commentrss type6http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 id_hash typee438976c0cc0725c480a3fdf6b9c4046http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 id_hash2012 3 24 2 7 30 5 84 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/aku-sebuah-buku/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rdk/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 linkAkhir-akhir ini saya baru nyadar kenapa dulu kalo Bapak nanya “mau makan ke mana sekarang?”, terus anak-anaknya pada bilang “terserah”, biasanya Bapak me-reply, “mana ada makanan namanya terserah” (nada jengkel). Yeah, now I know and more understand about his feeling. Kalo buat saya sendiri, jawaban “terserah” itu bukan karena nggak mau mikir atau nggak pengen [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/rencana/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/rehal-modern/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 comments2011 7 13 15 43 23 2 194 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/ngabuburit-sahur/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/empathy-and-symphaty-for-diversity/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 wfw_commentrss$^W"e | {  | u H A  dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/kucoba-dalam-100-kata/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 summary typeTepat satu minggu setelah Kakek berulang tahun, Aku tak pernah menyangka kalau pesan singkat yang masuk ke HP-ku siang tadi mengabarkan bahwa Nenek telah pergi menghadap Sang Ilahi Robbi. Pikiranku langsung tak karuan, Nek. Mengingat semua memori tentang Nenek bisa melelehkan air mata yang lama tak pernah mengalir. Aku masih ingat suara Nenek di ujung [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 date typeMemang susah ternyata untuk menjadi public speaker. Selain butuh pengalaman, public speaking menurut saya juga membutuhkan bakat. Membaca buku Seni Berbicara-nya Larry King ternyata tidak terlalu membantu saya untuk melakukan interview yang “enak” didengar. Bagaimana menyapa nara sumber, bridging, dan feedback spontan belum bisa saya lakukan dengan baik. Sampai-sampai nara sumber saya bilang, emang gak [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 date type104http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 orderslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579First Photo @FNhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/what-if/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 updated type<]`7 [ B ! y X n E _ $ xqFAzQE"lDjg=6 i]SMb http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/the-more-i-read-the-more-i-feel-stupid/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 linkSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 link type99http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 updated typeAw aw aw… lama sekali nggak nge-blog, yo wis lah, numpang curcol lewat sebentar… Song of the week nih kayanya…http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/12/cupu-ih-dzaia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 idSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 contentslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=12442011 1 14 14 3 30 4 14 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 slash_comments type2011 2 1 19 39 11 1 32 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/another-project/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 date typePagi ini entah kenapa saya senang sekali ketika menerima sebuah pesan di hape dari seseorang. Mungkin akan sama senangnya misalkan SMS itu datang dari cewek yang saya taksir yang tiba-tiba bilang kalau dia juga suka sama saya. Isinya pendek, tapi bisa membuat bibir senyam-senyum juga berbunga di hati. Mas jaya, trima kasih bnyk ya filmnya, [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 wfw_commentrssslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=10682010 11 21 23 30 4 6 325 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 dateslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=16132012 3 1 12 15 32 3 61 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 link typeMunculnya Google+ terus terang membuat saya bingung. Bingung karena mau diapakan lagi account layanan ini? Apalagi katanya dari segi fungsi, G+ hanya merupakan perpaduan dari Facebook dan Twitter. Kalau tidak ada sesuatu yang baru dari G+, sepertinya kok sia-sia kalau membuat account di sana. Masa’ isinya disamakan dengan FB? Sebelumnya saya sudah menghapus beberapa account [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/mengatur-layanan-di-dunia-maya/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 wfw_commentrss78http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 order&sgB(d c \ / (  a Z - & 2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 comments type

Yah… walaupun sudah agak basi, tapi masih boleh lah buat ditampilin… Maklum, baru selesai diedit… enjoy :D

http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 content51http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 orderMulai tanggal 1 besok akhirnya saya bisa keluar dari suasana asrama yang telah ditinggali sejak September 2007. Yeah, it was long long ago and what the heck I was doing all this time?!?!? *angry with myself. Tenang… tenang… saya keluar bukan karena di-DO atau karena melakukan pelanggaran macem-macem semacem pelecehan seksual atau ketahuan pakai narkoba. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 summarySM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667http://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-12-radio/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 linkdf394c0cacdec25a1f1d9f70de44fd1ehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 id_hash2010 8 19 19 1 38 3 231 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 dateSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 id typeSM.http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 content6|n$ y R I !  v M A   i C /  u F ?   :|3a6f6a3ec4cc02090c15149770965278http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 linkHadirnya bulan Desember gue rasa banyak membawa berkah, salah satunya sebagai pengingat, a reminder. Selain ngingetin kita bahwa musim dingin itu ada -terutama di belahan bumi bagian utara-, dia juga ngingetin kita bahwa introspeksi diri itu penting. Dari tingkat personal sampai perusahaan besar mulai itung-itungan bahwa apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, atau [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 summary40http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 comments typeHari ke-2 : Taiwan, Aku Datanghttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 title2011 9 30 1 7 42 4 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments typeKang Abik di Taipeihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/12/cupu-ih-dzaia/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 authorSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 content2011 2 28 8 32 36 0 59 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 date1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/mengatur-layanan-di-dunia-maya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 id_hash type4q /  a Z / *   u L E   rkKW>stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/tendangan-dari-langit-sepakbola-cinta-keluarga/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 comments2011 9 30 1 7 42 4 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 id_hash typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 authorslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 link type2011 10 18 19 21 28 1 291 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 id type2011 2 28 8 32 36 0 59 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/03/kok-males-nulis/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 wfw_commentrssPernah bermain video game bergenre RPG atau Role Playing Game? Seperti game Final Fantasy yang dulu berjaya ketika dunia video game berada dalam masa keemasannya. Begitulah yang aku rasakan ketika bersama Gray dan 2 temanku yang lain berpetualang di negeri yang masih asing. Menjadi buta aksara karena tidak bisa membaca huruf-huruf yang ada di sekitar [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 title typea2f43b7bc9a38d12d2399a6765f9c2eehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 id44http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 author typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 author typeDari dulu-dulu saya nggak pernah merhatiin bahwa diskon yang ada di 7-11 atau diskon waktu naik transportasi di Taipei ternyata kalo diperhitungkan bener-bener, maka kita bisa sedikit lebih untung. Nggak seberapa memang, kalo di 7-11 maksimal untungnya cuma 3 kali muter di jalanan yang dijagain ‘Pak Ogah’. Dan kalo menggunakan sistem transportasi yang sudah terintegrasi [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 updated type( 7WP" i b ; 8  h ; 4  ` T 4 slash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450SMi http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 author type2011 10 18 19 21 28 1 291 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 link67http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 order type8c21b36c0ad3653864542878de7a89d7http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 hidden typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ramadhan-tahun-ini/http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 link19http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 slash_comments type*~ Uz g 3 ,   x L E  e : 3   ~ stringurl_etag typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 slash_comments type. . . . .http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 summary0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/menjadi-inspirasi/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-6-masih-tentang-urus-urus/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 comments typeHari ke-15 : Travelling in Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 wfw_commentrss type2011 11 10 19 37 19 3 314 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 slash_comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 wfw_commentrssdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 author4a38310a41edd0568bb5a2f09f0dee17http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 id_hash* c\1*pW+$ c C  v j < 5  k d / ( 2010 12 7 3 0 12 1 341 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_comments type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 summary typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 content97http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 title type2011 4 9 19 42 28 5 99 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/mestakung/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-17-penerbangan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 wfw_commentrss  b[2ywQ  U N   n @ 9  stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/in-between-difficult-choices/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 wfw_commentrssdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/new-companion/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-16-nonton-bioskop-di-taiwan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 link0http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 order typeHari ke-11 : Formmithttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 title2011 7 13 15 43 23 2 194 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 wfw_commentrss type* S/yr>7 Z S *  { K  z 3  109next_orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/05/sepakbola-dan-pendeteksi-cahaya/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 id_hash typeKonspirasihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-9-fotografi/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 id_hash typeFit & Proportionalhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 titleSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 summary type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/bahasa-indonesia-baca-en-do-ne-sya/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 author type(Ff6d]8 w r I  T M & 5{MFstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 title typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455
source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1302

http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 slash_comments typeIt’s Kind of Funny Storyhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/suasana-baru/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 slash_comments typeFirst of all, Happy Eid for everyone. All the praise to الله Who gives us health and wealth, faith and spirit, so that we can breathe the freshness air of Eid al-Adha this year. Not much I would tell since it is the fourth Eid al-Adha that I celebrated in Taipei. Everything is almost the [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 slash_comments type2011 6 24 19 24 52 4 175 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 date2010 3 31 19 21 9 2 90 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 link typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/new-years-eve-2011/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ngedorama-again/http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 link2011 3 26 21 27 15 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 updated2 \U&yrJ p i > 9   q e 5  f a ; *  j I datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134http://blog.dzaia-bs.com/2010/12/remember-the-december/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 id typeCupu Ih Dzaia…http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 updated typeSMrhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/terserah/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 wfw_commentrssSM  http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 comments typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 contentSM>Ohttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 order typeBener-bener merasakan jadi mahasiswa MASTER… MAin2 Senang2 TErtawa2 sambil Rekreasi… Kasihan thesisku…http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 link type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 orderWhat Comes from The Heart, Goes to The Hearthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 date typeMengatur Layanan di Dunia Mayahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 title4 aZ*sHA o h 9 a $ \ / * b ` 2 + stringurl type"86ed20fb18e40184a517a3edee15059e"url_etagstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 id_hash type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/menjadi-inspirasi/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 id_hash typeEid al-Adha 1431Hhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/surat-untuk-nenek/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/untuk-suara-muda-indonesia/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/about-eat-pray-and-love/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 comments type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 content type2010 8 27 0 34 1 4 239 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545http://blog.dzaia-bs.com/2011/08/m-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 wfw_commentrss type4~c83aZ2 & ] B  f YT4roA< http://blog.dzaia-bs.com/2009/09/3-minggu/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 updated type17http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 date typeSM8 http://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 content98http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 orderIni semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 id2010 4 18 16 18 43 6 108 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 updateddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 summary typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 slash_comments typeA(nother) Projecthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 date type2011 8 21 18 26 33 6 233 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 updated30http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 date type" p@> 4  k i @ 4  q o B ;  stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 author type7http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 orderSM> http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 id_hash typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 content0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 summary typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 authorFormmit atau Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan, tidak bisa lepas dari lembar sejarahku selama berada di Taiwan. Aku pernah terlibat cukup intens di organisasi tersebut. Walau pada awalnya tidak sengaja. Adalah Mbak Iin, dosen wanita di perguruan tinggi negeri di Surabaya, yang membawaku hingga akhirnya aku diberi tanggung jawab untuk mengurusi bidang Humas dan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 order type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 slash_comments2012 2 26 8 4 26 6 57 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 dateDay 0 – The Beginning of 30 Hari Menulishttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 title,8 d]5}W> o D =   n g > 7  r k ? 8 stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 link typeSM=http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 author type2010 11 5 17 47 57 4 309 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 updated61http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 link type7d790b6dcc84803898ec1315be76094dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/re-writin-the-fate/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 linkyeshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 hidden2011 1 26 16 2 53 2 26 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 date11http://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 id_hash type2010 10 13 2 47 57 2 286 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 link type2012 3 22 15 40 20 3 82 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 slash_comments(   b 3  g e ? % [ V 0  d 4 2  stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 content type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/lentera-ide-ppi-taiwan-the-story-behind/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 id typeGara-gara Kelamaan di Taiwanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/gadis-penjual-kaos/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 comments2011 1 18 18 28 43 1 18 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 slash_comments2012 3 17 16 15 48 5 77 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 updated86http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/passion/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 wfw_commentrssabd7ecae99169f55ad42c26734a17097http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 updated type2010 11 23 12 51 40 1 327 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 dateJika waktu di Formmit, Mbak Iin tidak menyuruh saya untuk mempelajari radio streaming dan menjadi DJ-nya, mungkin aku juga tidak akan tertarik bergabung dengan Radio PPi Dunia. Cikal bakalnya memang ada di Radio Formmit. Dari mulai install server, setting DSP, membuat player, hingga suara penyiar dan narasumber bisa diperdengarkan ke semua penjuru, semua kupelajari waktu [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 wfw_commentrss type0\U, T * a @   E   g F s -  le=41sy_updatefrequencyhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/3-minggu/http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 linkdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 comments2011 2 22 16 22 43 1 53 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=14152011 5 16 8 22 58 0 136 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/bangkitnya-para-legenda/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/rencana/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 date type06837ca8d0f02c7bc7b8f6a4481bcfefhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/volunteering/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/ngabuburit-sahur/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-1/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 wfw_commentrssPengalaman minggu lalu telah menegaskan pada saya bahwa seringkali gajah di pelupuk mata tak nampak, sedangkan semut di seberang laut terlihat jelas. Indonesia mungkin telah kehabisan sumber daya alamnya yang tak terbarukan, tetapi Indonesia masih punya pemandangan alam yang jauh bukan main eloknya. Sun Moon Lake dan Love River di Taiwan seperti nggak ada apa-apanya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/10/empathy-and-symphaty-for-diversity/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 comments:Xqj;4_S, h n 1 o h 9 2  ZU*#]Xdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 date type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 slash_comments type2010 12 3 7 4 18 4 337 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 updatedBiasanya sih lanjutannya “till it’s gone”. Dan biasanya sesuatu di situ adalah sesuatu yang berharga that money can’t buy. Sifatnya bisa terlihat, atau hanya bisa terasa. Yang terlihat, kurang lebih temanya tentang orang-orang terdekat yang dimiliki. Baik itu keluarga, sanak sedulur, atau teman karib. Yang nggak terlihat, kalo mau agamis dikit jawabannya mengarah ke iman. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/surat-untuk-nenek/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 linkhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/untuk-suara-muda-indonesia/http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 id typeSebelum membaca bukunya, saya sudah melihat visualisasi buku ini dalam film garapan Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) yang berjudul Bahwa Cinta Itu Ada. Dan seperti layaknya film yang diangkat dari novel, versi film Gading-Gading Ganesha juga memiliki alur yang cepat dan tidak rinci. Banyak adegan-adegan yang dipotong agar cerita yang setebal 390 halaman itu bisa [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 id2010 11 4 9 40 38 3 308 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 updatedJakarta, Delapan Harihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 titleSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 content8357775386dd31d3c2510ed279ef2288http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 authordatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 updated type&r xO5 sj<5 U * # i /  i ` 3 , y r stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 author typedf021ab2e642524788e98c2eba5e3226http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 commentsEid al-Adha 1432Hhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/re-writin-the-fate/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 wfw_commentrss2011 6 21 18 31 12 1 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 datef2ef69343ebdb8f9180ed0ec297ade6fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/thats-what-i-am/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ramadhan-tahun-ini/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 title type2011 8 25 3 50 32 3 237 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 updatedslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682$ b[52 \U, Y R )  [ T ' http://blog.dzaia-bs.com/2010/12/berbalik/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 comments type2012 3 9 16 39 41 4 69 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 updatedca6e87a60cf0e357ceac66e18e907ec3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 wfw_commentrss typeSuasana Baruhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 titleAda 2 jenis manusia di bumi ini, yang suka travelling dan yang tidak. Aku mengatakan ini hanya untuk menegaskan bahwa orang yang tidak suka travelling itu benar-benar ada. Lebih suka di rumah dari pada berjalan-jalan melihat ratusan lentera diterbangkan di PingXi. Lebih memilih bermain poker di facebook dari pada melihat festival bunga di YangMing Shan. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 title typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 date type36a009ac9923552f9dd2994b958cc202http://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 id type20http://blog.dzaia-bs.com/?p=545 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 id_hash type.G un>< tF?  | [ - (  h B g 3 ,  X L G nullfilter typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/08/robotika-robot-problematika/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 slash_comments typeI just knew what was happened to me…http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/kegagalan-adalah-keberhasilan-yang-tertunda-ditunda-tundakan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 linkda3faff98f10172eb268629c79af774bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 id_hashdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/super-8-super/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 comments typeSM(phttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/which-one-am-i/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 author2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 order type&- mFB]V(! u T %  N G   f _ 4 - stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/kucoba-dalam-100-kata/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 idslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 author typeThe “N” Factorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=558 wfw_commentrss type2009 6 21 12 54 26 6 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=418 updated100http://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/hsin-chu-science-park/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 content type$o d]/*h n e 9 2  ] <  t o datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/memaknai-hari-lebaran/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 link2010 10 7 0 24 32 3 280 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 dateddca5309103af5b9fb1e2f8033a3de13http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 order typef73a3d6390c8367d8834104966ca796fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 content typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/tentang-film-facebook/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 title type<i]1* \ 3 ] V ) " E $ sF? o%%X7stringgenerator typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328http://blog.dzaia-bs.com/2011/03/massimiliano-allegri/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 id typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632http://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-4-memulai-petualangan-baru/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/lentera-ide-ppi-taiwan-the-story-behind/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 id14http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 content type812fddc735ef57bf79f99d7331533933http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 id_hashslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496http://blog.dzaia-bs.com/2011/07/nelayan-dan-ketidakberdayaan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 comments type

Jika kesempatan itu tidak ada, maka gue yang mengejarnya.

Jika kesempatan itu tidak juga ada, maka gue yang menciptakannya.

Karena dalam hidup, kesempatan hanya datang satu kali.

Dan waktu tidak berdetak ke kiri.

~ Adhitya Mulya, Catatan Mahasiswa Gila hal.173-174 ~

http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/09/passion/http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 order type2011 2 1 19 39 11 1 32 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 dateSelalu ada yang berubah. Entah tentang perasaan maupun keadaan. Jakarta tidak jauh berbeda dengan sembilan bulan yang lalu. Masih macet, masih sumpek, dan masih membuat tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi hati kecil berkata sebaliknya. Ia betah tinggal di Indonesia. Macet, sumpek, dan kekesalan-kekesalan lainnya tentang kota itu seakan bisa dilupakan begitu saja ketika ada [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 author typeSM&http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 content89http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 id2 }q<5a1/ c \ 3  { t O 6  u ] 5  filterdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 updated typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 date typef82cc41ac379c6b58b8873391cb30b2dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 id_hash2012 3 2 16 5 12 4 62 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 summary type6http://blog.dzaia-bs.com/?p=458 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 comments type2010 2 23 18 4 47 1 54 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 updated type2010 12 30 6 29 20 3 364 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 summary type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/leofoo-village/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 slash_comments typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 date type57http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 orderDle0)e0 ^ Y 0 g F  n ^W*#rB\U'"http://wordpress.org/?v=3.3.2generator_namehourlysy_updateperiodstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 title typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/tendangan-dari-langit-sepakbola-cinta-keluarga/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 link typeHari ke-18 : Friendshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 wfw_commentrss type62http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 orderPerkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 content typeda7c8e17e7f775f81a89d98eaf474051http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 id_hashd360d7e83a4dd7405ca023ecd5890a56http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 slash_comments typeNonton bioskop di Taiwan tidak semurah di Indonesia. Meskipun sudah ada diskon untuk pelajar dan mahasiswa, tetap saja harga tiketnya masih lebih mahal. Untuk film 2D, harga tiket normal dijual 270 NTD (+ Rp 81.000,-). Diskon untuk pelajar hanya 30 NTD. Jadi dengan memperlihatkan kartu mahasiswa, kita bisa mendapatkan tiket lebih murah + Rp 9.000,-. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 id_hash type2012 3 15 16 11 52 3 75 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 date0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/new-years-eve-2011/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 summary typeSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 authorSM &http://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 content" pi@4 vMF { r = 6  stringlink typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 wfw_commentrss typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 author2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 id typeSM http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/another-project/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 link typeSMN http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 id type3 Hari 3 Kotahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 link type* i3nM G   ~ e 5 3 y J G !  The Last Onehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 title13http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 author typeSM*http://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 contentHari ke-3 : Menginjakkan Kaki Pertama Kalihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 slash_comments2010 5 26 3 34 6 2 146 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-18-friends/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 comments type7b395fba06efa27914556abca85986ddhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 id_hashdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/first-photo-fn/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 author typeSM- http://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 content" xC< sKB  i ? } U L   dzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 author typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/memaknai-hari-lebaran/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 commentsDo You Treasure Childhood?http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 title0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 slash_comments1http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 authorSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 contentSM$http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 id typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1529 slash_comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=13520) ]V)"]Z,% k d = :  } v A :  e > :  l e 0 ) stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 comments108http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2012/05/hari-ke-20-radio-ppi-dunia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2012/05/hari-ke-20-radio-ppi-dunia/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 wfw_commentrss typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=140396http://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 id type58http://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 summary type24http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 orderdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 id type9f249ef9100564806c7c8491a8c3e845http://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 id_hash, `Y.)Z@  x E   | u A :  | ?   stringlastbuilddate type3 Mingguhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/remember-the-december/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1702 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/fit-proportional/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 summary typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 wfw_commentrss type2012 3 15 16 11 52 3 75 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 updated2010 12 22 17 22 0 2 356 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 date2http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 comments typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 wfw_commentrss type& pi>7 R# Q J   F   o 0  stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/in-between-difficult-choices/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 order typeaeeab7959d037ec8f689eb4d36140552http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 summary typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144Not mine of course, I do apologize for disappointing you when you expected to read my funny story after read the title. You know (or if you don’t know then I’ll tell you) that I am not good enough at making fun of myself. So, it is about the movie that I just watched last [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/new-companion/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-16-nonton-bioskop-di-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 wfw_commentrssSMhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1669 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 content typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 updated typehref="http://blog.dzaia-bs.com/2007/09/buka-puasa-di-masjid-agung-taipei/">3 tahun lalu, Ramadhan-ku saat itu sepenuhnya dihabiskan di Taipei. Ramadhan pertama (dalam 23 tahun) yang jauh dari keluarga. Agak aneh memang merasakan puasa di lingkungan baru, karena saat itu juga aku baru beberapa hari tiba di Taiwan. Masih jelas dalam ingatan, waktu pertama kali ke masjid dan bertemu dengan Pak Zul. Pertemuan di masjid di seberang taman Da-an itu begitu menggembirakan karena kabarnya ada buka puasa gratis di masjid selama bulan puasa. Bukan gratisnya yang menyenangkan (walaupun itu juga termasuk hitungan), namun suasana Ramadhan itu lah yang ingin kualami. Sahur bersama, berbuka bersama, dan tarawih berjamaah. Dan ternyata sebulan itu bukan waktu yang lama, hingga akhirnya dapatlah satu kredit yang apabila dikumpulkan selama tiga tahun maka berhak untuk dicap dengan stempel ‘Bang Toyib’.

2 tahun yang lalu, tidak jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Ramadhan dan Lebaran di Taipei. Sahur di kamar, buka puasa di masjid, cuci piring bersama setelah makan, tarawih 20 rakaat plus witr 3 rakaat, kemudian terkadang berlanjut dengan chit-chat bareng teman setelah pulang tarawih. Ada juga dalam seminggu itu hari-hari istimewanya. Maksudnya, agak berbeda dengan hari2 puasa biasa. Untuk hari rabu misalnya, salah satu kantor perwakilan Indonesia di Taiwan mengundang mahasiswa2 untuk berbuka bersama dan salat tarawih berjamaah. Dan untuk hari sabtu, ada masakan-masakan Indonesia atau India/Pakistan yang bergantian menyuguhi orang-orang yang datang di masjid kecil. Lebaran saat itu pun hanya dirayakan sekedarnya bersama teman2 yang lebih memilih tinggal di Taiwan daripada harus ikut berjibaku menghadapi fenomena tahunan, arus mudik dan arus balik.

Setahun kemarin, Ramadhan-ku separuh awal di Indonesia, sehari di Malaysia, dan separuh akhirnya di Taiwan. Mushola di depan rumah yang baru saja rampung, menjadi tempat salat tarawih yang baru. Walaupun tempatnya kecil, tapi cukup nyaman. Kalau pun kehabisan tempat di dalam, tinggal ambil karpet dari rumah dan digelar di pelataran mushola. Di pertengahan Ramadhan saat itu, aku kembali ke Taiwan sambil mampir 2 hari 1 malam di Malaysia. Pertama kali naik AirAsia ke Malaysia, sampai2 salah terminal waktu berangkat. Sangkanya setiap penerbangan AirAsia akan lewat terminal 3, si terminal baru itu. Tapi ternyata setiap penerbangan internasional apapun maskapainya masih tetap lewat terminal 2-D. Puasa di Malaysia mirip2 di Indonesia, beberapa restoran menutup jendelanya dengan gorden, walaupun ada juga yang tidak. Kembali ke Taiwan, kembali mengulang lagi rutinitas puasa tahunan di Taiwan: sahur sendiri, buka puasa dan tarawih di masjid, dan tidak lupa sesekali ikutan tim cuci piring. Hingga akhirnya raihan prestasi Bang Toyib yang 3 kali Lebaran nggak pulang2 berhasil kusamai.

Tahun ini, rencananya Ramadhan-ku 60% awal di Taipei, 2 hari 1 malam di Malaysia, dan sisanya, sudah diputuskan untuk kembali ber-Lebaran di Indonesia. Untuk Ramadhan kali ini, sahurnya bareng2 dengan teman2 di kampus tetangga. Cari suasana sahur baru. Sedangkan rutinitas lainnya, mirip 1, 2, dan 3 tahun sebelumnya.

Untuk Lebaran, mental ini harus dipersiapkan dengan baik karena akan banyak sekali pertanyaan2 yang -haduh pastinya- bikin malas menjawabnya. Lebaran tahun ini perasaanku bakalan campur2. Di satu sisi senang, karena akan bertemu dengan keluarga dekat, keluarga jauh, dan teman2. Di sisi lain, aku malas menghadapi pertanyaan2 klasik -yang entah akan muncul dari siapa nantinya- ketika seseorang sudah mengalami masa seperempat abad. Apalagi ditambah masalah studi yang belum selesai juga. Whatever nanti lah… semoga saja nanti tidak semengerikan yang kubayangkan.

Bukan ketupat yang menjadi makanan khas saat Lebaran di kampung kakek/nenek-ku, Boyolali. Kalau nggak salah Lebaran ketupat itu baru seminggu setelah  

Nowadays, technology becomes one of important things in our life to make our work easier and more practical. Speaking of technology, it is close or identical to electronics. Beside Japan and United States who are leading in this market since long time ago, Taiwan in the last 20 years has become one of new players that has to be considered. Their achievement in the last few years was pretty awesome. Most of notebooks, LCD monitor, computer hardware, chips, and LED, were manufactured in Taiwan. And behind this successful, there lie science park. One of the oldest and famous science park is Hsin-Chu Science Park which was established on December 15th, 1980 by the government of Taiwan with the investment of Kuomintang.

There are several reasons behind the science park establishment. Flashback in the late 70s, Taiwan’s industrial parks gradually ran out of its competitive advantage in low cost manufacturing due to the rapidly rising wage. It made the foreign investments in Export Processing Zones slowed down and some of them moved to neighboring South-East Asia countries. As the result, stagnation of economic growth could not be avoided.

A new strategy to help Taiwan’s economy was needed. Fortunately, Taiwan government received valuable advice from Stanford’s Dean, Frederick Emmons Terman, to established indigenous high-tech industry base. It referred to adopt Silicon-Valley in US, which has been proven  of its successful. Then the strategies continued with luring back some expatriate, engineers, scientists, and other high-tech professionals. University engineering enrollment was also increased.

To realized the project, Taiwan government spent 500 millions USD in ten years plus 500 hectares park development plan. They built infrastructures, selecting and recruiting park’s clients, facilitating investment environment, facilitating living environment, building bridge between universities, R&D institutes and park clients.

As a result, today at Hsin-Chu Science Park, around 400 companies were established. They are working on semiconductor, computer peripheral and hardware, telecommunication, and opto-electronic. The two top semiconductor foundries, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), and United Microelectronics Corporation (UMC), are in Taiwan.

*****

Score : 85
#3 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

he week nih kayanya…

http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 link typeAda yang bilang bahwa “jangan terlalu membenci seseorang/sesuatu, karena mungkin suatu saat perasaan itu bisa berbalik.” Demikian juga sebaliknya. Sampai suatu saat, gue menemukan seorang teman yang menulis entah di mana dengan menggunakan prinsip ini yang kemudian dia buat hipotesa baru yang intinya, “buatlah seseorang jadi setengah mati benci kepadamu supaya dia menyukaimu.” Aneh ya? [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717http://blog.dzaia-bs.com/?p=717 id2010 9 20 7 10 33 0 263 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=561 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 comments type12http://blog.dzaia-bs.com/?p=565 slash_comments7ba6aedf61db5499a5f2e00b4aba9924http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id_hash2011 5 31 17 40 31 1 151 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/what-if/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 link typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 authorO http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 contentMeninggalkan Zona Nyamanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 title- 

January 2007, Taiwan started to open their new mass transport which promising fast and convenient service for the public. Taiwan High-Speed Railway (THSR) has become one of preferable choices to move around the cities around Taiwan besides using city bus or conventional train. Its advantage is obvious, it cuts the time significantly. By using conventional train, it is needed 4,5 hours to travel between Kaohsiung and Taipei City, but by using THSR it just needs 90 minutes with + 250-300 km/h speed in average, running on 335,3 kilometers railway.

Taiwan and Japan in somewhat aspects, such as geography and demography, have several similarities. For those reasons THSR chose to adopt the system from Japan’s Shinkansen, the high-speed rail system in Japan. Taiwan High-Speed 700T Train which is used by THSR was manufactured by consortium of Japanese companies. The benefit of adopting Japan’s HSR system is its UrEDAS (Urgent Earthquake Detection and Alarm System) to prevent damage caused by earthquake. And for all its consequences built THSR, THSR corporation spend 15 billion USD, and it became the largest privately transport schemes to date.

Unlike HSR in Europe and other Asian countries, THSR has so many stop stations in one route. Taipei, Banciao, Taoyuan, Hsinchu, Taichung, Chiayi, Tainan, and Zuoying THSR stations have operated till now on. And 5 other stations are still on the plan. This situation gives positive and negative points. Having so many stop stations will affect the speed optimization. The train cannot maintain its running in full speed for longer time. But behind its drawback, there is positive thing also can be gotten. It will stimulate and trigger the economic sectors of the city around the station. From business viewpoint, the people surround the station can use this opportunity to run or make a business.

Talking about improvement of HSR, speed and technology are the two hottest things that need to be concerned. As we know for nowadays there are two technologies which are applied for HSR, the conventional railway and magnetic levitation (Maglev) system. The fastest HSR which runs on conventional railway operates at France. V150 (the train type) can achieve up to 574,8 km/h. And for maglev system, the record had been broken by Japan’s MLX01 which can run 581 km/h. Therefore, it is interesting to wait THSR improves in the future, both in technological side and also its social influences.

*****

Score : 85
#4 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

ng pedagang tidak akan pernah tahu keadaan riil sebenarnya yang terjadi. Bagaimana kelakuan, sikap, tindak tanduk, mimik, dan hal-hal detail dari para calon customer tidak akan pernah kita dapatkan seutuhnya jika kita menggunakan tangan kedua untuk memperoleh informasi itu. Jadi, tujuanku ke sini adalah untuk beberapa hal. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, untuk memenuhi the most important thing that seller must do, which is meet your customers. Ketiga, untuk melakukan pengamatan baik itu kepada customer, partner, maupun competitor. Dalam hal ini competitor tidaklah aku anggap sebagai pesaing, melainkan sebagai pihak yang kita bisa belajar lebih banyak hal daripadanya karena kemiripan yang kita miliki.”

Ah, itu kan alasan pembenaranmu saja. Tetap saja yang terlihat dari dirimu itu kalah sebelum bertanding. Engkau tidak siap untuk berjualan, bahkan kelihatan niatnya saja tidak.

“Silakan saja kalau mau menilaiku bagaimana. Itu hakmu. Tapi perkataanmu itu sebagian ada benarnya. Aku memang tidak mempersiapkannya dengan matang, padahal aku sudah merencanakan sesuatu sebelumnya. Meski kemudian aku tidak terlalu niat seperti yang kuniatkan sebelumnya. Jadi, aku sendiri bingung mengapa seperti itu.”

Orang yang aneh. Eh, tapi tunggu dulu. Siapa tahu ada sesuatu dibalik sikap pasif itu. Di balik tempurung tengkorak kepalamu itu tersimpan suatu pemikiragaku lepat. Mengakui kesalahan. Tidak jauh beda dengan lontong yang berarti olone kotong, atau kejelekannya kosong. Tentunya bukan hanya luarnya atau kreceknya alias kulitnya yang mengaku salah, tapi juga harus tulus dari dalam hati. Orang Jawa biasa menyebut kedelai dengan dele. Dan saya sungguh tertawa ketika si mubaligh itu dengan selera humornya berkata bahwa setelah bermaaf-maafan dan mengakui kesalahan, maka kita tidak boleh seudele dewe. Seenaknya sendiri. Sikap itu harus dihancurkan sekecil mungkin hingga menjadi bubuk. Kerupuk juga faktor penting dalam hidangan dan juga silaturahmi, karena filosofi dari kerupuk adalah kerukunane dipupuk. Tapai ketan terdiri dari dua kata dan dua sifat. Ketan bersifat lengket, tapai sifatnya manis. Seyogyanya kita hanya mengingat-ingat dengan lekat hal-hal yang manis dari saudara-saudara serta karib kerabat.

Seiring perkembangannya, hidangan di acara Halal Bi Halal selalu berubah-ubah. Bahkan di kampung saya, dalam acara Halal Bi Halal jarang ditemui adanya menu khas tersebut. Selain menghilangnya menu khas, rasa keterikatan antar keluarga juga semakin lama semakin menghilang dengan semakin membesarnya keluarga dan bertambahnya generasi. Terus terang saya merasa seperti orang lain di tengah keluarga besar saya sendiri. Tidak mengenal lagi silsilah dan hubungan darah, bahwa kita sebenarnya mewarisi bibit-bibit yang sama dari orangtuanya Mbah Buyut. Halal Bi Halal memang bukan ajaran yang diwariskan Nabi Muhammad pada umatnya, namun menjalin tali silaturahmi itu penting.

Satu hal dalam memaknai Lebaran buat saya adalah mengikat kembali tali-tali yang terputus. Mengencangkan lagi tali-tali yang renggang. Memupuk kembali bibit-bibit yang ditanam. Dan satu tahun waktu yang cukup pas. Tidak terlalu lama, tidak terlalu cepat. Karena umur, hanya rahasia Yang Maha Kuasa, pergunakan selagi bisa.

Melalui blog ini izinkan saya memohon maaf atas segala khilaf. Minal Aidin wal Faizin.

asih memiliki 3 paman dari keluarga Nenek.

Ayah saya adalah anak pertama dengan 7 orang adik. Saya memiliki 27 orang sepupu dari keluarga Bapak. Total, ada 32 cucu dari Nenek. Sampai di sini mungkin sudah bisa digambarkan betapa besarnya keluarga dalam 4 generasi. Sehingga dengan paman sendiri atau sepupu sendiri pun saya hanya tahu nama panggilannya saja. Selain karena memang kita jarang bertemu, kecuali di hari Lebaran. Jika tidak ada hari Lebaran, mungkin dalam setahun kita belum tentu bertemu. Saya absen 3 kali di acara tahunan ini sejak 2007 hingga 2009. Dan itu membuat saya semakin yakin bahwa, selama bisa diusahakan, Lebaran tidak boleh dilewatkan lagi di kemudian hari.

Hari Kamis yang lalu dalam acara Halal Bi Halal, seorang mubaligh yang juga seorang sejarawan mengungkit kembali asal-usul dan filosofi dari Halal Bi Halal dan juga hidangannya. Konon kabarnya Halal Bi Halal mulai dikenal dari Semarang. Dulu di sana setelah selesai salat Ied, para jamaah melanjutkan kegiatannya dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah kepada keluarga-keluarga terdekatnya. Semakin lama anggota keluarga semakin membesar. Maka untuk mengefisienkan waktu, diadakanlah pertemuan keluarga besar yang bermaksud mengumpulkan seluruh anggota keluarga dalam satu tempat dan waktu. Pertemuan ini kemudian kita kenal dengan sebutan Halal Bi Halal. Setiap tahun, saya bersama keluarga biasa menghadiri 3 acara Halal Bi Halal. Selain dari yang saya ceritakan di atas, ada dua Halal Bi Halal lagi yang berasal dari keluarga Kakek dari Ibu.

Dalam acara Halal Bi Halal, pasti selalu ada hidangan yang disuguhkan untuk para tamu. Kabarnya jaman dulu, aslinya hidangan khas Halal Bi Halal adalah ketupat atau lontong yang dilengkapi dengan sambel goreng ati dan krecek (kerupuk kulit), bubuk kedelai, dan juga kerupuk. Ada juga hidangan khas setiap Lebaran yaitu, tapai ketan. Ketupat, atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan kupat. Kupat, jika diterjemahkan dengan bahasa filosofinya mubaligh itu, maka artinya adalah n

Saya baru ngerti filosofi dari Halal Bi Halal, entah memang bener begitu adanya atau hanya untuk memberi makna mengenai Halal Bi Halal itu sendiri. Momen itu ada dalam acara Halal Bi Halal yang digelar oleh keluarga besar nenek dari ayah. Tapi sebelum itu, saya gambarkan dulu seberapa besar keluarga ini. Dalam keluarga ini, saya adalah generasi ke-4, berarti ayah saya generasi ke-3, dan nenek saya adalah generasi ke-2. Maka dari orangtua Kakek Buyut (ayah dari Nenek) lah semuanya berasal.

Kakek Buyut saya adalah keturunan ke-6 dari 17 bersaudara. Jumlah itu mungkin saja terinspirasi dari hari kemerdekaan. Dan betul sekali, bisa dibentuk satu kesebelasan dengan 6 pemain cadangan. Sayangnya memang tidak bisa, karena dari 17 itu yang laki-laki hanya 7 dan 10 lainnya perempuan. Lebih seru kalau membuat usaha katering dengan jasa layanan antar. Yang perempuan memasak, yang laki-laki mengantar. Saya sering diceritakan oleh Bapak (saya memanggil ayah dengan sebutan Bapak) tentang Mbah Buyut. Mbah Buyut biasanya menunggui Bapak di depan rumah, belum masuk rumah kalau Bapak belum pulang, belum makan kalau Bapak belum makan. Bapak terkadang harus pulang agak larut karena harus mengantar tembakau. Namun meski larut, Mbah Buyut tetap menunggu di depan rumah hingga Bapak pulang. Bisa dikatakan Bapak adalah “golden boy”-nya Mbah Buyut.

Mbah Buyut memberikan 8 keturunan. Kira-kira bisa membentuk tim voli atau tim basket dengan 3 pemain cadangan. Yang pertama meninggal sewaktu muda. Nenek saya nomor tiga. Beliau meninggal setelah beberapa minggu saya berangkat ke Taiwan untuk yang pertama kalinya. Kalau saya merasa memiliki jiwa petualang, bisa jadi itu berasal dari DNA Nenek. Kalau Bapak punya sifat agak keras kepala, mungkin itu juga berasal dari sifat Nenek. Kalau paman-paman dan tante-tante saya suka ngebanyol dan membuat ramai seisi rumah, pasti itu asalnya dari Nenek. Dari 8 bersaudara, yang 5 sudah berkumpul di alam kubur, masih ada 3 yang termuda. Bapak masih memiliki 3 paman dari keluarga Nenek.

Ayah saya adalah anak pertama dengan 7 orang adik. Saya memiliki 27 orang sepupu dari keluarga Bapak. Total, ada 32 cucu dari Nenek. Sampai di sini mungkin sudah bisa digambarkan betapa besarnya keluarga dalam 4 generasi. Sehingga dengan paman sendiri atau sepupu sendiri pun saya hanya tahu nama panggilannya saja. Selain karena memang kita jarang bertemu, kecuali di hari Lebaran. Jika tidak ada hari Lebaran, mungkin dalam setahun kita belum tentu bertemu. Saya absen 3 kali di acara tahunan ini sejak 2007 hingga 2009. Dan itu membuat saya semakin yakin bahwa, selama bisa diusahakan, Lebaran tidak boleh dilewatkan lagi di kemudian hari.

Hari Kamis yang lalu dalam acara Halal Bi Halal, seorang mubaligh yang juga seorang sejarawan mengungkit kembali asal-usul dan filosofi dari Halal Bi Halal dan juga hidangannya. Konon kabarnya Halal Bi Halal mulai dikenal dari Semarang. Dulu di sana setelah selesai salat Ied, para jamaah melanjutkan kegiatannya dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah kepada keluarga-keluarga terdekatnya. Semakin lama anggota keluarga semakin membesar. Maka untuk mengefisienkan waktu, diadakanlah pertemuan keluarga besar yang bermaksud mengumpulkan seluruh anggota keluarga dalam satu tempat dan waktu. Pertemuan ini kemudian kita kenal dengan sebutan Halal Bi Halal. Setiap tahun, saya bersama keluarga biasa menghadiri 3 acara Halal Bi Halal. Selain dari yang saya ceritakan di atas, ada dua Halal Bi Halal lagi yang berasal dari keluarga Kakek dari Ibu.

Dalam acara Halal Bi Halal, pasti selalu ada hidangan yang disuguhkan untuk para tamu. Kabarnya jaman dulu, aslinya hidangan khas Halal Bi Halal adalah ketupat atau lontong yang dilengkapi dengan sambel goreng ati dan krecek (kerupuk kulit), bubuk kedelai, dan juga kerupuk. Ada juga hidangan khas setiap Lebaran yaitu, tapai ketan. Ketupat, atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan kupat. Kupat, jika diterjemahkan dengan bahasa filosofinya mubaligh itu, maka artinya adalah nWesuai, serta akting dan penampilan yang terlihat alamiah. Sedikit catatan, tentang hal yang terakhir itu tidak ditujukan untuk para bintang tamu.

Sayangnya sinematografi di film ini tidak sebaik di film-film Hanung yang lain seperti, Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban. Seperti kurang sepenuh hati. Sang Pencerah dan ‘?’ konon kabarnya juga bagus dari segi gambar, tapi saya belum nonton, jadi belum bisa membandingkan dengan yang dua itu. Saya juga agak terganggu dengan pesan-pesan sponsor yang lalu lalang di film ini. Meski begitu, overall, saya suka film ini.

Ka’bah (DBLK) bergenre drama, dan Tendangan Dari Langit (TDL) yang bergenre olahraga.

Awalnya saya bingung menentukan, apakah akan memilih DBLK atau TDL. Bukan karena DBLK yang menampilkan Laudya Cynthia Bella yang menjadi pertimbangan, melainkan karena ceritanya diangkat dari novel legendaris karya Buya Hamka. Namun akhirnya pilihan jatuh pada TDL karena berat pada dua pertimbangan lainnya. Tentu juga bukan karena pengen nonton Irfan Bachdim main film. Sebabnya adalah karena film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan film ini tentang sepakbola. Film Hanung terakhir yang saya lihat di televisi, Perempuan Berkalung Sorban, punya sinematografi yang luar biasa. Sedangkan sepakbola, adalah hal lain yang bisa membuat akal sehat saya jadi sakit.

Film ini mengambil setting waktu yang belum lama terjadi. Setelah Piala AFF 2010 kemarin. Isu penyelenggaraan Indonesian Premier League (IPL) juga menjadi background tema film ini. Bercerita tentang anak SMA bernama Wahyu yang bersekolah di sekitar gunung Bromo yang memiliki bakat sepakbola layaknya pemain Timnas Indonesia. Namun sebenarnya Wahyu adalah pemain sepakbola bayaran. Dia bermain untuk klub yang diasuh Pakliknya, Hasan. Pahitnya, sang Bapak sangat tidak sejalan dengan hobinya bermain bola. Si Bapak memiliki trauma masa lalu dengan sepakbola. Padahal, niat si anak bermain bola salah satunya untuk menyenangkan bapaknya. Untuk membeli kuda supaya bapaknya terlihat gagah, dan membeli baju koko supaya bapaknya mau solat lagi. Wahyu yang berbakat, sebenarnya mempunyai keinginan untuk bermain di PERSEMA.

Kisah kehidupan jaman SMA digunakan sebagai bumbu film ini. Lengkap dengan masa-masa jatuh cinta, gengsi dan persaingan, serta kebandelan-kebandelan khas anak muda. Walaupun tampangnya ndeso, Wahyu bisa menggaet hati Indah, anak perempuannya Pak Kepala Sekolah. Hingga karena suatu insiden, Indah marah kepada Wahyu. Tapi Wahyu tidak menyerah, dan Indah pun masih sulit melupakan Wahyu. Di sekolahnya, Wahyu selalu bersama dengan dua sahabat karibnya. Teman ngocolnya.

Suatu hari bapaknya mulai mengijinkan Wahyu untuk main bola lagi. Ketika Wahyu berlatih dengan bapaknya, secara kebetulan dia terlihat oleh pelatih PERSEMA yang anaknya pernah diselamatkan Wahyu. Wahyu pun akhirnya mengikuti try out untuk menjadi salah satu pemain PERSEMA. Di tengah  masa percobaan, Wahyu didakwa menderita penyakit di kaki kanannya. Penyakit yang sama yang dulu mengubur karir sepakbola bapaknya. Cerita selanjutnya silakan ditebak-tebak sendiri.

Saya cukup puas dengan sajian yang hampir 2 jam itu. Tebak-tebakan saya tentang alur ceritanya selalu gagal. Kadang mengira akan berjalan happy ending, tapi kok malah sedih di kelanjutannya. Hampir pasrah apabila berakhir sedih karena waktu sudah melebihi 90 menit, seperti pada umumnya durasi film. Pernah baca di salah satu komentar trailer film ini, katanya film ini mengikuti film Goal. Beruntung saya belum nonton film yang dimaksud sama si komentator itu. Jadi buat saya, ini cerita baru. Walaupun sebelumnya pernah ada film bergenre serupa, Garuda di Dadaku, tapi yang dulu itu kesannya terlalu anak-anak. TDL lebih cocok untuk saya ketimbang GDD. Banyak faktor yang membuat film ini menarik buat ditonton. Kisah cinta monyet jaman SMA yang malu-malu tapi mau. Dialek-dialek Jawa yang mewarnai hampir separuh film membuatnya sangat jatuh ke bumi. Guyonan-guyonan konyol di tengah cerita. Lagu pendukung yang s

Ada 3 tiga alasan mengapa kemarin sore di XXI Pondok Indah Mall, saya memilih menonton film Tendangan Dari Langit. Yang pertama, karena saya kangen nonton film Indonesia. Oh ya, ada good news buat perfilman Indonesia, film-film bergenre kuburan mulai berkurang. Mungkin hantu-hantu itu sudah mulai capek dieksploitasi terus-terusan di layar lebar. Dari 6 studio yang ada saat itu, yang dua adalah film Hollywood, dan empat lainnya adalah film lokal tanpa genre horor. Empat genre yang ada itu pun variatif. Ada Get Married 3 bergenre komedi, Lima Elang bergenre persahabatan, Di Bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) bergenre drama, dan Tendangan Dari Langit (TDL) yang bergenre olahraga.

Awalnya saya bingung menentukan, apakah akan memilih DBLK atau TDL. Bukan karena DBLK yang menampilkan Laudya Cynthia Bella yang menjadi pertimbangan, melainkan karena ceritanya diangkat dari novel legendaris karya Buya Hamka. Namun akhirnya pilihan jatuh pada TDL karena berat pada dua pertimbangan lainnya. Tentu juga bukan karena pengen nonton Irfan Bachdim main film. Sebabnya adalah karena film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan film ini tentang sepakbola. Film Hanung terakhir yang saya lihat di televisi, Perempuan Berkalung Sorban, punya sinematografi yang luar biasa. Sedangkan sepakbola, adalah hal lain yang bisa membuat akal sehat saya jadi sakit.

Film ini mengambil setting waktu yang belum lama terjadi. Setelah Piala AFF 2010 kemarin. Isu penyelenggaraan Indonesian Premier League (IPL) juga menjadi background tema film ini. Bercerita tentang anak SMA bernama Wahyu yang bersekolah di sekitar gunung Bromo yang memiliki bakat sepakbola layaknya pemain Timnas Indonesia. Namun sebenarnya Wahyu adalah pemain sepakbola bayaran. Dia bermain untuk klub yang diasuh Pakliknya, Hasan. Pahitnya, sang Bapak sangat tidak sejalan dengan hobinya bermain bola. Si Bapak memiliki trauma masa lalu dengan sepakbola. Padahal, niat si anak bermain bola salah satunya untuk menyenangkan bapaknya. Untuk membeli kuda supaya bapaknya terlihat gagah, dan membeli baju koko supaya bapaknya mau solat lagi. Wahyu yang berbakat, sebenarnya mempunyai keinginan untuk bermain di PERSEMA.

Kisah kehidupan jaman SMA digunakan sebagai bumbu film ini. Lengkap dengan masa-masa jatuh cinta, gengsi dan persaingan, serta kebandelan-kebandelan khas anak muda. Walaupun tampangnya ndeso, Wahyu bisa menggaet hati Indah, anak perempuannya Pak Kepala Sekolah. Hingga karena suatu insiden, Indah marah kepada Wahyu. Tapi Wahyu tidak menyerah, dan Indah pun masih sulit melupakan Wahyu. Di sekolahnya, Wahyu selalu bersama dengan dua sahabat karibnya. Teman ngocolnya.

Suatu hari bapaknya mulai mengijinkan Wahyu untuk main bola lagi. Ketika Wahyu berlatih dengan bapaknya, secara kebetulan dia terlihat oleh pelatih PERSEMA yang anaknya pernah diselamatkan Wahyu. Wahyu pun akhirnya mengikuti try out untuk menjadi salah satu pemain PERSEMA. Di tengah  masa percobaan, Wahyu didakwa menderita penyakit di kaki kanannya. Penyakit yang sama yang dulu mengubur karir sepakbola bapaknya. Cerita selanjutnya silakan ditebak-tebak sendiri.

Saya cukup puas dengan sajian yang hampir 2 jam itu. Tebak-tebakan saya tentang alur ceritanya selalu gagal. Kadang mengira akan berjalan happy ending, tapi kok malah sedih di kelanjutannya. Hampir pasrah apabila berakhir sedih karena waktu sudah melebihi 90 menit, seperti pada umumnya durasi film. Pernah baca di salah satu komentar trailer film ini, katanya film ini mengikuti film Goal. Beruntung saya belum nonton film yang dimaksud sama si komentator itu. Jadi buat saya, ini cerita baru. Walaupun sebelumnya pernah ada film bergenre serupa, Garuda di Dadaku, tapi yang dulu itu kesannya terlalu anak-anak. TDL lebih cocok untuk saya ketimbang GDD. Banyak faktor yang membuat film ini menarik buat ditonton. Kisah cinta monyet jaman SMA yang malu-malu tapi mau. Dialek-dialek Jawa yang mewarnai hampir separuh film membuatnya sangat jatuh ke bumi. Guyonan-guyonan konyol di tengah cerita. Lagu pendukung yang s> 

Pernah ngerasa ketika semua orang beserta seluruh isi bumi seperti lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap kita? Bukan ‘sesuatu’-nya Syahrini loh ya. Tapi sesuatu yang meskipun itu nantinya adalah sesuatu yang baik, namun tetap membuat kita jadi nggak nyaman untuk saat ini. Well, if you don’t, then I do. Saya merasakannya beberapa bulan belakangan ini. Contohnya, ketika menghadapi pertanyaan-yang-mungkin-saya-sendiri-juga-nggak-tahu-jawabannya, atau pertanyaan-tentang-kenyataan-yang-nggak-enak-untuk-diungkapkan. Sungguh, ujian kalkulus jadi terasa mudah dibanding menjawab dua jenis pertanyaan itu. Padahal, sebenarnya mudah kan untuk menghindari itu? Tinggal meminimalisir interaksi dengan orang-orang. Di atas kertas memang gampang, tapi pada dasarnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Silaturahmi yang tak boleh terputus yang membuatnya nggak gampang. Apalagi silaturahmi, selain memanjangkan umur, juga melancarkan rizki.

Hal lain, perjalanan yang kesekian kalinya kembali ke Taipei, ternyata nggak juga semakin mudah. Ada saja hambatan yang membuat saya lagi-lagi berpikir, apakah ini saatnya banting setir? Is it the time to make my turn over? Atau kalo bahasanya Malcolm Gladwell, the tipping point. Apakah ini saatnya saya membuka kembali lembaran baru dan menutup kisah yang lama? Namun lagi-lagi, kebencian terhadap kata kalah dan menyerah membuat pikiran-pikiran itu terpinggirkan. I am not that weak. Terganti dengan semangat man jadda wa jadda. Selama ada kesungguhan yang tidak setengah-setengah, semuanya mungkin kok. Saatnya membuktikan kata-kata sakti itu. Karena selama ini, rasanya saya belum pernah sungguh-sungguh terhadap sesuatu. Semua terjadi begitu saja seperti air yang mengalir, seperti angin yang bertiup.

Dan beginilah saya di beberapa hari terakhir, hidup di malam hari, tidur di siang hari. Malam hari bergabung bersama anak-anak Taiwan di bawah basement perpustakaan tempat study room 24 jam. Percayalah, anak-anak berkacamata itu kadang sering membuat kita minder, tapi sering juga membuat kita nggak ingin kalah. Siang harinya, bersama mimpi menjalajahi negeri yang hanya ada di alam bawah sadar. Bedanya, kalo dulu saya nggak tahu harus ngapain dengan thesis ini. Sekarang, saya nggak tahu apakah sempat menyelesaikan semuanya dengan waktu yang tersisa. Bedanya lagi, dulu rasanya kalo sudah mentok ya mentok to rok tok tok. Kalo kini, ada saja ide-ide yang muncul entah dari mana buat menyelesaikan masalah itu. Ibarat kalo dulu naik mobil di jalanan ibukota, yang mana kalo sudah macet, ya nggak bisa ke mana-mana. Kalo sekarang, ibaratnya naik motor. Kalo macet di jalan raya, masih bisa lewat trotoar. Mungkin ini namanya the power of deadline.

Melihat ke belakang lalu ke depan, sepertinya Allah mendengar dan mengabulkan doa saya. Saat ini, saya melihat banyak sekali tantangan di hari-hari ke depan. Dan semua konspirasi yang ada yang membuat saya nggak nyaman ini, adalah sebuah setting yang manis yang Allah rancang supaya saya bisa mendapatkan apa yang saya minta dari-Nya. Sekarang tinggal membuktikan bahwa di ujung perjalanan yang berliku, penuh rintangan, dan melelahkan ini, ada buah yang manis yang menunggu.

Matahari sudah menempati singgasananya, saatnya mengucapkan selamat datang dunia mimpi.

blog ini… blog semata wayang yang jarang dibelai sama yang punya. Mentang-mentang lagi asik sama blog tetangga. Banyak yang mau diomongin sebenernya, namun suka ditunda-tunda. Jadi deh, cuma tertimbun dalam pikiran dan angan-angan… Pelan tapi pasti, hilang begitu saja dari kepala. Aha, mumpung lagi muncul sedikit nih, dan lagi sempat, tulis sekarang ah… [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=450 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 comments 

Saya memang bukan Apple user, atau setidaknya belum. Mungkin segera. Namun meski belum menjadi Apple user, saya termasuk orang yang menyayangkan ketika Steve Jobs meninggal di usia yang belum begitu tua. Alasannya, karena dia adalah salah satu orang yang sangat saya ingin temui dalam hidup ini. 56 tahun itu baru saatnya PNS menginjak masa pensiun seperti ibu saya. Baru saatnya menikmati hasil keringat masa muda serta menikmati masa-masa menggendong cucu. Jadi kalau dia sampai meninggal di usia 56, maka orang-orang Apple harus disalahkan. Steve terlalu banyak menanggung beban perusahaan sehingga tidak bisa 100% menjaga kesehatan tubuhnya. Apple terlalu bergantung pada Steve.

Lalu kalau saya lihat, bisa jadi di situlah letak kelemahan dan kelebihan Apple dibanding pesaing-pesaingnya. Bill Gates sekarang lebih concern dengan badan amalnya yang dikelola dengan istrinya. Google, Larry Page memang kembali memegang Google, tapi Sergey Brin malah berpergian berfoto-foto dan dipamerkan di Gplus-nya. Kalau Mark Zuckerberg masih sibuk dengan facebooknya, itu karena dia yang paling muda masuk ke dalam bisnis ini. Belum saatnya memanen hasil seperti senior-seniornya. Sisi bagusnya, Apple selalu berinovasi. Memadukan seni dan teknologi. Keunggulan yang tidak dimiliki kompetitornya.

Bedanya Steve dengan yang lain ada di karismanya. Saya cukup yakin kalau itu yang membuatnya menjadi one of the best marketer yang pernah dilahirkan ke bumi. Beberapa tahun belakangan ini saya rutin mengikuti presentasi yang dibawakan Steve ketika merilis produk-produk baru yang menjadi hype di dunia IT, iPhone dan MacBook Air. Dan setiap saya melihatnya “berjualan”, saya selalu ingin beli produknya. Untungnya saya nggak punya uang banyak, jadi mau beli juga mikir-mikir. Kekaguman saya pada Steve bermula bukan pada produknya, melainkan ketika melihat dan mendengarkan commencement speech-nya di Stanford di youtube beberapa tahun yang lalu. Menyentuh, dan menginspirasi. A treasure.

Ibarat batu berlian, semakin ditempa semakin mengkilap. Menjadi seperti Steve Jobs tidak mudah. Tempaan hidup yang dia lalui mungkin nggak akan terbayangkan oleh kita. Karena kita baru mengenalnya ketika dia sudah mengkilap. Kalau toh tetap kekeuh ingin meniru Steve, setidaknya ia telah mengajarkan kita bagaimana menjadi seperti dia. Yaitu dengan menanamkan keinginan untuk merubah dunia.

a-bs.com/?p=515 author http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 contentBeberapa bulan belakangan ini jumlah postingan di blog ini menurun drastis. Satu posting per bulan, seperti ngejar setoran yang penting ada update setiap bulan, supaya nggak merasa rugi bayar hosting. Rasanya kok malas ya nulis apaaaaa aja. Ya, apa aja yang keluar dari kepala. Apa karena sifat perfeksionis yang mengharuskan semuanya harus dilakukan dengan sempurna? [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=473 summary2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1072 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 order type> http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 contentstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 comments type16http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/the-beginning-is-half-of-the-whole/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1331 id_hash type7http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 author type2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 slash_comments!

Awalnya hanya rasa penasaran dengan sistem yang terbangun di balik layar radio ini. Akhirnya malah terlalu banyak ikut campur dan terlalu asyik berada di sana. Sebelum di-launching, aku memang tertarik dengan radio ini ketika sering mendengarkan siaran-siaran percobaannya. Aku tahu itu dari status YM! seorang teman yang menautkan statusnya dengan website Radio PPI Dunia. Ada juga teman yang mengompori untuk ikut bergabung menjadi penyiar di sana. Beberapa waktu setelah itu, di bulan Mei tahun 2009 pada tanggal 17, aku mengirimkan lamaran kepada orangtua si, eh, kepada pengurus Radio PPI Dunia.

Salam kenal,

Beberapa hari ini saya mengikuti terus acara uji coba siaran RDP, dan sampai saat ini saya kira cukup bagus. Selain menambah pergaulan, kita jadi tahu bagaimana kehidupan teman-teman Indonesia di perantauannya.

Tadi ketika mendengar DJ masboi on-line, katanya masih ada beberapa slot waktu yang kosong. Untuk itu bila memungkinkan, saya bermaksud untuk ikut berpartisipasi menjadi DJ untuk mewakili teman2 pelajar dan mahasiswa dari wilayah Taiwan. Kebetulan juga, saya ada pengalaman dengan radio online. Sebelumnya saya pernah menjadi DJ untuk kegiatan-kegiatan Radio Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan), namun sekarang tidak lagi karena pergantian generasi.

Terlampir CV singkat saya, setidaknya untuk mengenal sedikit banyak tentang saya.

Mungkin itu saja salam perkenalan dari saya, semoga RDP semakin oke, dan terimakasih atas perhatiannya.

Regards,

Dan dalam waktu kurang dari 2 jam saja, aku diterima untuk bergabung dengan radionya anak-anak Indonesia yang sedang merantau ini. Namun sebelumnya dilakukan tes dahulu untuk memastikan bahwa tidak adalah kendala teknis untuk siaran. Singkat cerita, tes berjalan lancar karena memang tidak ada hal yang baru yang aku dapatkan mengenai streaming radio online. Semuanya hampir sama dengan yang pernah kulakukan sewaktu di Radio Formmit. Bedanya, kalau dulu servernya modal sendiri, di Radio PPI Dunia servernya modal gotong royong.

Di Radio PPI Dunia, selain menjadi penyiar, aku juga bergabung dengan tim teknis. Kerjaannya ya berhubungan dengan hal-hal yang berbau teknis seperti, memaintain website, technical service kepada para kru, penyiar, dan pendengar sekaligus pengunjung website, membuat tutorial untuk para penyiar baru, dan lain-lain. Tidak mudah untuk mengelola radio yang harus running selama 24 jam, walaupun sudah dikerjakan bersama-sama. Permasalahan bisa timbul kapan saja karena perbedaan waktu aktif para kru. Selama menjadi kru teknis, otomatis setiap membuka laptop dan terhubung internet aku selalu membuka website radio untuk memantau jalannya siaran

Mungkin ada yang berpikir, ngapain sih bela-belain ngurusin begituan, padahal nggak dibayar. Hmmm… Buatku, ini bukan masalah apakah kerjaan ini menguntungkan atau tidak, ada benefitnya atau tidak, juga bukan masalah untuk memberikan kontribusi kecil positif untuk negara, it was simply because I like to do this very much. So, jadi memang sering terkadang jadwal yang sudah kususun yang seharusnya digunakan untuk riset, malah teralihkan untuk utak-atik di belakang layar radio ini. Sulit buat menghindar dari melakukan apa yang disukai. Ditambah lagi saat itu aku tidak cukup interest sama riset yang saat itu kukerjakan.

As the time went by, di tengah-tengah kepengurusan yang sedang berjalan saat itu, Pak Bos merasa perlu melakukan restrukturisasi dalam manajemen. Aku diminta untuk membantu Pak Bos sebagai salah satu wakil dari 2 wakil baru yang dia tunjuk. Dan sejak saat itu, keterlibatanku di radio jadi bertambah. Seperti dapat mainan baru, mainan lama sedikit demi sedikit mulai tersingkir. Aku mulai tidak bisa membagi waktu antara mana yang prioritas dan mana yang bisa sampingan. Aku hanya menuruti apa yang ingin kulakukan saat itu, dan saat itu aku menikmati bagaimana serunya bergaul dan bekerja dengan anak-anak 6

Canon 60D with Voigtlander Ultron 40mm F/2.0 for EOS

Perkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. Belum cukup familiar dengan menu-menu dan juga tombol-tombol yang berbeda dengan mantan saya sebelumnya, Nikon D90.

Saya tidak puas terhadap fitur video recording yang ada di Nikon D90. Itu salah satu hal mendasar yang menjadi alasan saya menjual D90 dan berpaling pada 60D. Sebagai generasi pertama kamera SLR berfitur video, D90 memang belum cukup matang dalam teknologi video recording. Saya merasa gambar yang dihasilkan kurang tajam, warna yang dihasilkan juga nggak natural, punya penyakit harus mati setiap 5 menit, noise yang mengganggu ketika sensornya panas, dan harus istirahat setelah itu. Lengkap sudah alasan untuk ganti kamera.

Sedangkan untuk kualitas foto, saya kira nggak jauh berbeda dengan Nikon D90. Kalo menurut saya, kualitas foto itu tergantung skill dan lensa, ditambah sedikit keberuntungan. Sebagai amatir, selama ini saya belum berani mengandalkan gambar yang benar-benar mentah tanpa editing. Saya masih belum bisa mengira-ngira dengan depth of field, serta kombinasi bukaan, shutter speed, dan sensitivitas sensor. Mau nggak mau memang harus banyak berlatih.

type1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 slash_comments1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 contentHadirnya bulan Desember gue rasa banyak membawa berkah, salah satunya sebagai pengingat, a reminder. Selain ngingetin kita bahwa musim dingin itu ada -terutama di belahan bumi bagian utara-, dia juga ngingetin kita bahwa introspeksi diri itu penting. Dari tingkat personal sampai perusahaan besar mulai itung-itungan bahwa apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, atau [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 link type40http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 id_hash typeJadi ceritanya di subuh hari ini saya penasaran dengan sebuah film yang ingin saya tonton di akhir minggu ini, Legend of The Guardians : The Owl of Ga’Hoole. Film animasi 3 dimensi yang diangkat dari kisah novel. Terkesan childish memang untuk anak-anak seukuran saya menonton film ini, tapi ada suatu rasa penasaran yang teramat sangat [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 link type26http://blog.dzaia-bs.com/?p=610 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 wfw_commentrss2011 9 30 1 7 42 4 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 dateslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501http://blog.dzaia-bs.comlinkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 summary typestringhttp://blog.dzaia-bsPerkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 summary

Dalam menonton film, yang seperti tebak-tebak buah manggis itu, belakangan ini saya lebih memilih untuk membaca reviewnya dulu daripada langsung memilihnya dengan instinct. Jika kemudian review dari tiap-tiap orang akan berbeda, itu hal yang wajar yang tentunya membuat saya bingung, apa betul film ini bagus atau buruk. Belum lama ini saya berlangganan review dari blog seorang kritikus film yang menurut saya memang bisa dijuluki sebagai ‘Raja Tega’. Jarang sekali yang dikasih pop-corn lebih dari 4 keranjang (maksimal 5). Tipikal si kritikus Raja Tega ini sangat-sangat perfeksionis. Semua aktor dituntut tampil maksimal dengan meresapi setiap peran. Dari segi cerita, harus ‘dalam’ dan meaningful, tidak menerima cerita datar dan murahan. Jadi, begitu saya melihat dia memberi nilai 4/5 untuk film Super 8, saya jadi berubah pikiran tentang film ini. Film yang dulu tidak sempat menarik perhatian saya karena review-review yang saya dapati sebelumnya.

Anak-anak, suasana jadul, dan cerita tentang keseharian. Tidak bisa tidak, saya langsung berkesimpulan, it’s definitely a good movie. Saya mulai suka dengan genre ini setelah saya menonton 2 film yang kini masuk ke dalam daftar film favorit saya, ‘That’s What I Am‘ dan ‘Flipped‘. Lalu, kenapa mesti 3 hal itu? Kata kuncinya ada di kesederhanaan. Peran anak-anak menurut saya selalu bisa menampilkan kepolosan. Saya salut kepada sutradara yang bisa mengarahkan anak-anak. Karena dari segi pengalaman, mereka sangat minim. Jikalau mereka bisa berakting alami, tentunya itu bakat bawaan lahir. Hal kedua, tentang suasana jadul. Perubahan jaman tidak selamanya berdampak positif, setidaknya dari pandangan saya. Ada degradasi nilai-nilai moral seiring melajunya jaman. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesopanan, kesantunan, yang dimiliki jaman dulu seperti barang langka di masa kini. Sedangkan cerita keseharian, menjadi menarik buat saya karena biasanya hal-hal yang terjadi di film itu juga terjadi pada diri kita. Dan tidak jarang, bisa memberikan solusi atau perspektif yang berbeda terhadap masalah yang sedang, atau pernah kita alami.

Satu lagi hal yang menarik dari film Super 8, yaitu tentang cerita sekawanan anak sekolah dasar yang sedang membuat film pendek tentang zombie. Joe (Joel Courtney) dan Alice (Elle Fanning) memang menjadi tokoh utama dari film keluarga tentang alien ini, tapi karakter Charles (Riley Griffiths) adalah magnet buat saya dalam film ini. Charles digambarkan sebagai sosok yang menggebu-gebu sebagai sutradara cilik. Dia berhasil membuat tim kecil berkapasitas 6 orang untuk produksi sebuah film pendek. Kru-kru yang terlibat di dalamnya juga mendapat kesempatan untuk mencicipi berakting di depan lensa kamera. Lebih keren lagi, kru yang dimiliki Charles cukup lengkap. Selain cameraman, ada juga divisi make-up, sound’s special effect, dan visual effect. Sebagai sutradara, Charles menghargai benar momen-momen yang bisa digunakan dalam filmnya sebagai production value. Selain sebagai sutradara ia juga merangkap sebagai aktor, penulis cerita, dan juga sound engineer yang mengontrol kualitas suara dalam proses produksi. Dengan keterbatasan yang ada di jaman itu, saya harus angkat jempol untuk pemilik ide cerita Super 8.

Saya membandingkan kru yang dimiliki Charles dengan kru Lentera Ide dalam memproduksi sebuah film, ternyata banyak perbedaannya. Terutama dari sisi teknologi yang sangat jelas berbeda dan perbedaannya sangat signifikan. Jaman itu semuanya masih analog, kamera masih menggunakan film dan editingnya pun terbatas. Sehingga mau tidak mau semuanya harus dimaksimalkan sejak awal. Sedangkan di jaman sekarang, kita bisa bertumpu pada kemampuan software video editing. Make-up, sound effect, visual effect, semua bisa dilakukan di depan komputer. Dengan kemampuan editing yang tanpa batas, kualitas film saat ini tinggal bersandarkan pada kualitas cerita dan akting para tokohnya. Berbeda dengan jaman dulu yang masih bisa dinilai dari segi visual dan audio. Sedikit banyak ini membantu merampingkan formasi dalam pembentukan tim produksi. Tentu yang saya maksud kali ini hanya untuk kategori produksi film pendek dan sederhana.

memang bisa dijuluki sebagai ‘Raja Tega’. Jarang sekali yang dikasih pop-corn lebih dari 4 keranjang (maksimal 5). Tipikal si kritikus Raja Tega ini sangat-sangat perfeksionis. Semua aktor dituntut tampil maksimal dengan meresapi setiap peran. Dari segi cerita, harus ‘dalam’ dan meaningful, tidak menerima cerita datar dan murahan. Jadi, begitu saya melihat dia memberi nilai 4/5 untuk film Super 8, saya jadi berubah pikiran tentang film ini. Film yang dulu tidak sempat menarik perhatian saya karena review-review yang saya dapati sebelumnya.

Anak-anak, suasana jadul, dan cerita tentang keseharian. Tidak bisa tidak, saya langsung berkesimpulan, it’s definitely a good movie. Saya mulai suka dengan genre ini setelah saya menonton 2 film yang kini masuk ke dalam daftar film favorit saya, ‘That’s What I Am‘ dan ‘Flipped‘. Lalu, kenapa mesti 3 hal itu? Kata kuncinya ada di kesederhanaan. Peran anak-anak menurut saya selalu bisa menampilkan kepolosan. Saya salut kepada sutradara yang bisa mengarahkan anak-anak. Karena dari segi pengalaman, mereka sangat minim. Jikalau mereka bisa berakting alami, tentunya itu bakat bawaan lahir. Hal kedua, tentang suasana jadul. Perubahan jaman tidak selamanya berdampak positif, setidaknya dari pandangan saya. Ada degradasi nilai-nilai moral seiring melajunya jaman. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesopanan, kesantunan, yang dimiliki jaman dulu seperti barang langka di masa kini. Sedangkan cerita keseharian, menjadi menarik buat saya karena biasanya hal-hal yang terjadi di film itu juga terjadi pada diri kita. Dan tidak jarang, bisa memberikan solusi atau perspektif yang berbeda terhadap masalah yang sedang, atau pernah kita alami.

Satu lagi hal yang menarik dari film Super 8, yaitu tentang cerita sekawanan anak sekolah dasar yang sedang membuat film pendek tentang zombie. Joe (Joel Courtney) dan Alice (Elle Fanning) memang menjadi tokoh utama dari film keluarga tentang alien ini, tapi karakter Charles (Riley Griffiths) adalah magnet buat saya dalam film ini. Charles digambarkan sebagai sosok yang menggebu-gebu sebagai sutradara cilik. Dia berhasil membuat tim kecil berkapasitas 6 orang untuk produksi sebuah film pendek. Kru-kru yang terlibat di dalamnya juga mendapat kesempatan untuk mencicipi berakting di depan lensa kamera. Lebih keren lagi, kru yang dimiliki Charles cukup lengkap. Selain cameraman, ada juga divisi make-up, sound’s special effect, dan visual effect. Sebagai sutradara, Charles menghargai benar momen-momen yang bisa digunakan dalam filmnya sebagai production value. Selain sebagai sutradara ia juga merangkap sebagai aktor, penulis cerita, dan juga sound engineer yang mengontrol kualitas suara dalam proses produksi. Dengan keterbatasan yang ada di jaman itu, saya harus angkat jempol untuk pemilik ide cerita Super 8.

Saya membandingkan kru yang dimiliki Charles dengan kru Lentera Ide dalam memproduksi sebuah film, ternyata banyak perbedaannya. Terutama dari sisi teknologi yang sangat jelas berbeda dan perbedaannya sangat signifikan. Jaman itu semuanya masih analog, kamera masih menggunakan film dan editingnya pun terbatas. Sehingga mau tidak mau semuanya harus dimaksimalkan sejak awal. Sedangkan di jaman sekarang, kita bisa bertumpu pada kemampuan software video editing. Make-up, sound effect, visual effect, semua bisa d

Eidul Adha 2011 at Taipei Main Station

Yesterday was my first time I did Eid al-Adha prayer at the different place from the four consecutive years before. Not in the different country, yet the location was different. The Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, together with PCI-NU Taiwan, collaborated to hold Eid prayer for Indonesian muslims who live in Taiwan, especially in Taipei. The venue was at around Taipei Main Station, in front of South Gate 2. The prayer began at eight o’clock in the very sunny Sunday morning. The speech was delivered by K.H. Mohamad Ali Aziz. So, last week was my extraordinary week since I could hear the Jummah prayer speech and Eid al-Adha speech, both in Bahasa. I did not count the number of people who were coming, but according to the information that I get, there were more than 2,000 Indonesian muslims. And of course, Taiwanese who were passing by the occasion were curious and wondering what we did.

mpak mengapal. Dingin telah membius semua sisi telapak tanganmu hingga mati rasa. Hingga kau tidak sadar bahwa kulit tdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 authordhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2010/02/kang-abik-di-taipei/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 date typec58a4719a0c08358f7912232de42fdb6http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 id_hashslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704KETIGA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA. Bah, baris ketiga dari isi Sumpah Pemuda itu mana laku lagi zaman sekarang? Walaupun saya yakin, dari sejak mulai ke sekolah pakai celana pendek warna merah sampai seumuran ke kampus pakai celana jeans, ada satu mata pelajaran yang pasti diajarin, yaitu Bahasa Indonesia. Terkecuali [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=704 summaryWhich One Am I?http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515Judulnya diambil dari dua hal yang sepertinya tidak ada hubungannya namun coba dihubung-hubungkan dalam rangka memudahkan penjelasan (bukan pembingungan) cara kerja dari suatu pendeteksi cahaya atau bahasa kerennya, photodetector. Mengapa pengandaiannya dengan sepakbola? Karena sebentar lagi Piala Dunia 2010 dimulai. Agak bingung juga mau dimulai dari mana, tapi saya kira cukup bersahabat kalau saya mulai [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=515 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 updated type9f8f21437989ba7ebeb4e97fdbd5e18dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=636 id_hashRobotika = Robot + Problematikahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 title76http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 orderSuper 8, Super!http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 title2cecdaad75eac9f4543ec794c95ee634http://blog.dzaia-bs.com/?p=1516 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=596 author typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/thats-what-i-am/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 commentsstringtitle typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 author11http://blog.dzaia-bs.com/?p=429 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/http://blog.dzaia-bs.com/?p=555 link27439fc1ac0cc657be91faa5a4e9aa1fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 slash_comments type

Satu lagi cara yang saya dapatkan untuk mengelompokkan sifat seseorang dan orang-orang. Biasanya saya hanya mengacu pada 4 personality yang dulu dikemukakan oleh Florence Littauer : Sanguinis, Melankolis, Phlegmatis, dan Koleris. Di bagian pengenalan tokoh Arial dalam novel “5 cm”, di situ Donny Dhirgantoro mengenalkan saya tentang teori kebutuhan menurut McClelland. Bahwa manusia didorong oleh kebutuhan yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu. Yang satu pernah saya bahas di sini. Pada saat itu yang mengenalkan saya oleh istilah N-Ach adalah Ust.Habiburrahman. Dan akhirnya, setelah beberapa tahun berikutnya, saya baru tahu kalau N-Ach ternyata punya saudara kandung, yaitu N-Pow dan N-Aff.

Lalu binatang-binatang apakah N-Ach, N-Pow, dan N-Aff ini? Yang enak emang tinggal manggil Om Wiki biar dijelasin semuanya. Tapi gini, dari artinya saja kita bakal bisa menebak-nebak karakter seseorang dari 3 faktor “N” ini. Menurut McClelland, manusia dikendalikan oleh kebutuhan untuk berprestasi atau need of achievement, kebutuhan untuk memiliki kekuatan dan kekuasaan atau need of power, dan kebutuhan untuk berafiliasi alias berteman atau need of affiliation. Yang pertama, dia akan puas ketika dia berprestasi dan kemudian diakui oleh lingkungannya. Yang kedua, ia akan merasa puas ketika ia mendapatkan kekuasaan atas segala sesuatu. Dan yang ketiga, ini yang paling sederhana, karena dia akan merasa cukup ketika banyak teman, tanpa peduli prestasi dan kekuasaan. Saya belum baca teori ini seutuhnya, jadi belum berani bicara macam-macam tentang ini.

Cara yang paling mudah untuk memahami teori biasanya dengan langsung menerapkan teori itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dalam hal ini, langsung saya praktekkan pada saya sendiri dan orang-orang yang saya kenal. Dan entah memang begitu adanya atau sengaja diada-adakan, paling tidak saya bisa menjodohkan satu nama yang saya kenal dengan satu faktor “N” yang dia miliki. Biar adil, dimulai dari saya dulu. Ada yang bisa menebak saya memiliki faktor “N” yang mana? Kalau tebakan Anda adalah N-Pow, maka Anda salah. Begitu juga kalau Anda menebak N-Aff. Saya juga nggak tahu apakah tepat atau tidak, namun saya merasa sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk berprestasi. Nggak percaya? Tentu saya juga butuh berteman, dan kadang-kadang butuh menguasai sesuatu, tapi itu nggak sebesar saya membutuhkan prestasi agar diakui dan dihargai. Tujuan akhirnya memang pengakuan dan penghargaan, tapi menurut orang-orang N-Ach (atau saya sendiri ya?) tidak ada jalan yang pantas untuk mendapatkan itu selain dengan berprestasi.

Maka sekarang saya tidak heran lagi, mengapa ada teman yang sangat-sangat termotivasi ketika ada event pemilihan-pemilihan ketua di suatu organisasi. Eh, tapi kalo masalah itu masih spekulatif juga ya? Maksudnya, keinginan untuk menjadi ketua di suatu organisasi bisa saja didorong oleh faktor “N” yang berbeda, entah karena dia menginginkan kekuasaan, atau kah ia melihat posisi ketua sebagai suatu prestasi, atau memang itulah jalan untuk banyak teman. Mungkin paling mudah untuk menebak faktor “N” yang dimiliki oleh seseorang yang banyak teman. Eh, tapi kalo banyaknya teman bisa dikatakan suatu prestasi, maka… Bagus, sekarang saya tambah bingung.

Pernah suatu waktu di jaman muda dulu saya punya teori yang agak aneh untuk berkenalan dengan orang lain atau teman baru. Saya mengharapkan si teman baru itu kenal saya dulu dan menyapa saya dulu, baru saya sapa dia balik, baru ngobrol. Ha? Kadang sampai sekarang masih begitu, saya mengharapkan orang lain mengenal saya dulu baru saya berkenalan dengannya.

Tiba-tiba saya kepikiran untuk menghubungkan 4 personality dengan 3 faktor “N”. Sanguinis memiliki N-Aff karena orangnya rame. Melankolis memiliki N-Ach karena menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya, prestasiR tinggi. Koleris memiliki N-Pow, cocok antara kepala batu dengan menginginkan kekuatan dan kekuasaan. Phlegmatis memiliki N-Aff karena orangnya damai untuk semua orang disekitarnya.

Yang jelas, di era sos-net dan pengolah gambar digital sekarang ini, hampir semua orang memiliki faktor “N” yang lain, N-Arcissistic.

ya tentang teori kebutuhan menurut McClelland. Bahwa manusia didorong oleh kebutuhan yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu. Yang satu pernah saya bahas di sini. Pada saat itu yang mengenalkan saya oleh istilah N-Ach adalah Ust.Habiburrahman. Dan akhirnya, setelah beberapa tahun berikutnya, saya baru tahu kalau N-Ach ternyata punya saudara kandung, yaitu N-Pow dan N-Aff.

Lalu binatang-binatang apakah N-Ach, N-Pow, dan N-Aff ini? Yang enak emang tinggal manggil Om Wiki biar dijelasin semuanya. Tapi gini, dari artinya saja kita bakal bisa menebak-nebak karakter seseorang dari 3 faktor “N” ini. Menurut McClelland, manusia dikendalikan oleh kebutuhan untuk berprestasi atau need of achievement, kebutuhan untuk memiliki kekuatan dan kekuasaan atau need of power, dan kebutuhan untuk berafiliasi alias berteman atau need of affiliation. Yang pertama, dia akan puas ketika dia berprestasi dan kemudian diakui oleh lingkungannya. Yang kedua, ia akan merasa puas ketika ia mendapatkan kekuasaan atas segala sesuatu. Dan yang ketiga, ini yang paling sederhana, karena dia akan merasa cukup ketika banyak teman, tanpa peduli prestasi dan kekuasaan. Saya belum baca teori ini seutuhnya, jadi belum berani bicara macam-macam tentang ini.

Cara yang paling mudah untuk memahami teori biasanya dengan langsung menerapkan teori itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dalam hal ini, langsung saya praktekkan pada saya sendiri dan orang-orang yang saya kenal. Dan entah memang begitu adanya atau sengaja diada-adakan, paling tidak saya bisa menjodohkan satu nama yang saya kenal dengan satu faktor “N” yang dia miliki. Biar adil, dimulai dari saya dulu. Ada yang bisa menebak saya memiliki faktor “N” yang mana? Kalau tebakan Anda adalah N-Pow, maka Anda salah. Begitu juga kalau Anda menebak N-Aff. Saya juga nggak tahu apakah tepat atau tidak, namun saya merasa sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk berprestasi. Nggak percaya? Tentu saya juga butuh berteman, dan kadang-kadang butuh menguasai sesuatu, tapi itu nggak sebesar saya membutuhkan prestasi agar diakui dan dihargai. Tujuan akhirnya memang pengakuan dan penghargaan, tapi menurut orang-orang N-Ach (atau saya sendiri ya?) tidak ada jalan yang pantas untuk mendapatkan itu selain dengan berprestasi.

Maka sekarang saya tidak heran lagi, mengapa ada teman yang sangat-sangat termotivasi ketika ada event pemilihan-pemilihan ketua di suatu organisasi. Eh, tapi kalo masalah itu masih spekulatif juga ya? Maksudnya, keinginan untuk menjadi ketua di suatu organisasi bisa saja didorong oleh faktor “N” yang berbeda, entah karena dia menginginkan kekuasaan, atau kah ia melihat posisi ketua sebagai suatu prestasi, atau memang itulah jalan untuk banyak teman. Mungkin paling mudah untuk menebak faktor “N” yang dimiliki oleh seseorang yang banyak teman. Eh, tapi kalo banyaknya teman bisa dikatakan suatu prestasi, maka… Bagus, sekarang saya tambah bingung.

Pernah suatu waktu di jaman muda dulu saya punya teori yang agak aneh untuk berkenalan dengan orang lain atau teman baru. Saya mengharapkan si teman baru itu kenal saya dulu dan menyapa saya dulu, baru saya sapa dia balik, baru ngobrol. Ha? Kadang sampai sekarang masih begitu, saya mengharapkan orang lain mengenal saya dulu baru saya berkenalan dengannya.

Tiba-tiba saya kepikiran untuk menghubungkan 4 personality dengan 3 faktor “N”. Sanguinis memiliki N-Aff karena orangnya rame. Melankolis memiliki N-Ach karena menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya, prestasi_

Pagi ini entah kenapa saya senang sekali ketika menerima sebuah pesan di hape dari seseorang. Mungkin akan sama senangnya misalkan SMS itu datang dari cewek yang saya taksir yang tiba-tiba bilang kalau dia juga suka sama saya. Isinya pendek, tapi bisa membuat bibir senyam-senyum juga berbunga di hati.

Mas jaya, trima kasih bnyk ya filmnya, trnyata bagus jg hasilnya. Smg LI smkn dikenal.

Tentang filmnya sendiri, sebenarnya saya agak gemas juga karena film tersebut tidak jadi diproduksi dengan kamera yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Bahkan dari jauh-jauh pulau. Walaupun akhirnya digunakan juga pada saat-saat penghabisan. Sehari sebelum syuting, ketika saya mau mengisi baterai kamera yang sudah kritis, saya baru sadar kalau charger yang saya pinjam ternyata nggak cocok dengan baterai kamera saya. Memang kameranya berbeda, tapi saya kira karena masih satu keluarga antara Canon EOS Kiss X3 (500D) dan 60D, chargernya akan sama. Charger saya (sepertinya) ketinggalan di rumah Jakarta. Padahal waktu mau berangkat ke Taiwan, perasaan semua sudah siap di tas kamera.

Jadilah pada tanggal 22 Oktober itu kami meminjam Canon Kiss X3 untuk menemani Nikon D3100 yang sudah kami pinjam sebelumnya. Untuk project itu, kami memang berencana untuk menggunakan dua kamera agar memiliki angle alternatif saat syuting, seperti yang kami lakukan untuk film Baruna-Baruna Formosa. Syukurlah, syuting berlangsung lancar dari pagi hingga sore. Cuaca yang diperkirakan tidak menentu akhirnya mau berkompromi. Kami juga melakukan beberapa eksperimen dalam pengambilan gambar. Tidak semuanya berhasil memang. Beberapa lainnya cukup layak untuk diambil beberapa detik untuk ditampilkan.

Aktivitas saat itu diakhiri dengan makan malam di warung Indonesia di sekitar stasiun Keelung. Kebetulan, di warung itu kami bertemu dengan kawan lama. Mas Tarno namanya. Perkenalan di perahu nelayan juragan Taiwan yang dipenuhi dengan canda dan berbagi cerita suka duka. Sangat membekas dan sulit dilupakan. Pengalaman syuting di Keelung memang mungkin akan terus terkenang. Bahkan hingga saat pulang ke Taipei, ketika tragedi kamera pinjaman ketinggalan di warung tempat kami makan. Untunglah ketika diambil semuanya dalam baik-baik saja dan tidak kehilangan suatu apapun.

Saat proses syuting berlangsung, teman saya yang menjadi aktor untuk episode 2 dari Lentera Ide itu bilang kepada saya bahwa dia baru saja dihubungi (atau menghubungi, saya lupa) ayahnya. Dia berkata pada ayahnya kalau dia sedang syuting. Ayahnya seorang guru, juga kepala sekolah di Aceh. Saat tahun ajaran baru, ayahnya memilih untuk bersembunyi karena menjadi the most wanted person untuk dimintai tolong supaya anak dari rekan dan kerabatnya dimudahkan untuk masuk ke sekolah yang dipimpinnya. Bayangan saya, si Ayah pasti bangga pada anaknya. Selain kepada ayahnya, dia juga bercerita pada keluarganya di Aceh.

Maka, untuk SMS yang datang di pagi hari ini, saya balas dengan,

Sama2 Pak.. Jgn lupa beri tahu keluarga.. :)

Ah, saya hanya mengingatkan hal yang tidak perlu saya ingatkan. Karena mungkin itu hal pertama yang ia lakukan saat videonya dirilis Senin kemarin, mengirimkan pesan bahagia pada orang-orang terdekat. Dan mungkin aneh kalau saya juga merasakan aura bahagia yang sampai ke saya lewat sinyal elektromagnetik.

Adakah yang lebih membahagiakan selain melukis senyum di wajah seseorang? Untuk alasan yang satu itu, I just really love this job.

41 link type61http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 author typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 id type~ uxJE|u  Y R ) Z S %  c Z 2 o F % }vJC{U:}OHBeing considered to be the top of ICT manufacturer by conquering 90% of WiFi market share in the world, Taiwan has moved to the next level of ICT industry. The E-Taiwan program which was established in 2002 had developed very well and fast in order to support Taiwan to enter the new era of mobilization [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 iddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 authorc7897caa3c174adaa37d8e8fcdbb12b5http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 id_hash2011 4 12 17 11 11 1 102 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/hsin-chu-science-park/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 comments typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=525 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=507 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=418 author2011 5 16 8 22 58 0 136 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 updatedd32ffdd6476013f1c77775f28e5d727dhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 id_hash2010 12 17 13 59 15 4 351 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 dateAkhirnya selesai juga membaca sebuah novel yang boleh dibilang topiknya agak jauh dari normal untuk dibaca oleh seseorang yang belum pernah mencicipi dan mengerti bagaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, tapi nahkodanya masih ragu-ragu. Saya juga baru sadar ketika ada teman yang mengomentari tentang novel yang saya review dalam acara Kutu Buku [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=486 summarydzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/11/the-n-factor/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/03/kok-males-nulis/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 id\http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 idslash_comments title author updated comments ordstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1653 summary typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 author typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 updated typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 

Gunung Sindoro - Sumbing

Pengalaman minggu lalu telah menegaskan pada saya bahwa seringkali gajah di pelupuk mata tak nampak, sedangkan semut di seberang laut terlihat jelas. Indonesia mungkin telah kehabisan sumber daya alamnya yang tak terbarukan, tetapi Indonesia masih punya pemandangan alam yang jauh bukan main eloknya. Sun Moon Lake dan Love River di Taiwan seperti nggak ada apa-apanya dibandingkan pasangan gunung Merapi-Merbabu di Magelang, Jawa Tengah. If you see it with your own naked eyes. Duduk di kursi paling belakang nomor 38 tepat di samping jendela sebelah kiri di pesawat Lion Air, dalam penerbangan yang seharusnya take-off pukul 14.00 WIB yang mundur kira-kira 30 menit, saya cuma bisa berjanji dalam hati ketika pesawat dalam hitungan menit akan mendarat di bandara Adi Sucipto, bahwa suatu hari nanti saya harus kembali lagi dengan pesawat ini dengan equipment yang lebih lengkap disertai sedikit tambahan nyali untuk memotret Gunung Merapi dari atas pesawat. Cuaca saat itu sangat-sangat buagus untuk memotret landscape pemandangan. Sinar matahari tidak terlalu terik, langit biru, dan awan membentuk komposisi acak tak beraturan. Maka selama melewati sore di Jogja, saya merasa berdosa karena tidak bisa mengabadikan anugerah indah itu.

Sekitar UNS

Hari berikutnya di Surakarta. Lebih tepatnya di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mengitari beberapa ruas jalan di komplek kampus ini sambil sesekali jeprat-jepret. Serasa muda kembali waktu melihat anak-anak mahasiswa mahasiswi itu hilir mudik keluar masuk kampus. Entah hanya perasaan saya saja atau memang anak-anak jaman sekarang lebih peduli penampilan. Dan lagi-lagi saya merasa berdosa ketika tidak mampu menangkap momen-momen dari aktivitas muda-mudi yang melimpah banyaknya itu. Masih belum ada keberanian untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Padahal, foto yang bagus adalah foto yang diambil dari dekat.

Masjid Agung Semarang

Lalu di hari ketiga saya jatuh cinta pada kota Semarang. Sayang, kemarin cuacanya tidak mendukung. Langitnya tertutup awan. Saya yang seumur-umur belum merasakan keliling kota Semarang, akhirnya merasakan gimana capeknya hunting foto di Masjid Agung Semarang. Masjid yang katanya kalo di hari Minggu jadi pusat rekreasi sekaligus pasar kaget. Naik ke tower yang bayarnya cuma lima ribu rupiah, bandingkan dengan naik Taipei 101 yang bayarnya kurang lebih seratus dua puluh ribu rupiah. Nyicipin juga gimana panasnya lantai-lantai marmer itu di siang hari bolong dan gak boleh pake alas kaki karena memasuki batas suci. Kota Semarang, konon katanya punya golden moment di malam hari. Saat lampu-lampu menyala dan keindahan kota dapat ditangkap dari sekeliling pinggir kota.

typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/tentang-film-facebook/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=715 wfw_commentrssdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 updated type2011 6 9 12 58 23 3 160 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1463 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/leofoo-village/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=423 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/taroko-tour/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 comments

Night Shot of Taipei 101

Setelah lulus kuliah strata 1, waktu itu sebenarnya saya tidak tahu mau ke mana. Tidak ada sesuatu yang benar-benar ingin saya raih. Akhirnya, ya mengikuti aliran air. Menjadi seperti yang dilakukan kebanyakan orang sehabis lulus. Mencari kerja di belantara ibukota. Mungkin waktu itu gengsi saya masih besar. Jadi yang dilirik hanya perusahaan-perusahaan yang punya nama. Itu pun masih dipilih-pilih yang kira-kira lowongannya memang kompeten atau sesuai dengan bidang  yang saya geluti. Prinsip saya dalam mencari kerja sama dengan prinsip untuk mencari jodoh, lebih baik menunggu daripada nantinya menyesal karena salah pilih. Hasilnya, 3 perusahaan yang saya lamar menolak semua. Satu hal yang saya rasakan dari proses mencari kerja itu adalah kekurangan saya dalam hal social skill. Kurang bersosialisasi dan kurang bisa menghadapi orang. Ya, pokoknya begitu lah.

Tentang luar negeri. Mimpi saya keluar negeri adalah Stanford University. Bukan Taiwan. Jadi entah ada angin apa yang lewat hingga waktu itu saya melamar beasiswa untuk studi di Taiwan. Ada pertimbangan yang membisikkan bahwa Taiwan adalah sebuah negara yang industri teknologi informasinya maju dan mapan. Nama negeri itu banyak melekat di perangkat-perangkat elektronik yang kita pakai sehari-hari. So, why not tidak saya pilih sebagai destinasi untuk pergi merantau menimba ilmu. Pada saat itu di pikiran saya mengatakan bahwa Taiwan bisa manjadi batu loncatan yang tepat untuk sampai ke Amerika.

Dan mengapa Amerika mulai menjadi tujuan saya berikutnya adalah karena ketertarikan saya pada Google. Melihat sejarah Google, dua sosok di belakangnya yaitu Larry dan Sergey merupakan mahasiswa di Standford. Mereka berdualah yang menjadi sebab musabab mengapa kemudian saya memilih Stanford. Karena saya ingin seperti mereka. Punya ide sederhana, ditambah dengan ilmu yang luar biasa yang mereka pelajari di bangku kuliah, dan berada di lingkungan yang mendukung untuk membangun sebuah perusahaan. Eh, bukan perusahaan, melainkan membangun kerajaan. Kerajaan bisnis yang besar.

Tetapi sebelumnya lagi, sudah ada motivasi lain yang mengarahkan saya ke sana. Yaitu mahaguru saya di ITB, Prof. Samaun Samadikun. Murid langsung dari penemu transistor, William Shockley, yang juga kuliah di Stanford. Akan sangat terlihat keren rasanya kalau bisa mempelajari dan menguasai isi otak dari perangkat pintar seperti komputer. Saya memang tertarik dengan sesuatu yang berbau intelejensia, mungkin juga karena saya memang ingin dilihat seperti itu. Yang kemudian terbayang dalam benak saya berikutnya adalah menjadi karyawan atau peneliti di salah pabrikan chip terbesar dunia, Intel. Lalu setelah mengenyam beberapa tahun pengalaman di Intel, saya ingin kembali ke Indonesia dan membangun pabrik IC di sana. Itu yang sempat terlintas di pikiran saya.

Kalau mau menarik sejarah lebih jauh lagi ke masa lalu, waktu di SMP saya malah maunya jadi pemain bola. Menjadi pemain Manchester United. Menjadi bagian dari pasukan Sir Alex Ferguson. Bermain bersama David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes. Di SMP saya pernah mengikuti sekolah sepakbola Pelita Jaya di Lebak Bulus, dekat dari sekolah saya waktu itu. Berharap bakat saya bisa terlihat dan bisa menjadi pemain klub, yang kemudian dipanggil ke tim nasional. Latihannya setelah pulang sekolah. Seminggu 2 kali, masing-masing selama 2 jam. Anak-anak yang ikut banyak sekali. Sehingga metode pelatihan juga terlihat kurang efektif. Selain itu juga si pelatih terlihat ogah-ogahan dalam melatih. Akhirnya setelah ikut dalam beberapa kali latihan, saya menyerah. Saya putar jalan untuk bisa sampai ke ManUnited. Rencana berikutnya adalah dengan belajar ke Jerman setelah lulus SMU. Sambil sekolah di Jerman, ingin ikut akade mi sepakbola Bayern Muenchen. Berharap menjadi bagian inti dari klub, dan dilirik oleh ManUnited.

Jadi begitulah, Taiwan yang pernah saya tinggali selama kurang lebih 4 setengah tahun yang lalu itu bukanlah cita-cita, mimpi, dan harapan saya sejak dulu. Taiwan adalah sebuah pelarian karena saya tidak bisa menjadi pemain bola, tidak bisa masuk ke Stanford, dan tidak segera mendapat kerja setelah saya lulus. Namun begitu, kini Taiwan telah menjadi masa lalu yang banyak memberikan pelajaran yang sangat berarti untuk saya sekarang.

kerja di belantara ibukota. Mungkin waktu itu gengsi saya masih besar. Jadi yang dilirik hanya perusahaan-perusahaan yang punya nama. Itu pun masih dipilih-pilih yang kira-kira lowongannya memang kompeten atau sesuai dengan bidang  yang saya geluti. Prinsip saya dalam mencari kerja sama dengan prinsip untuk mencari jodoh, lebih baik menunggu daripada nantinya menyesal karena salah pilih. Hasilnya, 3 perusahaan yang saya lamar menolak semua. Satu hal yang saya rasakan dari proses mencari kerja itu adalah kekurangan saya dalam hal social skill. Kurang bersosialisasi dan kurang bisa menghadapi orang. Ya, pokoknya begitu lah.

Tentang luar negeri. Mimpi saya keluar negeri adalah Stanford University. Bukan Taiwan. Jadi entah ada angin apa yang lewat hingga waktu itu saya melamar beasiswa untuk studi di Taiwan. Ada pertimbangan yang membisikkan bahwa Taiwan adalah sebuah negara yang industri teknologi informasinya maju dan mapan. Nama negeri itu banyak melekat di perangkat-perangkat elektronik yang kita pakai sehari-hari. So, why not tidak saya pilih sebagai destinasi untuk pergi merantau menimba ilmu. Pada saat itu di pikiran saya mengatakan bahwa Taiwan bisa manjadi batu loncatan yang tepat untuk sampai ke Amerika.

Dan mengapa Amerika mulai menjadi tujuan saya berikutnya adalah karena ketertarikan saya pada Google. Melihat sejarah Google, dua sosok di belakangnya yaitu Larry dan Sergey merupakan mahasiswa di Standford. Mereka berdualah yang menjadi sebab musabab mengapa kemudian saya memilih Stanford. Karena saya ingin seperti mereka. Punya ide sederhana, ditambah dengan ilmu yang luar biasa yang mereka pelajari di bangku kuliah, dan berada di lingkungan yang mendukung untuk membangun sebuah perusahaan. Eh, bukan perusahaan, melainkan membangun kerajaan. Kerajaan bisnis yang besar.

Tetapi sebelumnya lagi, sudah ada motivasi lain yang mengarahkan saya ke sana. Yaitu mahaguru saya di ITB, Prof. Samaun Samadikun. Murid langsung dari penemu transistor, William Shockley, yang juga kuliah di Stanford. Akan sangat terlihat keren rasanya kalau bisa mempelajari dan menguasai isi otak dari perangkat pintar seperti komputer. Saya memang tertarik dengan sesuatu yang berbau intelejensia, mungkin juga karena saya memang ingin dilihat seperti itu. Yang kemudian terbayang dalam benak saya berikutnya adalah menjadi karyawan atau peneliti di salah pabrikan chip terbesar dunia, Intel. Lalu setelah mengenyam beberapa tahun pengalaman di Intel, saya ingin kembali ke Indonesia dan membangun pabrik IC di sana. Itu yang sempat terlintas di pikiran saya.

Kalau mau menarik sejarah lebih jauh lagi ke masa lalu, waktu di SMP saya malah maunya jadi pemain bola. Menjadi pemain Manchester United. Menjadi bagian dari pasukan Sir Alex Ferguson. Bermain bersama David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes. Di SMP saya pernah mengikuti sekolah sepakbola Pelita Jaya di Lebak Bulus, dekat dari sekolah saya waktu itu. Berharap bakat saya bisa terlihat dan bisa menjadi pemain klub, yang kemudian dipanggil ke tim nasional. Latihannya setelah pulang sekolah. Seminggu 2 kali, masing-masing selama 2 jam. Anak-anak yang ikut banyak sekali. Sehingga metode pelatihan juga terlihat kurang efektif. Selain itu juga si pelatih terlihat ogah-ogahan dalam melatih. Akhirnya setelah ikut dalam beberapa kali latihan, saya menyerah. Saya putar jalan untuk bisa sampai ke ManUnited. Rencana berikutnya adalah dengan belajar ke Jerman setelah lulus SMU. Sambil sekolah di Jerman, ingin ikut akadex

Maaf, kemarin saya kelewatan untuk posting. Padahal program ini baru 2 hari berjalan. Menjaga kedisiplinan tidak semudah yang dibayangkan. Dan seperti halnya para loser yang selalu punya alasan untuk membuat dirinya merasa tidak bersalah, saya pun begitu. Kemarin memang agak hectic karena sedang ada acara di rumah. Di waktu pagi sudah membuat draft sedikit-sedikit, saya sudah punya topik untuk diceritakan di hari ke-3. Di siang hari saya gotong royong dengan keluarga besar untuk mempersiapkan pengajian memperingati 100 hari meninggalnya Ibu. Setelah selesai acara dan beres-beres di malamnya, ternyata ketika masuk kamar untuk melanjutkan draft waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu. Untuk itu, saya teruskan saja topik yang kemarin. Sehingga runutannya akan bergeser satu hari. Itu pun jika 27 hari ke depan, situasi dapat aman dan terkendali.

——————–

Aku diantar Bapak dan Ibu sampai bandara. Mereka bisa mengantar karena memang sedang tidak bekerja. Hari itu hari Sabtu. Pada waktu berpamitan, semacam ada getaran yang kurasakan. Getaran dengan kandungan rasa bahagia yang penuh akan harapan agar aku menjadi orang yang berhasil. Memang tidak terlihat, namun sangat terasa. Tidak ada drama tangis haru perpisahan. Yah, buat apa coba? Lagi pula keluargaku orang-orangnya cukup kuat untuk mengatur emosi.

Proses di dalam cukup mulus. Check-in tiket, bayar fiskal, dan mengisi kartu imigrasi, hingga sampai masuk ruang tunggu. Di sana, aku melihat ada seseorang yang agak berbeda. Sorotan matanya kuat. Menandakan seseorang yang keras dan punya prinsip hidup yang jelas. Meski, badannya memang tidak besar. Selain mengamati calon-calon penumpang yang banyak terdapat calon-calon tenaga kerja Indonesia di Taiwan, aku merenung dan mulai membayangkan bagaimana nanti setelah sampai di Taiwan. Hingga akhirnya, pesawat China Airlines tepat berangkat pukul 7 pagi waktu Indonesia bagian barat.

Lagi, kulanjutkan perenungan itu di pesawat. Sambil sesekali menikmati hiburan yang disediakan oleh maskapai. Ada monitor kecil di depan tempat duduk kita. Monitor itu menggunakan teknologi layar sentuh, dan juga bisa dikontrol dengan menggunakan remote. Banyak yang bisa dilakukan dengan benda itu. Mulai dari nonton TV, mendengarkan musik, atau bermain games. Namun alat itu tetap saja kurang bisa membuatku mengalihkan pikiran dari apa yang terus-terus ada di kepalaku tentang apa yang nanti terjadi di negara tujuan. Sammpai aku sempat berpikir untuk membatalkan kuliahku di sana. Ada semacam ketakutan karena tidak dapat beradaptasi.

Pesawat CI dengan jadwal keberangkatan pagi, akan transit di Hongkong selama kurang lebih 1 jam. Di ruang tunggu bandara Hongkong, aku mulai mencoba memecah kebuntuan dengan orang yang kulihat berbeda tadi. Aku sempat kaget ketika dia tahu nama lengkapku. Dia adalah penerima beasiswa yang sama denganku. Satu dari 3 orang Indonesia yang diterima di R&D Master Program Scholarship di departemen Electrical Engineering, National Taiwan University. Dia nantinya akan menjadi roommate-ku selama di asrama kampus.

Sabtu sore tanggal 25 Agustus 2007, itu lah kali pertama aku menginjakkan kaki di Taiwan. Di bandara Taiwan, aku sudah dijemput ole seorang volunteer yang ditugaskan dari kampus untuk menjemput mahasiswa-mashasiswa asing yang datang. Volunteer yang ditugaskan membantuku bernama Gray. Tentu itu bukan nama aslinya. Orang-orang Taiwan biasanya punya 2 nama, satu nama aslinya, satu lagi nama Inggris. Gray cukup baik berbahasa Inggris, setidaknya komunikasi kami tidak mengalami hambatan. Tetapi bukan si Gray yang menjemputku di bandara, melainkan temannya.

entshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 title type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/fit-proportional/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 title type2011 5 8 18 22 12 6 128 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 updated 

Zeke, mungkin maksud nama Inggrisnya adalah Zack, dia lah yang menjemputku di airport. Zeke adalah teman sekelas Gray. Sebelum berangkat, aku dan Gray sudah saling berkomunikasi lewat email. Tadinya dia yang mau menjemput, tapi karena ada halangan yang mendesak, dia meminta tolong kepada Zeke. Aku langsung mengenalinya begitu keluar dari ruang kedatangan, dan juga sebaliknya. Kami sudah tahu wajah masing-masing lewat email. Zeke langsung membawaku ke tempat pembelian tiket bus ke Taipei. Sedangkan si calon roommate-ku yang bertemu di Hongkong, juga dijemput volunteernya yang membawa mobil.

Dari Taoyuan Taiwan International Airport ke Taipei Main Station (TMS), kami menggunakan bus Kuo Kuang. Untuk sekali tempuh, kita harus mengeluarkan 125 NTD (sekitar Rp 37.500 untuk Rp 300/ 1 NTD). Waktu perjalanan rata-rata sekitar 45-60 menit. Tergantung kondisi trafik. Bus tidak hanya berhenti di tujuan akhir, namun juga berhenti di beberapa titik yang dilewati. Sesampainya di TMS, Zeke membantuku membawa beberapa barang bawaan dan juga memandu untuk naik MRT. Karena belum memiliki kartu MRT, aku dibelikan tiket koin. Nantinya semua ongkos perjalanan diganti oleh pihak kampus dengan menukarkan receipt.

MRT di Taipei memiliki beberapa jalur. Ada jalur merah, hijau, biru, cokelat, kuning, dan masih akan terus berkembang lagi. Dari TMS ke kampus, kami menggunakan MRT jalur hijau. Ada 6 stasiun yang harus dilalui dengan rute, TMS – NTU Hospital – Chiang Kai Shek – Guting – Taipower Building – Gongguan. Kampus kami tepat berada di luar pintu 2 dan 3 stasiun MRT Gongguan. Sedangkan pintu 1 dan 4 terletak berseberangan dengan kampus yang di sana terdapat deretan ruko-ruko yang di bagian belakangnya terdapat pasar Gongguan. Menjelang malam, Gongguan bukannya semakin sepi tapi malah makin ramai. Pasar malam di Taiwan adalah suatu ciri khas budaya.

Sampai di asrama, aku bertemu lagi dengan calon roommate-ku. Ketika melapor kepada manajer asrama, kamar yang sebelumnya telah diperuntukkan buat kami ternyata sudah diisi. Akhirnya kami diberikan kamar di lantai 4. Berbeda dengan asrama wanita yang tepat berseberangan, di asrama laki-laki tidak ada lift. Koper yang besar itu mau tidak mau harus digotong sendiri. Satu kamar ditempati 2 orang, yang dilengkapi dengan 2 set tempat tidur yang terintegrasi dengan meja belajar, dan lemari besar. Kamar mandi ada di dalam. Tempat tidur yang disediakan hanya berupa tempat untuk menaruh kasur. Jadi biasanya para mahasiswa harus membawa kasur dan bantalnya sendiri-sendiri. Tipikalnya mereka membawa matras busa lipat sebagai alas tidur, karena ringan dan praktis.

Di hari yang sama, kami bertemu lagi dengan mahasiswa Indonesia lainnya yang se-program dengan kami. Itulah awal kami bertemu. Kami bertiga akhirnya sering bersama-sama. Dari mulai kuliah, makan, dan jalan-jalan. Dan mulai hari itu, aku dan kedua temanku itu memulai petualangan baru di belahan dunia berbeda.

ttp://bstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 author type2010 9 27 20 53 14 0 270 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304Gadis Penjual Kaoshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 title63http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 order2011 1 14 14 3 30 4 14 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 slash_comments type2010 11 21 23 30 4 6 325 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 updated2012 3 1 12 15 32 3 61 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 content type  

Gray menghampiri kamarku saat sore menjelang malam di hari pertamaku tiba. Waktu itu aku sedang tidur-tiduran di kamar. Lagi malas keluar karena memang masih capek. Yang bikin tambah malas lagi karena kamarku letaknya di lantai 4. Kami berdiskusi tentang jadwal untuk mengurus apa-apa yang perlu diurus seperti pendaftaran ulang, medical check-up, ARC (Alien Resident Certificate), pembuatan rekening tabungan di kantor pos, dan lain-lain. Namun untuk mengurus semua itu, kami harus menunggu 2 hari lagi. Sebab kantor-kantor tersebut tidak dibuka di hari Sabtu dan Minggu. Hari Minggu kami gunakan untuk mencari, eh membeli, sepeda dan berjalan-jalan menjelajah isi kampus.

Yang pertama harus diurus adalah pendaftaran ulang yang berlangsung di hari Senin. Tempat pendaftaran berada di gedung administrasi. Gedung ini memiliki arsitektur kuno yang menarik. Maka tidak jarang bila digunakan sebagai tempat pilihan untuk foto pra-nikah. Spot yang menjadi favorit biasanya di pintu gerbangnya. Pintu yang dibingkai dengan tiang pondasi yang besar di kedua sisinya. Latar belakang itu membuat foto yang dihasilkan menjadi tampak seperti pasangan dari bangsawan kerajaan di jaman dahulu. Atau, bisa diambil juga dari sisi depan bangunan yang tampak seperti rumah bangsawan. Tapi yang menarik hanya di bagian luarnya saja. Bagian dalamnya lebih terlihat sebagai kantor-kantor. Ya, memang isinya kantor sih. Ada aula yang bangunannya agak terpisah, terletak di tengah-tengah gedung utama. Di sana lah para calon mahasiswa baru melakukan pendaftaran ulang.

Ada beberapa pos yang harus kami lewati. Seperti pos kelengkapan dokumen, pos pembayaran, dan lain-lain, sampai pos di mana kita diberikan kartu mahasiswa. Kartu mahasiswa ini sangat penting untuk mengurus dokumen-dokumen selanjutnya. Kartu ini juga sangat penting untuk berlalu-lalang di Taipei. Karena kartu ini lah yang digunakan untuk membayar angkutan umum, bus dan MRT, di Taipei. Tanpa kartu ini, maka harga yang harus dibayar adalah harga umum. Sedangkan dengan kartu ini, kita bisa mendapat harga pelajar yang tentunya lebih murah. Ada satu pos di mana kita kaget karena harus membayar uang asrama yang jumlahnya 6,600 NTD (sekitar 2 juta Rupiah). Memang dalam surat penerimaan yang kami dapat, disitu tertulis bahwa beasiswa hanya meliputi tuition fee waiver dan sejumlah uang. Kami bingung apakah uang asrama termasuk dalam tuition fee atau tidak. Setelah ditanyakan kepada orang yang berkepentingan dengan program kami, ternyata memang kami harus membayar.

>dzaia-bs.com/?p=704 title90http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/re-writin-the-fate/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 wfw_commentrss2011 6 21 18 31 12 1 172 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 datedf021ab2e642524788e98c2eba5e3226http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 id_hashf2ef69343ebdb8f9180ed0ec297ade6fhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 id_hashSepakbola dan Pendeteksi Cahayahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 slash_comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ramadhan-tahun-ini/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 author type2011 8Maaf, kemarin saya kelewatan untuk posting. Padahal program ini baru 2 hari berjalan. Menjaga kedisiplinan tidak semudah yang dibayangkan. Dan seperti halnya para loser yang selalu punya alasan untuk membuat dirinya merasa tidak bersalah, saya pun begitu. Kemarin memang agak hectic karena sedang ada acara di rumah. Di waktu pagi sudah membuat draft sedikit-sedikit, saya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 summaryPerkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 summary M 

Pernah bermain video game bergenre RPG atau Role Playing Game? Seperti game Final Fantasy yang dulu berjaya ketika dunia video game berada dalam masa keemasannya. Begitulah yang aku rasakan ketika bersama Gray dan 2 temanku yang lain berpetualang di negeri yang masih asing. Menjadi buta aksara karena tidak bisa membaca huruf-huruf yang ada di sekitar kita, kecuali yang berbahasa Inggris. Kursus yang hanya kuikuti selama beberapa minggu di Indonesia tidak dapat memberikan bekas apa pun yang setidaknya bisa sedikit berguna di Taipei ini. Bahasa Mandarin di Taiwan dan Cina daratan memang berbeda. Di Taiwan, hurufnya menggunakan huruf kanji tradisional, sedangkan RRC menggunakan huruf yang telah disederhanakan. Meski berbeda, biasanya orang Taiwan bisa membaca huruf yang telah disederhanakan itu dan demikian juga sebaliknya.

Setelah pengurusan kartu mahasiswa beres, berikutnya adalah melakukan medical check-up. Hasil check-up ini nantinya dipakai untuk membuat ARC dan juga asuransi. Medical check-up dilakukan di rumah sakit milik kampus, NTU Hospital. Namun meski masih satu kampus, letaknya berbeda. Selain sebagai rumah sakit, di sana juga merangkap tempatnya mahasiswa-mahasiswi kedokteran. Jaraknya sejauh 4 stasiun MRT. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan sampel darah, pemeriksaan air seni, dan foto Rontgen di daerah dada. Kami harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut. Pun sehabis surat keterangan kesehatan itu kita terima, informasi yang tertulis jadi terasa kurang bermanfaat. Lagi-lagi karena memang isi kertas itu didominasi oleh huruf-huruf kanji.

Berikutnya pembuatan ARC. Inilah kartu sakti yang bisa digunakan untuk bolak-balik Indonesia-Taiwan tanpa visa. Kartu ini adalah kartu identitas kita selama di Taiwan. Untuk masa berlaku 1 tahun atau lebih, yang mana lamanya masa berlaku tergantung kebaikan hati officer yang melayani, kita harus membayar 1,000 NTD. Sampai ARC bisa ke tangan kita, dibutuhkan waktu kurang lebih 10 hari kerja atau 2 minggu. Persyaratan untuk mendapatkan ARC di antaranya, pas foto 4×6 terbaru dengan background putih sebanyak 2 lembar, formulir aplikasi, surat-surat dari kampus, dan paspor.

Terakhir adalah pembuatan rekening tabungan di kantor pos. Rekening ini nantinya digunakan sebagai wadah untuk menerima beasiswa yang diberikan oleh kampus. Dalam pembuatan buku rekening ini, kita harus membuat stempel nama kita dalam bahasa Mandarin. Setiap mahasiswa yang datang ke Taiwan selalu diberikan nama Mandarin. Ada yang diadaptasi dari nama aslinya, ada yang diberikan oleh Laoshi, ada juga yang memang buat sendiri.

Kembali ke RPG tadi. Dalam gama RPG, karakter yang dimainkan memiliki misi untuk diselesaikan. Dari satu misi ke misi yang lain yang membentuk sebuah alur cerita. Tidak mustahil di satu titik, keputusan yang diambil dapat mengubah alur cerita hingga akhir cerita. Salah satu cara untuk bermain RPG adalah dengan menggunakan guide atau walk-through. Di situ lah peran Gray. Sebagai guide untuk menyelesaikan semua misi yang harus aku dan teman-teman lakukan setelah datang ke Taipei.

inghttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 slash_comments type2010 11 21 23 30 4 6 325 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 updated2012 3 1 12 15 32 3 61 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=704 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/04/ngirit-to-the-max/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 content type94http://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 author type2010 9 27 20 53 14 0 270 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=596 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304Gadis Penjual Kaoshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 title63http://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 order 

Banyaknya jalan menuju Roma sebanyak cara menuju Taipei. Kali ini aku ingin mereview maskapai-maskapai penerbangan yang pernah mengantarkanku selama bolak-balik Jakarta-Taipei. Setiap maskapai punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hukum “ada harga, ada rupa” tidak selamanya berlaku menurutku. Karena kenyamanan dan kenikmatan selama di perjalanan, semuanya bergantung pada suasana hati. #halah. Maaf, bukan bermaksud promosi atau menjelek-jelekkan, yang akan kutulis adalah berdasarkan penilaian subjektif sebagai penumpang biasa yang memiliki sedikit pengalaman.

8 September 2007. Ini lah kali pertama aku merasakan bagaimana rasanya melintasi Laut Jawa, Pulau Kalimantan, Laut Cina Selatan, hingga berlabuh sebentar di Hongkong lalu menyusuri selatan daratan Cina hingga sampai di Taiwan. Iya, 8 September 2007. Seperti yang tercap di paspor lamaku. Bukan 25 Agustus 2007 seperti yang pernah kutulis di sini, di sana, dan di situ. Agaknya memang aku sedang mengalami masalah dengan memori. Di tanggal itu aku menggunakan maskapai China Airlines. CI (kode penerbangan untuk China Airlines) punya 2 penerbangan setiap harinya ke Taipei. Pagi sekitar pukul 7 atau siang hari sekitar pukul 2. Penerbangan pagi hari adalah penerbangan dengan transit, selama kurang lebih 1 jam di Hongkong. Sedangkan penerbangan siang adalah penerbangan langsung dengan durasi 5 sampai 5,5 jam. Secara overall, CI cukup baik. Full entertainment, pelayanannya baik, dan tepat waktu. Mungkin sedikit kurang menarik dari sisi flight attendant-nya. Yang kuingat dari penerbangan dengan CI adalah ketika di bandara Taipei, harta karun berupa daging rendang terpaksa diberikan cuma-cuma kepada petugas bandara.

Penerbangan lainnya yang cukup mainstream digunakan oleh mahasiswa Indonesia adalah Cathay Pacific, CX. Pasalnya, jika dibandingkan CI dengan harga normal (tanpa diskon pelajar), harga CX lebih rendah. Tapi ruginya, waktu yang diperlukan di perjalanan jadi lebih panjang karena harus selalu transit di Hongkong. Yang bikin males lagi naik CX, terkadang lokasi gate untuk penerbangan lanjutan letaknya jauuuuuh nggak kira-kira. Aku pernah mendapatkan penerbangan lanjutan yang gatenya terletak di ujung yang lain dari gate kedatangan. Dengan luas airport yang segede gaban, dijamin capek pindah gate dari ujung ke ujung. Bisa sih pakai shuttle train, sayang aku baru tahu akhir-akhir ini. Dengan menggunakan CX, aku pernah mengalami delay yang lumayan lama karena kerusakan mesin. Jadi ketika pesawat sudah bersiap-siap mau berangkat di landasan pacu, ketika melakukan pengecekan, pilot merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya pesawat itu mundur lagi ke terminal dan ganti pesawat lagi dan menunggu lagi. CX juga seperti CI, cukup baik.

Selain CI dan CX yang mendominasi penerbangan berkelas premium, ada juga Eva Air dengan kode penerbangan BR. Entah apakah hari itu aku lagi beruntung atau apa, pertama kalinya aku terbang dengan Eva, aku mendapatkan tempat duduk nomor 2 dari depan! Padahal belinya tiket ekonomi. Aku juga heran, karena nomor kursi yang kuterima berkisar pada angka dua puluhan. Kukira memang maskapai ini tidak memiliki ruang untuk kelas bisnis. Ternyata memang kursi yang kutempati memang untuk kelas bisnis. Dan aku merasakan bagaimana rasanya duduk agak miring (sebab kursinya mengikuti lengkungan kepala pesawat) selama penerbangan. Sayangnya keberuntungan tidak datang 2 kali. Sekembalinya dari Jakarta, aku mendapatkan kursi yang memang menjadi hakku. Tapi, iya nggak sih kalau susunan kursi di Eva itu lebih longgar?

Sekarang saatnya membahas tentang maskapai yang low fare. Ada AirAsia, Cebu Pacific, dan JetStar. Semuanya pakai transit. Semuanya nggak dapet makan. Dulu AirAsia belum ada layanan pindah bagasi langsung. Jadi ya r  

Di Taiwan, untuk mahasiswa master dibebankan total 36 credits. Di Indonesia kita kenal dengan sebutan SKS. 24 credits diambil di kelas-kelas kuliah reguler, 2 credits adalah kelas seminar, dan 6 credits untuk Thesis. Banyak cara untuk menghabiskan credits tersebut. Dengan rata-rata mata kuliah memiliki beban 3 credits, cara yang normal adalah mengambil pola 3-3-2. Maksudnya, 3 mata kuliah di semester 1 dan 2, kemudian 2 mata kuliah di semester 3. Semester 4 biasanya difokuskan untuk menyelesaikan Thesis. Ada beberapa yang extraordinary memang, dengan mengambil pola 4-4. Jadi dalam 2 semester beban kuliah langsung habis, dan 2 semester terakhir hanya untuk mengerjakan Thesis. Aku? Agak tidak normal. Tadinya aku ingin menjadi yang normal-normal saja dengan mengambil 3-3-2. Tapi karena agak kewalahan di semester 2, dan belum juga ngerjain Thesis di semester 4, jadinya aku mengambil pola 3-2-3-1. Kelebihan 1 mata kuliah dengan beban 2 credits.

Masih bersemangat dan terobsesi untuk mempelajari teknologi semikonduktor, di semester pertama aku memilih 2 kuliah tentang semikonduktor. Satu lainnya tentang teknologi display. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan lama yang ada di sini dan di sini. Dari ketiga mata kuliah yang kupilih, 2 di antaranya mendapatkan nilai yang menurutku sangat memuaskan di akhir. Sebabnya, 2 mata kuliah ini ada master-master ujian dari tahun-tahun sebelumnya. Mirip-mirip waktu di ITB. Sedangkan 1 lagi hanya mendapat nilai sekedarnya saja, yaitu untuk mata kuliah VLSI Design Automation. Nah, yang ini memang ada masternya juga. Sayangnya yang keluar waktu ujian beda banget. Padahal, mata kuliah VLSI adalah inti dari perancangan IC. Waktu itu kukira masih mungkin untuk mewujudkan impian untuk membangun kerajaan IC di Indonesia. Menjadi versi lokal dari Sehat Sutardja, pendiri Marvell Technology.

Semester berikutnya, pada saat pendaftaran aku memilih 3 mata kuliah. Dua topik tentang teknologi IC, yaitu VLSI Design for Manufacturability dan VLSI Physical Design. Ingin menantang kemampuan logika matematika, aku mengambil mata kuliah Special Topics on Applied Mathematical Logic. Di kelas manufaktur, dosennya hobi bercerita dari slide ke slide. Penilaiannya hanya berdasarkan project akhir dan juga ujian. Aku cukup mendapatkan hasil yang lumayan di sini, 84. Terlepas entah dari mana datangnya nilai tersebut karena aku sendiri merasa nggak pede waktu ujian. Sebelum ujian tengah semester tiba, aku melepas kelas VLSI Physical Design. Kelas ini bagiku sudah seperti kelas Dewa. Jadi selama beberapa kali aku masuk kelas itu, aku cuma bisa bengong dan bengong. Dalam bahasa kerennya, ora mudeng blas… Mana tugas-tugasnya juga agak unbelievable buat kukerjain, secara harus menguasai bahasa pemograman C tingkat mahir. Di kelas logika matematika, ternyata otakku juga nggak bisa menerima kalimat-kalimat logika yang diwakili dengan simbol-simbol. Akhirnya dengan belas kasih sang dosen, aku hanya mendapatkan nilai di perbatasan untuk lulus, 70. Karena nilai di bawah 70 dianggap tidak lulus. Ini lah semester yang berdarah-darah buatku.

Kuliah di semester berikutnya, kita lanjutkan besok lagi saja ya… Lumayan, bisa menghemat topik. Supaya sampai hari ke-30 nanti nggak kehabisan topik. :)

.com/?p=1541 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544http://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=747 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1256 content typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 updated typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 order typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 author 

Berhubung ada beberapa bagian yang saya lupa tentang perkuliahan, terutama nama mata kuliahnya, maka topik tentang kuliah akan saya sambung sepulangnya saya dari Bandung. Hari ini saya sedang di Bandung. Tidak lain dan tidak bukan karena sedang ada hajatan di sini. Adik saya akan menikah hari Minggu besok. Karena Sang Calon adalah orang Bandung, maka seluruh keluarga besar akhirnya berkumpul di Bandung. Ramai, tentu saja. Senang, pastinya. Setelah Mbah Putri, Mbah Kakung, dan Nenek meninggal, praktis kumpul-kumpul keluarga besar jadi agak jarang terjadi karena ketika Lebaran pun tidak ada yang disowani (didatangi untuk meminta restu atau salam hormat). Jadi, untuk hari ini saya akan ngobrol tentang karir sepakbola saya sewaktu kecil sampai waktu tinggal di Taiwan.

——————–

Sepakbola. Aku tidak bisa lepas dari sepakbola. Setidaknya sampai saat ini. Aku masih ingat sewaktu Pak Widadi guru SD di SD Bakti Mulya 400 memanggilku ke depan panggung dalam acara perpisahan kelas 6 yang saat itu juga diumumkan nama anak-anak dengan NEM tertinggi di sekolah. Pak Wid, begitu kami memanggilnya, menyebut nama anak dari peringkat ke-5. Hingga peringkat ke-3, namaku belum juga muncul. Tinggal 2 orang lagi. Aku masih ingin tidak dipanggil hingga nama yang terakhir. Untuk membuat jantung si anak dag-dig-dug, sebelum memanggil namanya, Pak Wid biasanya menyebutkan ciri-ciri dari si anak. Akhirnya Pak Wid memanggil si anak yang katanya mahir menggocek bola, lalu menyamakan dia dengan Kurniawan Dwi Yulianto. Di belakangnya, disebut namaku.

Sejak SD aku gemar bermain bola. Saat pagi-pagi sambil menunggu bel masuk kelas, saat istirahat, bahkan saat pulang sekolah. Tidak jarang aku masuk kelas sambil sibuk menyeka keringat yang mengucur. Main bolanya serabutan. Tidak kenal posisi. Di mana ada bola ke arah situ lah kami berlari. Jumlah pemain tidak dibatasi. Biar luas lapangan yang membatasi. Seragam pun tidak ada yang membedakan. Kadang ada yang menipu, mengaku kawan padahal lawan. Tidak jelas siapa yang jadi kiper. Seperti tidak jelasnya tiang gawang yang diganti dengan tempat sampah atau batu. Sekedar menandai di situ loh gawangnya. Pak Wid, dia lah guru yang juga suka bermain bola bersama anak-anak. Padahal dia bukan guru olahraga. Yang terekam dari masa lalu saat bermain bola hanya kesenangan dan kebahagiaan. Apalagi kalau bisa mencetak gol.

Kebiasaan sejak SD terbawa ke SMP. Di SMP, salah satu prestasi yang bisa kami raih adalah menjadi finalis di Al-Izhar Cup. Sayang, kami kalah di final. Dan posisiku di tim SMP adalah sebagai bek kanan. Sangat berbeda ketika membawa nama kebesaran kelas. Untuk tim kelas, aku bertugas menjadi striker. Temanku ada yang menyebutku, ‘long ball shoot man’ karena aku suka menendang bola dari jarak jauh. Waktu dulu mungkin karena terinspirasi David Beckham. Atau, Juan Sebastian Veron. Begitu juga SMA. Prestasi di SMA kurang menggembirakan. Saat itu sepakbola di SMA kami memang baru sedang dirintis. Di kampus, bermain bola seperti ditinggalkan. Hanya beberapa kali mewakili Himpunan Mahasiswa Elektro bertarung di Ganesha Cup. Aku memang kurang mendapat tempat di sana. Mungkin karena ketidakaktifan dan kurang bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa penghuni himpunan.

Di Taiwan, kampusku memiliki semacam organisasi kemahasiswan khusus untuk menampung mahasiswa-mahasiswa asing. Namanya, NTUFSA. NTU Foreign Student Association. Di tahun 2008, NTUFSA menyelenggarakan kompetisi sepakbola untuk mahasiswa-mahasiswa asing yang tersebar di seluruh penjuru Taiwan. Berbagai kampus mendaftarkan pasukannya. Untuk mewakili NTU, NTUFSA membuat seleksi. Tidak aku sia-siakan kesempatan untuk unjuk gigi di event ini. Yang lebih mengguiurkan lagi adalah sponsornya. Tim inti NTU akan mendapatkan seperangkat jersey lengkap kandang-tandang dan sepasang sepatu. Semuanya disponsori oleh apparel dengan logo 3 garis miring. Ah, aku ternyata tidak bisa bersaing dengan orang-orang Jerman, Spanyol, Afrika, Amerika Selatan, bahkan Vie ttnam yang dari segi skill, teknik, dan stamina, jauh di atasku. Hasil akhir bisa ditebak. Aku tidak masuk seleksi. Begitu juga di tahun berikutnya. Untuk mengurangi kekecewaan, akhirnya aku hanya ikut sebagai volunteer untuk panitia kompetisi itu. Seenggak-enggaknya dapet kaos gratis. Dan waktu itu, sebagai panitia aku juga dapat kenalan mahasiswi Taiwan yang manis.

besar akhirnya berkumpul di Bandung. Ramai, tentu saja. Senang, pastinya. Setelah Mbah Putri, Mbah Kakung, dan Nenek meninggal, praktis kumpul-kumpul keluarga besar jadi agak jarang terjadi karena ketika Lebaran pun tidak ada yang disowani (didatangi untuk meminta restu atau salam hormat). Jadi, untuk hari ini saya akan ngobrol tentang karir sepakbola saya sewaktu kecil sampai waktu tinggal di Taiwan.

——————–

Sepakbola. Aku tidak bisa lepas dari sepakbola. Setidaknya sampai saat ini. Aku masih ingat sewaktu Pak Widadi guru SD di SD Bakti Mulya 400 memanggilku ke depan panggung dalam acara perpisahan kelas 6 yang saat itu juga diumumkan nama anak-anak dengan NEM tertinggi di sekolah. Pak Wid, begitu kami memanggilnya, menyebut nama anak dari peringkat ke-5. Hingga peringkat ke-3, namaku belum juga muncul. Tinggal 2 orang lagi. Aku masih ingin tidak dipanggil hingga nama yang terakhir. Untuk membuat jantung si anak dag-dig-dug, sebelum memanggil namanya, Pak Wid biasanya menyebutkan ciri-ciri dari si anak. Akhirnya Pak Wid memanggil si anak yang katanya mahir menggocek bola, lalu menyamakan dia dengan Kurniawan Dwi Yulianto. Di belakangnya, disebut namaku.

Sejak SD aku gemar bermain bola. Saat pagi-pagi sambil menunggu bel masuk kelas, saat istirahat, bahkan saat pulang sekolah. Tidak jarang aku masuk kelas sambil sibuk menyeka keringat yang mengucur. Main bolanya serabutan. Tidak kenal posisi. Di mana ada bola ke arah situ lah kami berlari. Jumlah pemain tidak dibatasi. Biar luas lapangan yang membatasi. Seragam pun tidak ada yang membedakan. Kadang ada yang menipu, mengaku kawan padahal lawan. Tidak jelas siapa yang jadi kiper. Seperti tidak jelasnya tiang gawang yang diganti dengan tempat sampah atau batu. Sekedar menandai di situ loh gawangnya. Pak Wid, dia lah guru yang juga suka bermain bola bersama anak-anak. Padahal dia bukan guru olahraga. Yang terekam dari masa lalu saat bermain bola hanya kesenangan dan kebahagiaan. Apalagi kalau bisa mencetak gol.

Kebiasaan sejak SD terbawa ke SMP. Di SMP, salah satu prestasi yang bisa kami raih adalah menjadi finalis di Al-Izhar Cup. Sayang, kami kalah di final. Dan posisiku di tim SMP adalah sebagai bek kanan. Sangat berbeda ketika membawa nama kebesaran kelas. Untuk tim kelas, aku bertugas menjadi striker. Temanku ada yang menyebutku, ‘long ball shoot man’ karena aku suka menendang bola dari jarak jauh. Waktu dulu mungkin karena terinspirasi David Beckham. Atau, Juan Sebastian Veron. Begitu juga SMA. Prestasi di SMA kurang menggembirakan. Saat itu sepakbola di SMA kami memang baru sedang dirintis. Di kampus, bermain bola seperti ditinggalkan. Hanya beberapa kali mewakili Himpunan Mahasiswa Elektro bertarung di Ganesha Cup. Aku memang kurang mendapat tempat di sana. Mungkin karena ketidakaktifan dan kurang bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa penghuni himpunan.

Di Taiwan, kampusku memiliki semacam organisasi kemahasiswan khusus untuk menampung mahasiswa-mahasiswa asing. Namanya, NTUFSA. NTU Foreign Student Association. Di tahun 2008, NTUFSA menyelenggarakan kompetisi sepakbola untuk mahasiswa-mahasiswa asing yang tersebar di seluruh penjuru Taiwan. Berbagai kampus mendaftarkan pasukannya. Untuk mewakili NTU, NTUFSA membuat seleksi. Tidak aku sia-siakan kesempatan untuk unjuk gigi di event ini. Yang lebih mengguiurkan lagi adalah sponsornya. Tim inti NTU akan mendapatkan seperangkat jersey lengkap kandang-tandang dan sepasang sepatu. Semuanya disponsori oleh apparel dengan logo 3 garis miring. Ah, aku ternyata tidak bisa bersaing dengan orang-orang Jerman, Spanyol, Afrika, Amerika Selatan, bahkan Vie 

Awalnya hanya ikut-ikutan. Teman-teman sepermainanku di Taiwan waktu itu sedang senang-senangnya memotret dengan kamera digital SLR. Saat itu aku buta sama sekali dengan fotografi. Tidak tahu istilah-istilah seperti aperture atau bukaan lensa, shutter speed atau kecepatan rana, ISO atau sensitivitas. Aku juga tidak tahu tentang aturan 1/3, golden ratio, dan aturan-aturan komposisi lainnya. Yang aku tahu tentang komposisi adalah menaruh obyek di tengah bidang foto.

Akhirnya sambil malu-malu untuk membeli kamera SLR, melalui internet aku melakukan survei yang cukup intens untuk membeli kamera yang tepat untuk belajar. Dari salah satu website yang membahas tentang review gadget-gadget fotografi, pilihan itu jatuh pada Canon Powershot S5 IS. Ini lah kamera yang direkomendasikan oleh website terebut. Banyak sekali pertimbangannya waktu itu. Dari kemampuan zoom-nya yang sangat jauh, kamampuannya yang memiliki fitur kamera SLR, serta harganya yang jauh di bawah kamera SLR. Dengan kamera ini aku belajar sedikit demi sedikit. Hingga pada suatu titik, aku tidak bisa menahan keinginan untuk mendapatkan hasil gambar yang lebih baik. Yang jawabannya adalah kamera SLR.

Kamera SLR pertamaku adalah Nikon D90 dengan lensa kit 18-105mm yang aku beli di sebuah toko yang dekat stasiun MRT Zhishan di sekitar awal tahun 2009. Baru berkenalan beberapa minggu dengan kamera tersebut, tugas pertamaku sudah datang. Yaitu untuk meliput pengajian yang diadakan di Zhong Li. Pengajian di Taiwan biasanya mengundang ustadz-ustadz ternama dari tanah air. Panitia pengajian, yang merupakan kolaborasi antara tenaga kerja dan mahasiswa Indonesia, saat itu mengundang Ust. Haddad Alwi untuk memberi siraman rohani kepada rakyat Indonesia yang sedang berkarir dan belajar di Taiwan.

Beberapa bulan kemudian, tugas berikutnya datang lagi. Seorang kawan meminta bantuanku untuk memotret fasilitas-fasilitas dan juga dosen-dosen yang mengajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Bogor. Aku merasa hasilnya akan kurang artistik dan maksimal untuk pekerjaan ini jika hanya menggunakan kamera kit. Untuk itu, ditambahlah lensa sakti 50mm F/1.4 agar hasil portrait menjadi lebih menarik. Kali ini, aku tidak bekerja sendiri. Aku dibantu oleh temanku yang tinggal di Bogor, yang kukenal sewaktu di Taiwan.

g terekam dari masa lalu saat bermain bola hanya kesenangan dan kebahagiaan. Apalagi kalau bisa mencetak gol.

Kebiasaan sejak SD terbawa ke SMP. Di SMP, salah satu prestasi yang bisa kami raih adalah menjadi finalis di Al-Izhar Cup. Sayang, kami kalah di final. Dan posisiku di tim SMP adalah sebagai bek kanan. Sangat berbeda ketika membawa nama kebesaran kelas. Untuk tim kelas, aku bertugas menjadi striker. Temanku ada yang menyebutku, ‘long ball shoot man’ karena aku suka menendang bola dari jarak jauh. Waktu dulu mungkin karena terinspirasi David Beckham. Atau, Juan Sebastian Veron. Begitu juga SMA. Prestasi di SMA kurang menggembirakan. Saat itu sepakbola di SMA kami memang baru sedang dirintis. Di kampus, bermain bola seperti ditinggalkan. Hanya beberapa kali mewakili Himpunan Mahasiswa Elektro bertarung di Ganesha Cup. Aku memang kurang mendapat tempat di sana. Mungkin karena ketidakaktifan dan kurang bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa penghuni himpunan.

Di Taiwan, kampusku memiliki semacam organisasi kemahasiswan khusus untuk menampung mahasiswa-mahasiswa asing. Namanya, NTUFSA. NTU Foreign Student Association. Di tahun 2008, NTUFSA menyelenggarakan kompetisi sepakbola untuk mahasiswa-mahasiswa asing yang tersebar di seluruh penjuru Taiwan. Berbagai kampus mendaftarkan pasukannya. Untuk mewakili NTU, NTUFSA membuat seleksi. Tidak aku sia-siakan kesempatan untuk unjuk gigi di event ini. Yang lebih mengguiurkan lagi adalah sponsornya. Tim inti NTU akan mendapatkan seperangkat jersey lengkap kandang-tandang dan sepasang sepatu. Semuanya disponsori oleh apparel dengan logo 3 garis miring. Ah, aku ternyata tidak bisa bersaing dengan orang-orang Jerman, Spanyol, Afrika, Amerika Selatan, bahkan VieDmemang tidak ada jalan pintas untuk sampai di puncak. Beliau mengikuti semua aturan pendaftaran, melengkapi semua berkas yang diminta, dan menggunakan uangnya sendiri untuk pergi ke sana. Setelah satu tahun, dia menjadi asisten lab sehingga gajinya bisa digunakan untuk membayar uang sekolah dan juga membiayai hidupnya.

emusingkan, yaitu Computer Aided Analysis & Optimization of IC. Yang membuatku tetap nekad padahal tak ingin mengambilnya, karena mata kuliah ini diajar oleh dosen pembimbingku. Otomatis hampir semua mahasiswa yang mengambil kelas tersebut adalah dari teman-teman lab. Seriously, aku tidak mengerti apa yang dipelajari di kelas ini selama satu semester itu. Tanpa text-book, Pak Dosen mengajar berdasarkan slide-slide presentasi yang dia miliki. Kelas ini juga lebih sering menggunakan bahasa Mandarin ketimbang bahasa Inggris. Tapi yang penting, aku bisa survive di kelas ini hingga semester berakhir.

Digital IC Engineering juga kupilih untuk mengisi hari-hari perkuliahanku di semester ke-3 ini. Kelasnya cukup besar. Dosen yang mengajar jebolan Berkeley, University of California. Yang sedikit membedakan dosen ini dengan dosen lain, Beliau suka menggunakan laptop dengan layar sentuh sebagai pengganti papan tulis. Aku menyukai caranya mengajar dengan sesekali bercerita tentang hal-hal lain di luar materi perkuliahan. Dia juga selalu bersemangat dalam menyampaikan materi. Yang agak sulit kuterima, Beliau lebih suka menggunakan bahasa Mandarin dengan alasan sebagian besar penduduk di kelas ini adalah mahasiswa lokal. Untungnya di kelas ini ada master dari tahun-tahun sebelumnya. Dan ujiannya pun open book pula. Jadi meskipun nggak ngerti sebagian isi materi, di kelas ini aku sangat bisa survive. Hanya kurang 1 poin untuk dapat nilai 90.

Mata kuliah lainnya adalah Integrated Circuit Technology. Membahas dari A sampai Z tentang teknologi IC. Dari pembuatan wafer silikon hingga packaging. Komplit dan komprehensif. Diajar oleh dosen muda lulusan Stanford University. Di kelas ini aku tidak khawatir tidak bisa mengikuti, sebab Pak Dosen ini selalu menggunakan bahasa Inggris di dalam kelas. Sebenarnya ini kuliah yang kusuka. Yang tidak kusuka adalah tebalnya buku pegangan yang setebal bantal, dan juga soal-soal ujiannya yang menurutku sulit. Sulit karena meterinya buanyak dan tidak terprediksi mana yang akan keluar dan mana yang tidak. Sedangkan soal-soal master tidak berguna karena Pak Dosen cukup kreatif dalam membuat soal dari tahun ke tahun. Aku nyaris tidak lulus di mata kuliah ini. Ketika hasil akhir keluar, nilaiku hanya 65 koma sekian-sekian. Padahal untuk lulus, nilai minimal adalah 70. Lalu aku menghadap Beliau, untuk memastikan apakah memang sudah tidak ada harapan lagi untuk lulus atau masih adakah secercah harapan itu? Aku sangat bersyukur ketika Pak Dosen mengatakan bahwa semua mahasiswa diberikan bonus nilai 5 poin.

Di semester ke-4, untuk menaikkan nilai rata-rata akhir, aku mengambil 1 mata kuliah lagi. Kali ini tidak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu spesifik di bidang elektronika. Aku mengambil mata kuliah Scientific Taiwan yang kelasnya memang dibuka untuk memperkenalkan lebih jauh tentang berbagai teknologi yang diterapkan di Taiwan. Kelas ini cukup menyenangkan. Tidak ada ujian, hanya ada 4 kali tugas untuk mereview topik yang dibahas di kelas. Aku tuliskan lagi hasil review-review tersebut di blog ini. Sisanya, tinggal duduk manis dan tidur mendengarkan.

Aku merasa cukup beruntung karena pernah merasakan bagaimana rasanya diajari oleh para dosen lulusan universitas-universitas terbaik di dunia. Dari 8 dosen yang pernah mengajarku, ada 2 dosen yang memang membuatku kagum. Dua dosen yang pernah merasakan bagaimana rasanya duduk mengikuti perkuliahan di Stanford. Tadinya aku berpikir, bahwa dari mereka lah aku akan menemukan jalanku ke sana. Aku sempat menanyakan pada dosen yang mengajar IC Technology tentang bagaimana dulu ia bisa sekolah di Stanford. Dan 

Lanjut lagi membahas tentang perkuliahanku di Taiwan. Lewat satu tahun, aku masih menyisakan 9 credits untuk diselesaikan. Maka di semester ketiga itu aku mendaftarkan diri pada 3 kelas, yang semuanya tentang rangkaian terintegrasi atau integrated circuit alias IC. Yang pertama, dari namanya saja mata kuliah ini sudah memusingkan, yaitu Computer Aided Analysis & Optimization of IC. Yang membuatku tetap nekad padahal tak ingin mengambilnya, karena mata kuliah ini diajar oleh dosen pembimbingku. Otomatis hampir semua mahasiswa yang mengambil kelas tersebut adalah dari teman-teman lab. Seriously, aku tidak mengerti apa yang dipelajari di kelas ini selama satu semester itu. Tanpa text-book, Pak Dosen mengajar berdasarkan slide-slide presentasi yang dia miliki. Kelas ini juga lebih sering menggunakan bahasa Mandarin ketimbang bahasa Inggris. Tapi yang penting, aku bisa survive di kelas ini hingga semester berakhir.

Digital IC Engineering juga kupilih untuk mengisi hari-hari perkuliahanku di semester ke-3 ini. Kelasnya cukup besar. Dosen yang mengajar jebolan Berkeley, University of California. Yang sedikit membedakan dosen ini dengan dosen lain, Beliau suka menggunakan laptop dengan layar sentuh sebagai pengganti papan tulis. Aku menyukai caranya mengajar dengan sesekali bercerita tentang hal-hal lain di luar materi perkuliahan. Dia juga selalu bersemangat dalam menyampaikan materi. Yang agak sulit kuterima, Beliau lebih suka menggunakan bahasa Mandarin dengan alasan sebagian besar penduduk di kelas ini adalah mahasiswa lokal. Untungnya di kelas ini ada master dari tahun-tahun sebelumnya. Dan ujiannya pun open book pula. Jadi meskipun nggak ngerti sebagian isi materi, di kelas ini aku sangat bisa survive. Hanya kurang 1 poin untuk dapat nilai 90.

Mata kuliah lainnya adalah Integrated Circuit Technology. Membahas dari A sampai Z tentang teknologi IC. Dari pembuatan wafer silikon hingga packaging. Komplit dan komprehensif. Diajar oleh dosen muda lulusan Stanford University. Di kelas ini aku tidak khawatir tidak bisa mengikuti, sebab Pak Dosen ini selalu menggunakan bahasa Inggris di dalam kelas. Sebenarnya ini kuliah yang kusuka. Yang tidak kusuka adalah tebalnya buku pegangan yang setebal bantal, dan juga soal-soal ujiannya yang menurutku sulit. Sulit karena meterinya buanyak dan tidak terprediksi mana yang akan keluar dan mana yang tidak. Sedangkan soal-soal master tidak berguna karena Pak Dosen cukup kreatif dalam membuat soal dari tahun ke tahun. Aku nyaris tidak lulus di mata kuliah ini. Ketika hasil akhir keluar, nilaiku hanya 65 koma sekian-sekian. Padahal untuk lulus, nilai minimal adalah 70. Lalu aku menghadap Beliau, untuk memastikan apakah memang sudah tidak ada harapan lagi untuk lulus atau masih adakah secercah harapan itu? Aku sangat bersyukur ketika Pak Dosen mengatakan bahwa semua mahasiswa diberikan bonus nilai 5 poin.

Di semester ke-4, untuk menaikkan nilai rata-rata akhir, aku mengambil 1 mata kuliah lagi. Kali ini tidak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu spesifik di bidang elektronika. Aku mengambil mata kuliah Scientific Taiwan yang kelasnya memang dibuka untuk memperkenalkan lebih jauh tentang berbagai teknologi yang diterapkan di Taiwan. Kelas ini cukup menyenangkan. Tidak ada ujian, hanya ada 4 kali tugas untuk mereview topik yang dibahas di kelas. Aku tuliskan lagi hasil review-review tersebut di blog ini. Sisanya, tinggal duduk manis dan tidur mendengarkan.

Aku merasa cukup beruntung karena pernah merasakan bagaimana rasanya diajari oleh para dosen lulusan universitas-universitas terbaik di dunia. Dari 8 dosen yang pernah mengajarku, ada 2 dosen yang memang membuatku kagum. Dua dosen yang pernah merasakan bagaimana rasanya duduk mengikuti perkuliahan di Stanford. Tadinya aku berpikir, bahwa dari mereka lah aku akan menemukan jalanku ke sana. Aku sempat menanyakan pada dosen yang mengajar IC Technology tentang bagaimana dulu ia bisa sekolah di Stanford. Dan 

Formmit atau Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan, tidak bisa lepas dari lembar sejarahku selama berada di Taiwan. Aku pernah terlibat cukup intens di organisasi tersebut. Walau pada awalnya tidak sengaja. Adalah Mbak Iin, dosen wanita di perguruan tinggi negeri di Surabaya, yang membawaku hingga akhirnya aku diberi tanggung jawab untuk mengurusi bidang Humas dan Informasi. Yang lebih sering kami sebut dengan Humin. Aku tidak bekerja sendiri. Ada roommate-ku yang menjadi kompatriotnya. Kami memiliki tugas yang berbeda. Dengan pengalamannya yang bejibun dalam berorganisasi, dia lebih sering diberi tugas yang berhubungan dengan diplomasi. Sedangkan aku, bertugas di balik layar mengurusi portal informasi di dunia maya.

Banyak yang kupelajari selama menjadi Humin Formmit. Terutama tentang CMS Joomla dan bahasa pemrograman berbasis web, PHP. Di sini juga pertama kali aku berkenalan dengan radio online. Dan lagi-lagi yang memperkenalkan radio streaming melalui internet itu adalah Mbak Iin. Dia punya caranya sendiri untuk mengajariku. Dia membuatkan tutorialnya, sisanya tinggal kujalankan sesuai dengan petunjuk yang ia buat. Pada akhirnya memang aku belajar sendiri. Dia, adalah trigger yang membuka cakrawala dan juga mentor jika aku menemukan jalan buntu.

Di Formmit, aku mencari pengalaman berorganisasi. Sesuatu yang kurasa harus kupelajari untuk modal apabila nantinya diinterview dalam proses mencari kerja, setidaknya aku bisa bercerita banyak tentang apa-apa yang kukerjakan di Formmit. Di sini aku memang dituntut untuk berhubungan dengan banyak orang dan tidak bisa diam saja. Karena kalau hanya diam, maka kerjaan bersama tidak akan beres. Syukur juga dari Formmit aku banyak mengenal banyak kawan.

stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=715 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2011/07/mengatur-layanan-di-dunia-maya/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1593 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 id_hash type3a6f6a3ec4cc02090c15149770965278http://blog.dzaia-bs.com/?p=1284 id_hashhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 linkHadirnya bulan Desember gue rasa banyak membawa berkah, salah satunya sebagai pengingat, a reminder. Selain ngingetin kita bahwa musim dingin itu ada -terutama di belahan bumi bagian utara-, dia juga ngingetin kita bahwa introspeksi diri itu penting. Dari tingkat personal sampai perusahaan besar mulai itung-itungan bahwa apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, atau [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 summary40http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 comments typeHari ke-2 : Taiwan, Aku Datanghttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 title2011 9 30 1 7 42 4 273 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 datestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 comments typeKang Abik di Taipeihttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 titlehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/12/cupu-ih-dzaia/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=461 commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 id http://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 content2011 2 28 8 32 36 0 59 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 date1http://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 slash_commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=565 author

Jika waktu di Formmit, Mbak Iin tidak menyuruh saya untuk mempelajari radio streaming dan menjadi DJ-nya, mungkin aku juga tidak akan tertarik bergabung dengan Radio PPi Dunia. Cikal bakalnya memang ada di Radio Formmit. Dari mulai install server, setting DSP, membuat player, hingga suara penyiar dan narasumber bisa diperdengarkan ke semua penjuru, semua kupelajari waktu di Formmit. Mungkin hanya di kulit, tidak sampai jerohan-jerohannya.

DJ Formmit. Dulu aku pernah menggunakan ID tersebut ketika sedang siaran pengajian. Narasumber, topik, dan waktu sudah ditentukan oleh Mbak Dewi, yang menangani bidang pengkaderan. Tugasku sebenarnya selain mempersiapkan semua perangkat yang diperlukan, juga sebagai host. Yang seru adalah ketika bulan puasa. Pada saat itu Mbak Dewi punya program yang cukup menantang. KOBET. Agak maksa, singkatan dari Kajian Online Ba’da Tarawih. Entah dari mana munculnya huruf ‘E’. Ada juga malam yang bolong tanpa siaran karena ketidaksiapan narasumber, adanya miskom, atau masalah mendadak lain. Aku masih ingat ketika terburu-buru kembali ke asrama karena siaran ini. Atau ketika aku tidak mood, aku minta digantikan sebagai host, walaupun masih mengurusi masalah teknis lainnya.

Karena penasaran dengan isinya Radio PPI Dunia, maka tertariklah aku untuk nyemplung di sana. Walaupun itu bukan alasan satu-satunya. Aku berharap menemukan ilmu pe-radio-an yang baru. Namun setelah tahu isinya, tidak ada yang baru di sana selain penggunaan servernya yang menggunakan server sewaan. Dengan modal ilmu yang kudapat di Radio Formmit, aku masuk ke dalam tim teknis Radio PPI Dunia. Di sana selain mengurusi radio, aku juga membantu mengurusi website.

stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=423 comments type(phttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 contenthttp://blog.dzaia-bs.com/2009/07/which-one-am-i/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=434 commentsdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 author2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 content typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 order typenullfilter typehttp://blog.dzaia-bs.com/2009/08/robotika-robot-problematika/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=441 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 id_hash typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 slash_comments typeI just knew what was happened to me…http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=469 date typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/kegagalan-adalah-keberhasilan-yang-tertunda-ditunda-tundakan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 linkda3faff98f10172eb268629c79af774bhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1093 id_hashdzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 authorhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1564http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 iddatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/10/super-8-super/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 slash_comments type`

Salah satu hobiku adalah memasak. Boleh percaya boleh tidak. Tidak sampai memasak yang rumit-rumit. Yang penting simpel dan enak. Enak, menurut seleraku. Walaupun di asrama tidak boleh memasak, sesekali aku curi-curi kesempatan untuk bisa berkreasi di atas magic jar. Selama di asrama, karena tidak mungkin menggunakan kompor listrik, maka magic jar adalah pengganti kompor. Dengan menggunakan mode ‘cook’, magic jar dipaksa kerja keras untuk terus mengeluarkan panas setara kompor. Metode memasak seperti ini berhasil memakan korban magic jar hingga tidak bisa dipakai lagi.

Memang masak apa sih, Jay? Satu, masak nasi, Dua, masak lauknya. Setiap hari Jumat, di masjid besar ada semacam pasar dadakan. Di sana dijual makanan-makanan dan juga daging-daging halal, dari mulai daging sapi, domba, dan ayam. Dagingnya pun berbagai macam jenis. Ada yang dikemas dalam potongan besar, potongan cincang, dan potongan kecil seperti untuk teriyaki. Untuk membuat rendang, aku membeli daging potongan besar. Nantinya dipotong-potong sesuai potongan rendang. Bumbunya? Yang praktis-praktis saja. Bumbu instan.

Pertama kali bikin rendang, gagal. Dagingnya masih keras dan gosong. Dengan daging teriyaki, aku juga suka masak teriyaki. Untuk resep yang satu ini, aku tidak menggunakan bumbu instan. Hanya menggunakan bawang putih cincang, bawang bombay, kecap manis, kecap asin, lada hitam, sedikit garam dan gula. Dengan daging cincang, aku pernah membuat burger-telur. Tapi tidak dengan di-grill. Hanya ditumis dengan mentega.

Pindah ke apartemen lantai 5, hobi memasak jadi lebih tersalurkan. Peralatannya lebih layak untuk memasak. Apalagi di sana memang ada teman-teman yang suka masak. Kami sering masak bersama. Atau, tuker-tukeran masakan. Jadi, aku memasak lauknya, temanku memasak sayurnya. Yang lain, memasak nasinya. Terutama di akhir pekan, kami sering masak yang agak besar. Dengan catatan, kalau sedang pada rajin. Pagi harinya pergi ke pasar Yonghe, atau kalau sudah kesiangan, pergi ke pasar terdekat. Selain harganya lebih murah dan bahan-bahannya yang masih segar, pasar menyediakan banyak pilihan.

ia-bs.com/2010/10/makanan-pokok/http://blog.dzaia-bs.com/?p=620 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1382 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1526 comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 author18http://blog.dzaia-bs.com/?p=525 order2009 9 14 18 54 27 0 257 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=450 updated2010 12 7 3 0 12 1 341 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 datehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/lentera-ide-ppi-taiwan-the-story-behind/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 commentsslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 updated typeTendangan Dari Langit : Sepakbola + Cinta + Keluargahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1544 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 id type92http://blog.dzaia-bs.com/?p=1627 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 idhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/nikon-or-canon/http://blog.dzaia-bs.com/?p=747 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 order typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/03/its-kind-of-funny-story/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1315 linkstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 slash_comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 order typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 link typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1649 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/11/eid-al-adha-1431h/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 comments83http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1366 id_hash typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/surat-untuk-nenek/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/untuk-suara-muda-indonesia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 wfw_commentrss 

Di awal-awal kedatanganku di Taiwan, masih sulit mencari makanan yang halal. Hanya ada satu warung Indonesia yang dekat dengan kampus.Letaknya di samping masjid besar. Dari kampus, atau tepatnya dari asrama, ke masjid besar membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan sepeda, jika diayun santai. Bisa lebih karena ada dua lampu merah yang sering memperlambat waktu tempuh. Warung itu tidak bisa dijadikan pilihan utama untuk menjadi penyuplai makanan rutin. Selain karena harganya relatif lebih tinggi daripada makanan kantin, variasi menunya juga terbatas. Jadi di sekitar tahun pertama-kedua, aku mengandalkan makanan-makanan kantin dengan menu ikan atau seafood.

Selain hari-hari biasa, ada 2 hari khusus tentang menu makanan. Hari Jumat ketika di masjid besar menjual makanan-makanan halal, dan hari ketika aku bersama teman-teman dari NTUST pergi ke TMS untuk menyantap pecel lele atau pecel gurami. Sebenarnya bukan ikan gurami, hanya Ibu yang jualan saja yang menyebutnya begitu. Di hari Jumat, ada menu favoritku di masjid besar, nasi dengan daging sapi atau kambing berbumbu khas masakan timur tengah. Aku juga tak tahu namanya. Penampakannya seperti kari, rasanya bumbunya kuat,  dagingnya super empuk. Alternatif lainnya, ada jipai atau ayam goreng, kebab yang isinya daging sapi atau ayam, dumpling, dan lain-lain.

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana pengeluaran untuk makan bisa ditekan serendah-rendahnya. Dengan selalu numpang makan ketika berbuka dan juga patungan waktu sahur, otomatis pengeluaran terkendali semaksimal mungkin. Tapi kenyamanan itu hanya aku nikmati selama 2 tahun. Tahun ke-3 dan ke-4, aku lebih banyak berbuka di rumah. Baik di rumah apartemen, atau rumah di Ciputat. Dengan menu yang selalu berulang-ulang setiap hari bisa menyebabkan kebosanan.

Semakin lama Taiwan semakin banyak didatangi pendatang. Impor pendatang dari Indonesia bahkan mencapai lebih dari 150 ribu orang. Termasuk di dalamnya tenaga kerja formal dan informal, profesional, dan pelajar. Semakin menjamur pula warung-warung Indonesia di Taiwan. Di Taipei sendiri, semakin banyak bermunculan warung-warung halal yang dimiliki oleh penduduk lokal dan pendatang muslim. Sekarang, mencari makanan halal di sekitar kampus memiliki banyak pilihan.

Dalam seminggu, aku bisa mencari 7 alternatif makanan halal yang berlokasi di sekitar kampus. NTUST, yang berseberangan dengan kampusku, saat ini menyediakan menu halal di kantinnya. Warung Thailand yang ada di belakang Taipower building milik sepasang suami istri yang memiliki seorang anak laki-laki, juga menjadi langgananku paling tidak seminggu sekali. Menu favoritku, jiumazi atau ayam goreng dengan kecap asam manis pedas. Lain hari, aku ke restoran India yang menyediakan menu-menu India. Menu favorit, menu paket diskon siang hari. Yaitu nasi dengan daging bumbu achar, vindaloo, atau korma, plus minuman. Favoritku, bumbu korma dan vindaloo. Tidak jauh dari situ, ada restoran Mesir. Yang ini hanya pernah sekali mencoba karena harganya yang luar biasa mahal untuk ukuran kantong mahasiswa, Kebab burger di depan Taipower, yang dijual bergantian antara suami-istri Mesir-Taiwan juga sering menjadi pilihan. Ada juga warung Taiwan yang menjual masakan-masakan Thailand dan niuroumian. Di sebelahnya, aneka kari dengan harga terjangkau juga cukup enak dan mengenyangkan. Satu lagi, warung Indonesia yang letaknya di dekat masjid kecil.

Mungkin suatu saat nanti, kalau aku berkesempatan ke Taipei lagi, aku berencana mengunjungi tempat-tempat itu lagi. Satu per satu.

ntent link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310Saya juga heran, giliran ada jadwal fitness, saya malah bisa ngelawan rasa malas di pagi hari. Padahal kalau nggak ada jadwal itu biasanya saya lebih milih menarik lagi selimut dan membetulkan posisi tidur senyaman mungkin. Agak di luar perkiraan, karena sebelum-sebelumnya konsistensi cuma mampir sekitar 2 mingguan. Sedangkan sebulan belakangan ini, saya cukup bisa konsisten [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 summaryp b }WG! p k B p B ;   p k B 6    {kCxM-fa8f81n:3Makanan Pokokhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=620 title2011 3 26 21 27 15 5 85 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1352 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/berbalik/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 wfw_commentrssDulu sekali waktu di awal-awal munculnya film dokumenter Lingkar Ide yang dibuat sama teman-teman PPIA Victoria di Youtube, entah kenapa saya pengen banget bikin hal yang serupa di sini. Sayangnya dulu belum ada gayung bersambut. Belum ada PPI Taiwan, belum kenal dengan orang-orang yang kira-kira bisa diajak bikin film, dan belum tahu bakal dikemanakan nantinya [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1432 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 id_hash typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455First of all, Happy Eid for everyone. All the praise to الله Who gives us health and wealth, faith and spirit, so that we can breathe the freshness air of Eid al-Adha this year. Not much I would tell since it is the fourth Eid al-Adha that I celebrated in Taipei. Everything is almost the [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 summarydatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 date type
source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

Ada 2 jenis manusia di bumi ini, yang suka travelling dan yang tidak. Aku mengatakan ini hanya untuk menegaskan bahwa orang yang tidak suka travelling itu benar-benar ada. Lebih suka di rumah dari pada berjalan-jalan melihat ratusan lentera diterbangkan di PingXi. Lebih memilih bermain poker di facebook dari pada melihat festival bunga di YangMing Shan. Lebih senang tidur dari pada menyelusuri seluk beluk Taiwan dari utara hingga selatan. Kecuali kalau jalan-jalannya untuk misi berbelanja, bisa lain ceritanya.

Aku bukan termasuk orang yang tidak suka travelling. Sebaliknya, aku lebih memilih menghabiskan hari-hari di perjalanan menuju selatan Taiwan dari pada berdiam diri di kamar. Suatu hari, karena tidak diajak jalan-jalan ke daerah Kaohsiung, aku merencanakan perjalananku sendiri ke kota itu. Berbekal informasi yang diperoleh dari internet, aku bermaksud mengunjungi beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam sekali perjalanan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi terhadap teoriku sendiri yang menyatakan, kemudahan transportasi di Taiwan menjadikan Taiwan mudah untuk ditaklukkan, aku nekad jalan sendiri. Tentang perjalanan ini, aku pernah menuliskannya di sini.

Selain melakukan travelling sendiri, aku juga sering ikut trip grup baik itu yang diadakan oleh NTUFSA atau pun NTU-ISIS. Ada perjalanan ke Taichung-SanYi bersama NTUFSA. Mengunjungi perayaan ulang tahun kampus NTOU bersama teman-teman NTUFSA. Mengikuti wisata di bidang pertanian Taiwan yang diadakan oleh salah satu departemen di NTU. Atau ketika ada ajakan teman untuk pergi, maka aku akan dengan mudah mengiyakan untuk ikut. Seperti waktu pergi ke Taroko bareng Agung dan Karin, dan mencari hiburan ke Leofoo dengan teman-teman NTUST. Atau juga waktu ada promosi tiket masuk gratis ke Xia Ren Guo. Ada juga jalan-jalan dengan teman-teman Formmit, yang disebut rihlah. Yang kuingat ketika mengunjungi Taipei Zoo dan Yang Ming Shan.

Untuk masalah turisme, Taiwan selalu punya event-event yang unik dan khas di setiap tahunnya. Dari mulai flower festival di musim semi, lantern festival setelah tahun baru Cina, ada juga festival kembang api, dan berbagai tema festival yang selalu diselenggarakan rutin setiap tahun. Dulu setiap ada event yang terdengar menarik, maka jadwalku di weekend adalah mendatangi event tersebut. Tapi itu tidak berlangsung terus-terusan. Ada saat di mana aku telah merasa bosan dengan semua turisme Taiwan.

Intinya, travelling di Taiwan itu mudah dan menyenangkan, dalam kurun waktu tertentu. Program master adalah durasi yang cukup untuk muter-muter di Taiwan. Karena menginjak tahun ke-3, semua wisata Taiwan bisa berubah jadi membosankan. Dan jangan terlalu berharap jika yang menjadi tujuan adalah pemandangan alam.

ate typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-9-fotografi/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 link2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1657 slash_commentshttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/aku-sebuah-buku/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1403http://blog.dzaia-bs.com/?p=1403 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1673 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 summary typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1488 comments types vC{vT e b =  v o F % f 3   stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1671 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/06/waktu-kesempatan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 link67http://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1572 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 order type8c21b36c0ad3653864542878de7a89d7http://blog.dzaia-bs.com/?p=1479 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 hidden typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=429 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/ramadhan-tahun-ini/http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 link19http://blog.dzaia-bs.com/?p=537 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 slash_comments typeslash_comments title author updatdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 date typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 summary typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-15-travelling-in-taiwan/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1676 linkslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 id_hash typevdkd+aZ-& c W . ' i  Z S +  y X / ma61aZV7*P*(stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=537 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=455 link type7http://blog.dzaia-bs.com/?p=455 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2009/09/gara-gara-kelamaan-di-taiwan/#commentshttp://blog.dzdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 author type2011 10 27 19 55 10 3 300 0url_modifiedhttp://blog.dzaia-bs.com/feed/urlstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 author typestrhttp://blog.dzaia-bs.com/feed/urlbfcaf07cce820eec458ef33246aa5f18http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 order typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1638 date type http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 content3733451385af9dde75c1b9572dbc6adehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 id_hashLately my blog seems really boring, isn’t it? No more photos and videos. Well, right now I kinda feel like what Mr.Anang says in his song which is titled “Separuh Jiwaku Pergi.” Not so that a part of my soul, actually. But yeah, I feel incomplete. I’m missing something that belong together for such quite [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 summaryhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1541http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 id2012 3 2 16 5 12 4 62 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1622 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 content type2010 2 23 18 4 47 1 54 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=469 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 summary type43297dec77c2a8641818ff3c65dbbac2http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 id_hashdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 date typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1168stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/04/about-eat-pray-and-love/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=486 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1473 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 content22http://blog.dzaia-bs.com/?p=558 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1667 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 content typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1501 author typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=545 comments typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/m-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1519 comments http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 contentstringhttp://blstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1678 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/2012/03/hari-ke-17-penerbangan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 comments @ ibetnya cukup menantang. Harus bisa mengira-ngira bahwa kita memiliki waktu yang cukup untuk pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi, check-in, dan pemeriksaan imigrasi lagi, ketika di Malaysia. Aku pernah punya pengalaman cukup seru dengan AirAsia ini. Sebenarnya aku cukup merasa nyaman dengan AirAsia karena bisa santai-santai dulu di Malaysia dan nggak ada masalah dengan makanan karena kehalalannya terjamin. Dari flight attendant-nya juga lebih segar dan atraktif. Jika memilih AirAsia untuk ke Taipei, sebaiknya direncanakan dari jauh-jauh hari agar dapat harga promo. Karena kalau mendadak, harganya tidak akan jauh berbeda dengan penerbangan premium atau bahkan bisa lebih mahal. Untuk penerbangan Indonesia-Malaysia, memang pesawatnya tidak begitu besar. Namun untuk penerbangan Malaysia-Taipei atau sebaliknya, pesawatnya menggunakan Airbus yang cukup besar.

Cebu Pacific dan JetStar, keduanya merupakan maskapai budget sejati. Mereka menawarkan harga paling rendah di antara maskapai-maskapai lainnya. Tapi penerbangan dengan maskapai jenis ini memang seharusnya tidak dialami sendirian. Paling tidak harus bawa teman, minimal 1 supaya nggak mati kebosanan. Pengalaman dengan Cebu Pacific cukup membuatku kapok. Selain transit di bandara Filipina yang cukup lama sekitar 5 jam, ditambah fasilitas airport yang kacrut abis, ditambah lagi masih dikenai pajak bandara, ditambah lagi harus buka sepatu waktu mau masuk pemeriksaan X-Ray, ditambah lagi ruang duduk yang seperti bus patas AC, komplit sudah nilai minus buat maskapai ini. Tampaknya memang uang yang ditukar dengan tiket itu hanya pas untuk beli avtur. JetStar masih agak mendingan karena tempat transitnya yang nyaman, tanpa airport tax, dan nggak pakai repot waktu lewat X-Ray. O ya, untuk penerbangan dari Singapura-Jakarta, pesawatnya ganti dengan ValueAir.

Sekarang tentang harga. Dulu, harga tiket pesawat tidak semahal sekarang. Kalau dulu, harga tiket PP Taipei-Jakarta-Taipei bisa ditebus dengan harga 8.000 NTD, maka akhir-akhir ini harga normalnya sekitar 19.000 NTD. Ini untuk kelas premium seperti CI dan Eva. CX menawarkan harga lebih rendah sekitar 15.000 NTD. CI juga bisa mendapat harga lebih murah apabila kita beli dengan harga khusus mahasiswa. Tapi kita harus daftar dulu menjadi membernya CI, dan juga terdaftar sebagai pelajar internasional. Sedangkan untuk penerbangan budget, harga termurah bisa didapat sekitar 3.000-5.000 NTD untuk satu kali perjalanan. Cara lain untuk mendapatkan tiket murah adalah dengan membeli tiket grup.

shuttle train, sayang aku baru tahu akhir-akhir ini. Dengan menggunakan CX, aku pernah mengalami delay yang lumayan lama karena kerusakan mesin. Jadi ketika pesawat sudah bersiap-siap mau berangkat di landasan pacu, ketika melakukan pengecekan, pilot merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya pesawat itu mundur lagi ke terminal dan ganti pesawat lagi dan menunggu lagi. CX juga seperti CI, cukup baik.

Selain CI dan CX yang mendominasi penerbangan berkelas premium, ada juga Eva Air dengan kode penerbangan BR. Entah apakah hari itu aku lagi beruntung atau apa, pertama kalinya aku terbang dengan Eva, aku mendapatkan tempat duduk nomor 2 dari depan! Padahal belinya tiket ekonomi. Aku juga heran, karena nomor kursi yang kuterima berkisar pada angka dua puluhan. Kukira memang maskapai ini tidak memiliki ruang untuk kelas bisnis. Ternyata memang kursi yang kutempati memang untuk kelas bisnis. Dan aku merasakan bagaimana rasanya duduk agak miring (sebab kursinya mengikuti lengkungan kepala pesawat) selama penerbangan. Sayangnya keberuntungan tidak datang 2 kali. Sekembalinya dari Jakarta, aku mendapatkan kursi yang memang menjadi hakku. Tapi, iya nggak sih kalau susunan kursi di Eva itu lebih longgar?

Sekarang saatnya membahas tentang maskapai yang low fare. Ada AirAsia, Cebu Pacific, dan JetStar. Semuanya pakai transit. Semuanya nggak dapet makan. Dulu AirAsia belum ada layanan pindah bagasi langsung. Jadi ya rrcukup menantang. Harus bisa mengira-ngira bahwa kita memiliki waktu yang cukup untuk pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi, check-in, dan pemeriksaan imigrasi lagi, ketika di Malaysia. Aku pernah punya pengalaman cukup seru dengan AirAsia ini. Sebenarnya aku cukup merasa nyaman dengan AirAsia karena bisa santai-santai dulu di Malaysia dan nggak ada masalah dengan makanan karena kehalalannya terjamin. Dari flight attendant-nya juga lebih segar dan atraktif. Jika memilih AirAsia untuk ke Taipei, sebaiknya direncanakan dari jauh-jauh hari agar dapat harga promo. Karena kalau mendadak, harganya tidak akan jauh berbeda dengan penerbangan premium atau bahkan bisa lebih mahal. Untuk penerbangan Indonesia-Malaysia, memang pesawatnya tidak begitu besar. Namun untuk penerbangan Malaysia-Taipei atau sebaliknya, pesawatnya menggunakan Airbus yang cukup besar.

Cebu Pacific dan JetStar, keduanya merupakan maskapai budget sejati. Mereka menawarkan harga paling rendah di antara maskapai-maskapai lainnya. Tapi penerbangan dengan maskapai jenis ini memang seharusnya tidak dialami sendirian. Paling tidak harus bawa teman, minimal 1 supaya nggak mati kebosanan. Pengalaman dengan Cebu Pacific cukup membuatku kapok. Selain transit di bandara Filipina yang cukup lama sekitar 5 jam, ditambah fasilitas airport yang kacrut abis, ditambah lagi masih dikenai pajak bandara, ditambah lagi harus buka sepatu waktu mau masuk pemeriksaan X-Ray, ditambah lagi ruang duduk yang seperti bus patas AC, komplit sudah nilai minus buat maskapai ini. Tampaknya memang uang yang ditukar dengan tiket itu hanya pas untuk beli avtur. JetStar masih agak mendingan karena tempat transitnya yang nyaman, tanpa airport tax, dan nggak pakai repot waktu lewat X-Ray. O ya, untuk penerbangan dari Singapura-Jakarta, pesawatnya ganti dengan ValueAir.

Sekarang tentang harga. Dulu, harga tiket pesawat tidak semahal sekarang. Kalau dulu, harga tiket PP Taipei-Jakarta-Taipei bisa ditebus dengan harga 8.000 NTD, maka akhir-akhir ini harga normalnya sekitar 19.000 NTD. Ini untuk kelas premium seperti CI dan Eva. CX menawarkan harga lebih rendah sekitar 15.000 NTD. CI juga bisa mendapat harga lebih murah apabila kita beli dengan harga khusus mahasiswa. Tapi kita harus daftar dulu menjadi membernya CI, dan juga terdaftar sebagai pelajar internasional. Sedangkan untuk penerbangan budget, harga termurah bisa didapat sekitar 3.000-5.000 NTD untuk satu kali perjalanan. Cara lain untuk mendapatkan tiket murah adalah dengan membeli tiket grup.

dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=507 summary2009 12 16 16 22 13 2 350 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=461 updatedhttp://blog.dzaia-bs.com/2010/12/gadis-penjual-kaos/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 content type3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/meninggalkan-zona-nyaman/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 author2d4e19daed594bbbc55e7a39de96d407http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 content type2011 11 15 18 41 22 1 319 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 author2011 7 26 3 10 38 1 207 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 updatestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 comments typeHari ke-17 : Penerbanganhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 title 

Nonton bioskop di Taiwan tidak semurah di Indonesia. Meskipun sudah ada diskon untuk pelajar dan mahasiswa, tetap saja harga tiketnya masih lebih mahal. Untuk film 2D, harga tiket normal dijual 270 NTD (+ Rp 81.000,-). Diskon untuk pelajar hanya 30 NTD. Jadi dengan memperlihatkan kartu mahasiswa, kita bisa mendapatkan tiket lebih murah + Rp 9.000,-. Sedangkan untuk film 3D, harus merogoh saku lebih dalam lagi sekitar 90 ribuan ke atas. Masih ada yang lebih mahal lagi, yaitu menonton film 3D di teater IMAX. Harganya normalnya 420 NTD, atau sekitar 120 ribu rupiah. Sebenarnya bisa nonton lebih murah di bawah harga normal, yaitu di hari-hari biasa di jam-jam kerja. Kita bisa mendapatkan ticket early bird istilahnya.

Ada beberapa tempat di Taipei yang biasa aku jadikan sebagai tempat nonton. Di antaranya Vieshow Cinemas yang ada di Ximen, di dekat Taipei 101, di Q Square Taipei Main Station, dan bioskop lainnya di Miramar. Vieshow Cinemas itu di sana semacam XXI atau 21 di Indonesia. Mereka memang terlihat mendominasi bisnis layar lebar. Namun di antara beberapa bioskop tersebut, tidak semuanya memiliki teater IMAX. Di Taipei sendiri, IMAX hanya ada di VS Cinemas Ximen, dan di Miramar. Selain di Taipei, aku pernah sekali mencicipi VS Cinemas yang ada di Kaohsiung.

Film yang pertama kutonton di Taiwan adalah film animasi 3D, Beowulf. Tidak tanggung-tanggung, pertama kalinya nonton waktu itu aku dan 2 temanku langsung menjajal teknologi 3D IMAX di Miramar. Ceritanya sedang melepaskan penat seusai ujian. Film yang berseri yang tidak pernah aku lewatkan dan khatam di Taiwan adalah Harry Potter. Dari mulai Harry Potter 5, 6, 7 part 1, dan 7 part 2. Film yang bikin bete setengah mati adalah Transformers 3. Harga tiketnya mahal ditambah studionya yang lebih pantes disebut home theater daripada bioskop karena kecilnya layar. Film yang bikin berkesan adalah G.I.Joe. Sebab nontonya bersebelahan sama seseorang yang bikin jantung dag-dig-dug dan ngerasa selalu salah tingkah.

Kadang kalau lagi pengen banget nonton, bisa pergi nonton sendiri. Lebih seringnya sih nonton bareng. Dan biasanya kalau nonton bareng, aku yang jadi tumbal pembeli tiket. Sebab kalau nonton bareng, biasanya di hari-hari weekend atau hari menjelang weekend seperti Jumat sore. Yang mana pada waktu-waktu itu, akan sangat sulit dapet tempat duduk yang posisinya wuenak. Jadi pagi hari atau siangnya, aku pergi dulu ke bioskop untuk beli tiketnya. Sorenya, tinggal tenang-tenang masuk ke bioskop. Nonton bareng itu ibarat 2 sisi mata uang, menyenangkan sekaligus meresahkan. Menyenangkan karena banyak temen ngobrol dan bisa juga sebagai kamuflase status single. Meresahkan karena sering tunggu-tungguan, yang mana kalau satu telat, maka akan telat nontonnya.

Frekuensi menontonku tidak menentu. Tidak terlalu sering. Tergantung filmnya. Mungkin paling sering di saat liburan musim panas, karena itu lah saat-saat ketika film-film bagus bermunculan.

enjual-kaos/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1144 wfw_commentrssstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1020 content type3http://blog.dzaia-bs.com/?p=1496 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 link typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/05/meninggalkan-zona-nyaman/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1407 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1390 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1036 slash_comments typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1244 author2d4e19daed594bbbc55e7a39de96d407http://blog.dzaia-bs.com/?p=1579 id_hashstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=561 title typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1274 id_hash typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=717 content type2011 11 15 18 41 22 1 319 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587 updateddzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1068 authordzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1613 author2011 7 26 3 10 38 1 207 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1510 updatestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 comments typeHari ke-17 : Penerbanganhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 title8 

Satu manfaat yang sangat berharga dan patut disyukuri dari meninggalkan lingkungan lama dan masuk ke dalam lingkungan yang baru adalah, semakin banyak kita bisa mengenal orang. Lebih dari 90% orang-orang yang kutemui di Taiwan belum pernah kutemui sebelumnya. Beberapa menjadi teman baik, beberapa menjadi teman sehobi sepermainan, beberapa kenal seadanya, beberapa hanya bisa dikagumi tanpa dikenal. Apalagi di era internet seperti sekarang, kita bahkan bisa mencari lingkungan baru yang ada di dunia maya. Dan aku cukup bersyukur telah mengenal banyak orang selama di Taiwan, banyak yang bisa dijadikan contoh dan inspirasi.

Di Taipei sendiri, kebanyakan teman yang kukenal berasal dari kampus tetangga, NTUST. Di sana lebih banyak terdapat mahasiswa Indonesia dibandingkan di kampusku. Aku bahkan merasa lebih banyak mengenal mereka dibandingkan teman-teman Indonesia yang ada di kampus. Setiap kali ditanya ada berapa orang Indonesia yang ada di NTU? Paling aku hanya menyebutkan sejumlah yang pernah kukenal, ditambah beberapa. Sebabnya kita memang jarang kumpul-kumpul. Kecuali jika ada kegiatan di asosiasi mahasiswa asing. Aku baru tahu setelah sekian lama jika anak-anak Indonesia di kampusku punya organisasi sendiri. Aku tahu ketika menyaksikan mereka melakukan dance untuk kegiatan mahasiswa asing, dan pembawa acara menyebutkan bahwa mereka berasal dari Indonesia. Jadi aku lebih sering bergaul dengan teman-teman dari NTUST. Selain bergaul lewat Formmit cabang utara satu atau Formmit-Utaratu, dengan teman-teman NTUST aku juga sering ikutan bermain bola, jalan-jalan, dan foto-foto.

Lingkaran bersosialisasi lainnya adalah dengan teman-teman Formmit pusat. Di sini secara tidak langsung dapat melebarkan sayap silaturahmi hingga menjangkau hampir seluruh kampus di Taiwan yang terdapat mahasiswa muslim Indonesianya. Di Formmit lah aku mengenal teman-teman yang berada di selatan, tengah, dan utara yang lainnya. Karena dulu belum ada PPI-Taiwan, maka Formmit lah sarana untuk mengenal teman-teman yang terpencara ke berbagai penjuru Taiwan. Dengan adanya kegiatan yang sering mereka lakukan dengan tempat-tempat menyebar, aku jadi punya alasan untuk menjelajah Taiwan lebih jauh.

Beralih ke dunia maya, aku menemukan lingkaran lainnya di Radio PPI Dunia. Berawal dari rasa iseng-iseng, akhirnya aku merasa cukup nyaman dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Lebih beragam, lebih menarik. Karena berasal dari latar lingkungan yang berbeda, mereka sering membukakan mataku lebih lebar untuk mengenal dunia. Cerita-cerita dari ujung utara Amerika, serunya Eropa, ramainya Mesir, dan Australia, bisa kudapatkan dari mereka. Kami masih cukup sering keep-in-touch melalui kopdar-kopdar kecil di Indonesia. Chemistry yang terbangun di antara kami agak unik, kami merasa sudah saling mengenal cukup lama walaupun jarang bertemu muka.

Lingkaran-lingkaran sosial lainnya cukup beragam, walaupun tidak sebesar Formmit, dan Radio PPI Dunia. Seperti teman-teman satu apartemen, teman-teman yang sedang belajar bahasa, teman-teman di KDEI, teman-teman PPI-Taiwan, dan teman-teman pekerja.

http://blog.dzaia-bs.com/?p=636 link2011 3 13 14 39 4 6 72 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1328 updated8http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 slash_comments2012 3 5 16 3 45 0 65 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1632 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 content typedzaia-bshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1335 authorstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 title typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/09/memaknai-hari-lebaran/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1541 wfw_commentrsshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=500 link type15http://blog.dzaia-bs.com/?p=500 orderslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=467http://blog.dzaia-bs.com/2010/01/3rd-new-year-eve-in-taipei/http://blog.dzaia-bs.com/?p=467 linkKegagalan Adalah Keberhasilan Yang Tertunda Ditunda-tundakanhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1415 titlet market. Setelah pindah ke apartemen kontrakan, aku memang lebih sering ke night market ini karena letaknya yang berdekatan. Night market ini adalah pilihan lain untuk cari makan jika lagi malas masak. Teppanyaki, mantou atau bakpau, dan goreng-gorengan adalah favorit jajananku di sana. ShiLin dan Ximen adalah night market yang ramai di Taipei. Paling cocok kalau buat jalan dan hunting-hunting barang.

9-Ball. Dari nama tempatnya saja sudah bisa merefleksikan tempat apa di sana. Setelah pindah ke apartemen, ada hobi baru yang sering dilakukan teman-teman seapartemen. Kalau lagi kalap, hampir setiap Jumat malam kita mencari pelarian dari permasalahan hari-hari kerja itu sambil sodok menyodok bola. Kita lebih sering main bola 15, duel antara 2 grup yang masing-masing grup terdiri dari 2 orang. Jadi, ada 4 orang dalam 1 permainan. Ini sebenarnya trik-trik untuk cari hiburan versi ngirit.

sia, berhasil menarik mahasiswa Indonesia datang ke sana.

Ba De Lu. Taipei juga punya pusat belanja elektronik. Letaknya di jalan Ba De. Atau orang-orang sering menyebutnya dengan GuangHua. Bisa dikatakan, GuangHua ini adalah “Glodok”-nya Taipei. Elekronik-elektronik di sini memiliki harga yang agak miring jika dibandingkan dengan di toko-toko elektronik di mal-mal tengah kota. Elektronik yang dimaksud di sini mencakup laptop dan komputer beserta perangkat-perangkatnya, telepon genggam, kamera, sirkuit-sirkuit, hingga perangkat elektronik rumahan. Dan seperti halnya di Glodok, sebelum membeli barang yang kita inginkan, agar lebih bijak dalam mengeluarkan uang, kita perlu melakukan sedikit survey harga. Aku sendiri biasanya melakukan survey ke 3 hingga 5 toko, sebelum memutuskan untuk membeli barang yang diinginkan. Dan setelah itu, jangan tanya-tanya lagi pada toko-toko yang kita hampiri. Karena beberapa kali aku sering agak kecewa karena menemukan harga yang lebih murah lagi dari harga yang kubeli.

Bo Ai Lu. Ini adalah tempat favoritku. Sebab di sini adalah surganya dunia fotografi dan videografi. Terletak berdekatan dengan Taipei Main Station. Jalan ini sering menggoda iman dengan jajaran-jajaran lensa dan kamera di etalase-etalase toko. Tapi aku tidak pernah membeli kamera dan lensa di sini. Paling hanya perangkat pelengkapnya. Aku lebih sering menggunakan website tw.bid.yahoo.com untuk survey harga terlebih dahulu. Dan sering hasil yang dimunculkan tidak merefer kepada toko-toko di Bo Ai Lu. Seperti ketika membeli Canon Powershot S5 IS dan Nikon D90 Kit, aku membelinya di toko kamera dekat MRT ZhiShan. Lensa Voigtlander 40mm F/2, aku beli di salah satu lorong mal bawah tanah di Taipei Main Station.

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei. Kantor ini merupakan kantor perwakilan Pemerintah Indonesia di Taiwan yang berfungsi seperti menggantikan kedutaan. Tempat ini sering dikunjungi ketika peringatan hari-hari besar nasional seperti 17 Agustus-an, hari pendidikan nasional, Halal bi Halal, buka bersama, atau ketika ada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang melibatkan KDEI. Dan apalagi sih yang dicari anak-anak mahasiswa rantau di tempat seperti ini selain makanan-makanan enak gratisan?

Night market alias pasar malam. Nah, ini adalah tempat yang paling khas di Taiwan. Atau sebenarnya ini adalah ke-khas-an budaya Cina. Hampir setiap kota di Taiwan memiliki pasar malam. Untuk di Taipei sendiri ada 4 pasar malam yang sering kukunjungi. Entah untuk mencari makanan-makanan ringan, membeli barang, atau sekedar cuci mata. Yang paling dekat dengan kampusku adalah pasar malam Gongguan. Di pasar ini aku sering beli takoyaki, atau roti yang seperti martabak manis. Bedanya dengan martabak manis, lapisan luarnya tidak dilumuri mentega lagi. Dan jika martabak manis memiliki potongan-potongan kecil, maka kue ini yang berbentuk setengah lingkaran itu hanya di potong menjadi 3 bagian, lalu dijual per satu potongan. Ada salah satu warung cencu naicha yang terkenal di sini, dan memang rasanya unik karena menggunakan gula merah untuk campurannya. Night market lainnya adalah ShiDa nigh

Selain masjid dan warung-warung makan, yang mana tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat dengan intensitas terbesar yang dikunjungi, ada tempat-tempat lain yang memiliki intensitas di bawah itu yang dikunjungi tentunya dengan maksud dan tujuan tertentu.

National Taiwan University of Science and Technology atau Taiwan Tech. bisa dikatakan sebagai kampus ke-2. Terletak bersebelahan dengan kampusku, di kampus ini aku sering berinteraksi dengan teman-teman Indonesia. Melakukan meeting-meeting yang berkaitan dengan kerjaan Lentera Ide, sahur dan sholat Subuh bareng di bulan Ramadhan, main futsal, main badminton, pertemuan Formmit, dan hampir semua hal yang berkaitan dengan kegiatan mahasiswa Indonesia di Taipei, berikatan dengan NTUST. Karena memang di kampus ini banyak sekali mahasiswa Indonesia berkumpul. Program U2U dengan ITS, UI, UGM, ITB, dan universitas-universitas lain di Indonesia, berhasil menarik mahasiswa Indonesia datang ke sana.

Ba De Lu. Taipei juga punya pusat belanja elektronik. Letaknya di jalan Ba De. Atau orang-orang sering menyebutnya dengan GuangHua. Bisa dikatakan, GuangHua ini adalah “Glodok”-nya Taipei. Elekronik-elektronik di sini memiliki harga yang agak miring jika dibandingkan dengan di toko-toko elektronik di mal-mal tengah kota. Elektronik yang dimaksud di sini mencakup laptop dan komputer beserta perangkat-perangkatnya, telepon genggam, kamera, sirkuit-sirkuit, hingga perangkat elektronik rumahan. Dan seperti halnya di Glodok, sebelum membeli barang yang kita inginkan, agar lebih bijak dalam mengeluarkan uang, kita perlu melakukan sedikit survey harga. Aku sendiri biasanya melakukan survey ke 3 hingga 5 toko, sebelum memutuskan untuk membeli barang yang diinginkan. Dan setelah itu, jangan tanya-tanya lagi pada toko-toko yang kita hampiri. Karena beberapa kali aku sering agak kecewa karena menemukan harga yang lebih murah lagi dari harga yang kubeli.

Bo Ai Lu. Ini adalah tempat favoritku. Sebab di sini adalah surganya dunia fotografi dan videografi. Terletak berdekatan dengan Taipei Main Station. Jalan ini sering menggoda iman dengan jajaran-jajaran lensa dan kamera di etalase-etalase toko. Tapi aku tidak pernah membeli kamera dan lensa di sini. Paling hanya perangkat pelengkapnya. Aku lebih sering menggunakan website tw.bid.yahoo.com untuk survey harga terlebih dahulu. Dan sering hasil yang dimunculkan tidak merefer kepada toko-toko di Bo Ai Lu. Seperti ketika membeli Canon Powershot S5 IS dan Nikon D90 Kit, aku membelinya di toko kamera dekat MRT ZhiShan. Lensa Voigtlander 40mm F/2, aku beli di salah satu lorong mal bawah tanah di Taipei Main Station.

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei. Kantor ini merupakan kantor perwakilan Pemerintah Indonesia di Taiwan yang berfungsi seperti menggantikan kedutaan. Tempat ini sering dikunjungi ketika peringatan hari-hari besar nasional seperti 17 Agustus-an, hari pendidikan nasional, Halal bi Halal, buka bersama, atau ketika ada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang melibatkan KDEI. Dan apalagi sih yang dicari anak-anak mahasiswa rantau di tempat seperti ini selain makanan-makanan enak gratisan?

Night market alias pasar malam. Nah, ini adalah tempat yang paling khas di Taiwan. Atau sebenarnya ini adalah ke-khas-an budaya Cina. Hampir setiap kota di Taiwan memiliki pasar malam. Untuk di Taipei sendiri ada 4 pasar malam yang sering kukunjungi. Entah untuk mencari makanan-makanan ringan, membeli barang, atau sekedar cuci mata. Yang paling dekat dengan kampusku adalah pasar malam Gongguan. Di pasar ini aku sering beli takoyaki, atau roti yang seperti martabak manis. Bedanya dengan martabak manis, lapisan luarnya tidak dilumuri mentega lagi. Dan jika martabak manis memiliki potongan-potongan kecil, maka kue ini yang berbentuk setengah lingkaran itu hanya di potong menjadi 3 bagian, lalu dijual per satu potongan. Ada salah satu warung cencu naicha yang terkenal di sini, dan memang rasanya unik karena menggunakan gula merah untuk campurannya. Night market lainnya adalah ShiDa nigh y i n@9  t m 9 2  datehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1555 date type Zhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 contentdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 updated typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=473 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1643 summary typestringh2012 4 1 0 47 51 6 92 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1704 dateAwalnya hanya rasa penasaran dengan sistem yang terbangun di balik layar radio ini. Akhirnya malah terlalu banyak ikut campur dan terlalu asyik berada di sana. Sebelum di-launching, aku memang tertarik dengan radio ini ketika sering mendengarkan siaran-siaran percobaannya. Aku tahu itu dari status YM! seorang teman yang menautkan statusnya dengan website Radio PPI Dunia. Ada [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 wfw_commentrss typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1706 link type!di radio.

Di akhir masa pengurusan Pak Bos, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari radio. Setahun lebih di radio ini memberiku banyak bekal. Bekal yang harus dibayar mahal oleh tertundanya penyelesaian riset. Bekal pengalaman yang tidak pernah kudapatkan sebelum-sebelumnya, yang buatku, ini sesuatu sangat berharga. Salah duanya adalah, how to deal with others, dan satu lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang.

Last but not least, I am very grateful to be a part of this radio.

-bs.com/?p=1059 titlestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_comments type0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=515 id_hash typeedf644728b27c042b75b06870ce7313dhttp://blog.dzaiastringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481http://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id typehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480http://blog.dzaia-bs.com/?p=480 idstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 order type84http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2010/08/sekilas-yang-terlintas/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 comments typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 commentsdatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 date type2011 4 9 19 42 28 5 99 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 datedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updated type2011 1 6 4 52 20 3 6 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 wfw_commentrss typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/01/mestakung/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=12stringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1655 order typeslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1310Saya juga heran, giliran ada jadwal fitness, saya malah bisa ngelawan rasa malas di pagi hari. Padahal kalau nggak ada jadwal itu biasanya saya lebih milih menarik lagi selimut dan membetulkan posisi tidur senyaman mungkin. Agak di luar perkiraan, karena sebelum-sebelumnya konsistensi cuma mampir sekitar 2 mingguan. Sedangkan sebulan belakangan ini, saya cukup bisa konsisten [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1310 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1481 id typestringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=480 id type84http://blog.dzaia-bs.com/?p=1570 orderstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=555 comments typeMusikhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1059 titledatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1376 date type2011 1 6 4 52 20 3 6 0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1184 updatedstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1264 wfw_commentrss type4http://blog.dzaia-bs.com/?p=434 orderhttp://blog.dzaia-bs.com/2011/08/e-taiwan-the-secret-behinds-the-modern-life-of-taiwan/#commentshttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1521 commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1682 wfw_commentrss typedatehttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1126 updated typehttp://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/feed/http://blog.dzaia-bs.com/?p=1286 wfw_commentrss5http://blog.dzaia-bs.com/?p=441 order0http://blog.dzaia-bs.com/?p=1134 slash_commentsstringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=610 slash_comments typeSumpah Pemudahttp://blog.dzaia-bs.com/?p=458 titleslash_comments title author updated comments order content link date id_hash wfw_commentrss summary idhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1549Pernah ngerasa ketika semua orang beserta seluruh isi bumi seperti lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap kita? Bukan ‘sesuatu’-nya Syahrini loh ya. Tapi sesuatu yang meskipun itu nantinya adalah sesuatu yang baik, namun tetap membuat kita jadi nggak nyaman untuk saat ini. Well, if you don’t, then I do. Saya merasakannya beberapa bulan belakangan ini. Contohnya, [...]http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549 summarystringhttp://blog.dzaia-bs.com/?p=1304 content type